
Metta tak habis pikir dengan keputusan ayahnya yang terkesan pengecut. Proses hukum sudah berjalan sejauh ini tetapi tiba-tiba Anwar memutuskan untuk menarik gugatannya pada Weini. Bukan Metta namanya bila ia bisa menerima begitu saja. Harus kalah di saat kemenangan nyaris di tangan, ia menganggap ayahnya sudah tidak beres.
“Aku tidak setuju, papi nggak bisa main cabut gugatannya. Apa Lisa yang pengaruhi papi?” Metta masih belum bisa mendinginkan kepalanya, untungnya ia masih punya kewarasan untuk bersikap sopan pada ayahnya.
Anwar sibuk membaca berita di ponselnya sebagai pengalihan dari sikap kekanakan putrinya. Metta membanting apapun yang ada di hadapannya sebagai bentuk protes, hingga pendengaran Anwar tak mampu menampung
suara berisik itu.
“CUKUP! Belum puas kamu bikin masalah?” bentak Anwar.
Sebuah Vas keramik mewah selamat dari penghancuran massal yang dilakukan Metta. Ia menaruh benda itu lalu menghambur ke depan ayahnya.
“Aku bikin masalah? Bukannya ayah lebih dulu bikin masalah dengan selingkuh ama Lisa.” Bentak Metta lupa diri tengah berbicara dengan siapa.
Plak. Tamparan keras mendarat di wajahnya. Anwar kebablasan emosi, seketika ia menyesali sikap kasar kepada darah dagingnya. Seumur-umur baru kali ini ia menampar Metta hingga meninggalkan bekas merah di wajah. Metta memegang wajahnya dengan mata berkaca-kaca, bekas tangan ayahnya masih terasa berdenyut perih tapi tidak seperih hatinya.
“Pa papi nggak bermaksud. Maaf.” Anwar menyesal, ia serba salah menghadapi tangisan Metta.
“Kejam! Papi kejaaam!” Bentak Metta lalu berlari menaiki tangga ke lantai dua.
Saat Anwar hendak mengejar Metta, pembantunya menghampiri dan menyampaikan sebuah pesan.
“Tuan, di depan ada polisi yang mencari Non Metta.”
Bak disambar petir, Anwar tegugu kaku dan terduduk kembali di sofa. Hal yang tak bisa dihindari pun tiba, kini giliran Metta yang harus diciduk.
***
Berkali-kali Weini memejamkan mata untuk sekedar tidur siang, namun kantuk tak juga datang. Ia mulai bosan dengan kegiatan tiduran yang sepekan lalu rutin dilakukan di rumah sakit. Rutinitasnya belum normal, ia masih ijin sekolah serta sinetronnya masih libur tayang. Tak disangkanya Xiao Jun nekad membeli saham perusahaan itu dan membebaskan dari produksi kejar tayang sampai ia sembuh total. Mengingat pria itu seketika membuat jantung
Weini berdebar kencang lagi, ia rindu padanya padahal belum dua jam sebelumnya mereka bertemu.
Weini meraih ponselnya, mengecek notifikasi yang masuk namun tidak ada pesan dari Xiao Jun. kekasihnya mungkin masih sibuk rapat seperti yang ia katakan sebelum pergi. Alih-alih dapat notifikasi chat, ternyata ponselnya penuh dengan notif dari akun jejaring sosial medianya.
“Eh?” Weini heran mengapa akunnya mendadak ramai notif. Dibukanya akun yang nyaris seminggu tak dilihatnya. Ribuan komentar dengan hastag savage Weini save Lisa, Weini membaca satu persatu komentar meskipun harus menscroll dari atas.
Komentar dari layar ponsel :
Chinta.88 : Lisa udah lama jadi artis kaga pernah ada sensasi, kena apesnya si Weini yang sok ngartis itu langsung masuk bui. #savageweinisavelisa
Lisa my Queen: Settingan X biar laku sinet alaynya. My queen Lisa kga pernah pake settingan udah terkenal dari sononya. #savageweinisavelisa
NN : Ciih… biar apa coba baru main satu judul sinet dah belagu, gimana kalo dah lama. Palingan jadi lntenya om tajir sampe bisa songong gitu.*
Chaa imoet : Bikin malu emak bapaknya aja, tampang doang polos sok alim, hati kayak iblis. #savageweinisavelisa
MyMy cute : Yaiyalah, hasil didikan bopaknya yang kagak pernah dididik emak ya gitu hasilnya. Sadiiisss. #savageweinisavelisa
Wajah Weini terasa hangat saking memendam kemarahannya, ia tak ambil pusing dicibir sepedas apapun tapi jika menyentil Haris maka kesabarannya langsung habis. Saat ia akan membalas komentar yang menyudutkan orangtuanya, fokusnya terpecah ketika membaca komentar balasan dari Stevan.
