OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 245 RINTIHAN TIGA HATI



Dina melongo, mulutnya membentuk O besar sebagai reaksi menanggapi permintaan Weini yang aneh menurutnya. “Non, aku pengen ketawa tapi takut dosa. Kok harus dipotong? Emang udah sesakkah?”


Weini menyodorkan jari manisnya pada Dina, membiarkan manager itu memeriksa. “Coba aja lepasin kalau kakak bisa.” Weini menantang Dina, dan terlihat seperti ejekan konyol bagi managernya.


Dina menyentuh cincin itu kemudian mencoba memutarnya, “Lah, ini longgar kok non tinggal dilepas a ….” Tawa bangga Dina lenyap, raut wajahnya bahkan mengkerut karena bingung. Ia menyepelekan cincin itu lalu mencoba menariknya keluar namun benda itu merekat seakan dibubuhi lem super. Semakin kuat Dina menarik, cincin itu tak bergeser sedikitpun.


“Aarrghh! Kok nggak bisa lepas?” Pekik Dina kesal, ia sampai kewalahan saking keukeh mengalahkan cincin membandel itu.


Stevan terpancing penasaran, Dina kalah telak melawan cincin. “Sini gue yang coba, penasaran gue.” Stevan meminta Weini mendekatkan jarinya. Dina yang sudah menyerah, hanya bisa diam melihat kemampuan Stevan. Barangkali pria itu lebih kuat melepaskannya, namun ketika raut wajah Stevan mengkerut bahkan ia tampak mengeluarkan seluruh tenaganya hingga terpental tubuhnya, Dina mulai kehilangan kendali untuk tertawa.


“Lu juga kalah.” Tawa Dina terpingkal-pingkal, Stevan yang lebih berotot saja tidak becus melepaskan cincin.


Weini tersenyum datar, “Sekarang kalian tahu kan kenapa aku perlu memotong ini.”


Stevan dan Dina menatap Weini, setelah membuktikan sendiri bahwa cincin itu bermasalah barulah permintaan Weini ditanggapi. Dina merekomendasikan toko perhiasan yang aman dari jangkauan media dan kerap dijadikan langganan bagi artis terkemuka.


“Tapi gue nggak ngerti, tuh cincin kenapa aneh gitu? Apa ada peletnya ya?” Tuding Stevan di tengah keheningan perjalanan, ia terdiam cukup lama hanya untuk berspekulasi dengan pikirannya yang masih penasaran.


Dina mengangguk, baru kali ini ia sepaham dengan Stevan. “Iya kali, non. Makanya non cinta mati sama dia, jangan-jangan diikat pake pelet.”


Weini tersenyum geli, begitu dangkalnya pikiran manusia biasa seperti dua sahabatnya. Apalagi jika mereka tahu faktanya bahwa Weini jauh lebih menakutkan karena memiliki kekuatan sihir, apa mereka masih mau berteman dengannya? Stevan memang sudah tahu sedikit keanehan Weini, tetapi hanya seujung kuku yang ia ketahui.


Tidak ada yang bisa menjamin kapan hati akan berpaling atau bertahan mencintaimu, bahkan ketika kau punya seribu kelebihan untuk disukai, hanya dengan satu kekurangan saja bisa melenyapkan ketertarikan mereka


padamu. Cintai dirimu lebih banyak, kau tidak akan tersakiti!


_Quote of Weini aka Yue Hwa_


***


Lau kembali menghampiri Xiao Jun di dalam ruang kerjanya untuk menyerahkan hasil penyelidikan yang diminta tuan muda itu. Sejak Weini pergi, Xiao Jun mencoba menutupi kesedihannya dengan fokus pada pekerjaan. Ia berencana lembur di kantor, meskipun Lau membujuknya untuk membawa pekerjaan itu pulang seperti kebiasaan Xiao Jun yang dulu.


“Tuan muda, seperti yang kita khawatirkan ternyata benar bahwa Tuan Chen Kho telah menjual saham perusahaan itu dengan harga tertinggi kepada perusahaan asing yang menjadi saingan terberat kita. Transaksi itu terjadi sepekan lalu, dan sebelum itu terjadi, Tuan Chen Kho selaku pejabat eksekutif saat itu memutus kontrak Weini. Tidak hanya kerjasama dengan kita saja namun drama yang dibintangi Weini pun dipaksa untuk selesai. Sepertinya tuan muda itu sudah antisipasi menyingkirkan nona Weini sebelum anda kembali. Ini mungkin karena dia menjaga perasaan adiknya, agar nona Weini tidak perlu berurusan dengan anda. Maafkan asumsi saya, tuan muda. Lalu apa tindakan anda sekarang?” Lau bercerita panjang, di luar dugaannya bahwa pengaruh Chen Kho begitu berbahaya hingga mengusik ketenangan orang tercinta Xiao Jun yang tidak tahu perihal konflik internal mereka.


