OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 279 PENDEKATAN BARU STEVAN DAN GRACE?



Weini mematut diri di depan cermin dalam kamarnya, penampilan barunya dengan rambut lurus panjang dan hitamkan kembali adalah tuntutan karakter yang akan ia perankan. Hanya saja, Weini belum terbiasa melihat dirinya yang sekarang. Padahal ini adalah tampilan aslinya sebelum dipermak menjadi gadis berambut curly dan pirang.


“Weini, ayo sarapan bareng sebelum pergi.” Haris mengetuk pintu kamar anak gadis itu, menunggunya keluar dari


sana.


Weini menoleh pada sumber suara lalu tersenyum, ia bergegas keluar demi sarapan lezat yang dijanjikan Haris padanya. “Siap!”


Haris tersenyum menggoda Weini, “Aih … Aku masih pangling sama kamu yang sekarang. Akhirnya balik lagi jadi gadis Asia, ha ha ha.” Kelakar Haris sembari menuju dapur.


Weini melirik Haris dengan tampang kesal yang dibuat-buat, setelah pria itu menjauh barulah Weini berlari


menyusulnya. Hidangan yang tersaji di hadapan Weini terlihat menggugah selera, ia menatap puas pada ayahnya.


“Ayah beneran masak nasi Hainan.” Weini menepuk tangannya sekali sebagai bentuk terima kasih. Ia menarik kursi


dan duduk manis menunggu Haris membuka acara sarapan bersama. Mereka punya kebiasaan yang dibentuk sejak kecil, yang tua harus memulai makan lebih dulu.


Haris mengangguk puas, ia mengambil sendok dan garpu lalu mempersilahkan Weini mulai mencicipi masakannya. Wajah polos Weini yang kegirangan karena makan enak itu sudah cukup membuatnya kenyang. Kepolosan yang masih sama dengan Weini kala berusia enam tahun, saat mereka berdua memutuskan untuk hidup bahagia dengan babak baru hidup yang ala kadarnya.


“Oh ya, gadis bule itu akan sering bertemu denganmu mulai hari ini sampai syuting berakhir. Apa kau yakin akan


aman saja? Persaingan cinta wanita itu sangat menyeramkan loh, kau harus hati-hati.” Ujar Haris yang mengkhawatirkan Weini yang harus berurusan dengan Grace.


Weini menatap Haris sejenak lalu berkata, “Dia bukan bule, ya blasteran sih tapi marganya Li. Memang benarlah


klan Li itu terbanyak di dunia, bahkan ketika tinggal di sini aku masih saja kenal dengan orang yang semarga denganku. Nyaris tidak ada variasinya, padahal masih banyak klan di dunia ini.”


“Contohnya klan Wei.” Kilah Haris dengan cepat. Jawabannya malah membuat ia dan Weini berakhir dalam tawa.


Haris menjeda tawanya, ia menatap Weini dengan sorot yang menenangkan. “Seperti apa gadis itu?”


Weini mengangkat satu alisnya, ia membayangkan seperti apa rupa Grace dengan bagaimana menjelaskannya pada Haris. “Ng, dia cantik sih, hidungnya bangir, rambutnya keemasan, kulitnya putih, matanya bulat besar, dia perpaduan wajah Asia dan Amerika. Pokoknya cantiklah. Kenapa ayah tanya? Tumben.”


Haris manggut-manggut, ia berani bertaruh bahwa gadis Li yang diceritakan Weini itu adalah salah satu keponakan


Li San Jing. Waktu bergulir begitu cepat, anak-anak bertumbuh dewasa dan Haris merasa dirinya dan Xin Er sangat jelas menua. Mereka sepatutnya sudah naik pangkat menjadi kakek nenek, harapan ini harus terealisasi sebelum Haris meninggalkan dunia ini. Ia enggan meninggal tanpa memastikan garis keturunan klannya masih berjalan.


Weini, kelak kau harus memberiku cucu laki-laki yang sehat dan pintar. Gumam Haris dalam batin. Mengenai Grace Li, ia malah tidak menaruh harapan apapun dengan hubungan yang berdasarkan paksaan kepada putranya.


“Ayah?” Weini menyadarkan Haris dari khayalannya.


Haris menggeleng pelan, “Apa kau perlu bantuanku untuk menyingkirkan dia?”


Haris tertawa kecil, ia termakan omongannya sendiri. “Biar mempersingkat waktu, biar kau cepat menikah dan kasih


aku cucu.” Kelakar Haris tertawa lebar.


