
Liang Jia tengah merajut sebuah sapu tangan dengan pola burung phoenix, firasatnya seketika merasa sangat buruk hingga kesadarannya lengah. Jarum yang ia rajutkan pada kain justru menusuk jarinya. Ia memekik perih kemudian reflek menjatuhkan kain yang sedang dikerjakan. Tusukan itu cukup dalam sehingga darah mulai berceceran menodai lengan bajunya. Liang Jia menghisap jarinya sendiri sebagai pertolongan pertama, firasatnya semakin tak menentu, ia merasakan perih yang teramat dalam dan merindukan putri bungsunya.
“Ada apa denganmu?” Liang Jia bertanya sendiri, ia kehilangan semangat untuk meneruskan rajutan meskipun darah sudah berhenti. Wanita tua itu berjalan mendekati lemarinya, saat ini ia begitu ingin melihat wajah anak itu. Dalam sebuah brankas, Liang Jia mengeluarkan secarik foto usang yang menjadi satu-satunya potret yang selamat dari pemusnahan Li San.
“Yue Hwa” Desis Liang Jia, foto anak perempuannya ang malang ketika berusia lima tahun itu ia simpan penuh hati-hati. Nilainya bahkan lebih berharga dari seluruh harta yang ia miliki, hanya inilah sisa kenangan yang Liang Jia miliki dari putri bungsunya.
***
(Ni wen wo ai ni you duo shen)
Kau bertanya padaku seberapa dalam rasa cintaku padamu
(Wo ai ni you ji fen)
Seberapa besar aku mencintaimu
(Wo de qing ye zhen)
Perasaanku ini sungguh-sungguh
(Wo de ai ye zhen)
Begitu juga dengan cintaku
(Yue liang dai biao wo de xin)
Bulan mewakili hatiku
(Qing qing de yi ge wen)
Sebuah kecupan lembut
(Yi jing da dong wo de xin)
Telah menyentuh hatiku
(Shen shen de yi duan qing)
Sebuah perasaan yang mendalam
(Jiao wo si nian dao ru jin)
Membuatku memikirkanmu hingga saat ini
Xin Er mendengar lantunan lagu yang dinyanyikan penyanyi mandarin lawas, Teresa Teng, dari dalam kamar majikannya. Ia masih berdiri di depan pintu, namun suara musik itu begitu jelas terdengar dari ruangan yang semestinya kedap suara itu. Xin Er tak bisa membayangkan sekencang apa nyonya itu menyetel volume di dalam, membuatnya sangat cemas dengan sikap aneh Liang Jia yang tidak biasanya.
“Nyonya?” Xin Er tak melihat Liang Jia di kamar, ia baru meninggalkan majikannya setengah jam dan nyonya itu terlihat masih asyik merajut. Mengapa tiba-tiba suasana menjadi sekacau ini? Xin Er bergegas mencari lebih lanjut,
rasanya percuma saja ia berteriak sebelum mengecilkan suara pemutar musik itu.
“Nyonya?” Xin Er menatap ke atas ranjang, ia yakin orang yang dicarinya bersembunyi di dalam selimut. Sembari memelankan langkah, Xin Er mendekati tubuh yang terbalut selimut itu kemudian menepuk dengan ringan. Ia mengulang sekali lagi memanggil sang nyonya, namun tidak ada respon. Karena merasa khawatir, Xin Er memberanikan diri untuk menyingkap penutup tebal itu.
“Ada apa nyonya?” Xin Er cemas bukan kepalang mendapati Liang Jia sesungukan menangis sembari memeluk selembar kertas yang ia yakini adalah foto.
Liang Jia enggan menjawab, bahkan ketika dilihat Xin Er pun ia tidak berhenti menangis. Sebaliknya, Xin Er mulai mengingat sesuatu, ia pernah melihat ketepurukan nyonya besar Li ini di masa lalu. Tembang lawas ini, serta foto yang sedang didekap Liang Jia, membuat Xin Er yakin bahwa nyonya itu sedang merindukan putrinya yang hilang.
