OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 386 KEKUATAN JANJI SEPASANG SUAMI ISTRI



Xin Er masih duduk tersungkur di lantai balkon walaupun dengungan memekakkan pendengaran itu telah berakhir. Li An dan Li Mei saling berpandangan dengan bingung lantaran tak mengerti, Xin Er terus sesengukan menangis dalam posisi menunduk sembari memegangi dadanya. Meskipun belum mengetahui sebab tangisan ibunya, namun isakan yang memilukan mereka saat mendengar itu reflek menulari Li An dan Li Mei mengeluarkan air mata.


“Ibu... Ada apa? Apa ibu merasa sakit?” Tanya Li Mei khawatir, ia masih menangis kala bertanya pada ibunya.


Xin Er sesengukan kemudian beralih menatap Li Mei, ia mencoba menenangkan diri demi mengucapkan sesuatu


pada putri sulungnya. “Mei, tolong siapkan pembakaran, uang kertas dan hio kemari.” Pinta Xin Er lemah.


Li An dan Li Mei terkejut dan secara bersamaan saling memandang lalu menatap heran pada ibunya. “Apa


maksudnya ini bu? Untuk siapa ibu berkabung?” Li Mei mendesak Xin Er dengan pertanyaan itu. Ia jelas mengerti maksud ibunya menyuruh menyiapkan alat-alat sembahyang dan disimbolkan untuk penghormatan kepada orang yang telah meninggal.


Xin Er tidak bersedia menjawab, ia kembali menundukkan pandangan. Air matanya bercucuran menetesi lantai tepat di tempat ia bersimpuh. Sementara Li An yang kian gusar pun mencoba menghubungi Wen Ting, Xiao Jun bahkan Haris namun tidak ada seorangpun yang bisa dihubungi.


Li Mei enggan mengusik ibunya lagi, ia meninggalkan Li An agar menjaga ibunya sejenak. Perintah Xin Er barusan sebaiknya ia turuti segera, kendati ia tak paham maksud ibunya melakukan penghormatan di saat ini.


Masih teringat jelas wajah teduh Haris saat berpamitan dengannya terakhir kali, Xin Er tak pernah menyangka bahwa itu adalah pertemuannya yang terakhir dengan suaminya. Terjadi begitu singkat, terlampau cepat sehingga ia tidak melakukan banyak hal dengan Haris. Tetapi inilah takdir, tidak seorangpun yang sanggup menyiapkan diri untuk menghadapi ajal yang datang tanpa diketahui. Sorot mata Haris yang sendu waktu itu terbayang lagi, Xin Er awalnya mengira itu hanya karena Haris terlalu mencemaskan nonanya. Tetapi semakin dipikirkan, Xin Er tampak mulai mengerti bahwa Haris sebenarnya menyimpan rahasia yang tak ingin dibagi dengan Xin Er.


“Maafkan aku Xin Er, mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk kita berkumpul lebih lama. Tapi kami harus berjanji padaku, kamu harus jaga diri dan jangan kembali dulu ke kediaman tuan Li.”


Kenangan dan permintaan Haris kembali diingat Xin Er, terasa seperti pesan terakhir yang dititipkan untuknya agar ia tetap kuat sendiri... Tanpa suaminya lagi. Xin Er mengepalkan tangannya, menahan emosi yang nyaris meledak dalam hati. Ia mulai melakukan ritual penghormatan simbolis dengan membakar uang kertas di dalam tungku pembakaran yang dibawakan Li Mei ke hadapannya. Xin Er enggan beranjak dari balkon, ia ingin menunjukkan kepada langit malam itu betapa berkabungnya dirinya.


“Baik, aku berjanji. Tapi kamu juga harus berjanji padaku, kelak harus kembali dengan selamat. Kamu tidak boleh mati dalam tugas ini, kita harus hidup bersama lagi.” 


Xin Er sesengukan, kenangannya masih berkutat pada malam ketika ia dan Haris mengucapkan janji. Berpayungkan langit malam, persis seperti malam ini dan di berpijak pada tempat yang sama pula, namun dengan kenyataan yang berbeda. Li An dan Li Mei hanya berdiri di samping ibunya, mengawasi dengan cemas. Dibiarkannya Xin Er membakar uang kertas sendirian, tangis ibu mereka semakin terdengar menyayat hati terutama pada saat ini.


“Baiklah, istriku. Aku berjanji akan tetap hidup dan menemanimu tua bersama.” Suara Haris terngiang dan menggetarkan hati Xin Er. Ia meneruskan kegiatan berkabungnya, membakar helai demi helai uang kertas.


Terkenang pula saat Xin Er tersenyum bahagia mendengar janji itu, terucaplah sebuah ikatan janji yang Xin Er lontarkan sebagai penegas janji mereka sebagai sepasang suami istri.


“Langit dan bumi sebagai saksi, suamiku... Wei Ming Fung akan kembali padaku dalam keadaan hidup dan selamat. Aku akan menunggunya sampai kapanpun, jika harus mati biarlah aku mati bersamanya!” Tegas Xin Er kala mengucapkan janjinya atas nama langit dan bumi saat itu.


Tubuh Xin Er terhuyung, isaknya makin menjadi sehingga ia tak berkonsentrasi membakar kertas lagi. “Kau ingkar janji! Kau mengingkarinya... Kau bilang akan kembali padaku dalam keadaan hidup, kenapa kau pergi lebih dulu? Kenapa kau tidak bisa melindungi dirimu sendiri? Aku tidak mengijinkanmu mati!” Pekik Xin Er emosional, tangisnya tersedu sedan sehingga Li Mei segera memeluk demi menenangkannya.


