OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 295 KESEPAKATAN BARU



Li An bergeser duduk dan meraih pundak ayahnya, ia mengusap pelan demi menghibur pria tua itu. “Ayah jangan menyalahkan diri, meskipun akan berdampak buruk pada nona Yue Hwa tapi ayah tidak punya pilihan lain. Waktu


itu hanya cara itu yang bisa ayah lakukan untuk menyelamatkannya, ayah tidak salah.”


Xiao Jun terhunyung lemah lalu bersandar pada kursi yang didudukinya. Ia pun turut lemas mendengar ancaman topeng sihir yang akan merenggut nyawa Weini pada masa mendatang. “Pasti ada cara. Ayah, pasti ada cara lain membuka topeng kalian kan?” Desak Xiao Jun, ia enggan pesimis dan pasrah menerima nasib.


Haris menatap putranya, memberinya senyuman yang memancarkan rasa optimis. Pria tua itu mengangguk pelan. “Kecuali ada yang lebih tinggi sihirnya, masih ada harapan selamat.”


Xiao Jun mengepalkan tangannya, ia merasa tidak masuk kualifikasi namun ia enggan menyerah. Ia mencintai Weini, apapun caranya gadis yang dicintainya harus selamat.”Aku akan berlatih lebih keras, ayah mohon ajarkan aku. Aku akan segera mengimbangi kemampuan Weini agar bisa menolong kalian.”


Haris menarik napas berat lalu menghembusukannya. “Masalahnya, sihir aliran kita tidak sanggup. Ayah pernah melepas paksa topengnya, yang terjadi malah kami berdua terluka cukup parah. Di dunia ini di atas langit masih ada langit, sihir klan kita bukanlah yang tertinggi tapi kita tidak bisa menemukan siapa pemilik sihir yang lebih unggul dari kita.”


Li An dan Xiao Jun saling bertatapan, setidaknya itulah cara mereka saling menguatkan.


“Kalau begitu, aku akan temukan penyihir yang lebih unggul dari kita. “ Ungkap Xiao Jun serius.


Li An mengangguk, “Aku juga akan membantu kalian, Wen Ting mungkin bisa diandalkan. Aku sudah ceritakan semua kesulitan keluarga kita padanya, dia bersedia membantu apapun yang ia bisa.”


Haris tersenyum, ia bangga memiliki anak-anak sehebat itu. Ia dapat berbagi rasa dan mendapatkan pengertian mereka. “Terima kasih anak-anakku, kalian luar biasa. Untuk saat ini, ayah mohon pengertian kalian, terutama kamu Jun. Tolong rahasiakan ini dari Weini, dan jangan sakiti dia lagi. Ayah tak segan menyentilmu kalau bikin anak gadis orang menangis lagi.”


Xiao Jun tersenyum kecut, terlebih saat sorotan Li An dengan tampang sewot tertuju padanya. Menyakiti anak gadis orang? Sungguh puitis sindiran Haris padanya. “Ayah tidak memberi sanksi pada gadis yang membuat anak laki-lakimu menangis?” Canda Xiao Jun.


“Kamu ….” Jawab Haris seraya menunjuk Xiao Jun dengan tampang galak, namun sedetik kemudian ia tertawa kencang. Tawa yang akhirnya disusul oleh Li An dan berakhir pada Xiao Jun. Kehangatan ayah dan dua anak di sana begitu kentara, dengan suasana tenang bertemankan teh hangat yang tak pernah lepas dari kebiasaan mereka.


“Pegang janji kalian, jangan bocorkan pada Yue Hwa. Sebelum kita temukan cara membuka topengnya, dan mulai sekarang Jun, baik-baiklah dengannya. Jaman ayah pacaran dengan ibu kalian, tidak ada masalah yang serumit


kalian. Anak muda sekarang kisah cintanya terlalu dramatisir, bikin pusing.” Gumam Haris.


Xiao Jun mengangguk paham, “Aku janji ayah.”


Li An ikut celetuk, “Dan kapan kau kenalkan dia padaku? Aku nggak bisa lama di sini.”


Haris baru teringat sesuatu, “Oya, Li An kamu masih bisa tunggu sampai dua hari lagi di sini? Lusa ulang tahun Yue Hwa, tinggallah sebentar kita rayakan bersama.”


Li An menepuk tangannya sekali, semangatnya berkobar saat mendengar bau-bau pesta. “Pesta? Oh, aku suka sekali pesta. Makan – makan, kumpul ramai orang, hiburan, kebahagiaan. Oke ayah, aku pasti hadir untuk calon


adik ipar.”


Xiao Jun tampak gusar, ia belum memberi komentar apapun hingga Haris menatapnya. Terpaksa ia buka suara dengan kikuk, “Itu … Aku belum baikan sama dia.”


Li An meliriknya tajam dan dingin, layaknya lirikan seorang pemburu yang sedang membidik mangsa. “Kalau begitu cepat baikan! Pergi minta maaf dan yakinkan dia lagi!” Pekik Li An yang sukses membuat Xiao Jun menutup telinga.


