
Weini meninggalkan aula utama dan memilih menepi di sebuah pendopo, tempat yang tenang dan sering dijadikan tempat favorit Li San semasa hidupnya, kini menjadi tempat favorit Weini pula. Gadis itu duduk bersila, menikmati sepoi angin yang meniup helaian rambutnya. Sesaat Weini memejamkan mata, menajamkan inderanya yang terasa seperti terkoneksi dengan alam.
Hembusan angin yang merontokkan dedaunan, bertiup perlahan mengikuti arah angin. Suara gemericik air saat ikan menggeliat, melompat ke dalam air lagi. Suara pelayan yang bersenda gurau di asrama pelayan, semua itu tertangkap oleh pendengaran Weini.
Sepasang mata indah milik gadis itu terpejam tidak nyaman, bola matanya tampak bergerak gelisah, ditambah raut wajah yang terlihat tegang seperti ada sesuatu yang mengancam.
Yue Hwa....
"Siapa?" Desis Weini, sayup sayup suara terdengar menyuarakan namanya.
Kamu yang siapa? Kenapa chi mu mirip dengan tuanku?
"Tuanmu? Siapa?" Desis Weini, ia mulai merasa tak aman dengan mata yang terpejam. Debaran jantungnya cepat, ia merasa tertekan, ia ketakutan. Sayangnya sekuat apapun ia berusaha membuka matanya, sepasang kelopak itu terasa merekat.
Weini merasakan jiwanya masuk ke dalam suatu dimensi yang gelap tanpa batas, ia tak mengerti apa yang terjadi dan ada di mana dirinya yang pasti pekat itu membuat Weini merasa bukan berada dalam bagian dunia nyata.
Siapa kamu gadis muda? Mengapa kamu memiliki chi pemilikku!?"
Weini kini yakin suara misterius yang berbicara padanya adalah suara seorang wanita. Entah siapa dan entah di mana keberadaannya.
"Siapa pemilikmu? Aku tidak mengerti apa maksudmu!?" Pekik Weini lantang, pandangannya mengarah ke segala penjuru lantaran ia tidak tahu di mana lawan bicaranya berada.
Kau tak pantas bertanya padaku, kau bukan pemilikku!
Pekik suara wanita itu menggema dan terdengar antagonis, ia layaknya pengecut yang bersembunyi di dalam hitam pekat kegelapan dan leluasa menyerang lawannya dalam dimensi kekuasaannya.
Weini tak awas diri hingga tak bisa menghindari benturan kekuatan besar yang ditujukan padanya, tubuh Weini terpelanting dan terhisap oleh pusaran angin kencang yang tak kasat mata.
"Aaarrgghhhh!" Pekik Weini menjerit dan berusaha lolos dari hisapan angin yang terus bertiup kencang.
ππ
"Nona? Hwa... Yue Hwa?"
Haris berdiri di sebelah Weini yang tampak seperti tertidur. Gadis itu duduk dengan tegak namun matanya terpejam serta kesadaran yang menghilang. Haris mencium gelagat yang tidak beres dari raut wajah Weini, terlebih panggilannya tidak mendapatkan respon. Spontan Haris menepuk pundak Weini dengan pelan nyaris seperti sentuhan lembut namun efeknya luar biasa, lantaran tenaga dalam dan sihir Haris yang bekerja.
"Pulang!" Gumam Haris menyerukan perintah.
Tubuh Weini terdorong ke arah depan hingga dadanya nyaris membentur meja, untungnya Haris sangat sigap dan menahan pundak Weini agar tidak terdorong ke depan. Seketika itu juga Weini tersadar, napasnya tersengal lalu terbatuk berulang kali seperti efek orang yang habis dicekik.
"Kamu sudah kembali, Hwa... tenanglah." Ujar Haris memenangkan gadis itu.
Suara Haris yang familiar membuat Weini merasa lega. Perlahan ia menoleh ke samping di mana Haris berdiri di sana.
Haris tahu Weini mencarinya, ia pun mengambil posisi duduk di sebelah Weini dan menepuk pundaknya pelan.
"Ayah... Aku?" Ujar Weini terbata bata, napasnya baru saja beransur normal.
Haris mengangguk paham apa yang ingin diceritakan oleh Weini, dan pastinya Haris tahu apa yang terjadi pada gadis itu.
"Ya, ayah di sini dan melihat kamu sudah tidak berada di sini."
"Aku ada di mana ayah? Tempat itu sangat gelap, pekat dan suara wanita... dia menyerang aku tanpa sebab." Seru Weini bercerita dengan sorot mata ketakutan. Belum pernah ia mengalami sensasi semenakutkan ini.
"Coba diingat lagi, pasti kamu tahu sebabnya. Tenangkan dirimu, kontrol emosimy dan perlahan ingat kembali apa yang terjadi.
Weini menuruti apa yang dikatakan Haris, ia mulai menenangkan dirinya dan teringat kata kata wanita itu yang menggema.
Haris tersenyum simpul, meskipun ia sendiri belum bisa menyimpulkan secara pasti apa yang terjadi, namun tempat yang dikunjungi Weini tampak familiar bagi Haris.
"Kamu ada dalam dimensi kegelapan kan? Segalanya pekat tanpa batas, dan ada suara yang memanggilmu." Lirih Haris.
