
Haris menjadi saksi dalam sikap diamnya, ia tidak perlu buka suara mencampuri urusan anak muda. Xiao Jun pasti perlu waktu khusus bersama Weini, ia bisa menebak agenda apa yang selanjutnya akan mereka lakukan. Haris enggan menjadi pengganggu, kehadirannya mungkin membuat suasana kurang nyaman.
“Aku keluar dulu cari angin segar, kalian lanjutkan saja.” Haris basa-basi hendak mundur dari hadapan mereka.
Weini tampak keberatan , ia segera mencegah Haris pergi. “Ayah baru saja datang, masa mau pergi lagi?
Ayah makan dulu ya.” Pinta Weini sambil menatap Haris dengan mimik memohon.
“Weini benar, paman mari bergabung dengan kami. Kita makan sepuasnya baru kembali ke hotel.” Xiao Jun
merasa kehadiran Haris akan lebih meyakinkan tekadnya. Ia tengah memikirkan sebuah lamaran yang formal namun romantis untuk meminta kesediaan Weini menjadi tunangannya.
Melihat keseriusan dua orang yang menahannya membuat Haris segan menolak. Ia menarik sebuah kursi di
samping Xiao Jun dan mengambil posisi senyaman mungkin. Xiao Jun menepuk tangannya sekali sebagai isyarat memanggil pelayan. Sesaat kemudian empat orang pelayan menghampirinya dan dalam sekejap menghidangkan makanan yang menggoda selera.
“Paman, silahkan makan dulu. Saya ijin ke belakang sebentar.” Xiao Jun meminta ijin pada Haris dan menatap Weini sebagai isyarat ijin mundur sejenak dari hadapan mereka.
Weini mengekori bayangan punggung Xiao Jun yang kian menjauh. Ada rasa yang seolah enggan berpisah
sedetikpun, ia berharap kekasihnya segera kembali. Xiao Jun masih belum menjawab pertanyaannya, apa isi surat ibunya? Cincin yang diberikan ibunya itu untuk apa?
“Ehem… dia kan Cuma ke toilet, kenapa dikangenin seperti itu?” Haris menyela lamunan Weini tanpa mengalihkan
perhatiannya pada steak daging sapi yang khusyuk dipotongnya.
Weini menepuk jidatnya, bagaimana bisa ia mengabaikan ayahnya seolah hanya ia sendiri di sini. Sifat keponya
mulai membara, “Ayah, seperti apa ibunya Xiao Jun? apa yang kalian bicarakan sampai harus berpindah tempat? Apa dia tidak menyukaiku? Eh tapi kenapa dia kasih cincin buat Xiao Jun?” weini lebih mirip sedang bertanya pada dirinya sendiri ketimbang pada ayahnya. Segudang pertanyaan dikeluarkannya, walau belum mendapat jawaban namun ia sudah merasa lebih tenang setelah uneg-unegnya keluar.
“Ng… dia cantik, baik, keibuan, lembut, perhatian, ng… apalagi ya? Aku sudah menunjukkan fotomu, dia
menyukaimu. Tenang saja.” Ujar Haris kalem.
Weini terkejut, Haris sampai menunjukkan fotonya. Ia seketika merasa malu dan minder, mungkinkah ia
kurang menarik?
“Jangan banyak mikirlah. Yang memang milikmu pasti jadi milikmu, jalani apa adanya saja. Anak gadis lebih pantas menunggu, biarkan pria serius yang akan memperjuangkanmu. Kamu diam dan lihat saja.” Ujar Haris, kali ini ia agak serius. Ia berhenti mengunyah sejenak demi menuntaskan pembicaraan.
Weini menunduk, diresapinya kata-kata Haris yang sangat realistis namun masih menjanggal dalam hati. “Cinta itukan antara dua orang yang saling, mengapa salah satu harus menunggu dan diam? Apa tidak bisa saling memperjuangkan?”
