
Pagi yang masih terasa sejuk meskipun jarum jam pendek sudah menunjuk di angka delapan. Sejuknya seakan masih tersisa dari tetesan embun subuh, begitu menyenangkannya hawa saat ini. Begitupula dengan keceriaan beberapa gadis yang tampak sangat sibuk pagi ini. Weini masih berpoles dengan alat makeup Grace, dibantu oleh Grace pula yang terlihat gemes ingin memoles wajah cantik sepupunya dengan makeup yang lebih. Namun si pemilik paras cantik itu menolaknya, bagi Weini cukup polesan simpel saja sudah cukup membuat ia percaya diri.
“Tambahin dikit blush on di pipi ya, kurang merona nih.” Pinta Grace sembari mengibaskan kuasnya.
Weini konsisten menolak dengan gelengan kepalanya, sudah beberapa kali pula ia merespon sepupunya yang menawari ini itu. “Begini saja sudah cukup Grace, udahan yuk keburu telat.” Ujar Weini ingin menyudahi sesi bersoleknya.
Grace melipat tangan, belum puas dengan hasil sapuan tangannya. Bibirnya manyun seraya menggencarkan jawaban, “Hmm... tapi nanti kamu akan disorot, berikan penampilan yang lebih wow dari biasanya. Ya walaupun dasarnya kamu udah cantik banget sih.” Gumam Grace memuji dengan tulus.
Weini tersenyum, menatap teduh pada sepupunya. “Aku begini saja sudah cukup, sisa waktu yang ada lebih baik kamu gunakan untuk merias dirimu. Jangan lupa, kamu juga disorot loh nanti. Kita akan duduk sederet di depan, jadi kamu juga harus lebih cantik dari biasanya.”
Grace menepuk jidatnya, bisa-bisanya ia terlalu sibuk mengurusi Weini sampai lupa pada dirinya sendiri. Ia juga salah satu pemain film yang akan menghadiri premier. Dilihatnya Weini yang sudah cantik paripurna dengan gaun panjang berwarna soft pink. Dina bahkan telah merapikan rambut Weini hingga membentuk hair bun simpel. Grace memandangi dirinya, bahkan ia masih mengenakan daster dan belum bersiap apapun.
“Oh my God! Apa yang aku pikirkan dari tadi? Astaga Hwa, masih ada waktu berapa lama lagi?” Pekik Grace panik, tapi ia tidak berniat mendengar jawaban Weini lagi. Ia sudah berlari masuk ke kamar mandi dan harus ngebut bersiap diri.
Weini yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, “Masih ada dua jam sebelum berangkat Grace.” Seru Weini tetap menjawab pertanyaan itu. Tinggallah ia seorang diri di kamar ini, Dina masih belum datang sejak tadi minta ijin keluar bersama kekasihnya.
Suara pintu terbuka, panjang umur bagi Dina yang baru dipikirkan oleh Weini. Gadis manager itu sudah muncul di depan pintu, senyumnya mengembang lebar saat melihat Weini berdiri dengan sangat anggun. “Non, ya ampun cakep banget. Sampai pangling deh aku, eh tapi non selalu cantik sih.” Ujar Dina setengah berlari menghampiri Weini setelah ia menutup pintu.
“Kakak bisa aja, ng... kakak nggak siap siap juga?” Tanya Weini yang melihat Dina belum berganti pakaian.
Dina menggeleng cepat namun senyuman masih terukir jelas di lekuk bibirnya. “Nanti aja gampang non, kan aku nggak terlalu penting juga mau berpenampilan kayak apa. Yang penting kan nona, pokoknya harus maksimal kalau disorot kamera he he....”
Weini hanya tersenyum tipis, “Oya, yang lain gimana? Apa sudah ada yang datang?”
“Belum, baru ada Ming Ming, Su Rong sama tuan Jun di ruang tamu. Kayaknya mau nungguin non dan Grace buat sarapan bareng.” Jawab Dina.
Weini manggut-manggut, “Ya udah, tapi tunggu Grace dulu deh. Dia belum kelar mandi.” Ujar Weini sembari mengintip ke arah kamar mandi yang ada di pojokan kamar itu.
Dina mengangguk tidak keberatan, pun dengan cowok cowok di bawah yang tentunya mengerti bahwa wanita memerlukan waktu lebih untuk mempersiapkan diri. Tidak seperti mereka yang dengan entengnya mengenakan setelan jas, memakai pomade lalu menata rapi rambut, simpel sekali. Wanita tentu tidak bisa sesederhana itu jika hendak menghadiri acara penting.
Weini melirik sikap Dina yang agak aneh, sejak tadi masuk tangan gadis itu disembunyikan di belakang punggung. “Hmm, kak... apa yang sedang kau sembunyikan?” Tanya Weini penuh selidik.
Dina cengar cengir ketika Weini dengan sigap menodongnya, sejak masuk tadi ia memang sengaja menyembunyikan sesuatu di tangannya. “He he... aku punya hadiah kecil buat non Weini. Aku harap non mau menerimanya.” Ujar Dina penuh semangat.
Weini mengerutkan dahinya, tidak biasanya Dina memberi kejutan untuknya. “Apa itu kak? Baiklah aku pasti akan menerimanya.”
