
Weini terlihat mengerutkan dahi setelah percakapannya dengan Haris berakhir, dari nada bicara Haris sepertinya ia bisa menangkap ada sesuatu yang tidak beres di sana. Pikirannya terus menerawang, mengaitkan dengan kejadian yang menimpanya dan pesan yang mati-matian Grace sampaikan padanya. Semua rencana libura mereka berantakan, Haris pun bersikukuh untuk pulang besok. Sebenarnya Weini merasa senang, ia memang ingin ayahnya segera kembali. Tetapi membayangkan masa senang-senang Haris yang gagal pun membuat Weini tak bahagia.
Gadis itu menepis pikirannya yang carut marut di kepala, ia menggeleng pelan kemudian mulai menghubungi satu orang lagi yang penting baginya. Xiao Jun pasti sama khawatirnya dengan Haris, dan Weini tak ingin menambah beban pikiran kekasihnya.
“Akhirnya kamu ada kabarnya. Sayang, bagaimana kondisimu sekarang?” Tanya Xiao Jun cemas, ia segera meminta panggilan dialihkan ke mode video call namun ditolak oleh Weini.
“Jun, aku udah mendingan. Tapi kita telponan suara saja ya, aku lagi di kamar mandi.” Alasan Weini, padahal tampangnya yang pucat lantaran banyak memuntahkan racun yang bercampur dalam darahnya sudah membuat
tubuhnya lemas. Weini menghubungi Haris dan Xiao Jun dalam kondisi terkulai di ranjangnya. Ia melewati masa sulitnya seorang diri, kesepian dan hanya mengandalkan kemampuan dirinya untuk bertahan hidup.
Terdengar suara Xiao Jun yang memaklumi keberatan Weini. “Aku akan meminta paman Lau menjagamu sekarang, atau kamu mau kupanggilkan Dina saja?” Tanya Xiao Jun penuh perhatian.
“Tidak, jangan repotkan mereka. Paman Lau lebih dibutuhkan Grace sekarang, dan kak Dina … Aku tidak mau membuatnya cemas. Dia mudah panik, kasian.” Tolak Weini dengan cepat, sebelum Xiao Jun bertindak lebih dulu.
Suara helaan napas Xiao Jun terdengar berat, “Kamu yakin? Sayang, jangan memikull beban berat sendirian. Aku minta maaf tidak ada di samping saat ini, kamu pasti menghadapi kondisi yang sulit.” Sesal Xiao Jun.
Weini mengerutkan dahi, kekasihnya baru saja melontarkan kecemasan yang berlebihan. Seolah ia tahu rahasia Weini, seakan Xiao Jun tahu bahwa Weini baru saja selamat dari maut karena konsekuensi menolong Grace. “Jun, kenapa kamu bicara seolah aku sakit berat? Aku hanya diare dan ini sudah mendingan, sisa lemasnya saja.” Bohong Weini.
Xiao Jun menepuk jidatnya, ia sungguh kebablasan perhatian. Meskipun ia tahu bahaya apa yang telah dihadapi Weini, namun sesuai perjanjian dengan Haris, ia harus merahasiakan itu dan membiarkan Haris yang memberitahu
Weini kebenarannya.
“Ah, maaf … Aku terlalu berlebihan.” Ujar Xiao Jun sembari tertawa canggung.
“Kamu istirahat saja sayang, besok ketika terbangun mungkin aku sudah di sampingmu. Asalkan kamu jangan bangun kepagian, pulihkan dirimu jangan kemana-mana sebelum aku pulang ya.” Lanjut Xiao Jun dengan sederet perhatiannya. Hanya itu yang bisa ia lakukan dalam keterbatasan jarak itu.
Weini hanya mengiyakan permintaan Xiao Jun, ia cukup senang dan lega mendengar perhatian itu. Walaupun ia berharap mendapatkan perhatian lebih, terlebih setelah apa yang dialaminya sepanjang hari itu. Namun yang ada, sepasang kekasih itu hanya saling menutup diri dengan kebohongan.
*Catatan author : “Bagus … Mereka ketagihan berbohong\, sungguh pasangan yang serasi hehe.*
***
Chen Kho menahan geram dan bersusah payah mengontrol emosinya saat mendapatkan panggilan yang terduga dari Lau. Sebenarnya pengawal Xiao Jun itu hendak menghubungi Li San, namun yang menduduki kursi kebesaran
sang penguasa itu sekaligus menguasai aula utama yang serba mewah itu adalah Chen Kho, maka panggilan itu tidak luput dari jangkauannya.
“Baiklah tuan, kebetulan sekali anda yang menerima panggilan ini. Sebenarnya saya menelpon untuk mengabari tentang keadaan nona Grace.” Ujar Lau dalam perbincangan via suara.
