OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 355 KEHADIRAN YANG MENGEJUTKAN



Dina melangkah masuk ke kantor managemen sembari bersenandung riang. Bisa dikatakan hari ini adalah hari pertama artisnya memulai karier di bawah naungan production house ini. Masa depan Weini yang cerah seakan sudah tercetak sempurna berkat bantuan Xiao Jun yang begitu peduli akan karier keartisan kekasihnya. Weini kembali bekerja sama dengan sutradara handal yang telah membantu membesarkan namanya. Saking girangnya Dina, membuat Weini hanya bisa geleng-geleng kepala.


Weini merasakan ponselnya bergetar, ia meraba tas jinjingnya dan mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Sebuah pesan singkat membuatnya menyunggingkan senyuman, tentu saja dari Xiao Jun. Weini langsung mengetik balasan pada pria itu selagi belum mulai syuting. Ia heran mengapa Xiao Jun menawarkan untuk menjemputnya pulang padahal masih terlalu awal untuk pulang kerja. Bahkan Weini belum mulai beraktivitas di depan layar.


“Pagi semuanya.” Sapa Bams yang sudah menunggu di studio, seperti biasa ia datang paling awal dan pemeran yang paling rajin datang awal tentunya Stevan. Kedua pria itu duduk berdekatan dan mengamati setiap pemeran yang baru saja tiba.


Weini berjalan menghampiri dua pria itu, ia agak heran melihat Bams yang terlihat santai. Tidak biasanya pak sutradara yang perfeksionis saat bekerja itu bisa duduk memangku tangan tanpa dikelilingi kamera dan alat kerja lainnya.


“Pagi kak Bams, ng … Apa kita nggak jadi syuting hari ini?” Tanya Weini yang tak bisa menahan rasa ingin tahunya.


Bams terkejut mendengar pertanyaan Weini, sepertinya ia tak bisa menutupi sesuatu dari gadis itu. Bams mengangguk pelan, “Nanti gue jelaskan setelah semua talent kumpul.” Jawabnya to the poin.


Stevan hanya terdiam, dari raut wajahnya sepertinya ia sudah tahu sesuatu namun memilih bungkam. Meskipun Weini menatapnya dengan sorot penasaran, pria itu tetap bergeming. Weini hanya bisa membaca gurat kecewa dari wajah Stevan tanpa tahu apa yang membuatnya sesedih itu.


***


Lau melajukan mobil menuju sebuah alamat kantor yang diberikan Xiao Jun. Mobil sport yang biasanya ditumpangi ia dan tuannya itu kini bertambah dua penumpang yang satu tujuan. Meskipun ramai namun suasananya hening sejak mereka memulai perjalanan, Grace dan Fang Fang pun lebih tertarik mengamati jalanan ibu kota siang itu ketimbang saling berbicara. Lau melirik Xiao Jun yang duduk di sampingnya sesekali melirik spion tengah yang


pantulannya mengarah pada Grace. Lau yakin perhatian itu hanya bentuk kepedulian Xiao Jun terhadap gadis yang baru semangat paska aksi bunuh diri.


“Fang, aku sudah memikirkan ini jadi tolong dengarkan dan patuh padaku.” Grace memecah keheningan dengan perkataan yang ditujukan pada pelayannya. Fang Fang yang duduk di sebelahnya dan menatap ke luar jendela mobilpun menoleh kepada Grace dengan tatapan penuh tanda tanya. Entah apa yang akan Grace katakan hingga sudah mewanti-wanti agar tidak dibantah.


“Baik nona.” Jawab Fang Fang patuh dan menundukkan wajah.


Xiao Jun dan Lau ikut penasaran, bos muda itu memperhatikan gerak-gerik dua gadis itu lewat kaca spion. Grace mungkin akan menyadarinya tetapi Xiao Jun tidak ambil pusing tentang itu.


“Kamu tidak perlu menemaniku pulang ke Hongkong. Tetaplah di sini menungguku kembali, ini perintah!” Ucap Grace tegas.


Fang Fang terkesiap, dua matanya menyipit sembari menggelengkan kepala. “Nona, aku ….”


“Kamu sudah bilang akan patuh kan? Aku tidak suka ditolak, jadi jangan membantahku.” Jawab Grace sekenanya. Ia tak bersedia menatap Fang Fang yang wajahnya terlihat sangat sedih, Grace hanya takut hatinya luluh dan berubah pikiran.


“Setidaknya beri dia alasan, agar dia bersedia patuh dengan ikhlas.” Ujar Xiao Jun yang kini menoleh ke belakang menatap Grace langsung.


Grace kaget mendengar Xiao Jun yang campur tangan dalam urusan ia dan pelayannya, tetapi ia ingat bahwa status Fang Fang yang juga pelayan pilihan Xiao Jun, akhirnya ia bisa mengerti dan menuruti keinginan Xiao Jun. Terlebih Fang Fang masih menunduk menyembunyikan rasa sedihnya, Grace harus berani jujur melontarkan pemikirannya.