Xin Er adalah saksi hidup yang mengetahui betapa terpuruknya Liang Jia ketika gagal mempertahankan barang peninggalan putrinya dari kemurkaan Li San. Segala tentang Yue Hwa dan yang mengingatkan padanya akan
dibumi-hanguskan, termasuk kecapi yang sering dimainkan Liang Jia. Untungnya kecanggihan jaman masih bisa mengakali kenangan, kala Liang Jia rindu maka ia akan menyetel lagu ini, tetapi tidak dengan volume sekencang ini.
“Nyonya teringat dia?” Tanya Xin Er penuh hati-hati. Jujur saja, ia mulai tergugah melihat kerapuhan Liang Jia. Bagaimanapun ia adalah seorang ibu yang nasibnya tak jauh berbeda dengan sang nyonya.
Liang Jia menatap Xin Er, kedua matanya memerah bahkan hidungnya pun ikut merah akibat tangisan. Ia mengangguk lemah, isak tangisnya masih terdengar jelas. “Apa dia masih hidup? Apa dia cukup makan? Apa dia
bahagia?”
Pertanyaan itu sangat menyudutkan Xin Er, bagaimana ia harus bersikap dan berkata? Kebohongan yang melegakan atau kejujuran yang menyakitkan? Nyonya itu terlampau sering dicegoki kebohongan, kepalsuan di
“Apa hidupnya tenang? Atau dia sudah ….” Liang Jia meneruskan spekulasinya kemudian terisak lagi.
Suara tangisan itu begitu menyayat perasaan Xin Er, ia pun tersiksa harus memendam kebenaran ini entah sampai kapan. “Dia ….” Desis Xin Er, tangannya gemetaran hingga ia tak sanggup meneruskan kata-kata.
“Langit kenapa begitu kejam terhadapku? Aku hanya ingin tahu tentang putriku, aku ingin dia masih hidup!” Pekik Liang Jia, ia semakin tidak terkendali.
Amukan dari Liang Jia yang kian menjadi, kian membuat Xin Er semakin dirundung rasa bersalah. Ia tidak mau wanita itu terlalu menyalahkan takdir dan terus merutuki nasibnya.
Suamiku, aku mohon maafkan perbuatanku. Aku tidak sanggup melihat orang yang begitu baik pada kita ini semakin menderita. Aku juga seorang ibu, aku tak mampu melihat ibu lain menderita hanya karena ingin tahu kabar anaknya. Xin Er meremas kerah kemejanya, ia menyematkan telepati pada suaminya. Efektif tidaknya pun tak lagi ia pedulikan, yang pasti suatu saat nanti ia pasti mempertanggung-jawabkan pada Wei karena telah mengingkari janji mereka.
“Nyonya, duduklah! Aku mohon anda tenang, ada hal penting yang akan kusampaikan tentang tuan putri.” Xin Er berbicara dengan suara pelan namun tegas. Liang Jia tersentak melihat raut tegas itu kemudian mengikuti perintah pelayannya.
“Apa yang kamu tahu?” Liang Jia menatap Xin Er lekat-lekat, mereka saling berhadapan dan terdiam sejenak diiringi lagu yang sejak tadi berulang kali diputar otomatis.
“Xin Er, katakan! Jangan rahasiakan apapun tentang putriku!” Desak Liang Jia, ia mengguncang pundak wanita itu saking gemasnya.
Xin Er menghela napas, “Apa nyonya bersedia berjanji untuk tetap diam, apapun yang kuceritakan tidak membuatmu emosi dan bertindak gegabah? Ini menyangkut kelanjutan hidup orang banyak, nyawa mereka di tangan anda jika anda gegabah.”
Bola mata Liang Jia berputar, ia cukup takut mendengar syarat dan konsekuensi yang Xin Er sampaikan. “Ya, aku berjanji.” Jawabnya setelah berpikir sejenak, keingin-tahuannya lebih besar dan mendesak ketimbang harus berlama memikirkan resiko masa depan.
Xin Er tersenyum tenang, “Nyonya, tenanglah putri anda masih hidup. Mereka selamat dan ada di suatu tempat.”
“Sungguh?” Liang Jia berbinar, ia tersenyum dalam tangis lantaran belum bisa berhenti sepenuhnya dari isakan. Digenggamnya jemari Xin Er dengan kuat, betapa ia berharap apa yang baru saja didengar adalah kenyataan.
