
“Bunuh!” teriakan seorang pengawal memerintah anak buahnya yang berhasil membekuk Liang Jia. Wanita renta tak berdaya itu kehilangan tenaga untuk memberontak lagi. Ia pasrah pada kematian yang menjemput ajalnya. Sebuah senapan laras panjang membidik tepat ke arah jantungnya.
Doorrr… Liang Jia terkulai bersimbah darah.
“Tidaaaaaaaak!” Weini memekik sejadinya. Peluh menetes di dahi dan napas tersengal ketakutan. Mimpi buruk itu benar-benar buruk.
“Weini? kau kenapa?” Haris mengetuk pintu di luar.
Pintu dibuka dari dalam, Weini muncul dengan wajah sembab dan terdiam. Ia mempersilahkan Haris masuk dengan bahasa tubuh. Weini duduk di atas kasur sementara Haris di kursi belajar.
“Ayah, aku mimpi buruk tentang ibuku.” Weini mulai terisak, meskipun hanya mimpi namun rasa takut itu sangat mencekamnya.
“Mungkin karena kau rindu ibumu.” Haris masih tetap tenang.
“Aku… selama ini bahkan aku sudah berusaha melupakan orang-orang masa lalu. Tapi ini, kenapa tiba-tiba mimpi ibuku dibunuh? Ayah, apa kau tidak bisa mencari informasi tentang ibuku? Apa beliau masih hidup?” Weini
serius dengan permintaannya. Ia berlutut di depan Haris untuk memohon.
Haris menggeleng pelan. “Sejak kita di sini, aku sudah berusaha mengirim pesan sihir kepada keluargaku. Tapi tidak ada balasan sampai sekarang. Aku masih mencobanya hingga sekarang, namun sepertinya nasib mereka juga tidak baik.” Haris tak sanggup menyebut kata ‘mati’ pada istri dan anaknya. Ia juga ngeri membayangkan nasib terburuk yang menimpa keluarganya karena dirinya.
“Keluargamu juga jadi korban? Gara-gara aku?” Weini tersungkur lemas. Betapa besar dosa dan rasa bersalahnya pada Haris. Hanya demi menyelamatkan nyawanya hingga menyeret nyawa keluarga Wei yang tidak bersalah.
Haris terdiam lama. Tidak ada kata-kata yang mampu mengungkapkan kegundahannya.
“Itulah mengapa, aku memutuskan untuk mewarisi seluruh sihir klan Wei padamu. Ilmu ini harus ada penerus karena sudah turun temurun selama dua puluh generasi.”
“Apa aku pantas, ayah?” Weini meragukan dirinya, ia bersalah pada keluarga Wei lalu sekarang ditunjuk untuk mewarisi pusaka keluarga.
“Jika Wei Li Jun, anak laki-lakiku satu-satunya itu sudah tiada, aku tidak punya pilihan selain mewariskan padamu. Ilmu ini tidak boleh punah walaupun harus diberikan pada orang yang bukan keturunan murni.”
“Aku mengerti ayah. Aku tidak akan mengecewakanmu.” Weini menunduk penuh hormat.
“Bangunlah jangan formal, kita bukan di kerajaan tuan besar Li.” Haris tertawa melihat sikap Weini.
“Ayah, apa kita boleh mengunjungi Hongkong?” Weini sepertinya belum puas sampai di situ.
“Untuk mengantarkan nyawa kita? Coba diingat lagi gimana susahnya kita keluar dari sana demi mempertahankan hidup. Di sana nyawa kita tidak ada artinya, di sini kita bisa memperjuangkan hidup. Suatu saat nanti kamu akan mengerti bahwa kita masih diijinkan hidup sampai sekarang untuk mendapatkan keadilan.” Haris terlihat serius. Ia tidak mau anak gadisnya memikirkan rencana konyol yang akan menyusahkan diri sendiri.
“Aku mengerti ayah. Aku tidak akan menyusahkanmu.”
***
Sejak malam tahun baru, Xiao Jun belum menghubungi Weini lagi. Seluruh perhatiannya fokus pada kitab kuno yang berhasil dibawakan Lau dengan selamat dari Hongkong. Buku dengan aksara mandarin kuno yang tebalnya nyaris 20cm itu merupakan harta pusaka yang diwariskan leluhur marga Wei. Xiao Jun masih mempelajari di tahap dasar, dan baru ia sadari kemampuan sihirnya masih di level rendah.
“Mungkin ini sebabnya kepekaan sihirku tidak bisa mendeteksi di sini.” Xiao Jun bergumam sendiri. Malam kian larut namun ia belum berniat tidur. Setiap malam ia gunakan untuk berlatih sesuai petunjuk buku.
Xiao Jun membalik lembar demi lembar hingga menemukan sebuah tulisan menarik yang menuliskan bahwa hanya orang yang memiliki kemurnian hati yang bisa mempelajari sihir aliran putih klan Wei. Sihir ini ditujukan pada keturunan murni Wei sebagai ahli waris.
