OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 299 MEMBUKA PINTU PERSAHABATAN



“CUT!” Pekik sutradara mengakhiri syuting scene kali ini. Weini dan Stevan saling melempar senyuman, puas dengan hasil kerja mereka. Stevan berjalan menghampiri kursinya, ia berniat istirahat di studio saja ambil menunggu scene berikutnya.


Weini berjalan menghampiri Dina lalu membisikkan sesuatu, “Aku ke toilet bentar kak.”


Dina mengangguk, ekor matanya mengawasi Weini agar benar-benar berlalu dari studio. Manager itu kemudian berlari menghampiri Stevan dengan antusias, dari senyum jahilnya yang mengembang dari kejauhan, Stevan sudah bisa membayangkan ada maksud terselubung yang akan diutarakan Dina.


“Hei, udah tahu belum?” Tanya Dina saat berdiri di hadapan Stevan yang meneguk air mineral dingin yang disodorkan managernya.


“Belum, kan lu belum ngomong.” Jawab Stevan cuek.


Senyum Dina seketika basi, “Iya, ya.” Ia mengetuk jidatnya sebagai hukuman telah mempermalukan dirinya.


“Dengerin deh, besok Weini ulang tahun dan kami udah rencana bikin pesta kejutan buat dia. Lu wajib, kudu, harus datang! Selepas syuting langsung cus ke rumahnya, oke!” Ujar Dina bersemangat.


Stevan mendongak menatap wajah Dina yang kembali tersenyum penuh, ia belum memberikan jawaban. Stevan baru tahu kalau besok adalah hari ulang tahun Weini. Saat hendak berkomentar, ia sepintas melirik ke arah Grace yang duduk tak jauh di sampingnya. Gadis itupun sedang melihatnya, ketika mata mereka saling bertatapan, Grace segera membuang muka. Stevan tersenyum tipis, ia sepertinya tahu bahwa Grace barusan menguping pembicaraan


mereka. Dari raut wajahnya pun memperlihatkan ketidak-senangannya.


“Gue pasti datang tenang aja.” Jawab Stevan.


Dina mengangguk mantap, “Awas ya, jangan sampe dia tahu. Ntar bukan surprise lagi.” Kecam Dina.


Grace tiba-tiba menggeser kursinya hingga menimbulkan bunyi yang mencolok perhatian, Stevan dan Dina spontan menoleh padanya. Artis cantik itu berdiri lalu berjalan keluar studio dengan muka masam, membuat Stevan sedikit mencemaskannya. Ia terus menatap punggung Grace hingga menghilang dari pandangan.


“Kenapa tuh dia? PMS kali ya?” Tanya Dina usil.


***


Grace menyelamatkan diri dari rasa muaknya mendengar pembicaraan Stevan dan Weini. Perasaannya berkecamuk dicegoki semua hal tentang Weini, ia muak dengan semua itu. Tidak bisakah satu hari saja hidupnya damai tanpa mendengar segala tentang Weini? Grace berjalan terburu-buru lalu mendorong kuat pintu toilet hingga terbuka maksimal. Satu-satunya tempat bersembunyi paling tenang menurutnya adalah di tempat ini. Namun saat


pandangannya bertatapan dengan Weini yang menatapnya dengan raut terkejut, Grace menarik kembali persepsinya barusan. Toilet justru jadi sarang yang terkontaminasi orang yang ingin ia hindari, namun ia terlanjur menampakkan diri di hadapan Weini, harga dirinya akan terbanting jika ia bertingkah mencolok dan kabur dari sana.


Weini kembali mencuci tangan di wastafel setelah tahu Grace yang membuka pintu seperti hendak mendobrak saking kencangnya. Begitu pula dengan Grace yang berjalan masuk dengan sinis dan menuju bilik toilet. Ekor


matanya memincing menatap bayangan Weini yang terpantul di cermin, Weini bisa merasakan sorot tajam yang ditujukan padanya lalu menatap cermin. Dari sanalah dua gadis itu beradu tatapan tanpa perlu berhadapan langsung. Weini lebih dulu berhenti, ia beralih meraih tisu untuk mengeringkan tangan. Saat itupula Grace naik pitam, akal sehatnya tak lagi berfungsi. Ia berbalik badan lalu berjalan cepat menghampiri Weini, ditariknya lengan Weini dari belakang hingga tubuh gadis itu berputar menghadap Grace.


“Kamu! Apa istimewanya kamu? Kenapa semua orang memperhatikanmu? Kenapa mereka mencintaimu? Aku tidak kalah cantik darimu! Aku juga artis sekarang, apa bedanya denganmu? Tapi kenapa yang ada di hati mereka hanya kamu?” Bentak Grace, lebih tepatnya ia memekik histeris diimbangi mata yang sudah berkaca-kaca.


