OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 486 MENUNGGU



Beberapa pasang kaki berjalan pelan menuju tempat yang akhirnya kembali mereka tapaki. Tempat di mana mereka seharusnya berada. Xiao Jun berhenti melangkah dan diikuti oleh teman-temannya yang berjalan di belakangnya, ia membalikkan badannya lalu menatap lembut.


"Sampai di sini dulu, istirahatlah. Sampai jumpa lain waktu." Xiao Jun mengucapkan pada Grace dan yang lainnya, dan ketika hendak berlalu ia sempat mengangguk pelan pada Kao Jing sebagai tanda hormatnya.


"Li Jun...."


Xiao Jun tertohok saat tahu namanya dipanggil oleh seseorang yang belum pernah memanggilnya dengan serius. Selama mengenalnya, Xiao Jun selalu dipanggil dengan sindirian yang tidak mengenakkan. Tapi kini begitu mendengar pria tua itu menyuarakan namanya, ada rasa tenang di hati Xiao Jun.


"Ya, paman?" Jawab Xiao Jun ramah, ia memperlihatkan senyuman tulusnya pada Kao Jing.


Kao Jing berusaha berdiri dari kursi rodanya, duduk berjam-jam di sana membuat ia terlihat seperti orang cacat saja. Grace membantu menyingkirkan kursi roda dari ayahnya dan membiarkan pria tua itu berdiri. Membiarkan ia melakukan apa yang ia inginkan.


Kao Jing membungkuk hormat yang membuat banyak mata terkejut, tak menyangka bahwa pria itu berani bertindak terang terangan di hadapan banyak orang. Xiao Jun dan Lau yang paling tidak menyangka Kao Jing bertindak demikian. Mereka berdua pun menundukkan kepalanya agar saling memberi penghormatan.


"Anak muda, aku tidak pantas menerima penghormatan darimu. Sebaliknya aku dengan segala kerendahan hati, meminta maaf padamu. Terima kasih atas pertolonganmu, aku tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini dari kalian, setelah apa yang aku lakukan di masa lalu." Ucap Kao Jing penuh kesungguhan.


Rasa hati Xiao Jun plong seketika saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan pria tua itu. Betapa kesalnya Xiao Jun terhadap ia dan Chen Kho di masa lalu, kini tidak ada artinya setelah kematian Chen Kho. Semua termaafkan dengan ganjaran yang diterima mereka saat ini.


"Saya sudah tidak permasalahkan lagi, paman tenang saja. Semoga anda betah tinggal di sini." Ucap Xiao Jun, hanya itu yang bisa ia katakan. Ia membungkuk sebentar kemudian beranjak pergi dari sana.


Kao Jing masih terpaku menatap Xiao Jun yang sedang berdiri menunggu pintu apartemennya dibuka Lau, masih ada rasa tidak percaya dengan kelapangan hati Xiao Jun memaafkannya.


Semudah itu kah membukakan pintu maaf untuknya?


"Setelah apa yang aku lakukan padamu, apa kau sungguh sudah memaafkan aku? Aku tidak keberatan dibenci, memang aku pantas... Tapi ku mohon tetaplah berteman baik dengan putriku. Dia tidak bersalah, aku tidak mau dia kena imbas dari perbuatanku." Lirih Kao Jing tertunduk sedih.


"Ayah...." Grace tak tahan mendengar lagi, ia terharu karena ayahnya masih memperhatikan dirinya.


Xiao Jun menoleh dengan senyuman tulusnya, sorot matanya pun teduh, tak terlihat hendak menghakimi sepihak sekalipun orang itu memang bersalah.


"Setelah penyesalan yang paman tunjukkan, maaf dan pengampunan itu memang pantas paman dapatkan. Aku sudah memaafkan paman sejak dulu, dan tenanglah tidak ada yang berubah dengan persahabatan ku. Grace tetap sahabatku sampai kapanpun."


Kao Jing benar benar lega, ia tersenyum lebar menanggapi perkataan Xiao Jun.


"Terima kasih... sungguh terima kasih."


❤️❤️❤️


Weini kembali ke paviliun Liang Jia setelah berkutat dengan rutinitas barunya di aula utama. Pasca bincang bincang hangatnya bersama kedua saudaranya, Weini kesulitan menahan rasa ingin tahunya. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, tetapi ia sudah berjanji pada saudaranya untuk tidak melibatkan mereka sebagai dalang dari terbukanya rahasia ini.


"Kamu sudah pulang?" Tanya Liang Jia begitu melihat wajah putrinya.


Weini tersenyum manis pada ibunya, melihat wajah wanita itu membuat lelah dan penatnya hilang. "Ng... tidak banyak yang perlu aku kerjakan, ibu." Gumam Weini, memang belum banyak yang perlu ia atur, tetapi apa yang ia hadapi justru membuat ia kepikiran.


"Syukurlah, ayo temani ibu minum teh, supaya lelah tubuhmu tidak terasa lagi." Gumam Liang Jia yang sudah menyiapkan teh herbal untuk putrinya.


Weini tidak menolak, diteguknya cepat secangkir teh yang dituang Liang Jia selagi hangat.


"Tadi kakak ke empatmu kemari, dia menemani ibu sebentar. "Cerita Liang Jia memulai obrolan santai mereka.


"Oya, aku sudah beberapa hari tidak bertemu dengannya. Apa kakak sudah punya rencana setelah ini hendak melakukan apa?" Tanya Weini perhatian.


