OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 161 DIAM DAN MENUNGGUMU



Pasca curhat colongan dengan Dina, Weini mulai merasa sedikit plong. Di saat terpuruk begini ia masih merasa beruntung memiliki seorang teman curhat sesama wanita yang tentunya lebih mengerti kondisinya. Weini baru saja mandi dan merias wajah sekenanya, sampai di lokasi syuting pun make upnya akan dihapus ulang maka ia hanya perlu membalurkan foundation dan bedak tabur saja ketimbang keluar dengan wajah polos.


“Pagi non, sudah rapi aja jam segini.” Dina membandingkan penampilan dirinya dan Weini yang cukup kontras, ia masih mengenakan baju tidur celana panjang dengan poni yang masih dipasang roll rambut sementara Weini sudah rapi dalam balutan jumpsuit serta riasan minimalis.


“Kak Dina masih belum siap-siap? Ntar harus mampir ke apartemen Stevan dulu sebelum ke kantor. Kalau nggak gerak sekarang bakal telat loh.” Weini mengingatkan waktu dan tanggung jawab baru Dina, managernya dengan percaya diri menjadi asisten masak Haris. Tangannya masih memegang spatula namun hanya sebagai penonton


Haris.


“Oh iya ya. Yaudah om, aku udahan deh.” Dina tersenyum kecil, basa basi menyudahi tugasnya yang belum selesai. Masakan Haris bahkan baru separuh kerja namun asistennya sudah pamit diri. Disodokannya spatula itu ke tangan Weini kemudian Dina langsung lari ngacir ke kamar.


“Apa yang perlu kubantu ayah?” tanya Weini menggantikan posisi Dina.


“Nggak perlu. Duduk saja di sana, nanti bajumu bau masakan.” Seru Haris, ia tidak perlu asisten untuk pekerjaan ini. Dina hanya ingin belajar maka Haris memintanya membantu.


Weini menaruh spatula ke rak cuci piring lalu duduk di tempat yang ditunjuk Haris. Ia mengamati sikap tenang Haris yang nyaris tak pernah terlihat tegang dalam situasi apapun.


“Ayah, apa kau pernah putus cinta?” tanya Weini spontan.


Haris tertawa kecil, ia tak siap ditodong pertanyaan memalukan itu. Menjawabnya sama saja membuka aib masa mudanya, “Sepertinya pernah, tapi entahlah. Apa itu bisa disebut putus cinta atau cinta tak kesampaian ha ha ha. Kenapa kau bertanya serumit itu?”


Weini menggeleng, “Hanya pengen tahu aja.”


Haris tersenyum, nampaknya ia sudah tahu arah pikiran Weini beserta kekhawatirannya. “Ah, kau takut Xiao Jun memutuskanmu?”


“Atau sebaliknya aku yang memutuskannya.” Timpal Weini cepat.


Haris mengernyitkan dahi, “Senekad itu? Kalian baru disentil sedikit cobaan udah ngomong putus. Gimana nantinya menghadapi kehidupan pernikahan kalau mentalnya nggak kuat? Masa tiap bertengkar trus teriak cerai?” goda Haris, sampai di pembahasan seserius ini bagi Weini, ia masih santai bercanda.


“Aku tidak mau jadi orang ketiga.” Seru Weini tegas. Ia masih terbawa perasaan tentang mimpi semalam.


“Salah. Kau orang pertama tapi jadi korban orang ketiga.” Timpal Haris masih dengan gaya bercandanya.


Weini mulai geram, “Ayah, bisakah kau serius?”


“Aku sangat serius, kamu yang terlalu tegang sampai merasa omonganku hanya bualan.” Haris menaruh kwetiau goreng seafood di hadapan Weini kemudian meletakkan tiga piring kosong.


Weini membantu Haris menata piring yang pasti dipersiapkan untuk mereka bertiga. “Jadi menurut ayah aku harus gimana?”


“Tergantung kamu. Masih cinta nggak sama dia? Kalau cinta ya perjuangkan.”


“Tapi dia sudah punya orang lain, apa aku tetap harus perjuangkan sepihak?” debat Weini masih mencoba mencari solusi.


Weini terkejut, tebakan Haris memang jitu. “Jadi itu bukan mimpi biasa, ayah? Semacam prediksi lewat mimpi?” rasa penasaran Weini membuncah, ia bahkan tak selera makan walau hidangan di hadapannya tercium lezat.


