OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 524 PROSES



“Kita harus pakai cara yang sama lagi Hwa, tidak masalah kan jadi orang hilang sebentar?” Ucap Xiao Jun yang berjalan pelan, menuntun Weini dalam gandengan tangannya.


Weini tertawa kecil mendengar pertanyaan itu, “Sejak tadi kita sudah dua kali seperti itu, nggak apa apalah, yang penting nggak menghilang sendirian.”


Xiao Jun memang iseng saja berujar, lantaran sedikit merasa canggung setelah Weini membaca tulisan yang ia sematkan di dalam angpao. Gadis itu pun tidak membahasnya, seakan tidak terjadi apa apa sebelumnya. Melihat reaksi biasa Weini membuat Xiao Jun pun bersikap biasa, namun ia bingung dan terus bertanya dalam hatinya. Apakah Weini tidak menyukai kejutannya?


“Kita naik jet lagi?” Tanya Weini saat mereka sampai di lantai teratas gedung pencakar langit itu.


Xiao Jun mengangguk pelan, suasana sudah kembali kondusif, tidak ada keramaian seperti tadi lagi. Saatnya mereka kembali menampakkan diri dan kehadiran mereka disambut antusias oleh Lau dan pilot jet itu.


“Selamat malam Gong Zhu, tuan muda. Semuanya sudah siap, selamat menikmati penerbangan anda.” Ujar pria yang berprofesi sebagai pilot itu seraya membungkuk hormat, hal yang sama dilakukan oleh Lau yang bungkam dan memberikan penghormatan.


“Terima kasih paman dan tuan Fei. Ayo Hwa, kita naik.” Ujar Xiao Jun memberikan jalan kepada Weini agar masuk dulu.


Weini menuruti apa yang sudah kekasihnya siapkan, hatinya ikut penasaran kejutan apalagi yang sudah pria itu siapkan. Ketika ia sampai di pintu masuk, Weini tercengang melihat dekorasi di dalam yang sangat apik. Berhiaskan lilin sebagai penerangan serta makan malam yang sudah terhidang di atas meja. Hanya ada dua kursi yang saling berhadapan, tanpa diberitahu pun Weini tahu bahwa Xiao Jun akan mengajaknya makan malam.


“Kamu suka?” Tanya Xiao Jun yang tahu bahwa Weini takjub.


Weini menoleh ke belakang, melihat senyuman tulus Xiao Jun untuknya. Ia pun mengangguk pelan seraya memamerkan senyuman manisnya. “Kamu kok repot banget hanya untuk makan malam saja padahal.”


Xiao Jun merengkuh pinggang ramping Weini, menuntunnya menuju singgasana mereka malam ini. Menarikkan kursi dan memintanya duduk dengan tenang, menyibak serbet lalu dikenakan di atas pangkuan gadis itu. Sungguh perlakuan yang sangat manis dan sukses membuat hati Weini berdebar-debar. Tak hanya itu, Xiao Jun menuangkan Wine ke dalam gelas Weini kemudian dalam gelasnya.


“Tidak ada kata repot untukmu, Hwa. Apa kau masih ingat pertama kali aku mengajakmu dinner di sini?” Seiring pertanyaan Xiao Jun yang menunggu jawaban, jet pun mulai bergerak dan mengudara. Keduanya masih saling menatap, membawa kembali kenangan semasa mereka baru kenal dan Xiao Jun berhasil menculik Weini ke atas jetnya.


Weini tertawa kecil, merasa konyol saat mengingat masa itu. “Bagaimana aku bisa lupa, saat itu kamu sangat menyebalkan.” Seru Weini.


“Namun menggemaskan bukan?” timpal Xiao Jun dengan percaya dirinya. Alhasil ia mendapat sorotan mata yang setengah meledeknya dan tawa khas yang begitu ia sukai dari gadis itu.


“Kamu benar benar kegeeran Jun.” Ujar Weini seraya menggelengkan kepala, tawanya belum hilang sampai ia merasakan tangannya digenggam oleh Xiao Jun. Barulah Weini terdiam kemudian menatap pada sepasang mata teduh di depannya. Masa masa penuh tawa tadi berganti ke suasana yang lebih serius.


“Hwa, apa kau suka dengan semua yang kuberikan ini?” tanya Xiao Jun setelah tak bisa menyimpan rasa penasarannya tentang pendapat Weini.


Weini pun menganggukkan kepalanya, apa yang Xiao Jun lakukan sepanjang hari ini seakan mengajaknya bernostalgia tentang masa lalu mereka yang indah. Tepatnya terasa indah setelah mereka jatuh cinta dan bersama. “Ya.”