Lau terdiam sejenak kemudian dengan pelan menyampaikan maksudnya, “Maafkan saya tuan, kemarin pelayan nona Grace lalai menjaganya sehingga entah bagaimana ceritanya nona Grace keracunan. Tapi untung saja nyawanya tertolong, sekarang nona Grace sedang masa pemulihan.”
Chen Kho tersentak, luar biasa kagetnya mendengar kabar buruk itu. Buruk dalam artian ia tak menyayangkan kondisi adiknya, hanya saja ia tak habis pikir mengapa misi yang diembankan pada Grace melenceng sangat jauh dari harapan. Hening sekejab, hingga Chen Kho sadar dengan sendirinya dari melamun.
Chen Kho berdehem basa basi, “Ehem … Kenapa ia bisa keracunan? Apa ada yang sengaja ingin membunuhnya? Jangan bilang bahwa tuanmu ingin menyingkirkan adikku dengan cara keji itu!” Chen Kho malah balik menodong Lau, senyumnya menyeringai menampilkan betapa licik pikirannya.
“Mohon ampun tuan, kejadian kemarin tidak ada yang menduga, bahkan tuan Xiao Jun pun sedang berada di Beijing. Tuanku sangat terkejut mendengar kabar itu dan segera pulang, sekarang tuanku pasti berada di
perjalanan. Kejadian ini adalah kelalaian kami para pengawalnya, saya mohon maaf atas ketidak-becusan kami.” Sesal Lau. Di sisi lain, ia cemas bahwa Chen Kho mungkin akan membesarkan masalah ini dan menuding Xiao Jun sebagai dalang musibah Grace.
Saat Chen Kho terdiam memikirkan pikiran licik, tiba-tiba Kao Jing muncul dan melirik antusias padanya. Chen Kho menyadari itu lalu segera menyudahi pembicaraan dengan Lau. “Kalian memang tidak becus, minta maaf pun tidak ada gunanya. Ya sudahlah.” Ujar Chen Kho ketus lalu memutuskan panggilan sepihak.
Kao Jing melirik tajam pada putranya, ia penasaran dengan siapa Chen Kho bertukar komunikasi. “Siapa dan ada apa? Kedengarannya cukup serius.” Selidik Kao Jing.
Chen Kho memandangi wajah ayahnya dengan raut serius, memancing rasa penasaran pria tua itu lebih dalam. “Pengawal tua Lau mengabarkan kalau Grace keracunan. Si bodoh itu … Aku suruh dia meracuni gadis itu, tapi kenapa dia yang keracunan?” Geram Chen Kho sampai menyebut adik kandungnya dengan julukan si bodoh.
Kao Jing terhuyung saking mengejutkannya kabar itu. “Jadi Grace ….” Ucapnya lemah dan tak mampu melanjutkan kata-kata. Ini kejutan yang tak pernah disangka, anaknya yang menjadi korban.
Chen Kho segera mengklarifikasi agar kecemasan ayahnya tidak berlanjut, ia menggelengkan kepala dengan cepat. “Dia tidak mati, ajaib sekali kan. Baru kali ini ada yang selamat dari racun peluntur jiwa.” Geram Chen Kho, antara harus bersyukur atau marah.
Kao Jing menghela napas lega, setidaknya ia tak kehilangan putri satu-satunya. “Lalu siapa yang menolongnya? Apa ilmu kedokteran di sana punya penawarnya?” Heran Kao Jing.
Chen Kho membisu sejenak, ia merunutkan segala kemungkinan yang masuk akal. Beberapa detik kemudian senyumnya menyeringai, ia sepertinya sudah menguraikan benang kusutnya. “Hanya ada satu kemungkinan, sepupuku itu juga punya keistimewaan seperti aku.”
Kao Jing melirik tajam pada Chen Kho, “Maksudmu putri terbuang itu menguasai sihir?”
Chen Kho mengangguk, “Aku tidak pernah mengira akan semenarik ini. Jika dia juga punya kemampuan itu, berarti kita terlalu meremehkannya. Oh, dia membuatku tidak sabaran.” Ujar Chen Kho dengan senyum licik.
Kao Jing justru tak sependapat, “Apa tidak menyusahkan kalau benar begitu? Rencana kita terpaksa berubah total, ah … Anak gadisku juga tidak bisa diandalkan.” Gerutu Kao Jing yang sungguh kecewa pada Grace.
“Ya, dia sangat mengecewakan. Satu lagi pelajaran buat kita ayah, jangan mengandalkan wanita dalam misi utama. Perasaannya lebih diutamakan daripada logika, mungkin karena itulah hingga dia yang justru menelan racun itu. Memalukan, senjata makan tuan.” Sindir Chen Kho, ia sungguh kesal pada Grace. Sia-sia ia meyakinkannya agar berkeras hati dan singkirkan rasa kasihan, maka mereka akan mendapatkan segala keinginan. Dan hasilnya,
seperti yang diketahuinya sekarang. Misi benar-benar akan berubah, dan Chen Kho tak akan membuat segalanya menjadi lebih mudah.
***