Li An langsung menjerit dan menangis setelah menangkap maksud teriakan ibunya barusan. Tanpa perlu


dijelaskan, ia tahu untuk siapa ibunya berkabung, ia tahu ditujukan kepada siapa kesedihan ibunya saat ini. Li An menjatuhkan diri dalam posisi berlutut, kepalanya mendongak menatap langit malam yang mendung itu kemudian berteriak kencang. “Ayaaaah....”


Tangisan para wanita itu beradu kencang, Li Mei masih memeluk Xin Er dan ikut menangis kian menjadi. Di antara saudaranya yang lain, hanya dia yang paling sebentar berkesempatan bertemu ayahnya. Hanya satu hari saja tidak bisa melepaskan dahaga kerinduannya yang sudah tertahan puluhan tahun merindukan sosok ayahnya. Dan kini ia harus kembali kehilangan untuk selamanya.


Mendengar tekad Xin Er yang menakutkan, spontan Li An mendekap erat ibunya agar tak melakukan hal yang nekad. Jujur Xin Er takut ibunya melompat ke bawah, begitupun dengan Li Mei yang bersujud sembari memeluk kedua kaki ibunya. Dua bersaudara itu menangis sejadi-jadiya, mereka baru saja kehilangan ayah, mereka tak akan sanggup jika harus kehilangan ibu. Tidak akan ada anak yang rela menjadi yatim piatu, namun suratan takdir tak akan bisa dilawan. Hanya saja, mendengar tekad ibunya yang ingin menyusul kematian ayah, tentu tak dapat diterima oleh Li Mei dan Li An.


“Ibu... Kami mohon jangan lakukan itu. Tolong pertimbangkan nasib kami yang juga sangat menyayangimu. Anak-anak dan cucu ibu membutuhkan ibu. Kami mohon....” Isak Li Mei meratapi ibunya yang sedang berpikiran sempit dan egois. Sebagai anak, ia mengerti rasa kehilangan ibunya, tetapi yang belum Li An dan Li Mei mengerti adalah dalamnya perasaan Xin Er yang begitu setia menunggu namun hasilnya seperti mendapatkan pengkhianatan karena kematian.


Xin Er merasa anak-anaknya telah tumbuh dewasa, masing-masing akan berkeluarga dan kelak pasti akan hidup tanpanya. Tetapi teman hidupnya yang menua bersama hanya satu, dan dia telah lebih dulu meninggalkannya. Jikapun di dunia tak diberi kesempatan menua bersama, Xin Er terpikir untuk menyusul Haris agar bisa berkumpul lagi di alam yang lepas dari keduniawian. Namun ketika melihat rintihan dan rengekan kedua putrinya, apa Xin Er masih punya hati untuk bertindak seegois itu?


Mereka bertiga masih menangis, Xin Er masih bergeming menatap langit dan membiarkan kedua putrinya berlutut memeluk kakinya.


***


Ribuan mil jauhnya, di kedalaman tanah yang masih basah, dampak dengungan sinyal sihir masih bekerja aktif di sana. Suara isak tangisan orang yang dicintai, ikatan yang dalam menyatakan sehidup semati, kepingan memori masa muda, masa bahagia, masa mengikat kasih pada belahan jiwanya yang berada di lain alam dengannya, terus


bertabrakan masuk ke dalam pikirannya yang mulai aktif.


Berjanjilah kamu tidak boleh mati... Tidak boleh mati... Mati....


Suara seorang wanita yang sangat familiar, terasa menyakitkan terus terngiang. Rasa sakit itu kian terasa bagi tubuh yang telah mati kaku.


Langit dan bumi sebagai saksi, suamiku... Wei Ming Fung akan kembali padaku dalam keadaan hidup dan selamat. Aku akan menunggunya sampai kapanpun, jika harus mati biarlah aku mati bersamanya!


Suara itu terdengar lagi, suara wanita miliknya... Wanita yang bersedia hidup susah dengannya, wanita yang senantiasa setia menunggunya, dan wanita yang bersedia mati bersamanya. Tidak! Pemilik tubuh kaku ini tak akan membiarkan wanita itu mati karenanya, tidak akan!


Dengungan yang menggetarkan seluruh dunia pun berlaku mengguncang si pemilik sihir terdahulu. Chip yang telah menyatu dalam raganya, dan telah dialiri darah pemilik sihir yang jauh lebih kuat ternyata sanggup mengguncang hingga ke raga yang terbujur mati. Beransur-ansur memorinya kembali, seiring detak jantung yang mempompa lagi.


Baiklah, aku berjanji akan kembali untukmu... Aku tak boleh mati dalam tugas ini....


Si pemilik raga mengingat janjinya lagi, atas nama langit dan bumi, atas dasar cinta yang begitu kuat hingga menggetarkan langit, dan saat itupula ia membelalakkan mata kemudian menghirup napas usai bangkit dari mati surinya.


***


Sampai di sini apa ada yang akhirnya merasa bahagia? Apa ada yang ikutan menangis haru, sedih? Author juga sama... Setelah ditodong pembaca setia seperti kalian, hehe... author agak kebut update biar cepat sampai di bagian ini. Kita sudah bersedih cukup lama, yaa... ini waktunya auhtor penuhi janji untuk memberikan kebahagiaan pada Haris yang sangat pantas mendapatkan itu.


Haris termasuk salah satu tokoh utama yang muncul sejak episode pertama loh, auhtor juga kadung sayang sama karakter dia. Baiklah, tetap semangat nantikan update ya dan plis follow akun author, rajin kasih like dan komentar ya. Hehe banyak permintaannya ya ^^


Btw sekilas info, Novel COWOK KOREAKU NYASAR DI JAKARTA sudah masuk ke episode 61 loh, yuk dibaca.