“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di sana, aku tidak mau kamu bernasib seperti pengawal Lau dan malah dijadikan alat untuk memerasku. Dan lagi pengawal Lau ikut pulang, kalau semua ikut mengosongkan tempat ini, siapa yang bisa menjamin keamanan di sini? Fang Fang bisa kungfu kan? Aku ingin kamu menjaga Weini dan Stevan selama kami pergi. Kamu memang pengawal pribadiku, tapi saat di sana ada banyak pengawal yang bisa


Xiao Jun menarik seulas senyum, ia tak menyangka Grace punya pemikiran yang panjang. Semakin mengenal Grace, Xiao Jun makin mengubah penilaiannya terhadap gadis itu. Kini Grace kian bertambah dewasa, tak lagi menjadi nona manja yang berambisi besar mendapatkan apapun yang dia inginkan.


“Terima kasih sudah mencemaskan Weini, dia juga punya pengawal yang siaga melindunginya. Tapi Grace ada benarnya, ayahku tidak punya keleluasaan mengawasi Weini sepanjang hari. Fang Fang punya alasan untuk mengakses tempat kerja Weini dan Stevan, lebih masuk akal ketimbang ayahku yang tidak berkepentingan namun datang ke lokasi syuting. Kali ini aku setuju denganmu, Grace.” Timpal Xiao Jun memberikan pendapatnya.


Grace tersenyum lalu mengangguk pada Xiao Jun. Fang Fang pun mengerti apa yang dimaksud nonanya, ia yakin sebenarnya Grace lebih mencemaskan Stevan. Dan demi kesetiaannya pada Grace, Fang Fang akan menjaga


pria pujaan hati Grace itu.


“Saya mengerti tuan, nona. Saya pasti menjaga mereka sampai anda kembali dengan selamat.”


***


“Masih nunggu satu orang yang terakhir, setelah itu gue bakal buka rapat ini dengan resmi.” Ujar Bams sambil memangku tangan dan duduk dengan dua kaki terbuka lebar.


Stevan terlihat tak bersemangat, fokusnya hanya tertuju pada layar ponselnya yang belum juga mendapat notifikasi balasan. Weini tahu jelas kegundahan sahabatnya tetapi memilih diam, ia pun penasaran apa yang ingin Bams sampaikan hingga terkesan seformal itu.


“So, datang juga ….” Pekik Bams girang yang langsung mengundang perhatian dari semua yang ada di studio. Tentu saja tak luput dari Stevan dan Weini yang bingung mengapa Grace datang bersamaan dengan Xiao Jun.


Tatapan Weini lekat pada pria yang dicintainya itu, melihat kehadiran Xiao Jun saat ini tidak membuatnya panas hati. Weini lebih antusias untuk tahu kepentingan apa yang membuat Bams harus menunggu kedatangan bos itu demi memulai rapat. Xiao Jun membalas tatapan Weini, ia tahu pasti menjadi pusat perhatian gadis itu juga. Sebuah senyuman diberikan pada Weini, seolah menyakinkan agar menaruh kepercayaan penuh padanya. Weini hanya membalas dengan gurat senyum tipisnya, pun ketika Grace berjalan mengambil posisi duduk yang telah disediakan untuknya sambil tersenyum pada Weini.


“Oke kita mulai rapatnya. Sebelumnya perkenalkan ini adalah tuan Li Xiao Jun, CEO managemen kita. Kebetulan hari ini ikut hadir di tengah kita, dan saya selaku sutradara serta asisten produser akan mewakili CEO kita untuk menyampaikan keputusan terkait proyek perdana kita. Dikarenakan ada satu dan lain hal yang belum memungkinkan, maka dengan berat hati proyek perdana ini akan ditunda sementara proses syutingnya hingga kondisi kembali menunjang. Dan sebagai lanjutan produktivitas managemen, kita akan syuting sinetron judul lain dan akan segera buka casting pemeran utama.” Tutur Bams panjang lebar.


Dina menjadi orang pertama yang kecewa berat, rasanya kebahagiaannya terlalu singkat. Baru saja ia menaruh harapan besar pada sinetron yang dibintangi Weini, tiba-tiba lenyap tak bersisa gara-gara keputusan Xiao Jun.


“Apa kamu yang menintanya?” Stevan bertanya pada Grace yang duduk di sampingnya. Ia menaruh curiga pada gadis itu lantaran melihat reaksi Grace yang tenang seolah sudah tahu apa yang akan disampaikan.


“Tidak, ini murni kemauan dia.” Jawab Grace singkat.


Berbeda dengan Weini yang tampak tenang tetapi terus menatap lekat pada Xiao Jun, gadis itu bersikeras membaca isi pikiran Xiao Jun namun selalu gagal.


Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan, Jun?


***