Stevan Alenxander : Nggak usah bawa ortu, kalian kayak gitu juga bikin ortu lu pada malu.
Stevan Alenxander : Masih sayang masa depan nggak sih? Diciduk kapok lu pada, jangan sampe deh ngemis minta maaf biar damai.
Weini ternganga membaca semangat Stevan membalasi semua komentar kebencian dari hatersnya. Sejak malam itu di rumah sakit, Stevan tidak kembali menjenguknya. Weini mengira pria itu pasti kesal atau patah hati
lantaran ia lebih memilih Xiao Jun. Siapa sangka justru dia yang rela pasang badan mati-matian membelanya di sosmed. Secara tak langsung Weini sudah menyeret Stevan dalam masalahnya, aktor yang selama ini dikenal figur yang bersih dan jauh dari gossip mungkin sudah tak bisa mempertahankan reputasinya. Ia bisa kehilangan Fans jika terus berada di pihak Weini.
Ponsel Weini berdering, kali ini Dina menghubungi tepat di saat ia butuh teman curhat.
“Non, jangan buka sosmed!” ujar Dina saat telpon tersambung.
“Aku udah baca semuanya kak. Nggak apa apa kok.” Seru Weini sok tegar.
Dina menjerit kesal karena ia terlambat mencegat Weini. “Ya sudahlah, hadapin saja. Kasian Stevan, sekarang beritanya makin ngaco. Katanya Stevan kerjasama ama non buat naikin rating plus kalian fitnah Lisa karena dendam pribadi. Ada juga yang bilang non udah jadian ama Stevan makanya dibelain terus.”
Weini mengerat gigi, secepat itu berita burung bisa disiarkan tanpa pertanggung jawaban akan kebenarannya. Mereka bahkan tidak bertanya pada Weini namun langsung menaikkan berita.
“Kak, aku mau prescon. Aturkan waktunya!” perintah Weini mantap.
“Eh? Itu harus persetujuan tuan Xiao Jun dulu non.” Dina hati-hati menjawab Weini, ia takut keceplosan bicara lagi.
“Loh? Kenapa harus lewat dia? Ijinkan ke kak Bams aja nggak bisa?” Tanya Weini bingung apa urusannya prescon dengan Xiao Jun.
Dina menghela napas panjang dulu sebelum memberi jawaban. “Non, PH itu udah punya tuan Xiao Jun. Segala urusan yang menyangkut dirimu wajib dilaporkan dan harus dengan persetujuan tuan. Jangan persulit posisiku dong non, aku masih butuh kerjaan ini.”
Weini menepuk jidat, “Aiyaaaaa… segitu protektifnya. Kok malang betul aku dikekang gitu.” Masih pacaran semingu saja Xiao Jun sudah seprotektif ini, Weini tak bisa membayangkan gimana kalau mereka sampai menikah? Apa Xiao Jun akan menguncinya di kamar biar aman?
“Non… itu namanya beruntuuuung! Semua gadis bakal iri kalau tahu pacar non segitu perhatiannya.” Ujar Dina yang mengasihani dirinya yang masih belum melepas status jomblo.
Weini menepis khayalannya yang terlalu jauh. “Sudah-sudah! Sekarang gimana baiknya? Kasian Stevan, bisa-bisa pamornya redup loh. Trus aku nggak mau wartawan nguber ke rumah menyulitkan ayahku.”
“Aku laporkan ke tuan Xiao Jun dulu. Non jangan keluar rumah sebelum ada tindakan dari kami. Jaga diri ya non. Byeee” Dina mengakhiri telponnya padahal Weini masih ingin menjawab.
Suara klakson di luar terdengar bising, riuh memekakkan kuping dengan bunyi yang tampaknya sengaja dibuat. Weini bergegas keluar dari kamar demi mencari sumber keributan. Haris ternyata sudah berdiri di ruang tamu, tirai di setiap jendela ditutup dan lampu dimatikan hingga seisi ruangan terkesan gelap.
“Ayah?” bisik Weini
“Ssssstttt.” Haris meminta Weini diam lalu mengirim pesan via chat.
Di luar banyak wartawan, jangan bikin suara.
Weini melengos, hal yang ia khawatirkan terjadi juga sebelum ia menemukan solusi. Dibalasnya pesan ayahnya, kita harus gimana ayah?
Tenang, aku sedang pikirkan sihir apa yang cocok untuk mengatasinya…
***