Wajah Weini bersemu merah, ia memang sangat mencintai Xiao Jun dan menaruh harapan besar padanya. Namun untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, belum terbersit keberanian sedikitpun untuk menyentil ke ranah tersebut. “Masih lama ayah, umurku belum dua puluh tahun jangan bahas pernikahan.”


Weini menunduk pelan menyembunyikan gurat pesimisnya, ia sendiri yang meminta tidak membahas pernikahan namun justru ia yang tergoda melanjutkan obrolan. “Kalau Jun tidak berhasil meyakinkan orangtuanya, kalau ia tetap dipaksa menikah dengan tunangannya, apa masih ada harapan dengan hubungan ini ayah?”


“Ada. Sejak jaman dulu kawin lari sudah ada yang mulai.” Sanggah Haris secepat kilat.


Weini merengut mendengar candaan Haris di saat ia ingin curhat serius. Sebeum protes dilayangkan, Haris buru-buru membenahi maksud ucapannya. “Orangtua ingin yang terbaik buat anaknya, tapi yang terbaik menurut mereka belum tentu terbaik buat anaknya. Kamu nggak bisa membandingkan apel dengan jeruk, meski sama-sama buah namun rasa, tekstur dan bentuknya tak akan sama. Begitupula tentang cinta orangtua dan cinta pada pasangan hidup, tidak bisa ditakar atau dibandingkan. Yang pasti, saat titik itu kalian hadapi, aku yakin dia sudah punya solusinya.”


Weini malah sedih mendengar jawaban itu, “Ayah, kau perlu meralatnya. Tidak semua orangtua menginginkan yang


terbaik untuk anaknya, orangtuaku buktinya.”


***


Soal kedisiplinan waktu, Stevan menjadi yang paling nomor satu di kalangan artis. Aktor tampan itulah yang


sangat menghargai waktu dan professional kerja. Ia sudah tiba dan bersantai dalam ruangannya lebih awal satu jam dari jadwal kerja. Ia membolak-balikkan majalah fashion yang tergeletak di meja ruangannya, melihati halaman demi


halaman tanpa niat. Hingga terdengar jerit pintu terbuka, Stevan menyebarkan pandangan ke sana dengan senyuman yang siap menyambut kedatangan Weini. Senyumnya berubah canggung dan terlambat ditarik kembali lantaran bukan Weini dan Dina yang bergabung dalam ruangan itu, melainkan Grace dan pelayannya.


Senyum kaku Stevan pun kepergok oleh Grace yang ikut canggung disenyumi seperti itu. Grace memang tak punya konflik pribadi dengan Stevan meskipun ia tahu bahwa aktor itu ada di pihak Weini, namun tak etis melibatkan orang luar dalam pertikaian hatinya dan sembarangan menebar kebencian. Grace pun dengan kaku menarik bibirnya hingga membentuk lengkungan senyum meskipun sangat tipis sekali.


Stevan menutupi kecanggungannya dengan kembali meraih majalah, membolak-balikkan tiap halaman dengan kasar sehingga bunyinya menarik perhatian Grace untuk mengintipnya lewat ekor mata. Fang Fang minta ijin berlalu dari hadapan Grace sejenak dan keluar dari ruangan itu, tinggallah dua orang canggung yang sama-sama menciptakan kesepian.


“Awal banget datangnya, udah selesai make up?” Stevan yang lebih dulu mengajak Grace bicara, ia tak betah dengan suasana aneh di antara mereka. Lagipula banyak scene yang mengharuskan mereka akrab nantinya, jadi tak ada salahnya membangun chemistry mulai sekarang.


Grace menyilangkan kakinya saat duduk manis di sofa, ia mengecek ponselnya sembari meladeni Stevan dengan sedikit terpaksa. “Ng.” Jawabnya singkat.


Dasar wanita angkuh! Cecar Stevan, padahal bukan hal baru baginya melihat artis dengan kelakuan arogan. Sesekalipun ia bersikap dingin kepada sesama rekan artis, namun ia tak ambil pusing dengan semua itu. Kenapa giliran ditanggapi acuh tak acuh oleh Grace justru membuatnya kesal?


Perbincangan mereka cukup sampai di situ saja. Stevan tak berminat mencari topik obrolan lagi, terlebih melihat


wanita berambut keemasan itu begitu asyik dengan ponselnya. Stevan yang lebih dulu datang dan berkuasa di ruangan ini mulai terasa tersisihkan.


Weini, Dina, buruan datang!


***