“Janji ya non, dipakai langsung hadiahku.” Pinta Dina masih tetap dengan semangat membara.
Weini pun mengangguk mantap hingga meyakinkan Dina untuk menunjukkan sesuatu yang disembunyikannya. Sebuah mahkota berwarna perak yang tampak berkilauan dengan taburan swarovski, cantik dan begitu memikat mata.
“Aku belum sanggup beliin non yang mahal, tapi aku ingin banget memberi sesuatu buat non sebagai hadiah lamaran non. Ya aku tahu sih, non nggak kekuarangan apapun dan kalau soal perhiasan, non pasti bisa beli yang lebih dari ini. Non mau kan nerima ini? Mau kan pakai asesoris ini sekarang?” Pinta Dina, senyum cengar cengirnya sudah sirna, berganti wajah yang harap harap cemas.
“Kak... pakaikan ya, aku nggak bisa pasang ini sendirian.” Jawab Weini lembut, jawaban yang sekaligus memberi arti pada Dina bahwa Weini menerima pemberiannya. Saat mendengar itu, Dina nyaris jingkrak saking girangnya. Ia pun segera mengangguk beberapa kali sebagai respon pertama atas perintah yang Weini berikan itu.
“Iya non, a... agak menunduk ya, akan ku pasangkan di sini.” Pinta Dina, saking girang sampai sedikit belepotan bicaranya.
Weini menuruti permintaan Dina, membiarkan gadis itu memasangkan mahkota di atas rambutnya. Setelah terpasang dengan kokoh, Dina bertepuk tangan sekali, menatapi kecantikan Weini yang kian bertambah setelah mengenakan asesoris itu. “Non, kamu kok cantik banget sih. Udah boleh jadi ratu sejagad deh.” Puji Dina dengan kalem.
“Semua wanita itu cantik kak, semuanya istimewa. Kakak juga, dandan dikit ya. Dan ganti pakaianmu dengan... hmm kayaknya aku punya satu setel dress yang cocok untukmu.” Weini teringat sesuatu kemudian berjalan mendekati lemari baju yang Grace pinjamkan kepadanya.
“Eh, jangan non nggak usah. Aku bawa baju ganti kok, aku pakai bajuku aja ya biar nyaman gerak gerak nanti.” Tolak Dina yang merasa canggung dengan kebaikan Weini. Bukan apa apa, ia merasa tidak sepadan dan sungkan untuk mengenakan pakaian nonanya.
Weini tak mengindahkan penolakan Dina, ia sudah membawa dress hitam selutut yang ia yakini cocok dikenakan Dina. “Nah, ganti sama ini aja ya kak.”
“Aduh non nggak usah deh, serius nggak usah.” Tolak Dina yang malah menyembunyikan kedua tangannya, tak berani menerima pemberian Weini.
Grace baru keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di tubuhnya, terheran heran melihat dua gadis yang seperti saling memaksa. “Ngapain kalian berdua?” tanya Grace spontan.
Dua gadis itu berhenti sejenak, menoleh ke arah Grace lalu tersenyum. Grace bisa menebak, masing masing dari mereka pasti memintanya menjadi tim. Entah yang mana yang benar, Grace tak keberatan bergabung asalkan cocok dengan hatinya.
“Grace, bantuin aku... non Weini maksa aku pakai dressnya.” Pekik Dina merasa ada harapan baik lewat kehadiran Grace.
“Grace, kalau nanti masih ada waktu, tolong bantu dandanin kak Dina ya.” Seru Weini dengan permintaan yang berbeda.
Grace berdiri mematung sejenak, menilai pihak mana yang akan ditolongnya. Dari pengamatannya, ia bisa menilai bahwa Weini ingin Dina tampil cantik juga. Itulah sebabnya ia meminta Dina memakai dressnya, senyum Grace pun mengembang. Ia sudah menentukan pilihannya, “Baiklah, aku akan membantumu... sepupu.”
“Yes!” seru Weini girang.
Sementara Dina tampak kecewa karena Grace tidak memihak padanya. “Grace, kamu urus dirimu saja, kamu kan artisnya. Jangan hiraukan aku, aku akan di bawah panggung sampai acara selesai. Jadi plis jangan buang waktumu.” Bujuk Dina mencoba menghasuti Grace.
Grace tak peduli, ia pun bergegas mendandani dirinya, karena masih ada beberapa orang yang perlu sentuhan make upnya. Namun saat ia memandangi pantulan Weini di cerminnya, barulah Grace menyadari ada penambahan dari penampilan gadis itu. “Hwa, mahkotamu bagus banget. Kamu benar benar kayak tuan putri, cantik banget.” Puji Grace dengan raut wajah penuh kekaguman, ia merasa heran karena baru menyadarinya sekarang.
Dina langsung merasa bangga, tidak akan lengkap bila ia tidak membuka kartunya. “Jelas cantik dong, pilihan siapa dulu dong? Dina....” Gumamnya memuji diri sendiri.
Weini dan Grace yang mendengar itu langsung kompak tertawa. Benar kata Weini, bahwa semua wanita akan terlihat cantik dari sisi plus yang mereka miliki. Siapapun itu, termasuk kamu yang sedang membaca ini.
❤️❤️❤️
Hei hei... thor kasih dulu visual Weini dengan mahkota pemberian Dina. Cantik bukan?