Dua pasang mata saling beradu, seakan berlomba siapa yang paling kuat tanpa berkedip. Namun justru daya pikat tatapan itu menggiring mereka untuk saling mendekat... mendekat dan akhirnya bersatu dalam kecupan yang hangat.


❤️❤️❤️


“Pelayan... minta billnya!” Pekik Stevan dengan mantap.


Dina membelalakkan mata melihat kenekatan Stevan, keras kepalanya pria itu tampaknya akan tertampar sesaat lagi. Ketika ia melihat total angka tagihan yang disodorkan padanya. Sebelum itu terjadi, Dina hanya diam saja. Membiarkan Stevan berlagak dengan gayanya yang ingin mentraktir di acara yang sudah Xiao Jun atur sedemikian rupa.


Pelayan yang tadi dimintai oleh Stevan tampak berjalan menghampir dengan membawa nampan berisi bill sesuai permintaan Stevan. Pria itu mengambil secarik kertas di sana dan tersenyum pada pelayan itu. “Sebentar ya.”


Bukan main terkejutnya Stevan hingga matanya terbelalak saat melihat tagihan itu mencapai sembilan digit. “Makanan apa yang semahal ini? Bukannya ini hanya menu biasa? Kenapa sampai ratusan juta tagihannya?” Cecar Stevan yang merasa antara ia yang salah melihat atau pelayan itu yang salah menghitung.


“Pppfffff” Dina menutup mulutnya, menahan tawa yang hampir terceplos keluar. Sengaja ia tetap diam, biar Stevan shock duluan sebelum nanti Dina turun tangan. Grace yang duduk di samping Dina pun bungkam, menyadari reaksi Dina yang sepertinya sulit untuk menahan diri.


“Total tagihannya sudah benar tuan, ini sudah include dengan sewa tempat selama enam jam.” Ujar pelayan itu dengan santai karena ia memang tidak bersalah.


Stevan menggeleng lemah, kemudian menyandarkan tubuhnya di sofa. Pantas saja Xiao Jun melarangnya untuk ikut andil. Ia tidak menyangka bahwa bos muda itu berani meronggoh kocek tebal demi membeli momen singkat ini. Ingin menyesal namun terlambat, Stevan merasa pantang untuk menjilat ludahnya sendiri. Ia pun mengeluarkan kartu kredit dari dompetnya untuk melunasi apa yang ia setujui.


Dina segera melemparkan sebuah kartu yang sudah Xiao Jun percayakan padanya untuk mengurus segala keperluan hari ini. Hanya Dina yang tahu rencana Xiao Jun, termasuk meminta Wen Ting berpura-pura kehilangan barang di bandara. Semua itu demi momen yang ingin Xiao Jun ulang kembali dengan Weini, dan segalanya berjalan lancar hingga detik ini. Semua berkat upaya Dina yang kemampuan aktingnya sudah boleh menyabet piala. Dina boleh berbangga hati karena sudah berkali kali dan terbukti berhasil menjadi tangan kanan Xiao Jun yang bisa menjebak Weini berulang kali pula tanpa ketahuan nona muda itu.


Stevan tercengang lantaran kartunya kalah cepat mendarat di atas nampan. Lebih bengong lagi saat melihat senyum lebar Dina yang pamer kemampuan bahwa ia sanggup membayarnya dengan kartu itu. Kedua alis Dina naik turun, memggoda Stevan.


“Kan udah ku bilang, bos Jun udah ngatur semuanya. Untuk kali ini jangan campuri rencananya deh. Ini edisi khusus mereka berdua, kita kebagian jadi penggembira saja pokoknya.” Gumam Dina seraya memberi kode pada pelayan itu agar menyelesaikan pembayaran segera dengan kartu yang ia berikan. Pelayan itu mengangguk paham dan berlalu untuk mengelarkan transaksi.


Grace tersenyum antusias, ia lebih peka dan bisa menebak apa yang sedang Xiao Jun rencanakan. Tanpa dikomando, Grace bertepuk tangan girang seraya berujar. “Yes, sepupuku akan dilamar!”


Dina tersenyum lalu mengangguk mengiyakan tebakan jitu Grace. Senyum yang juga menulari Stevan yang akhirnya paham dan ikut bahagia. Dina berdehem, memberi kode bahwa sesaat lagi dia akan memberikan pengarahan.


“Yup, kalian sudah siap? Kita masih punya tugas berikutnya!” Gumam Dina dengan perasaan bangga. Bangga karena bisa menjadi bagian penting dari proses lamaran tuan dan nonanya.


❤️❤️❤️