
“Dia datang! Dia datang!” Teriak seorang wartawan yang langsung membuat seluruh wartawan dalam ruangan itu mengarakan kamera ke arah pintu. Demi seorang bintang yang sangat spesial kedatangannya, para pemburu berita rela datang dua jam lebih awal agar bisa mendapatkan posisi yang pas untuk mengambil gambarnya.
Suasana yang riuh seketika hening tanpa dikomando, semua merasa tegang dan mempersiapkan diri untuk mengabadikan momen masuknya sang bintang besar yang telah berubah wajah itu dengan sebaik mungkin. Tak peduli harus berdesakan atau mengambil dengan angle seperti apapun, asalkan hasilnya memuaskan. Jepretan kamera mulai menyilaukan, seluruh perhatian tertuju pada sepasang kaki jenjang yang melangkah masuk.
Weini berjalan anggun, memimpin barisan paling depan saat menginjak red carpet yang sudah disediakan. Ia lah sang bintang utama film ini, dan sudah sepatutnya mendapat sorotan paling utama. Gaun yang dikenakannya, serta mahkota pemberian Dina, benar benar menampilkan sosok Weini yang memang seorang tuan putri di negaranya. Namun yang ia sukai dari tempat ini adalah, tidak ada penghormatan formal seperti yang dilakukan di kediamannya. Semua yang melihatnya justru menegakkan posisi tubuh, terpaku dengan sepasang mata yang terbuka lebar untuk menatap sang putri yang penuh pesona.
“Weini... lambaikan tangan ke kamera.” Pinta seorang kameramen yang belum beradaptasi dengan nama asli Weini. Teriakannya itu sukses membuat Dina mendelik tak senang ke arahnya.
“Nggak sopan deh lu, namanya bukan Weini. Kita nggak boleh manggil nama itu lagi.” Ujar salah satu rekannya yang menyikut lengan wartawan itu dengan sengaja agar bisa menyadarkan kesalahannya.
Weini tak ambil pusing, ia bisa memaklumi mereka yang belum terbiasa. Ia pun menuruti permintaan wartawan dengan melambaikan tangannya dan menghadap ke berbagai sisi agar wartawan yang lain bisa mengambil sisi terbaiknya. Dina yang mengamati dari kejauhan terlihat cemas, namun ia percaya bahwa Weini bisa mengatasinya sendiri.
Produser serta sutradara film yang sudah duduk di podium pun ikut berdiri, terpana menyaksikan langsung keanggunan Weini yang seolah terlahir kembali. Nyaris tak percaya bahwa artis yang digandengnya untuk film ini ternyata sangat istimewa dan penuh kecantikan yang memukau. Weini mengangguk hormat saat akan menempati tempat yang disediakan untuknya, senyuman yang ia berikan justru membuat canggung beberapa pasang mata yang masih terpana.
Stevan dan Grace berjalan menyusul Weini, antusias wartawan kepada mereka jelas tidak seheboh kepada Weini. Meskipun para wartawan pun menyimpan banyak pertanyaan terhadapn Stevan, namun dalam kesempatan ini, Weinilah yang paling menjadi sorotan.
“Bisa kita mulai acaranya?” tanya Stevan yang sengaja menyadarkan orang di sekitarnya bahwa mereka terlalu mengganggu Weini dengan sorot mata mereka.
Moderator yang merasa tersindir halus itu berdehem, begitupun para petinggi film yang duduk di sebelah Weini. Mereka terpaksa harus mengalihkan pandangan pada Weini dan berusaha bersikap biasa walaupun sulit. Bagaikan mimpi saja, Weini bersedia memenuhi permintaan mereka untuk tampil di muka publik, menyelesaikan sisa tanggung jawabnya. Padahal mereka sudah pesimis dengan gertakan kacangan mereka, dan paham bahwa posisi Weini sekarang tentu sangat mudah baginya untuk mangkir. Tapi sikap Weini yang bertanggung jawab ini menjadi nilai plus yang menambah kekaguman mereka pada sang nona penguasa itu.
