
Dina mendelik saat gagal mengintip apa yang begitu menyita perhatian Weini, sampai-sampai artis itu mengabaikan pembicaraannya. Stevan malah gemas melihat tingkah Dina yang tidak praktis, ia kemudian bangkit lalu merebut ponsel yang ditutupi rapat oleh Weini.
“Hei!” pekik Weini kaget, pikiran semrawutnya buyar karena Stevan. Ia berdecak kesal melihat Stevan membaca ponselnya bersama Dina, membelakanginya.
Dina langsung menoleh girang lalu memeluk Weini. "Wuaaaaaah non, tuan Xiao Jun kirim pesan. I mis?” Dina mengernyit, kata-kata itu terlalu singkat dan aneh, seperti teka-teki saja.
“I miss you, kali … dia pasti buru-buru ngetiknya.” Sela Stevan menebak sekenanya.
Dina yang mendengar itu berjingkrak girang, seolah pesan itu tertuju padanya. “Sungguh? Wah, Non buruan dibalas. Siapa tahu dia sudah pulang lalu mengabarimu.”
Weini belum memberi respon, ia hanya menebar senyum tipis. Jika benar yang Stevan katakan, pesan itu bermakna merindukannya, mengapa hanya sepotong? Apa yang membuatnya mengetik dengan typo? Tidak
biasanya Xiao Jun yang teliti itu menyingkat kata. Dan, Jika bener yang dikatakan Dina bahwa dia sudah kembali, apa yang harus Weini lakukan?
“Biarinlah.” Jawab Weini singkat. Ia terlihat tak tertarik dengan pesan itu.
“Kak Stev, kau jadi mampir? Pulang bareng aja yuk.” Lanjut Weini, menyunggingkan senyuman manis pada Stevan.
Dina bergegas menyeimbangkan langkah dengan Weini sambil menjinjing tas ranselnya. “Non, nggak dibalas dulu pesannya?” todong Dina penuh semangat, dia yang paling bahagia dengan berita dari Xiao Jun.
“Nanti kan masih bisa kak, pulang dulu yuk.” Jawab Weini. Aslinya ia masih bingung harus menjawab apa, pesan itu hanya berisi pemberitahuan, itupun tidak lengkap. Tidak ada pertanyaan yang harus ia jawab, lalu kata-kata apa yang harus ia ketikkan sebagai balasan?
Stevan mengeluarkan mobilnya dari parkiran, Weini dan Dina menebeng mobilnya sementara mobil artis itu dibawa supir dan hanya berisi barang Weini. Keduanya masuk ke mobil di bagian tengah, hingga Stevan mendelik melihat mereka.
“Salah satu ke depan plis, gue bukan supir.” Ujar Stevan berdecak kesal.
Dina senyam senyum kemudian menutup pintu mobil setelah Weini masuk. Ia menghambur ke samping Stevan, menemaninya duduk di muka. “He he … sorry, kebiasaan.” Seru Dina.
Stevan hanya menggeleng-geleng, ia tak habis pikir juga sejak kapan ia mulai mengakrabkan diri dengan Dina. Kelakuan manager itu memang konyol, tapi ia tulus menyayangi Weini. Itulah nilai plus Dina di mata Stevan.
“Kita langsung balik nih? Nggak mampir beliin cemilan buat om Haris?” Stevan bertanya pada Weini lewat spion tengah. Mengintip Weini yang terlihat diam dan bingung, Stevan yakin pesan dari Xiao Jun itulah yang meresahkan pikiran Weini.
“Weini ….” Stevan memanggil gadis itu lantaran belum ada jawaban yang didapat. Dina bahkan menoleh ke belakang mengecek kondisi Weini.
“Eh? Terserah sih, langsung pulang juga nggak apa-apa kak.” Jawab Weini, suaranya kentara terdengar baru saja terkejut.
“Atau kita mampir ke apartemen tuan Xiao Jun aja. Siapa tahu dia udah pulang.” Dina memberi usul yang langsung membuatnya bersemangat.
“NO! BIG NO! Lu udah lupa terakhir kali ke sana gimana endingnya? Syukur-syukur kalau beneran dia udah pulang, kalau mafia dalam rumah itu yang di sana gimana? Lu mau babak belur lagi?” tolak Stevan, suaranya lantang dan tegas.
