OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 429 TAK TERLIHAT



Semilir angin sejuk di udara panas, desiran anginnya menerpa lembut di wajah Dina. Gadis itu tengah merasakan seperti seorang tuan putri, selonjoran di atas kursi panjang, berbalut bikini yang maksudnya sengaja menggosongkan kulitnya yang kuning langsat itu. Ia membalurkan sun screen pada tangan dan kakinya sebagai bekal berjemur ala turis. Tak lupa dengan kaca mata hitam yang menambah kesan manisnya, ia berselonjor sambil menopangkan kaki.


"Baru dua hari di sini, rasanya udah betah aja. Ah... Andai hidup memang senyaman ini, rasanya nggak ada yang bersedia mati." Gumam Dina seorang diri, ia menekuk tangannya lalu dijadikan alas kepala sebagai posisi santai.


"Semua yang hidup pasti bakal mati, nona." Celetuk Ming Ming yang tiba-tiba nimbrung membawanya segelas jus buah pesanan Dina.


Dina mendelik pada pria yang jadi bodyguard-nya, tatapannya seakan bisa menembus hingga tulang sumsum saking tajamnya.


"Udah berapa kali aku bilang, jangan panggil aku nona. Atau aku akan memanggilmu tuan juga." Ancam Dina.


Ming Ming terdiam dalam posisi berdiri di samping Dina. Ia memikirkan balasan dari ancaman gadis itu. "Selama saya berinteraksi dengan anda pada waktu kerja, saya tetap harus berlaku formal." Tegas Ming Ming dengan konotasi yang lembut.


Dina nyengir, jelas ia tidak puas dengan jawaban itu. "Kerja apa? Menghantuiku sepanjang waktu dengan pakaian serba hitammu? Kau membuatku serasa diteror malaikat kematian saja." Celetuk Dina.


"Untung saja kau tampan." Timpal Dina lagi dengan suara sangat kecil.


Ming Ming mendengar itu dan berusaha menyembunyikan senyuman, beberapa hari menjaga Dina, ternyata sudah cukup membuat Ming Ming kenal seperti apa sifat gadis itu. Meskipun blak-blakan, tidak bisa menyimpan rahasia, bawel, tapi Dina orang yang hangat dan perhatian.


"Nikmati liburan anda, di sini memang sangat asyik sampai bisa lupa waktu." Ming Ming sedikit membungkuk lalu hendak berbalik meninggalkan Dina.


Dina membuka kacamatanya, dari sorot matanya tampak jelas ia berat melepaskan Ming Ming.


"Hei, kau mau ke mana?" Teriak Dina mencegat pengawal itu dengan suaranya.


Ming Ming berhenti, ia tersenyum tipis lalu menjawab Dina. "Saya tidak ke mana, hanya menjaga anda dari kejauhan saja." Ujar Ming Ming tenang sambil menunjuk sebuah pendopo yang rindang dan memang agak jauh dari tempat nongkrong Dina.


Dina mendengus kesal, ia berdiri dengan cepat lalu menarik pria itu dan memaksanya duduk di kursi panjangnya. Banyak turis yang lalu lalang di sana tapi tidak ada satupun yang memperhatikan mereka. Dina dan pengawal itu terlihat seperti pasangan yang sedang bertengkar, itu saja.


"Apa aku mengerikan? Kenapa harus jaga jarak sama aku? Duduk di sini aja kenapa? Nongkrong bareng aku, ayolah plis jangan ciptakan kasta di antara kita." Gerutu Dina sambil berkacak pinggang.


Ming Ming tak punya pilihan lain, "Baiklah, aku menuruti perintahmu."


Dina tersenyum cemberut, ia tahu pria itu setengah terpaksa, namun ada bagusnya juga lantaran ia bisa sedikit menggunakan kekuatannya untuk menekan Ming Ming.


"Hmm... Bagus kalau begitu, ayoo!"


Dina menarik tangan pria itu lalu menyeretnya sambil berlari.


"Mau ke mana nona?"


"Kau panggil nona lagi, jangan salahkan aku kalau menghukummu! Panggil Dina." Celetuk Dina, ia terus berlari berpegangan tangan menuju kios-kios yang menjual souvernir.


Ming Ming diam saja, daripada salah bicara lagi. Tetapi begitu sampai di sebuah kios, dan melihat Dina asyik memilih sesuatu, ia tahu apa maksud gadis itu menyeretnya kemari.


"Hidup itu warna warni, nggak melulu warna hitam. Nih, ganti baju ini aja." Dina menyodorkan kaos abu-abu polos yang dipilihnya. Ia memaksa Ming Ming menerimanya dengan sorot mata yang tajam.


Pria itu menghela napas, tetap saja ia menerimanya dan harus rela mengganti seragam yang identik dengannya selama menjadi bodyguard.