Acara dimulai dengan lancar, Weini tampak menikmatinya meskipun sadar bahwa puluhan pasang mata itu terus mencari kesempatan untuk meliriknya. Dan sampailah di sesi yang paling dinantikan oleh wartawan, saat di mana Weini harus mengatakan sepatah dua patah kata tentang film yang dibintanginya. Semua merekam dengan jelas, tak ingin terlewatkan sedikit pun. Suara Weini tidaklah berubah, cara bicaranya pun sama. Yang berbeda nyata jelas hanya wajahnya saja. Selebihnya ia tetap Weini yang hangat dan ramah pada siapapun.
“Film ini sangat istimewa bagiku, karena aku bisa mengekspresikan diriku. Tidak berat diperankan....” Weini meneruskan pendapatnya meskipun tahu bukan itu yang dinantikan oleh para wartawan. Hingga sampailah pada pembahasan tentang hal yang ingin Weini utarakan di hadapan mereka.
“Aku sangat berterima kasih pada pak produser, sutradara yang sudah memercayakan saya. Dan juga kepada teman-teman pers, penggemarku di luar sana. Tanpa kalian, nama Weini bukanlah siapa siapa.
Semua kembali bungkam, ketegangan dalam ruangan itu terasa nyata. Mereka yang menjadi pendengar setia, seperti bisa menebak apa yang ingin disampaikan Weini saat ini bukanlah kabar yang menyenangkan.
“Aku dibesarkan dalam dunia ini, berkat kepercayaan kalian juga, aku bisa seperti sekarang. Apa yang dimulai dengan baik, ingin ku akhiri dengan cara yang baik pula. Terima kasih atas segala-galanya, ini merupakan karya terakhirku di dunia entertainment. Maafkan jika selama ini ada kesalahan yang menyinggung kalian.” Weini berhenti bicara, menata hatinya dengan tenang kemudian berdiri.
“Aku mohon undur diri dari dunia entertainment.” Ujar Weini yang akhirnya mengatakan apa yang ingin ia katakan sejak tadi. Gadis itu membungkukkan badannya, memberi penghormatan dan maaf ke berbagai sisi termasuk kepada para petinggi yang duduk sejajar dengannya.
Sejenak hening, namun Stevan dengan inisiatifnya langsung bertepuk tangan dan berdiri. Memberikan apresiasi tertinggi pada Weini yang memilih mengundurkan diri dengan cara terhormat, tanpa sensasi dan tanpa sikap bersembunyi. Weini menoleh pada Stevan, lalu mendapatkan senyuman manis dari pria yang sudah menjadi kakaknya itu. Tak disangka sikap Stevan diikuti oleh para petinggi yang juga berdiri lalu memberikan tepuk tangan. Keheningan ruangan besar itu terpecahkan oleh suara tepuk tangan dari semua yang ada di sana. Rekan pers pun angkat topi pada Weini, menunjukkan rasa kagum mereka kepada gadis terhormat itu.
“Terima kasih.” Ucap Weini lirih dengan sepasang mata yang berkaca-kaca.
***
Xiao Jun berdiri dan bersandar di dinding yang bercat putih, ruangan yang sudah diaturkan Dina untuknya agar bisa terlibat secara tidak langsung dengan kegiatan Weini kali ini. Sejak tadi Dina sibuk melakukan video call dengan bos muda itu, menunjukkan padanya bagaimana jalannya acara. Xiao Jun ikut tersenyum senang melihat keberanian Weini berpamitan pada profesi yang pernah ia geluti. Rasa senang yang sekaligus membuat Xiao Jun merasa kuat untuk bertahan dalam ruangan terpencil ini. Untung saja tempat itu nyaman dan tentunya aman.