“Bagi seseorang yang menguasai sihir, mimpi yang terasa nyata itu biasanya jadi pertanda. Apa yang kau lihat dalam mimpi?” Haris mulai menyumpit dan memakan kwetiau itu selagi panas. Ia sengaja tidak menunggu Dina, lagipula Dina tak akan keluar dalam waktu cepat sebelum pembicaraan serius ini berakhir. Haris sudah


mempersiapkan segalanya, termasuk mencegah Dina menguping.


Mimpi menyedihkan semalam terngiang lagi dalam benak Weini, “Aku memanggilnya tapi dia mengabaikanku, lalu seorang wanita berambut pirang memanggilnya dan ia menoleh. Mereka pergi begitu saja dari hadapanku. Mimpi itu seolah nyata, menyakitkan sekali ayah. Apa di sana ia sedang bersama wanita lain?”


Haris berhenti makan sejenak, Weini sudah masuk ke inti cerita dan pertanyaan membingungkan itu harus ia jawab. “Kita tidak bisa memastikan sesuatu tanpa membuktikan langsung, selama belum melihat dan mendapat jawabannya langsung dari dia, jangan dulu mengambil kesimpulan. Kadang apa yang terlihat pun belum tentu kebenaran, pasti ada alasan dia bertindak seperti itu.”


Dari dugaan sementara Weini, kekasihnya pasti dipaksa oleh orangtuanya untuk bersama wanita itu. meskipun ia yakin Xiao Jun tidak menginginkan itu terjadi, tapi posisinya sebagai anak pasti menyulitkannya untuk menolak. “Umpana ia dijodohkan dan harus menikah dengan wanita pilihan orangtuanya, aku bisa apa ayah? Dia pasti tidak berani menolak jika tak mau disebut anak durhaka.”


Haris tersenyum simpul, dalam hati ia membela putranya yang sangat berbakti dan pemberani. Jika hanya membangkang dari keegoisan Li San, ia tak pantas disebut anak durhaka. “Weini, apakah tindakanmu menghindari kematian dari tangan ayahmu bisa disebut durhaka?  Umpama kamu takut disebut anak durhaka, kamu pasrah mati di tangannya lalu sesia-sia itukah hidupmu? Lihat keputusan yang kamu ambil, akhirnya kamu bisa hidup lebih tenang walau tidak semewah kehidupanmu sebagai nona. Kamu hanya titipan untuk kedua orangtuamu, tapi jalan hidupmu sepenuhnya adalah hakmu termasuk menentukan pilihan pada pasangan hidup. Meskipun kamu menganggapku ayah, kelak kamu pun pasti akan meninggalkanku dan bersama keluarga kecilmu. Itu sudah siklus hidup yang lumrah, dan semua itu masih bersifat pilihan. Jadi dia pun pasti bisa berpikir, sejauh mana hidupnya bisa dikontrol orangtuanya. Percayalah ….”


Perumpamaan yang Haris pakai untuk menjelaskan bisa sepenuhnya dimengerti Weini, cincin dari ibu Xiao Jun bahkan masih tersemat di jarinya. Ibu Xiao Jun telah memilihnya sebagai pemilik cincin ini, berarti hanya pihak ayahnya yang belum memberi restu. “Jadi aku harus bagaimana ayah?”


Haris menatap kedalaman kedua bola mata Weini, pertanyaan yang menyimbolkan kepasarahannya. Gadisnya tengah bingung harus berbuat apa, ini cinta pertamanya dan Tuhan menakdirkan kisah yang rumit untuk mereka. Siapa yang mengira bahwa gadis kecil yang dibesarkan oleh Haris ternyata menjadi calon menantu masa depannya, dan putra yang selama ini dirindukan Haris rupanya sangat dicintai oleh Li San. Ikatan cinta yang runyam andai kenyataan terkuak, maka penolakan Li San pasti semakin gencar. Hanya saja, Haris memiliki prediksi masa depan, seburuk apapun cobaan mereka tetap mempunyai kejodohan yang kuat.


“Diam saja, tunggu dia kembali.”


***


Diam menunggumu ….


Menghitung jumlah detik dan menit yang berlalu setiap jamnya, kau tak kunjung datang


Diam dan berdoa menunggumu ….


Menyenandungkan lagu rindu yang kutitipkan pada kerlip bintang agar sampai padamu


Diam dan menunggumu hingga ku mulai ragu ….


Masih adakah kau di sana seperti yang dulu?


_Quote of Weini aka Yue Hwa_


***