Weini menggeleng lemah, " Tidak bu, aku baik baik saja, ceritalah."


Liang Jia tersenyum senang dan antusias hendak memulai ceritanya. "Baiklah, ibu akan katakan, sebenarnya tadi kakakmu Xiao datang dan mengatakan pada ibu untuk membantunya menemukan jodoh secepatnya."


Weini terkesiap, nyaris saja ia tersedak teh yang sedang diteguknya. Permintaan Yue Xiao yang sangat mengejutkan dan rasanya bukan di waktu yang tepat. Liang Jia terkejut saat Weini tersedak, ia segera menepuk pelan punggungnya agar Weini tak lagi batuk. Weini meminta ibunya berhenti mencemaskannya, ia menggeleng pelan saat Liang Jia menatapnya cemas.


"Aku nggak apa apa, bu." Ujar Weini di sisa batuknya.


Liang Jia belum percaya, ia masih cemas dengan Weini. "Apa itu sangat mengejutkan bagimu? Maaf... ibu membuatmu tersedak."


"Tidak bu, aku sudah nggak apa apa. Kak Yue Xiao serius sudah ingin menikah? Aku tidak menyangka secepat itu kakak sudah siap." Ujar Weini yang sungguh di luar dugaannya.


"Ya, dia begitu serius menyampaikan pada ibu. Semenjak Yue Xin menikah, ia tampak kesepian. Xiao memang lebih dekat dengan Yue Xin, ibu rasa ia tak betah kesepian dan ingin punya teman hidup." Seru Liang Jia.


Weini manggut-manggut, jika memang kakaknya sudah siap menjalani kehidupan pernikahan, ia pun tidak bisa melarangnya dan hanya bisa mendukung keputusannya.


"Syukurlah kalau kak Yue Xiao memang serius, aku ikut bahagia bu. Jadi siapa yang akan ibu jodohkan dengannya? Apa ada calon yang baik menurut ibu?" Tanya Weini antusias.


Liang Jia tertegun sejenak lalu menatap putrinya, "Justru itu, ibu kesulitan mencarikan calon yang tepat untuknya. Ah... biasanya ayahmu yang mengerti soal perjodohan, ibu menyesal kenapa dulu tidak ikut mengenali relasinya."


Weini tersenyum, jika memang sulit bagi ibunya maka ini akan diambil alih olehnya.


"Ibu jangan cemas, Hwa akan carikan jodoh terbaik untuk kakak."


Liang Jia tampak senyum senyum, geli rasanya membayangkan Weini mencarikan jodoh untuk kakaknya, tanpa sadar ia tertawa kecil hingga membuat Weini bingung.


"Apa lucu ya kalau Hwa carikan kakak jodoh?" protes Weini.


Liang Jia sekuat hati menyudahi tawanya, takut menyinggung perasaan putrinya.


"Bukan begitu, Hwa... Boleh saja kamu ikut andil jadi makcomblang, tapi itu setelah kamu menikah. Tidak baik bagi gadis yang belum menikah bahkan lebih kecil dari yang dibantu mendapatkan jodoh, ikut andil dalam perjodohan. Kalau ayahmu tahu dia pasti sangat marah, dia paling percaya kalau nekad seperti itu akan membuat si makcomblang berat jodoh." Jelas Liang Jia.


Weini tertegun, ia bukan tak percaya mitos tapi rasanya ia lebih percaya jodoh sudah ditakdirkan. Namun ada baiknya jika ia mengalah dan menuruti apa kehendak ibunya.


"Lalu apa rencana ibu?"


"Ibu akan minta bantuan penasehat He, dia pasti bisa mencarikan suami terbaik untuk kakakmu. Lagipula ibu cukup lega, satu persatu putri ibu akan segera menikah. Hmm... kakakmu yang satu itu tidak mau dilangkahi kamu, jadi ia meminta ibu untuk mempercepat pernikahannya sebelum kamu." Ujar Liang Jia yang akhirnya membahas tentang rencana pernikahan Weini, hal yang ingin Weini tanyakan sejak tadi.


Sepasang mata Weini melotot saat mendengar pengakuan ibunya, namun wanita tua itu tetap tenang membiarkan Weini menatapnya penuh protes. "Jadi ibu juga diam diam sudah merencanakan untukku?" Protes Weini namun tetap lembut menatap ibunya.


Liang Jia tersenyum seraya mengangguk, "Ya, atas permintaan ayahmu. Lagipula apa yang kamu tunggu lagi Hwa, kalian pacaran sudah cukup lama. Kakakmu saja tidak ada yang pacaran, kamu tidak boleh menunda terlalu lama lagi. Ibu sudah tidak sabar punya cucu." Gumam Liang Jia seraya tersenyum.


Perkataan Liang Jia yang terlalu transparan itu membuat wajah Weini sedikit memerah, ada rasa malu namun enggan menolak semua itu. Membayangkannya saja sudah terasa sangat bahagia, sekejap Weini teringat wajah Xiao Jun. Ia belum tahu kabarnya sejak berangkat tadi, dan rasanya sudah sangat merindukannya padahal baru beberapa jam berpisah.


"Kamu tidak keberatan kan segera menikah?" Tanya Liang Jia penuh perhatian, ia tak akan memaksa jika memang putri bungsunya belum siap meskipun ia sangat ingin melihatnya menikah.


Weini memberi anggukan pertanda respon yang baik, "Aku akan menunggunya ibu, biar dia yang memintaku." Jawab Weini dengan segala kesungguhannya.


❤️❤️❤️