OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 91 MENGASIHI MUSUH



Xiao Jun merasa pembicaraan Weini sangat menarik, walau gadis itu mengalami gegar otak ringan tapi ia tidak amnesia dan pasti ingat kelakuan buruk Metta yang hampir saja mencelakakannya. Meskipun diperlakukan


jahat dan Xiao Jun memberinya ganjaran setimpal, kali ini Weini malah memohon pengampunan untuk si jahat itu?


“Apa kau tidak terlalu murah hati? Proses hukum sudah sejauh ini lalu kita cabut gugatannya, dia bahkan tidak akan sudi berterima kasih padamu.” Seru Xiao Jun serius. Ia membunyikan jemari tangannya yang dikepal.


Weini mengangguk mantap didukung tatapan penuh keyakinan, “Ng! Aku sangat yakin dan tidak akan menyesali.”


“Aku nggak ngerti, buat apa kamu segitunya? Dia pantas kok dihukum, biar dapat pelajaran hidup. Kelak bisa lebih dewasa bertindak, dipenjara tidak akan membuatnya mati.” Xiao Jun masih keberatan, ia hanya kuatir jika pengacau itu dibebaskan lalu kemudian hari merepotkan Weini lagi.


“Emm… dia masih ababil, hanya tahu dimanjakan uang dan kuasa. Kalo dia dipenjara empat tahun, usianya memang masih muda tapi masa depannya tidak akan sama lagi. Aku hanya… kasihan.” Ya, hanya karena kasihanlah Weini merasa iba pada Metta. Meskipun sudah dijahati, sering dimaki, tapi Weini hanya membalas sekenanya tanpa perlu proses hukum, bukan karena takut tapi malas bermasalah. Bisa dikatakan bahwa pengalaman hidup Weini lebih mendewasakannya ketimbang si nona manja Metta. Jika ia masih hidup bergelimang


harta sebagai nona muda keluarga Li, Weini tak bisa menjamin sifatnya akan sedewasa ini.


“Kau terlalu baik, tapi jangan terlalu sering bermurah hati seperti ini. Ada tipikal orang yang memang tidak tahu balas budi, itulah sebabnya sampai muncul peribahasa air susu dibalas air tuba.” Ungkap Xiao Jun.


“Wow… kau sampai ngerti peribahasa segala, kemampuan bahasa Indonesiamu makin fasih.” Puji Weini, ia takjub dengan IQ Xiao Jun yang pastinya sangat tinggi. Dibandingkan Weini yang perlu waktu sebulan belajar bahasa baru, Xiao Jun justru hanya perlu waktu satu minggu untuk lancar berbicara bahasa Indonesia.


“Eh, kau lagi memujiku?” Xiao Jun menunjuk dirinya dengan telunjuknya. Weini begitu saja mengubah topik pembicaraan di saat serius.


“Iya. Ehem… intinya aku sudah pikirkan plus minusnya. Tolong lepaskan dia ya, setelah lulus aku pun tidak perlu bertemu apalagi berurusan dengan dia lagi. Jadi biarlah masa depannya terselamatkan, jalani hidup masing-masing.” Pinta Weini dengan mengatupkan kedua tangannya untuk mengiba.


Xiao Jun menggeleng pasrah, “Ya sudahlah. Besok kusuruh orangku urus. Dina juga sudah mengabariku, prescon yang mewakilimu berjalan lancar. Netizen juga sudah bungkam, dan media yang memprovokasi beritamu diberi


ultimatum. Besok belajarlah dengan tenang, semuanya akan kembali normal.”


Di luar perkiraan Weini, pria yang sehari-hari disibukkan dengan urusan kerjaan, pria yang semakin mendekati nomor 1 dalam dunia bisnis ternyata meluangkan waktu berharga untuk mengurusi masalahnya. Dina bahkan tidak memberitahunya tentang prescon, seharian ini ia dan Haris sibuk bersembunyi hingga lupa kondisi di luar.


“Apakah terima kasih saja cukup untuk membayar semua kebaikanmu? Aku nggak tahu harus jawab apalagi setiap kali mendengar apa yang kau lakukan untukku.” Weini kehabisan kata-kata selain terima kasih.


Xiao Jun terdiam, ia Nampak berpikir Weini sejak jadian dengannya menjadi lebih pasif, lain dari biasanya yang ceria dan suka seenaknya. Atau mungkin Xiao Jun lah yang belum mengenal sisi lain Weini? Gadis itu jadi lebih formal dan sering berucap terimakasih, padahal ada satu kata yang jauh ingin didengar Xiao Jun ketimbang ucapan makasih.


“Bagaimana kalo dilunasi dengan bilang aku cinta kamu?” Sela Xiao Jun tertawa, ia memang ingin mendengar balasan cinta dari Weini yang belum sekalipun mengatakan tiga kata ampuh itu.


