
Akibat kunjungan dari tamu tak diundang di pagi buta, akhirnya Xiao Jun melewatkan waktu sarapannya. Keagresifan Grace membuatnya muak dan kenyang bersamaan, ia kehilangan selera makan dan tak berniat kembali ke kediamannya. Dengan perut kosong di pagi yang mulai hangat oleh sinar matahari, ia berjalan menuju aula utama demi menghadap tuan besar. Dalam benaknya sudah tersusun banyak hal yang harus ia utarakan saat ini juga.
“Hormat pada tuan muda, anda diminta bergabung sarapan bersama tuan besar.” Seorang pengawal yang diutus Li San untuk menyampaikan perintah kepada Xiao Jun sebagai jawaban dari laporan kedatangannya.
Tawaran yang tepat sikon dan diterima dengan senang oleh Xiao Jun, ia lebih bersemangat membicarakan masalah serius dengan perut terisi. Semakin berumur, Li San kian menutup diri dan lebih senang menjalani hari-harinya secara mandiri. Hanya di moment tertentu ia bersedia makan ditemani Liang Jia, selebihnya mereka lakukan
secara individu.
“Cau shang hao (selamat pagi), ayah.” Xiao Jun membungkuk hormat.
“Ng, duduk dan makanlah. Kau pasti melewatkan sarapanmu kan?” Li San menebak jitu kondisi Xiao Jun saking hapalnya dengan kebiasaan putranya.
Xiao Jun mengangguk lalu mengambil porsi makan sekenanya. Mereka makan dalam keheningan seakan menghayati rasa masakan yang kebetulan lezat.
“Bagaimana menurutmu tentang Grace?” Tanya Li San memecah keheningan.
Mendengar nama itu disebut lagi otomatis mengingatkan kenangan vulgar yang belum satu jam dilewati. Xiao Jun menahan diri untuk tetap bersikap tenang di hadapan Li San. “Dia biasa, sama seperti gadis lainnya ayah.” Jelas saja Grace dinilai biasa, layaknya gadis yang mudah ditemui pada umumnya. Mudah jatuh cinta melihat silaunya harta, paras dan tahta. Hanya Weini yang langka ditemukan bagi Xiao Jun, dan betapa beruntungnya ia mengenal kekasih hatinya.
“Hmm … apa hanya itu? tak ada yang istimewa lagi dari dia?” Li San belum puas dengan jawaban standar itu, ia berusaha memberi pancingan untuk mengorek isi hati Xiao Jun.
Xiao Jun diam sejenak menikmati sup ayam ginseng yang masih hangat, ia perlu tenaga ekstra untuk membahas tentang Grace. “Iya, ayah. Sementara hanya itu yang dapat kunilai dari dia.”
Dari dinginnya jawaban itu, Li San tahu bahwa Xiao Jun masih tidak tertarik pada gadis pilihannya. Meski demikian ia tetap pada pendirian akan meneruskan perjodohan hingga jenjang pernikahan. Bagi pewaris keturunan seperti ia dan Xiao Jun, cinta bukan modal utama untuk mendapatkan keturunan selanjutnya. Semua harus sesuai kehendak dan seleksi dari pemimpin sebelum melengserkan kekuasaan pada pewarisnya. Li San pernah muda dan merasakannya, ia tak butuh cinta untuk menikahi Liang Jia. Mereka hanya perlu menuruti kehendak orangtua dan
menyiapkan diri menjadi pemegang tahta selanjutnya.
“Lalu kepentingan apa yang mau kau katakan sekarang?” Li San mengalihkan pembicaraan, basa-basinya dirasa cukup. Ia yakin ada hal penting yang ingin Xiao Jun sampaikan hingga menghampirinya sepagi ini.
Xiao Jun menyudahi sarapannya dan meletakkan sumpit di atas mangkuknya. “Maaf ayah, mungkin kurang tepat membahas masalah ini saat makan, tetapi ini penting untuk kusampaikan.”
Li San mempersilahkan Xiao Jun angkat bicara melalui gesture tangannya. Xiao Jun mengangguk hormat sebagai balasan terima kasih atas sikap terbuka sang tuan besar.
“Ayah, maaf jika aku lancang bertanya. Sekembalinya aku dan pengawal Lau, ayah menyerahkan perusahaan di Jakarta ke tangan siapa? Apa dia melaporkan pertanggung-jawaban hasil kerjanya?” tanya Xiao Jun penuh kewaspadaan, ia menjaga nada bicaranya agar tak menyinggung Li San.