Ketika Weini hendak melontarkan kata, Grace lebih dulu melepas cengkeramannya dan menepis tangan Weini dari pundaknya lalu berlari masuk ke dalam toilet. Weini menghela napas, ia menatap Grace dengan raut sedih lalu berjalan menghampiri di depan pintu toilet.


“Kamu nggak perlu berusaha keras menjadi seperti aku atau seperti siapapun. Cukup jadi dirimu sendiri, yang menyukaimu pasti akan bertahan. Buka dulu hatimu, menerima kebaikan dan perhatian orang. Tidak akan ada yang bisa masuk jika kamu selalu tertutup, dan selalu merasa paling tersakiti.” Weini berkata lirih.


Grace tidak bersuara, ia justru menciptakan bunyi air dari kloset seakan tak peduli dengan apa yang disampaikan Weini.


“Aku tidak sedang mengguruimu, aku pernah di posisimu sekarang. Kamu bisa berteman denganku kapanpun, dan perlu kamu tahu … Aku tidak pernah membencimu.” Lanjut Weini, suaranya begitu lirih. Usai mengucapkan itu, Weini berjalan gontai meninggalkan Grace yang tak memerdulikannya.


Ketika mendengar suara pintu terbuka dan tertutup, Grace yang masih mengunci diri dalam toilet langsung lunglai. Sedari tadi ia berdiri di belakang pintu, kini tubuhnya lemas dan merosot ke bawah bersandar pada pintu. Tangisannya pecah, ia menggigit bawah bibirnya hanya untuk menahan agar suara tangisannya tidak kian menjadi. Orang yang dibencinya baru saja menawarkan persahabatan? Setelah ia memberinya begitu banyak kebencian serta keangkuhan namun Weini masih bersedia mengasihinya? Grace merasa dirinya nyaris gila, apa ia masih punya nyali untuk terus menebar kebencian pada Weini?


***


Grace kembali ke studio setelah memastikan kondisi wajahnya yang sembab sudah sedikit tersamarkan oleh riasan yang dipolesnya di toilet. Sayangnya ketika tim MUA memperhatikan keanehan wajah artis itu, beberapa dari mereka terkejut hingga memancing reaksi Stevan. Pria itu menoleh pada Grace, meskipun dari kejauhan ia bisa melihat wajah sembab Grace yang ia yakini karena tangisan. Gadis itu menghilang sejenak untuk menangis, padahal ia masih ada scene yang harus syuting. Stevan menggelengkan kepala, gadis itu cukup berani uji nyali. Kini tim MUA bekerja keras mengakali penampilan Grace agar terlihat segar kembali, dan ini sangat merepotkan.


***


Hari yang panjang dan melelahkan itu usai sudah, satu persatu artis dan kru sudah beranjak dari studio. Xiao Jun sudah menunggu di parkiran, kali ini kedatangannya sudah mendapat persetujuan dari Weini. Tentu saja dengan alasan yang membuat gadis itu tidak bisa menolak dijemput olehnya. Semua ini ide Li An yang sangat ingin mengenal Weini dan minta dipertemukan malam ini juga. Saat melihat Weini dan Dina berjalan menghampiri, Xiao Jun yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya pun menyambut dengan senyuman.


“Udah nunggu lama?” Tanya Weini.


Xiao Jun menggeleng pelan, “Baru sampai, yuk!” Ia membukakan pintu mobil, mempersilahkan Weini masuk kemudian keduanya melambaikan tangan pada Dina yang berjalan menuju mobilnya.


Dari seberang sana, Grace melangkah menuju parkiran diikuti Stevan yang berjarak kurang lebih tiga meter di belakangnya. Langkah Grace terhenti saat mendapati pemandangan yang menyakitkan lagi. Hari ini bisa dibilang sangat apes baginya, ia tahu Xiao Jun beberapa kali datang menjemput Weini tetapi memergoki mereka langsung jauh lebih  menyakitkan ketimbang sekedar tahu dari mulut orang. Grace tak sanggup lagi melihat, ia membalikkan tubuhnya sebelum terlanjur dilihat mereka. Tubuhnya bertubrukan dengan Stevan yang ikut berhenti melangkah, Grace terkejut lalu mendongak. Ia bergegas mengelak dan menghindari Stevan, namun tangan pria itu lebih sigap menangkap tangan Grace. Gadis itu tertahan sejenak, ia tak bisa meninggalkan Stevan begitu saja selama pria itu


masih mencekalnya dengan kuat.


“Jangan melihat yang menyakitkan, lihat saja ke arah yang menyenangkan. Ada banyak hal yang pantas diperjuangkan, lepaskan saja yang memang tidak ada harapan.” Bisik Stevan pelan.


Grace tersenyum nyengir, “Lepaskan aku, bukan urusanmu!”


Stevan menuruti permintaan Grace, melepaskan yang memang ingin lepas namun pria itu tak akan berhenti untuk mendapatkan hatinya.


***