Dina tersenyum puas, ia mengawasi Ming Ming yang berjalan menuju ruang ganti. Sembari menunggu pengawalnya keluar dengan penampilan baru, Dina meronggoh ponsel yang ia bawa dalam tas selempang mininya. Meskipun di sini sangat menyenangkan hingga ia merasa tak punya beban, namun tak bisa dipungkiri hatinya masih tertuju pada sahabatnya di Jakarta, terutama Weini.


Mata Dina membesar saat mendapati saran berita lainnya, berita kecelakaan yang menimpa Stevan, Bams dan Fang Fang. Ia membaca dengan cepat, tangannya gemetaran memegang ponsel. Mengapa baru sekarang ia mencari tahu tentang mereka padahal kejadiannya tepat saat Dina diungsikan liburan kemari.


"Sorry Stev, Bams, aku nggak nyangka kalian bakal jadi sasaran juga. Kalau tahu gitu mendingan kita ngungsi rame-rame." Lirih Dina, separuh jiwanya terasa runtuh. Di kala sahabatnya satu persatu tertimpa masalah, ia malah seperti pengecut yang melarikan diri.


❤️❤️❤️


Su Rong keluar dari mobil dengan penampilan baru, ia seperti kembali menjadi dirinya sebelumnya setelah mengenakan jas milik anak buah Chen Kho.


"Masuklah, pilotnya pasti mengenalimu. Pura-pura saja kau selamat dari incaran polisi. Kami akan membuntutimu." Gumam Haris memberi petunjuk.


Su Rong mengangguk patuh, "Baik, tuan. Tapi, apa tidak bahaya bagi kalian jika membuntutiku?" Tanya Su Rong was-was.


Xiao Jun tersenyum menyeringai, "Pergilah, jangan cemaskan kami."


Su Rong tak bertanya lagi, ia membalikkan tubuhnya lalu berjalan menuju tangga jet yang masih terbuka.


Xiao Jun dan Haris saling berpandangan sejenak, tidak sepatah katapun terucap, yang ada hanya senyuman. Perlahan tubuh ayah dan anak itu menghilang dari penampakan kasat mata. Mereka berjalan di belakang Su Rong tanpa disadari oleh pengawal itu. Sihir menghilangkan diri itu akhirnya bisa Xiao Jun kuasai, ia merasa takjub akan dirinya yang baru.


Su Rong berjalan dengan wajah sedikit tertunduk, walau sedikit merasakan takut tetapi ia tidak akan gentar dari misi ini. Langkah kakinya mulai menginjak anak tangga jet yang pertama, ia mempercepat langkahnya hingga masuk sepenuhnya ke dalam jet.


Benar saja, pilot yang sekarang sudah kembali ke posisinya adalah orang yang sama, yang membawanya dari tempat persembunyian Chen Kho hingga kemari.


Pilot itu bingung melihat orang yang dikabarkan meninggal itu justru muncul di hadapannya, sebelum ia bertanya ketakutan, Su Rong lebih dulu meyakinkannya.


"Aku belum mati, itu hanya siasat agar bisa kabur dari polisi. Sekarang aku buronan mereka, cepat bawa aku kembali ke tuan muda." Perintah Su Rong tegas.


Pilot itu belum sepenuhnya percaya, ia masih berat mematuhi perintah Su Rong. "Tapi masih ada dua orang yang belum kembali, tunggu mereka datang dulu."


Su Rong berpikir keras, yang dimaksud pilot itu pasti pengawal yang mati tertembak. Tetapi satu lagi tidak ia ketahui lagi.


"Aku berpapasan dengannya mereka saat kemari, dia yang memerintahkan aku untuk segera kembali dulu. Mereka masih ada keperluan, jika menunggu mereka, resikonya justru aku bisa ketahuan. Aku sudah menunggu kedatangan kalian sejak kemarin. Antarkan aku kembali dulu ke sana!"


Penjelasan Su Rong akhirnya bisa meyakinkan pilot itu. Suara mesin jet terdengar menyala, sebentar lagi pasti lepas landas dan membawanya kembali ke sarang mantan tuannya. Namun hingga jet mengudara, Su Rong tidak menemukan dua orang tuannya yang berencana menyusup. Padahal kondisi sudah aman, pilot itu tidak mungkin memeriksa ke belakang lagi.


"Apa mereka gagal menyusup?" Lirih Su Rong bertanya-tanya sendiri.


Baru saja mempertanyakan itu, tiba-tiba sebuah suara memberikan jawaban.


"Kami di sini, Su Rong."


Su Rong terkesiap, ia tidak melihat apapun hanya mendengar suara yang ia kenali adalah suara Haris. Untung saja ia masih kuat mental hingga masih sadar saat melihat kemunculan dua pria yang ternyata duduk mengapit posisinya.


Xiao Jun dan Haris tersenyum tipis, mereka sedari tadi memang di belakang Su Rong namun tak terlihat saja.


"Kami duduk di sampingmu sejak tadi. Tenangkan dirimu, kerjamu sangat bagus. Sekali lagi kami masih perlu peran pentingmu ketika sampai di sana." Ujar Haris yang kemudian tersenyum misterius.


❤️❤️❤️