OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 293 HARAPAN YANG TERLANJUR SIRNA



Dari tatapan Grace terpancar harapan terhadap sebuah penerimaan, Li An tak tega membuyarkan harapan itu secara terang-terangan.


“Ah, bukan begitu. Aku kira kamu juga ingin bertemu Jun. Duduklah, aku siapkan gelas dulu.” Li An tertawa garing kemudian berlalu sejenak ke dapur. Tak lama kemudian, ia kembali dengan dua gelas sloki kosong demi meladeni permintaan Grace yang mengajaknya minum.


Grace membiarkan Li An menuangkan wine ke dalam gelas lalu menyuguhkan padanya. Sejenak pikirannya rumit, ia terus merasa bahwa kehadirannya tidak diharapkan Li An.


Li An mengangkat gelasnya lalu mengajak Grace meneguk minuman anggur beralkohol itu. Kebetulan sekali Li An juga sedang menginginkan minuman itu, hanya saja harapannya sedikit melenceng dari kenyataan. Ia ingin Jun yang menemaninya minum, tapi justru tunangan yang tak mendapatkan cinta Xiao Jun lah yang bersamanya sekarang.


Grace melakukan hal yang sama, mengangkat gelasnya kemudian meneguk habis minuman itu baru meletakkan gelas kosong itu di meja. “Kakak datang mendadak ya? Maaf, aku baru tahu kedatanganmu. Rencananya mau berapa hari di sini? Aku siap menemanimu jalan-jalan, kak.”


Li An tersenyum, ia meneguk Wine sebelum menjawab. “Aku dengar kamu sibuk syuting sekarang. Hebat juga kamu mencari peluang padahal  kamu pendatang baru. Aku hanya beberapa hari di sini, nanti biar Jun saja yang atur waktu jalan. Aku pun tidak terlalu senang berada di luar, tujuanku ke sini hanya untuk melihat adikku.”


“Oh ….” Jawab Grace lirih dan singkat.


Li An juga ikut hening sejenak. Melihat kondisi Grace sekarang membuatnya yakin bahwa gadis itu tidak bahagia. Ia turut prihatin melihat seorang gadis tersakiti karena cinta seorang pria, Li An cukup berpengalaman soal rasa sakit itu.


“Apa hubunganmu dengan Jun ada kemajuan?” Tanya Li An pelan dan penuh hati-hati.


Bola mata Grace membulat, ia menggeleng lemah. “Tidak kak. Aku tidak tahu harus gimana biar dia suka padaku.” Grace mengakui kelemahannya.


Li An menghela napas, “Aku mau memberimu satu saran, tapi terserah kamu mau lakukan atau tidak.” Li An berhenti bicara, ia menatap tegas pada Grace. Gadis itu terlihat antusias dan tidak ada kesan menolaknya.


“Menyerah dan tinggalkan yang menyakitimu sebelum terlambat.” Timpal Li An mantap.


Grace mendongak, matanya terasa panas seakan hendak meledakkan butiran bening. Namun gengsinya terlalu tinggi, ia enggan menangis di hadapan orang yang sedang mematahkan semangatnya.


“Saranku mungkin terkesan jahat, meskipun tidak mau kau akui tetapi bisa kau pertimbangkan. Aku pernah merasakan posisi itu, ah … Aku bahkan lebih buruk darimu. Aku terperdaya oleh cinta palsu, kukira dia mencintaiku seperti yang ia janjikan. Ternyata semua palsu, dia tak lain hanya memanfaatkanku. Saat dia memberiku perhatian, kehangatan cinta namun semua hanya pura-pura, padahal aku begitu tulus padanya. Apa yang akhirnya aku


dapatkan? Pengkhianatan, luka yang tak bisa lagi dijelaskan dan rasa malu dan jijik pada diri sendiri. Aku muak dengan diriku yang dulu.”


Grace tahu siapa pria yang dimaksud Li An, ia pun tak menyangka bahwa kakaknya sebrengsek itu terhadap wanita. Apesnya lagi, gadis yang dipermainkan kakaknya adalah saudara kandung Xiao Jun. Walau bukan Li An korbannya, Grace tetap tidak membenarkan perbuatan Chen Kho.


“Aku mohon maaf dan menyesal atas apa yang terjadi padamu dulu.” Grace menunduk, menyatakan rasa maaf yang begitu dalam mewakili kakaknya. Dua tangannya meremas kain rok pendek selutut yang dipakainya.