Dina manyun, bibirnya mengerucut saking tegasnya perkataan Stevan. Tapi ada satu yang tidak ia terima, “Lu aja kali yang babak belur, gue mah nggak. Apalagi non Weini, dia yang hajar tuh preman.” Protes Dina tak terima dengan ucapan Stevan.
Weini tertawa kecil mendengar pertengkaran dua orang di depannya, bak tikus dan kucing setiap kali bertemu, keduanya kerap bertengkar namun tetap solid ketika ada masalah. Hubungan persahabatan mereka bertiga sudah teruji masalah dan waktu.
Stevan menoleh ke arah Weini sekilas, “Lu masih bisa ketawa juga, baguslah.”
Weini berhenti tersenyum, ia memalingkan wajah menatap ke luar jendela mobil. “Ya, bisalah kak.” Kilahnya singkat.
Masukan dari Stevan tengah dipikirkan Weini, ada benarnya juga lagipula ia pun belum punya hati untuk mengambil inisiatif.
“Dasar bocah, bisanya kasih saran nggak jelas. Emang kenapa kalo non yang cari duluan, dia kan tunangannya. Wajar dong kalau udah balik dicariin, ditanyain kabarnya, didengarin ceritanya selama ini kemana dan ngapain aja. Non, gak usah didengerin saran dari orang amatiran.” Seru Dina menyangkal dari saran Stevan.
“Lu berani ngatain gue bocah heh!” teriak Stevan.
“Berani lah, kan kenyataan lu masih amatiran.” Balas Dina.
Weini yang pusing mendengar ocehan mereka berdua, akhirnya nongol dari belakang lalu menyalakan player. Telinganya lebih baik mencerna lagu ketimbang mendengar suara mereka. Stevan mengecilkan suara musik kemudian lanjut menceramahi Weini.
“Weini, denger ya, gue bicara dari sudut pandang cowok. Jangan terkesan mengejarnya, biarkan saja. Kalau dia cinta, kalau dia kangen kamu, dia pasti akan mencarimu.”
Dina kembali membesarkan volume musik, dan mereka kembali bertengkar.
Dalam pikiran Weini, terngiang kata-kata Haris yang pernah menasehatinya. Diam, saat ini kamu hanya perlu diam dan menunggu!
Weini menghela napas, hanya bisa mengutarakan isi hatinya pada Xiao Jun dalam benak saja. Jun, apa kau kembali? Kalau begitu, datang dan temui aku! Aku tunggu!
***
Lau terpaksa menghubungi jasa pembersih kamar untuk membantunya merapikan serta menghilangkan bekas penghuni illegal yang tersisa di apartemen. Xiao Jun paling tidak suka tempat pribadinya terkontaminasi oleh
orang yang tidak ia inginkan. Untung saja kamarnya tidak tersentuh, dengan begitu Lau tidak perlu membuang tempat tidur dan segala perabot dari kamar Xiao Jun.
Seusai membersihkan diri, Xiao Jun kembali mengenakan setelan formal, persis orang yang hendak berangkat kerja. Lau terheran melihat penampilan tuannya dan langsung bertanya, “Tuan, anda mau ke kantor sekarang?”
Xiao Jun menggelengkan kepala, ia masih mencari sesuatu di meja kamarnya. “Tidak. Oh ya paman, apa kau tahu di mana kunci mobilku?”
Lau meronggoh saku celananya kemudian mengeluarkan barang yang dicari Xiao Jun. “Maaf tuan, aku membawanya. Kupikir setelah ini akan mengecek kondisi mobil anda.” Ujar Lau menyerahkan kunci itu pada
pemiliknya.
Xiao Jun tersenyum, kunci itu diambilnya. “Terima kasih paman, aku saja yang melakukannya. Istirahat lah, besok pagi kita kembali ke kantor.”
Lau menahan senyum, seharusnya ia yang mengatakan hal itu pada majikannya. “Saya belum lelah, anda mau ke mana? Apa perlu saya temani?”
“Tidak perlu paman, aku keluar sebentar. Hanya mau memastikan keadaan, jangan menungguku kembali. Tidurlah!” Xiao Jun berlalu tanpa perlu mendengar jawaban Lau. Ia harus pergi sekarang, tidak esok atau nanti.
Sementara Lau tersenyum senang, “Selamat bersenang-senang, tuan.” Ia tahu ke mana tujuan Xiao Jun berlabuh.
***
Hayoo ... kemanakah Xiao Jun berlabuh? ^^