Haris tertawa kecil, analisa Weini boleh juga. Orang yang sedang jatuh cinta ternyata bisa berpikir seperti filosof. “Ya, ada kalanya harus begitu. Tapi saat ini kamu hanya perlu diam dan menunggu.” Ujar Haris kemudian melanjutkan makan.
Tak lama setelah itu, Xiao Jun bergabung kembali. Ia terlihat kalem dan berseri-seri sementara Weini masih sibuk mencerna pesan dari Haris. Makan malam mereka berakhir tanpa ada hal penting yang diutarakan Xiao Jun.
“Apa paman puas dengan makanan di sini? Weini sangat menyukainya, semoga paman juga cocok.” Xiao Jun
meminta pendapat Haris.
Haris hanya manggut-manggut, ia cukup lapar dan puas akan rasanya. Weini lebih banyak berdiam diri, antara bingung, sedih, kecewa hingga ragu. Gadis itu tidak banyak berkomentar, hanya menuruti apa yang diaturkan Xiao Jun. Jauh-jauh kemari hendak bertemu orang yang penting bagi kekasihnya, ternyata hanya berakhir dengan makan malam biasa. Ia tidak mendapatkan jawaban apapun dari Xiao Jun, mereka asyik dalam pikiran masing-masing sepanjang perjalanan pulang ke hotel.
“Paman, Weini, ini masih terlalu dini untuk istirahat. Bagaimana kalau paman dan Weini mampir ke kamarku? Kita bisa ngobrol sebentar sebelum waktunya tidur.” Xiao Jun mengajukan permintaan ketika mereka tiba di depan kamar masing-masing.
pendapat. “Weini juga setuju.” Ungkap Haris, padahal Weini tidak bermaksud begitu. Ia justru ingin menolak dan kembali merenung di kamar.
Xiao Jun paham keterpaksaan Weini, ia hanya tersenyum lalu membuka pintu kamarnya. “Mari masuk.” Ia mempersilahkan tamunya masuk dalam kondisi gelap, meskipun terkesan aneh tetapi Weini tidak protes dan mengikuti jejak Haris yang lebih dulu berjalan di depan.
Setelah mereka bertiga masuk, Xiao Jun menutup pintu dan menimbulkan nuansa gelap pekat. Ia menyalakan
lampu dengan cardlock, seketika itu pula kejutan yang sudah ia siapkan secara dadakan itu membuat Weini terpukau.
Ada puluhan balon pink bergelantung di langit-langit kamar, di atas sprei kasur tertata cantik ratusan kuntum mawar bertuliskan huruf mandarin 爱 (cinta). Weini terkesiap, ia tak tahu harus bagaimana mengekspresikan kebahagiaannya. Sementara Haris hanya berdiri memangku tangan sebagai penonton sambil mengulum senyum.
Xiao Jun mendekati Weini yang masih menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dalam genggaman tangannya tersembunyi sebuah cincin dalam kotak. Ia berlutut di hadapan Weini, “Aku tahu kamu terkejut, tapi cepat atau lambat kita pasti menuju ke tahap ini. Dalam urusan perasaan, aku selalu serius. Ibuku sudah merestui kita dan memberikan cincin warisan ini kepadamu. Weini, disaksikan oleh ayahmu, maukah menjadi tunanganku?”
Sebuah lamaran yang berlangsung dramatis, Haris bahkan tak mengira putranya punya sisi romantis seperti dalam drama televisi. Weini masih terdiam dalam rasa antara percaya atau tidak, menurutnya ini berlangsung terlalu cepat
hingga ia belum menyiapkan hati. Jawaban yang belum juga terucap membuat Xiao Jun belum beranjak dari posisi setengah berlutut. Keheningan itu terpecahkan seiring meletusnya kembang api yang tampak indah dari jendela hotel. Perhatian Weini teralihkan pada bunyi kembang api itu, ia terkejut sekali lagi melihat tulisan yang dibentuk dari formasi kembang api itu. Di atas langit malam, nama Weini terukir dalam tulisan 我爱你 Weini (aku cinta kamu, Weini).