Li An menggeleng seraya tersenyum, “Sudahlah, jangan erasa bersalah atas apa yang bukan kesalahanmu. Aku hanya ingin kamu selamat dari hubungan yang tak punya masa depan ini. Dan kau tahu, bagaimana caraku


sembuh dari luka yang ditorehkan kakakmu?”


Grace mengernyit, ia menatap serius pada Li An.


Grace menunduk sedih, ia menyesal telah datang kemari jika hanya untuk dilemahkan. Harapannya terlampau muluk, ia pikir dengan mendekati Li An maka akan ada peluang mendapatkan nilai plus di mata Xiao Jun. Ternyata


justru Li An memprovokatorinya untuk berpaling dari Xiao Jun, melupakan segala yang ia perjuangkan demi mendapatkan hati pria itu.


***


Isakan tangis Grace tersembunyi di bawah selimut tebal. Dalam kamar itu hanya ada dirinya, namun ia terlalu malu untuk menangis lagi. Tak digubrisnya jika besok akan terbangun dengan mata sembab, yang terpenting ia bisa tenang bagaimanapun caranya. Kata-kata Li An sangat menyakitkan, ia menampik semua saran itu meskipun tahu bahwa Li An benar. Grace hanya terlalu takut menerima kenyataan yang tak sepadan dengan harapannya.


Ia membuka kunci ponsel lalu mencari kontak seseorang dari sana. Tak peduli selarut apa saat ini, ia yakin orang yang ditelponnya masih terjaga.


“Kamu belum tidur?” Tanya Chen Kho begitu terhubung.


Grace tak menjawab, hanya isakan yang mewakilinya bersuara.


“Kamu menangis lagi? Si brengsek itu ngapain kamu lagi?” Tanya Chen Kho emosi.


Grace menggeleng lemah walau sadar Chen Kho tak bisa melihat itu. “Kamu lah si brengsek itu brother.” Cecar Grace sembari terisak. Ia benar-benar kecewa pada kakaknya.


“Hei? Maksudmu apa?” Tanya Chen Kho, ia sangat mencemaskan Grace yang bicara melantur.


“Kamu si brengsek! Kenapa kamu permainkan kak Li An? Kenapa harus dia? Aku tak punya harapan lagi sekarang, ini semua gara-gara kamu!” Teriak Grace melempar semua kesalahan pada Chen Kho.


Grace berpikir bahwa salah satu alasan Xiao Jun tak tertarik padanya, karena ia adik dari orang yang menyakiti kakaknya. Xiao Jun sangat mencintai keluarganya dan berusaha keras melindungi mereka, wajar jika pria itu sangat marah begitu tahu kakaknya disakiti pria yang tak lain adalah Chen Kho. Grace pun tahu bahwa Li An tak menyukainya karena alasan itu juga.


Suara helaan napas berat terdengar dari seberang, “Itu bukan alasan utama, sebelum dia tahu aku punya hubungan dengan kakaknya, ia sudah mencintai gadis lain. Selama ada gadis itu, kamu tidak akan punya harapan. Kalau kamu memang sangat menginginkan dia, satu-satunya cara adalah menyingkirkan gadis itu. Singkirkan dari dunia ini, dan dia tidak akan punya pilihan selain pasrah menikahimu.”


Grace menggelengkan kepala, ia muak mendengar semua itu. Ia putuskan pembicaraan secara sepihak, membiarkan kakaknya tidak mendapatkan jawaban apapun atas ide gilanya. Grace kembali membenamkan wajahnya pada bantal, ia tak peduli sesak yang dirasakan, hatinya jauh lebih sesak. Hingga ponsel dalam genggamannya bergetar menandakan notifikasi pesan masuk, barulah ia berhenti menyiksa diri.


Sebuah nomor tak dikenal mengirimkannya sebuah pesan, Grace terheran sejenak. Nomornya sudah sangat privat namun masih saja ada yang bisa menghubunginya.


Hi, kamu sudah tidur? Selamat istirahat.


Isi pesan itu singkat dan sok perhatian. Wajah Grace sampai mengkerut membacanya, ia penasaran siapa pemilik nomor tak dikenal itu lalu memencet profilnya. Jantungnya berdegub kencang saat melihat foto profil yang terpampang di sana. Seorang pria pemilik senyum menawan yang setiap hari ditemuinya. Grace tak habis pikir, darimana Stevan mendapatkan nomornya?


***