“Mungkin aku pantas menjadi penerusnya. Bagaimanapun juga tidak akan kubiarkan ilmu leluhur punah di garis keturunan ayahku.” Xiao Jun bertekad penuh, sebagai satu-satunya anak lelaki Wei, ia punya tanggung jawab itu. Meskipun nama dan marganya telah diubah, namun darah yang mengalir di tubuhnya tidak akan tergantikan.
‘Tapi jika aku harus mempelajari semua ini baru bisa mendeteksi sinyal sihir di sini, apa tidak terlambat? Ilmu ini tidak bisa dipelajari dalam sekejab. Bagaimana ini?”
Xiao Jun mulai bingung, banyak jurus beladiri dan sihir level tinggi yang memerlukan konsetrasi penuh untuk mempelajarinya. Jika ia berbakat mungkin tidak masalah, tapi ia harus belajar sendiri tanpa pembimbing.
Ia mulai berpikir, pasti ada jalan keluarnya untuk belajar mendeteksi sihir kiriman lebih dulu. Lebih baik gagal karena mencoba daripada tidak mencoba sama sekali.
***
kembali menjadi gadis kesepian. Banyak sorotan iri dan kebencian dari rekan cewek, sedangkan para lelaki lebih menaruh rasa cinta dan kagum padanya. Weini tetap tenang menghadapi semua itu, ia hanya perlu diam dan bertahan hingga kelulusan beberapa bulan lagi. Ia tak perlu lagi melihat wajah Metta CS dan mantan
sahabatnya, Sisi.
Sisi serius membencinya, hingga kini ia selalu membuang muka dan menghindari Weini. Sikap itu jelas menjadi lelucon bagi Metta CS, melihat kehancuran persahabatan mereka.
“Apaan sih!” Sisi jutek saat Metta menghadang langkahnya di kantin.
“Ga usah judes lah. Gue kemari buat kasih lu penawaran.” Ujar Metta sombong
“Gue nggak tertarik.” Sisi berlalu begitu saja. Namun Metta mengejarnya.
“Lu udah break ama Weini, tapi masih songong juga.” Sergah Metta ketus.
“Bukan urusan lu.” Sisi mengambil tempat duduk dan hendak menyantap bakso.
“What ever, gue mau kita berteman. Karena lu udahan sama dia, jadi kita pasti bisa klop. Lagian kasian juga lu kemana-mana sendirian sekarang.” Metta dan gengnya cengengesan.
Sisi bungkam, ia melahap bakso seakan tidak mendengar Metta. Sekian menit menunggu respon, Metta mulai naik pitam.
“Gue lagi ngomong sama elu woi!”
Sisi menaruh sendok garpu kemudian menatap Metta. “Gue udahan sama dia nggak ada urusan sama lu. Gue bisa jadi mantan teman, tapi nggak bakal sudi jadi pengkhianat. Pergi sono, bikin mood makan gue nurun aja.”
Muka Metta memerah, diusir dengan suara kencang hingga menarik perhatian orang-orang di kantin jelas membuatnya kehilangan muka. Ia bergegas beranjak dengan menahan kesal.
***
“Ayaaaah!” Weini berteriak panik saat melihat mobil sport Stevan terparkir di depan rumahnya. Pria itu beneran nekad menjemputnya setelah mendapat angin segar.
Haris muncul dari ruang kursus sembari membetulkan kacamata. Ia tersenyum saat mengetahui penyebab nada lengking dari Weini. Pria muda itu serius mengejar anaknya.
“Ini karena ayah, dia malah datang. Aku mesti gimana?” Weini serba salah, ia enggan berangkat syuting bareng Stevan. Rumor cinlok bakal makin kencang berhembus.
“Yang terang-terangan kan lebih sopan.” Haris jelas sedang menyindir Weini. Andai saja gadis itu tidak kucing-kucingan dengan menyembunyikan pria yang bersamanya saat itu, Haris tentu tidak akan memberi hukuman kecil ini.
“Lagian Stevan anak yang baik, kalau kau suka aku juga akan merestui.” Timpal Haris. Ia sudah membaca karakter Stevan saat bersalaman dengannya.
“Aku nggak suka dia. Sekarang aku harus gimana? Ayah… kau bilang aku sudah boleh punya mobil. Beliin aku!” Weini masih berusaha menghindar meskipun ketukan pintu dari luar sudah terdengar.
“Punya mobil pun kau perlu waktu belajar dan bikin SIM.”
“Kak Bams sudah mendapatkan manager untukku. Dia bisa jadi supirku juga sampai aku bisa nyetir.” Rengek Weini. satu-satunya cara supaya ia terhindar dari jemput paksa, tentu harus terlihat mandiri.
“OK akan kupertimbangkan. Sekarang buka pintu dulu dan sambut tamumu. Jangan tidak sopan.” Haris mendorong tubuh Weini pelan agar segera merespon ketukan pintu yang sudah lima menit terdengar.
Weini memepuk pipinya, ia harus bersandiwara demi ayahnya. Kalau saja yang datang Xiao Jun… oh tidak, kenapa malah menyebut nama dia? Weini menggeleng kepala dengan kencang, membuyarkan pikirannya tentang pria itu.
***