Li San mengernyit, Xiao Jun repot-repot menyambanginya demi membahas bisnis. Ia sempat mengira aka nada negosiasi lanjutan sebagai imbalan perjodohan, rupanya Xiao Jun memerdulikan kondisi bisnis. Li San merasa kagum pada rasa tanggung jawab putranya.
Chen Kho? Aku terlalu meremehkan kekuatannya, dia masuk ke segala aspek kehidupan keluarga ini. Mata Xiao Jun baru terbuka mengetahui pengaruh pria yang tak disukainya ternyata jauh dari yang ia perkirakan. Bukan hanya perusahaan di Hongkong yang mulai dicampur tangani pria itu, sekarang ia punya akses mengutak atik kerajaan bisnis yang Xiao Jun bangun di luar negri. Yang Xiao Jun herankan, mengapa Li San yang sangat teliti dapat semudah itu mempercayai seseorang memegang nyaris seluruh rahasia perusahaannya.
“Kemarin ketika aku mendapatkan kembali ponselku, hal pertama yang aku cari tahu adalah kabar perusahaan di sana. Portal online di sana gencar memberitakan tentang perusahaan kita yang terancam bangkrut sepeninggalanku. Aku tidak minta ayah langsung percaya, tapi setidaknya tolong cari tahu kebenarannya. Ayah pasti tahu apa yang aku maksud.” Ujar Xiao Jun serius.
Pernyataan Xiao Jun barusan seperti suara petir di siang bolong, menggelegar dan mengejutkan Li San. Apa yang ia lakukan dengan begitu mudah menyepelekan urusan bisnis dan mempercayakan pada keponakannya. Tak mungkin ada asap jika tak ada api yang berkobar, berita lokal di sana pasti punya sumber kuat yang bisa
memprediksi kesehatan perusahaannya. Terlepas benar atau tidak, jika rumor sudah merebak maka bisa dicurigai bisnis mereka tengah tak sehat. “Sepertinya aku lengah soal ini, Xiao Jun selagi kamu di sini kembalilah ke perusahaan dan periksa segalanya. Aku menunjuk Chen Kho sebagai pengganti sementaramu di sini, tolong kau benahi apa yang tidak beres dari kerjaannya.” Perintah Li San, ia mulai khawatir dengan nasib perusahaan di Hongkong yang berada dalam tangan Chen Kho.
“Baik ayah. Lalu bagaimana dengan yang di Jakarta?” tanya Xiao Jun serius.
Li San menatap Xiao Jun tanpa berkedip, sebuah tatapan yang penuh kebingungan. Ia harus mengambil keputusan dengan beragam spekulasi, salah langkah berarti membawa nasib bisnisnya terperosok makin dalam ke jurang. “Kau urus dulu yang di sini, setelah itu kembali ke sana dan selesaikan!” Sesuai kata hati Li San, ia merasa
ketidak beresan bersumber dari sini. Akar masalah harus dicabut sebelum mematahkan pohon dan ranting masalah di luar.
“Baik, ayah. Satu hal lagi, maaf ini di luar masalah bisnis. Mohon ayah bersedia mendengarkan!” pinta Xiao Jun dengan menundukkan kepala.
“Lanjutkan.” Jawab Li San tegas.
“Mengenai Chen Kho, apa ayah tahu kalau dia punya hubungan dengan kakakku?”
“Dari mana kamu tahu itu?” Li San tentu terkejut, ia bahkan nyaris melupakan masalah ini jika Xiao Jun tak mengungkitnya.
“Chen Kho yang mengakuinya. Ayah, dengan segala kuasamu aku minta jauhkan dia dari kakakku. Aku dijodohkan dengan adiknya, hubungan mereka tidak boleh diteruskan!” pinta Xiao Jun tegas. Setidaknya ia ingin melihat sikap Li San, selebihnya dengan atau tanpa bantuannya pun ia tetap akan memisahkan mereka.
“Kamu ingin ayah memisahkan mereka dengan cara apa? Ayahnya saja sudah merestui mereka bahkan tidak mau mendengar alasan penolakanku.” Seru Li San, ia sendiri pesimis lantaran pernah membahas masalah ini dengan Kao Jing dan berujung tak dianggap.
Xiao Jun tak mengira Li San yang tak terbantahkan titahnya bisa tunduk pada kehendak Kao Jing. Sebenarnya musuh yang paling menakutkan adalah orang terdekat yang tak tertebak, Xiao Jun yakin masih ada intrik lain yang mereka ciptakan jika tidak lekas dihentikan.
“Mohon ijinkan aku membawa kak Li An ke Jakarta, secara tak langsung mereka akan terpisah ayah!” pinta Xiao Jun tegas, inilah cara terbaik yang dapat ia lakukan untuk menolong saudarinya.
***