“Tuan kenapa?” Dina tidak sadar bahwa lubang hidungnya yang sempat tersorot itu membuat kaget tuannya, ia malah bertanya dengan polosnya.
Xiao Jun menggelengkan kepalanya, berusaha menenangkan diri. “Nggak apa apa, gimana Dina? Apa sudah boleh keluar?” tanya Xiao Jun antusias.
Dina belum percaya bahwa tuannya baik-baik saja, apalagi wajah pria itu tampak tidak meyakinkan, tapi ya sudahlah. Dina tidak mau memperpanjang lagi. “Sebentar lagi tuan, tunggu aba aba selanjutnya ya.”
Xiao Jun mengangguk paham, ia bersiap memberi kejutan pada Weini dan berharap bisa membuatnya senang. “Ya, aku tunggu! Tolong pastikan semua berjalan sesuai rencana. Dina... aku mengandalkanmu.” Gumam Xiao Jun penuh arti.
Dina yang mendapatkan mandat itu langsung mengangguk semangat, ia tidak akan pernah mengecewakan orang yang sudah menaruh kepercayaan kepadanya. “Siap tuan.”
❤️❤️❤️
Sebagus apapun sebuah acara tetap akan sampai pada penghujungnya. Ballroom yang tadinya ramai dan sesak pun mulai bubar, dan Weini masih tertinggal di dalam sana. Sengaja karena Dina meminta pengamanan ketat dan ingin memastikan agar artisnya tidak ditodong wartawan yang kelewat semangat di penghujung acara. Kondisi di dalam ruangan itu benar benar sudah di sterilkan. Dina yakin tidak akan kecolongan dan aman bagi tuannya untuk menampakkan diri.
“Beres tuan. Silahkan datang.” Dina mengirimkan voice note kepada Xiao Jun. Segera setelah itu ia berlari menghampiri Weini yang asyik dengan Grace.
“Kak, udah boleh keluar kan?” Tanya Weini saat melihat Dina tergopoh gopoh menghampirinya.
Dina menggeleng dengan cepat, “Ng sebentar lagi nona, mobilnya lagi disiapkan biar nona langsung masuk aja pas keluar.” Kilah Dina menciptakan sedikit alasan, padahal sejak tadi mobil sudah siap.
Stevan merangkul Grace dengan lembut, sengaja untuk memisahkannya dari Weini. Dari raut wajah Dina bisa terbaca dengan jelas ada motif lain yang ia rencanakan. Stevan mulai paham cara kerja Dina yang serba tidak terduga, pasti ada misi khusus lagi dari Xiao Jun untuknya.
“Oh ya sudah, atur aja kak.” Weini pun asyik bicara dengan Grace lagi sampai tidak menyadari kedatangan seseorang yang langkahnya nyaris tidak terdengar.
Saat Weini menoleh ke sampingnya, barulah ia terkesiap melihat senyuman Xiao Jun yang terpampang nyata. “Jun, sejak kapan kamu datang?” tanya Weini setengah tak percaya kekasihnya nekad hadir padahal sudah ia minta tetap tinggal di kantor.
“Sejak kamu sampai di sini. Aku terus melihatmu dari kejauhan. Kita aman aman saja kan? Hmm... aku ingin mengajakmu pulang kalau sudah aman.” Canda Xiao Jun yang berujung Weini menyikut lengannya dengan gemas.
Weini mencurigai Dina yang senyam senyum saja melihat kemesraan dua majikannya. “Ini pasti ulah kak Dina kan?”
Dina terkekeh, “Maaf nona, habis dua duanya bos saya jadi maaf kalau sesekali hati saya bercabang.”
Mereka pun keluar bersama menuju mobil masing-masing, yang pasti Weini tak keberatan melangkah keluar dengan bergandengan tangan bersama Xiao Jun. Pria itu sudah nekad datang demi dia, dan Weini hanya bisa menikmati kebersamaan ini dengan hati terbuka.
❤️❤️❤️