OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 92 APA SALAHNYA MEMAAFKAN?



Hampir sepuluh hari tidak ke kantor terasa sedikit canggung bagi Weini saat menginjakkan kaki kembali. Kehadirannya mendapat sambutan hangat mulai dari security, kru, admin, rekan sesama artis dan tak ketinggalan Bams.


“Welcome back miss Weini.” Dina meniupkan terompet bekas tahun baruan yang jadi pajangan di kantor Bams.


Weini menutup kuping lantaran Dina masih ketagihan berekspresi dengan terompet layaknya bocah. Ia tak berniat menghentikan tingkah konyol Dina, justru merasa terharu dirinya disambut begitu heboh. Bams merenggangkan kedua tangan selebar mungkin, menawarkan sebuah pelukan hangat dan penuh kerinduan.


“Weini, I’m sorry… but I’m really miss you.” Pengakuan dari lubuk hati Bams tersampaikan ketika Weini menerima pelukannya.


Weini paham maksud permintaan maaf Bams ada sangkut paut dengan masalah Metta, namun sebagaimana ia bisa memaafkan Metta maka iapun tak keberatan memaafkan Bams. Xiao Jun sudah menceritakan semua dilemma yang dirasakan Bams. Ia mengerti posisi pak sutradara yang ia anggap layaknya saudara dan bersedia melupakan masa lalu itu.


“Miss you too, brother Bams.” Ujar Weini lirih. Ia merenggangkan diri dari pelukan, Bams langsung inisiatif mengajak Weini duduk.


“Weini, gue banyak salah ama lu. Pertama, selama lu di rumah sakit gue nggak jenguk sekalipun. Kedua, saat itu gue… gue malah takut dengan ancaman lalu mengorbankan keadilan bagimu. Weini, lu mau marah gak papa.


Mau mukul gue juga nggak bakal ngelak gue. Tapi plis, maafin gue ya.” Bams beriba-iba memohon sebuah pengampunan, kedua tangannya dikatupkan di depan dada.


Dina menjadi saksi bisu penyesalan terdalam seseorang, ia yang biasanya cuek terhadap sekitarpun bisa sedikit tahu diri dan berdiam sebagai penonton. Weini terlihat tersenyum, seragam putih abu belum ia tanggalkan dan wajah polos tanpa make upnya dengan percaya diri ia pamerkan. Melihat penyesalan dan permintaan maaf yang setulus itu, Weini tidak mungkin mengabaikannya.


“Udah ya kak, jangan diungkit lagi. Udah kumaafin dari kapan hari. Lupain aja ya hehe…” ujar Weini santai, pancaran sorot matanya tak menunjukkan kebohongan.


Bams menitikkan air mata haru, di balik penampilan yang sangar rupanya membalut kelembutan hatinya. Ia mengucap syukur lalu mengusap wajah dengan kedua tangan. “Gue janji nggak akan terulang lagi. Nggak bakal


bikin lu kecewa!”


Dina langsung mengambil alih peran, “Ehem… di mana-mana perjanjian tuh ada hitam di atas putih. Tapi kalo buat temen sih cincay dikitlah, gimana kalo traktir kita di restoran BB? Pak sutradara kan harus menunjukkan itikad baik dong setelah dimaafin.” Ujar Dina yang perhitungan dan anti rugi. Ia bicara segampang itu seakan mendapat ACC dari Weini.


Bak tikus dan kucing, kedua teman Weini itu adu kebawelan mempertahankan pendapat. Weini tak kuasa menahan tawa, kantor ini seperti rumah kedua yang memberinya suasana bahagia. Benar kata Haris bahwa orang akan


dihargai bila berada di lingkungan yang tepat. Sejak awal masuk sekolah itu, Weini sadar itu sebuah kesalahan yang tidak bisa diperbaiki. Ia tak pernah dihargai dan mendapatkan teman seperti di tempat kerja saat ini.


Dan apapun yang sudah kau pilih untuk dimiliki, pertahankanlah!


_QUOTE OF HARIS_


***


Metta kembali ke rumah mewah ayahnya dengan kondisi hati yang panas karena amarah. Ekspektasinya ketinggian saat dibebaskan dari tempat yang paling tidak diinginkan itu – baca : penjara – dikiranya sang ayah


sudah menanti dengan penuh haru dan membawanya pulang ke istana mereka. Yang terjadi adalah Metta harus mencegat taksi dan kini tergesa-gesa masuk ke rumah meminta uang pada siapapun di sana agar supir taksi tidak memakinya habis-habisan.


“Nooon… udah pulang?” teriak seorang pembantu yang kebetulan sedang menyapu saat Metta masuk. Ia histeris dan senang menyambut kedatangan nona muda keluarga Gumilang.