Xiao Jun menggertakkan gigi, belum cukup ternyata ia memberi pelajaran pada Chen Kho. Pembuat masalah itu kini malah dilepaskan begitu saja oleh Li San dan kembali ke Amerika. Itu saja tidak menjadi jaminan bahwa Chen Kho akan berhenti begitu saja.


begitu saja tanpa mengecek langsung.


Lau terkejut mendengar keputusan Xiao Jun yang terlampau cepat dan terdengar nekad. Ia berdehem sebelum menyatakan pendapat, “Maaf tuan muda, sebaiknya anda melihat dulu laporannya. Nilai yang mereka gelontorkan sangat besar, jikapun anda sanggup membeli kembali namun mohon dipertimbangkan lagi dampak ke depannya.” Lau menundukkan kepala seusai menjabarkan maksud hatinya.


Xiao Jun terdiam, ia bisa melihat keseganan pengawalnya. Demi menghargai Lau, ia pun mengambil berkas yang diletakkan di mejanya. Harus Xiao Jun akui bahwa pemikiran Lau ada benarnya, ia bahkan terkejut saat melihat pergerakan jual beli saham illegal – karena tanpa persetujuannya – dengan nominal luar biasa. Xiao Jun menyudahi membaca, ia geletakkan lagi berkas itu pada tempatnya. Tangannya mengusap di bawah hidung, kebiasaan buruk ketika ia tengah memikirkan sesuatu dengan serius.


“Aku harus membiarkan Weini kehilangan pekerjaan dan banyak yang orang tak bersalah lainnya bernasib sama?” Xiao Jun bertanya balik pada Lau.


Lau dengan sungkan lagi-lagi menundukkan kepala. “Maaf tuan, untuk sementara keputusan bijaknya demikian. Anda baru kembali dan harus merintis ulang setelah kekacauan yang dilakukan era tuan Chen Kho. Jika anda mengeluarkan dana besar untuk perusahaan itu maka dampaknya akan fatal bagi finansial perusahaan kita. Mohon anda bijak mengambil keputusan, ini juga menyangkut masa depan perusahaan kita.”


Xiao Jun dengan sangat terpaksa harus memejamkan mata, ia sungguh tidak bisa diandalkan bahkan untuk mewujudkan keinginan Weini. Bukan hanya soal cinta, namun urusan karier saja ia tak bisa berada di pihak


gadisnya.


Maaf Weini, aku berjanji ini hanya untuk sementara. Bersabarlah sebentar lagi, aku pastikan yang menjadi milikmu pasti kembali jadi milikmu.


***


Grace membanting pintu kamarnya dengan keras lalu menjatuhkan diri di atas ranjangnya, tanpa berganti pakaian dulu. Saat ini masih jam kerja, tetapi ia sudah kehilangan muka untuk berada lebih lama lagi di kantor itu. Grace meraih sebuah bantal kemudian menutupi wajahnya, ia tak peduli akan susah bernapas karena itu. Hari pertama kerja yang penuh kejutan, ia bahkan tak mengira akan bertemu Weini secepat itu. Wajah cantik Weini terus


terngiang, seolah menghantui Grace di manapun. Bahkan saat ia memejamkan wajah, bayang wajah Weini dan Xiao Jun terus gentayangan dalam pikirannya.


“Kamu memang cantik, tapi aku juga tidak kalah cantik darimu. Apa yang bikin Xiao Jun sangat tergila-gila padamu? Sampai dia tega berlaku kasar padaku hanya karena mengejarmu.” Grace mulai menangis, sampai isakan di bawah tumpukan bantal membuatnya kesulitan bernapas. Ia melempar bantal itu sekuat tenaga dan tak sengaja mengenai Fang Fang yang baru masuk hendak mengecek keadaannya.


“Nona? Apa anda perlu sesuatu untuk menenangkan diri?” Tanya Fang Fang pelan dan hati-hati. Ia memang orang suruhan Xiao Jun, namun lama kelamaan hati kecilnya turut iba melihat tangisan Grace yang rutin seolah menjadi bagian hidupnya. Sangat memprihatinkan!


Grace mendelik pada pelayannya, di saat ia ingin menyendiri tetapi selalu saja pelayan itu lancang keluar masuk kamarnya. Ketika hendak mencibir Fang Fang, Grace berubah pikiran, ia terpikir memberikan pekerjaan yang lebih berguna sekaligus mengetes loyalitasnya.


“Kamu … pergi cari tahu siapa Weini! Jangan kembali sebelum mendapat informasinya!”


***