***


Dina berlari cepat menuju toilet demi menerima sebuah panggilan yang mendebarkan. Senangnya seperti ketiban durian nomplok, ia tersenyum lebar membaca nama penelpon yang tertera di layar lalu berdehem untuk


melancarkan suara sebelum menerimanya.


“Ya tuan, apa yang bisa kubantu?” Todong Dina begitu menerima panggilan dari Xiao Jun.


Dina mengangguk, “Iya, dia bekerja sangat keras hari ini. Kasihan harus lompat berkali-kali.” Dina mendramatisir cerita, padahal aslinya tidak selebay itu. Weini hanya beradegan kelahi melawan pria bertubuh kekar, itupun hanya sekedar acting dan keamanan tetap terjaga.


“Apa masih lama selesainya?”


Dina berpikir sambil mengetuk dagunya dengan jemari. “Hmm, malam seperti biasalah tuan. Ah, apa tuan mau ketemu non Weini?” Dina girang, ia melihat bayangan dirinya dalam cermin yang sedang tersenyum lebar.


“Begitulah. Tolong aturkan ya, Dina.”


Dina mengepalkan tangan sembari berbisik sangat pelan untuk didengan sendiri. “Yes!”


Xiao Jun bisa mendengar itu, ia tersenyum mendengar kepolosan Dina.


“Tenang tuan, semua bisa diatur. Aku kabari lagi nanti kalau sudah scene terakhir.” Seru Dina.


“Thanks Dina.”


Dina menghalangi pembicaraan itu berakhir, masih ada yang ingin ia katakan. “Eh tuan, bentar.” Pekik Dina.


Xiao Jun yang ada di seberang menahan panggilan padahal jarinya sudah hampir memencet tombol merah. Ia mengarahkan ponselnya ke telinga lagi, mendengarkan apa yang ingin Dina sampaikan.


“Aku senang banget tuan hubungi aku lagi. Tadinya kupikir tuan nggak perlu bantuanku lagi. Kasian tahu, nona Weini sejak waktu itu berusaha menutupi sedihnya. Tuan, tolong jangan sering bikin dia sedih lagi ya.” Pinta Dina lirih, ia bersungguh-sungguh dengan pernyataannya.


Xiao Jun tersenyum seraya mengangguk, yang pasti hanya ia yang tahu apa yang dilakukannya sekarang. “Oke.”


***


Di sela istirahat sambil menanti kru menyiapkan setting studio, Weini memilih berisitrahat di studio. Ia duduk sambil


menyelonjorkan kaki di kursi santainya, tak lama kemudian tim MUA menghampirinya dan bersiap retouch makeup. Dina yang menyimpan kejutan besar untuk Weini terus menatap pada artis itu. Ide brilian sudah Dina dapatkan untuk menyusun rencana pertemuannya dengan Xiao Jun yang tak mungkin bisa Weini hindari.


Sementara itu di dalam ruang istirahat pemeran utama, ada Grace yang menghuni ruangan itu bersama Fang Fang. Hari ini pun gadis itu mengenakan setelan dress yang terlihat mirip dengan style Weini, walaupun sesampai di lokasi syuting akan berganti kostum namun penampilannya saat datang sudah terciduk oleh Stevan.


“Saya keluar ambil jatah makan dulu nona.” Pamit Fang Fang yang segera berbalik badan dan berlalu dari hadapan Grace setelah mendapat isyarat anggukan.


Grace tengah memejamkan matanya setelah penat membaca naskah. Keheningan ruangan itu menjadikannya lebih rileks, ia tak menyangka semakin mendalami seni peran, ia semakin jatuh cinta pada pekerjaan ini. Semula ia hanya terobsesi mengalahkan popularitas Weini, tetapi sekarang sepertinya ia mulai serius memikirkan nasib karier ini untuk jangka panjang.


Senyuman Grace terpotong saat mendengar decit pintu yang dibuka, ia mengira Fang Fang sudah kembali. “Cepat banget, perasaan belum lima menit kamu per … gi.” Ucapan Grace jadi terbata-bata begitu mendapati bahwa ia salah mengira, bukan Fang Fang yang kembali namun Stevan yang datang dan meletakkan segelas bubble tea tepat di meja yang dekat dengan posisi kepala Grace.


Usai meletakkan minuman itu, Stevan tersenyum lalu berbalik badan sambil melambaikan tangan. Grace terbengong menatap punggung pria itu yang kemudian menghilang dari ruangan, tatapannya beralih pada minuman di sampingnya. Ada secarik kertas tertempel di atasnya, Grace mengernyit lalu menarik kertas itu.


Hadiah kecil untuk kerja keras hari ini.


Grace nyengir membaca tulisan tangan yang rapi itu, entah Stevan atau siapa yang menuliskannya. Tangannya meraih gelas berukuran besar itu, lalu menatapnya dengan girang. Ia heran pada dirinya yang bisa senang hanya karena diberikan hadih kecil ini. Sesaat setelah menyadari hatinya yang terbuai sejenak, Grace menggelengkan kepala berusaha menepis rasa senangnya. Kini ia justru heran, gerak-gerik Stevan mencurigakan. Darimana pria


itu mendapatkan nomor pribadinya, lalu sekarang ia tahu minuman favoritnya dan menghadiahkan padanya?


***