Xin Er mengangguk, “Ya, mereka selamat dan hidup baik sampai sekarang. Tapi untuk kembali ke sini, nyonya sendiri tahu itu bukan hal mudah selagi tuan besar masih memegang prinsip lamanya.”
Liang Jia menatap pelayannya tanpa berkedip, ada rasa senang sekaligus sesak karena mengingat keburukan Li San. “Mereka tinggal di mana sekarang? Aku ingin bertemu dia. Kalau dia tidak bisa kembali ke sini, yang penting aku bisa ketemu dia di luar.”
“Jangan nyonya, anda sudah berjanji untuk tidak gegabah. Mereka punya rencana untuk kembali, kumohon percaya dan bersabarlah sebentar lagi. Jangan sampai tindakan kita justru mengacaukan dan mencelakakan mereka.” Xin Er mulai takut Liang Jia kebablasan, ia menggenggam balik jemari nyonya itu untuk menenangkannya.
Liang Jia menunduk sedih, ternyata mengetahui bahwa Yue Hwa masih hidup saja tidaklah cukup membuatnya senang. “Aku sangat merindukannya, ingin melihat wajahnya, sudah sebesar apa dia sekarang? Apakah
merindukan seorang anak itu tindakan yang salah?”
“Tidak nyonya, tidak ada salahnya seorang ibu merindukan anak. Aku juga selalu merindukan ketiga anakku dan hanya bisa mendoakan segala yang terbaik buat mereka.” Xin Er mengelus telapak tangan Liang Jia dengan lembut, sesama ibu yang saling memberi dukungan dan kekuatan untuk mencintai anak-anak mereka.
“Xin Er, aku tidak akan ingkar janji. Tapi beritahu aku, di mana mereka tinggal sekarang? Apa kau kenal anakku? Ah, darimana kau tahu kabar mereka?” Liang Jia baru tersadar, mengapa Xin Er yang selalu bersamanya bisa tahu kabar sepenting ini dan merahasiakan padanya.
“Ini agak rumit, aku berjanji padanya untuk merahasiakan ini pada siapapun termasuk kepada Jun. Ini tentang kemampuan spiritual suamiku yang membuat mereka berhasil kabur dari Li San, nyonya pasti merasa ini tidak
masuk akal.”
“Katakan! Aku percaya sepenuhnya pada Wei, tidak ada yang mustahil dari dia.” Tegas Liang Jia. Ia tak ingin ada yang ditutupi darinya lagi.
Xin Er menunduk sesaat kemudian mantap melanjutkan pembongkaran rahasianya. “Baiklah, mereka sudah menjadi orang baru, dengan wajah dan nama baru. Namun hati dan ingatan mereka tetaplah sama. Aku pernah menemui suamiku saat makan malam di luar negri yang nyonya aturkan. Di sana dia berjanji padaku untuk segera menyelesaikan semua ini dan kembali berkumpul. Dan saat itu pula dia menunjukkan padaku tentang anak gadismu.”
Liang Jia terperanjat, ia bergetar hanya dengan mendengar perkataan Xin Er. “Saat itu dia datang? Anakku datang dan aku tidak tahu?”
“Maaf nyonya, mohon tetap berpikiran jernih. Jangan sampai segalanya rusak gara-gara keegoisan kita.”
Liang Jia menenangkan diri, ia mengambil napas kemudian mengembuskannya berulang kali. “Siapa namanya dan seperti apa wajahnya sekarang?” Liang Jia kembali bertanya dengan lirih.
Xin Er tersenyum, “Namanya Weini.”
Liang Jia gontai seketika, air matanya terus berlinang meskipun ia tak lagi ingin menangis. Nama itu sudah pernah ia dengar, nama itu menyadarkannya bahwa dunia yang luas bisa sesempit itu pada mereka. Xiao Jun mencintai putrinya dan berkorban demi cintanya. Weini … Gadis yang begitu memikat hatinya hanya dengan sebuah potret foto itu, yang wajahnya ia sulam di atas sapu tangan, yang sering ia pandangi dengan penuh sayang tanpa tahu
alasannya, dan sekarang ia tahu darimana perasaan itu. Semua itu karena tanpa ia sadari, hatinya lebih dulu menyadari bahwa Weini adalah Yue Hwa, putri bungsunya.
***