“Wo ai ni, Weini.” ucap Xiao Jun lirih sembari menyodorkan lagi cincin yang menunggu diterima oleh sang
pemilik baru.
Genangan air mata dari dua kelopak mata Weini tumpah ruah, air mata haru dan kebahagiaan atas kejutan romantis yang ia dapatkan. “Wo ye ai ni. (aku juga mencintaimu).”
Keberadaan Haris sejenak langsung terlupakan, sepasang kekasih yang melakukan lamaran tepat di
depannya mendominasi suasana. Haris menyaksikan cincin yang dulu ia sematkan pada Xin Er kini sedang disematkan putranya pada Weini. Ia malah bernostalgia dalam kenangannya di masa lalu hingga saat Xiao Jun dan Weini berpelukan, ia sengaja mendehem agar keberadaannya tak terkucilkan lagi.
“Ehem… aku belum memberikan restu loh.” Seru Haris.
Xiao Jun dan Weini reflek saling berpandangan, mereka benar-benar melupakan keberadaan Haris di tengah mereka.
“Paman, aku Li Xiao Jun meminta restu untuk bertunangan dengan Weini. Aku berjanji akan menjaga, melindungi, mencintainya sepanjang hidupku.” Ujar Xiao Jun penuh tekad bulat.
Haris terdiam, dasar anak bodoh kau lagi-lagi menyebut nama itu. Lebih tepatnya aku sedang menjadi saksi putraku melamar putri keluarga Li. Gumam Haris dalam hati, ia tidak sungguh-sungguh sewot. Sejak Xin Er menceritakan segalanya, walau sedikit berat hati namun ia ikhlas menerima Xiao Jun menggunakan nama keluarga Li. Setidaknya ini hanya sementara, sama seperti Weini dan dia yang harus mengubah nama. Tunggu tanggal mainnya, semua pasti kembali pada tempat yang semestinya.
“Baiklah, aku pegang janjimu. Awas kalau sampai ingkar, siap-siap kuhajar.” Ancam Haris setengah bercanda tapi dianggap serius oleh Xiao Jun.
“Terima kasih paman.” Ungkap Xiao Jun dengan mantap.
Cincin berlian kuno pemberian Xin Er disematkan di jari manis Weini. Ukurannya sesuai, seakan sudah ditakdirkan untuk dimiliki Weini. Tepuk tangan riuh dari Haris menambah euphoria acara lamaran itu. Awal yang indah untuk perjalanan cinta yang baru saja dimulai, proses yang tidak bisa ditebak lika-likunya serta ending yang entah seperti apa baru bisa diakui keluarga Li. Xiao Jun enggan memikirkannya sekarang, yang pasti ia telah memilih dan tidak akan mengingkari pilihannya.
***
Cerita bonus untuk pembaca hehehe…
Xiao Jun beranjak dari hadapan Haris dan Weini saat makan malam, pamitnya hendak ke toilet namun ia justru menuju loteng. Amanah dari Xin Er untuk memberikan cincin pada Weini adalah sebuah restu yang secara simbolis diberikan pada mereka. Xiao Jun harus memanfaatkan kesempatan ini, meskipun terkesan mendadak namun ia tidak mau lamarannya terkesan sederhana. Untuk gadis seistimewa Weini, untuk pertama kalinya ia jatuh cinta dan serius pada seorang gadis, untuk satu-satunya gadis yang ingin ia nikahi, harus ada satu momen lamaran yang istimewa agar Weini takjub.
“Aku mau melamar kekasihku, hias kamarku dan siapkan kembang api bertuliskan wo ai ni, Weini. Kuberi waktu satu jam untuk menyelesaikannya ya.” Titah sang bos muda selesai, ia yakin manajer hotel itu pasti bisa mengaturkan semua sesuai kemauannya.
“Weini, mulai malam ini aku akan mengikatmu.”
***