“Bi, papi di mana?” tanya Metta tanpa menghiraukan kegembiraan pembantunya.


“Ada non, lagi baca Koran di samping kolam renang.”


“Bi, bayarin ongkos taksi di depan. Ntar klaim aja ama papi.” Perintah Metta seenaknya dan segera menyusul Anwar, ditinggalkannya pembantu yang langsung pucat ketika disuruh membayar. Bibi itu paham betul majikannya tidak mungkin memberi ganti rugi yang artinya ia harus bersiap kehilangan sedikit gajinya untuk membayarkan ongkos anak orang kaya.


Anwar tengah berselonjor di kursi tepi kolam renang sembari membolak-balik Koran ketika Metta sampai di belakangnya.


“Santai banget pi. Asyik ya, mentang-mentang udah bebasin Metta tapi malu ya buat datang jemput.” Metta menyindir ayahnya dari belakang.


Suara yang sangat dikenal Awar itu otomatis menyita perhatian, dilemparnya Koran hingga terjatuh dalam kolam. Anwar tersenyum bahagia, dikedipkannya mata beberapa kali demi membuktikan ini bukan sekedar mimpi.


“Putriku… sayang… kamu sudah bebas? Siapa yang membebaskanmu, oh terima kasih Tuhan putriku sudah kembali.” Anwar memeluk Metta erat, harta tak bernilainya kembali ke dalam pelukannya. Setelah ia pesimis akan masa depan Metta jika didakwa bersalah, nyatanya sekarang putrinya dibebaskan sebelum kasus ditutup.


Metta bingung, semula ia mengira kebebasannya berkat bantuan ayahnya. Tetapi setelah mendengar pengakuan barusan, ayahnya bahkan tidak tahu siapa yang menolongnya keluar penjara.


“Jadi bukan papi yang bebasin aku?” Metta melepaskan diri dari dekapan ayahnya. Ia lebih tertarik mencari tahu yang sebenarnya.


Anwar menggeleng, ia mulai berpikir keras siapa yang paling berkuasa membebaskan seorang tersangka. “Kecuali si penggugat yang mencabut laporannya. Bentar papi cari tahu dulu.”


Walaupun tidak punya kekuatan untuk membebaskan Metta dari hukuman, Anwar masih punya kenalan di kepolisian yang bisa dimintai keterangan. Diraihnya ponsel di atas meja dan menyambungkan pembicaraan. Metta gelisah, rasa penasaran menghantuinya. Ia harus tahu siapa yang menolongnya lalu memberinya kompensasi agar tidak terikat utang budi.


“Jadi gimana pi?” Metta langsung menodong Anwar saat percakapan di telpon berakhir. Wajah Anwar terlihat suram, kebingungan tersorot jelas dari rautnya. Bagaimana ia harus menjelaskan pada putrinya yang ababil


dan kekanakan.


Anwar meminta Metta duduk tenang dulu sebelum masuk ke topik pembicaraan berat. “Kamu pasti lapar, sambil minum dan makan ya kita ngobrol.” Rayu Anwar menoba menenangkan putrinya. Ia berteriak memanggil pembantu menyiapkan makanan dan minuman segar untuk Metta.


“Siapa pi yang bebasin Metta? Metta nggak mau makan sebelum papi cerita.” Ancam Metta mulai tidak sabaran melihat Anwar sengaja mengulur cerita.


Anwar tidak punya banyak pilihan selain berterus terang. Tak peduli betapa shock anaknya nanti, ia lebih baik segera menyampaikan kebenaran.


“Polisi bilang pihak penggugat yang mencabutnya atas permintaan korban. Tuan Li Xiao Jun yang menggugat masalah ini ke meja hijau dan berkat permohonan Weini akhirnya ia mencabut gugatan padamu dan tetap


melanjutkan kasus dengan Lisa sebagai tersangka utama. Weini lah yang menolongmu.”


Seperti dugaan Anwar, fakta mencengangkan itu mengguncang Metta. Ia hapal sifat Metta yang paling anti berhutang budi dan tak bisa melupakan jika sudah membenci. Sekarang posisi justru ia ditolong orang yang dibenci, Anwar tidak mau Metta berbuat konyol kedua kali.


“Nak, keledai aja nggak mau jatuh ke lubang yang sama. Jangan lakukan hal bodoh lagi untuk balas dendam. Dia saja menolongmu setelah apa yang kamu perbuat. Papi mohon, jangan cari masalah dengannya.”


Metta sangat terpukul, ia kehabisan kata-kata serta tenaga untuk marah. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa ia masih punya muka menghadapi Weini di sekolah? Tubuhnya tersandar lemas di kursi santai, otaknya tidak sanggup berpikir lagi. Ini jauh lebih menyakitkan ketimbang mendekam dalam bui.


Gue kudu gimana?


***