Weini mengerutkan dahinya, "Bagaimana ayah bisa tahu?" Tanya Weini heran.
"Aku pernah diseret ke sana waktu berhadapan dengan Chen Kho, di tempat itu sihirku melemah separuh karena berseberangan dengan sihirku." Ujar Haris mengenang masa tak enak kala itu.
"Lalu siapa yang menyeret aku ke sana ayah? Dia kenal aku, dia bilang aku bukan pemiliknya." Guman Weini terheran-heran, ia tak habis pikir apa yang terjadi dan siapa musuh yang ia hadapi.
Haris menarik napasnya kemudian menatap ke arah kolam teratai yang bermekaran.
Pikirannya menerawang jauh, ia tak yakin akan sepenuhnya benar tetapi mungkin ini ada kaitannya dengan apa yang Weini alami.
"Yue Hwa, dalam dunia sihir memang mengenal kepemilikan dan pengakuan. Kita tidak bisa membawa mati kemampuan ini, dan memang harus mencari penerus sebelum itu terjadi. Itulah sebabnya aku mengajarimu sihirku, untuk berjaga-jaga andai aku harus memenuhi takdir kematianku sebelum sempat bertemu putraku. Namun apa yang ku prediksikan nyatanya masih bisa meleset. Li Jun berhasil aku temukan sebelum insiden pertarungan gelap itu." Haris menjeda ucapannya, ia menerawang lagi menatap langit biru yang luas.
"Maaf ayah, aku belum mengerti apa yang hendak ayah sampaikan. Meskipun aku menguasai sihirmu, namun tetap Li Jun yang berhak mewarisi sihir klan Wei. Apakah karena itu wanita misterius itu meneror aku, ayah? Karena aku tak boleh menguasai sihir klan Wei?" Tanya Weini bingung.
Haris menggeleng pelan seraya tersenyum tipis, "Bukan... Sihir klan Wei beraliran timur, arah terbitnya matahari yang berarti penguasa cahaya. Sedangkan sihir yang menarikmu adalah sihir kegelapan, sama seperti sihir yang dikuasai Chen Kho. Tanpa kamu sadari, kamu telah menyerap dua unsur sihir yang bertolak belakang, dan hanya kamu yang sanggup menguasai itu dalam keadaan selamat. Energi sihir yin dan yang bersatu dalam dirimu dan bisa kamu kendalikan."
Weini nyaris tidak percaya apa yang Haris jelaskan, ia merasa dirinya biasa saja tetapi menurut cerita yang pria tua itu sampaikan, terdengar luar biasa.
"Jadi wanita itu marah karena aku menguasai kedua sihir itu?"
Haris menggeleng tegas, "Bukan kedua tapi salah satunya. Klan Wei tidak mempermasalahkan karena aku sudah meminta ijin leluhur dan mendapatkan restunya."
Weini manggut-manggut, kini ia mulai menangkap maksud pembicaraan Haris.
"Berarti yang bermasalah adalah sihir kegelapan, aku dinilai tidak pantas menguasai sihirnya. Itulah kenapa dia menyerangku, apa benar dugaanku ayah?"
Haris tersenyum tipis, meski tidak bisa dikatakan benar namun alasan itu kurang lebih demikian.
"Bukan tidak pantas, Hwa... lebih tepatnya kamu beluk kenalan dengan mereka yang berasal dari dimensi itu. Mereka akan mencarimu karena rasa penasaran dan tidak kenal."
Weini menanggapi ini sebagai masalah serius, ia menatap lekat pada Haris.
"Lantas aku harus bagaimana ayah? Apa aku harus menghilangkan energi ini dari tubuh ku?"
Haris menggelengkan kepalanya, tatapannya teduh menatap Weini.
"Kamu tidak bisa membatalkan apa yang sudah menjadi milik mu. Energi itulah yang memilihmu, bukan tanpa sebab pastinya, namun hanya orang pilihan yang sanggup menjadi tuan dari sihir tertinggi di dunia. Hanya ada satu dan kamu satu satunya pemilik kedua sihir besar itu."
Weini merinding mendengar penjelasan Haris, ia tidak mengira apa yang ia miliki ternyata sangat berharga. Sihir misterius yang gelombang energinya sama seperti milik Chen Kho, dan kini sanggup Weini kuasai sepenuhnya.
"Yang harus kamu lakukan hanyalah menghadapinya, tidak akan bisa lari dari kenyataan. Kamu harus melakukan pembuktian agar bisa diterima sebagai tuan yang baru." Ujar Haris lantang.
Tuan yang baru?
Pikiran Weini mengingat segala hal lagi yang ia dengar dari Chen Kho, tentang ketidak bahagiaannya, rasa terkekang dan selalu dikendalikan. Tentang kesadaran yang tak menentu dan selalu berubah menjadi orang lain saat ia bertindak jahat. Sepasang mata Weini membulat, ia teringat sesuatu yang belum ia ketahui dalangnya.
"Dia... apakah ini yang Chen Kho maksud dengan 'dia'?"
Haris mengernyitkan dahinya, tak paham dengan sosok 'dia' yang dimaksud Weini. Entah siapa 'dia' yang akan Weini hadapi, yang pasti apapun yang terjadi Haris akan siap pasang badan untuk melindungi nonanya.
πππ