“Apaan sih!” Weini melempar sebuah bantal sofa pada Xiao Jun, ia malu digoda seperti itu. Jangankan mengucapkannya, mendengar pengakuan Xiao Jun saja sudah membuatnya jantungan.


Wo ai ni, Xiao Jun. Ia hanya berani mengutarakan dalam hati sembari diam-diam menatap pria di depannya. Xiao Jun menyunggingkan senyum seakan lirihan hati itu tersampaikan padanya.


***


Keadaan berjalan seperti semula, kehadiran Weini di sekolah juga tidak menimbulkan kegaduhan seakan selama sepekan kemarin tidak terjadi apa-apa. Weini menatap kursi kusong Metta di barisan nomor tiga dari tempat duduknya. Gadis itu sama-sama masuk rumah sakit, ia keluar lebih awal dari Weini namun belum sempat masuk sekolah sudah diciduk paksa oleh polisi.


Weini kembali sendirian di kelas, dua dayang Metta menatapnya penuh kebencian seolah Weinilah sumber masalah. Sisi tak juga tergugah hati, malahan semakin jengkel saat melihat Stevan yang ia cintai bersedia pasang badan untuk Weini. Situasi membosankan ini hanya berharap segera lulus agar bebas.


Supir yang diutus Xiao Jun rupanya setia menunggu di parkiran sejak pagi hingga pulang sekolah. Weini merasa sangat tidak enak membuat orang lain menunggunya hingga segitunya. Menunggu itu sangat membosankan, waktu terasa berjalan lambat karena jenuhnya penantian. Ia paham betul perasaan itu seperti ketika Yue Hwa kecil menunggu Wei kembali. Ponsel Weini bergetar, sang manager akhirnya menghubunginya.


“Baru aja nih, kenapa kak?”


“Ahaa… non, ada tawaran iklan nih produk kecantikan. Calon klien mau non jadi brand ambassadornya. Aku lagi baca proposalnya, bagus loh peluang ini bayarannya juga sip. Diambil ya non, kalo oke non langsung ke


kantor sekarang.”


“Oya, ada undangan talkshow live juga di stasiun TV S. Tapi kayaknya non nggak bakal tertarik deh jadi aku skip.” Sambung Dina yang mulai mengerti kemauan Weini.


Tak disangka selepas musibah yang hampir mencoreng nama baiknya, Weini justru kebanjiran job. Satu sisi ia cukup senang mendengar tawaran iklan, tapi perlukah ia meminta ijin Xiao Jun?


“Ng… kak, apa aku coba tanya Xiao Jun dulu baru kasih jawaban? Bisa tunggu kan?” jawab Weini ragu-ragu.


Dari seberang suara tertawa Dina membahana banget, telinga Weini nyaris penuh menampung tawanya. Selucu itukah dirinya? “Nggak usah tanya non. Tuan Xiao Jun udah tahu dan menyerahkan keputusan di tanganmu. Kalau


kamu suka ambil aja katanya.”


Weini nyengir, seketika ia ikut tertawa. Menertawakan kebodohannya yang mulai payah, masa urusan kerjaan saja harus seijin Xiao Jun. Di mana dirinya yang biasanya? Ia dulu nekad syuting tanpa seijin Haris dan meyakinkan ayahnya agar merestui kerjaan itu, sekarang malah sok-sokan ijin pada pria yang baru berstatus pacar.


“Yaudah kak, aku otw kantor sekarang.”


***


Di sebuah sel yang sempit dan bau kotoran tikus, seorang penjaga memukulkan sepotong kayu pada jeruji besi di pintu. Dua penghuni di dalam yang tertidur pulas pun dipaksa bangun oleh kebisingan itu.


“Banguunnn! Metta Gumilang keluar, Kamu dibebaskan!”


Nyawa yang baru separuh sadar mendadak terkumpul penuh. Metta bergegas bangkit dan berlari menuju pintu yang terbuka untuknya. Akhirnya ia tidak jadi membusuk bersama para tikus dalam bui.


“Tungguuuuu! Gue kapan keluarnya?” Lisa tidak terima hanya Metta yang dibebaskan padahal ia lebih dulu masuk.


“Kapan-kapan! Selamat menua dengan tikus dan kecoak hahahaha.” Metta terkikih sembari menjulurkan lidah, tak puas rasanya pergi tanpa meninggalkan penghinaan pada mantan teman satu selnya.


Metta menghirup udara luar sedalam-dalamnya, mengisi ulang paru-paru yang beberapa hari menampung udara tak sehat dan lembab. Ia yakin pasti ayahnya yang telah membebaskannya dan mencampakkan Lisa begitu saja di


penjara. Sekarang kekuasaan ayahnya masih berguna, saatnya menuntaskan dendam lama.


*Orang kedua yang akan ia temui setelah ayahnya pasti bisa kalian tebakkan?*


“Weini, aku akan datang menghabisimu!”


***