
“Sorry non, nggak maksud apa-apa sih, cuman aku kan udah kenal non dan om lumayan dekat tapi belum pernah lihat ibu non di rumah. Ng kalau susah dijawab, lupain aja non. Aku kelewat kepo, maaf banget.” Dina menepuk ringan mulutnya, seolah sedang memperingatkan diri sendiri agar tidak kelewat batas.
Duh, maaf tuan, aku nggak bisa dapat info soal ini. Sesal Dina dalam hatinya, ia gagal mendapatkan apa yang diminta Xiao Jun.
Weini tersenyum canggung, ia masih membisu gara-gara pertanyaan itu. Sebuah pertanyaan yang belum pernah ia rundingkan bersama Haris, belum ada kesepakatan untuk menyamakan jawaban ketika ditodong pertanyaan itu. Dulu Weini merasa tenang saja, ia pun enggan mendekatkan diri kepada siapapun semasa sekolah. Ia tak perlu terbuka dan hanya sekenanya berurusan dengan orang demi menghindari terlibat pertemanan dekat. Lain cerita
dengan Dina yang kini terlanjur ia anggap seperti bagian keluarga, namun tetap saja terlalu sulit bibir ini mengucapkan sebuah pengakuan pada jati diri Haris dan Weini yang sesungguhnya.
Haris yang menguping dari dalam terkejut mendengar isi hati Dina, rupanya gadis itu sudah jadi orang suruhan Xiao Jun. Haris mulai wanti-wanti, ia terlalu meremehkan putranya yang kini semakin matang dalam strategi. Salah langkah sedikit saja, mungkin Xiao Jun bisa menangkap basah dirinya.
“Ehem, ibu Weini sejak kecil pergi meninggalkan kami. Mungkin karena tidak tahan hidup susah bersamaku, kasihan
Weini yang jadi korban ketidak-dewasaan kami.” Haris mendehem sebelum berucap, ia mencairkan suasana tegang di antara dua gadis itu.
Weini tercengang dengan alasan Haris yang jelas hanya sebuah karangan, namun Dina sepertinya begitu percaya. Mata manager itu terbelalak mendengar pengakuan Haris, ia tak menyangka Weini mengalami kepedihan hidup semasa kecil, tiba-tiba ia merasa sangat bersalah sudah iri pada kehidupan Weini yang dinilai sangat menyenangkan.
“Kok tega banget ninggalin non Weini yang imut gini. Hanya karena nggak mau susah? Lah, om kan nggak miskin amat. Huft … Sadis banget wanita seperti itu.” Geram Dina, ia tersulut emosi memikirkan nasib malang Weini.
Weini menyipitkan mata menatap Haris, antara geli dan heran mengapa Haris harus berbohong seperti itu. Pria
itu jelas sadar sedang ditatap Weini, dalam diam ia menyuguhkan sebuah senyuman manis yang mengisyaratkan agar Weini tenang.
***
Beberapa hari mengurung diri di kamar, akhirnya membuat Grace merasa jenuh dan perlu menghirup udara segar. Ia memperlakukan dirinya bak seorang pesakitan, ia makan di dalam kamar, belajar, sepanjang hari hanya beraktivitas di atas ranjangnya. Ambisinya yang begitu besar untuk segera fasih berbahasa lokal membuatnya mengacuhkan diri sendiri, tidak berganti pakaian selama dua hari lantaran malas bergerak, bahkan tidak sekalipun ia bercermin dan merawat dirinya.
“Pelayan!” Pekik Grace memanggil Fang Fang, hanya saat dibutuhkan saja pelayan itu akan dipanggil dengan teriakan kencang dari dalam kamar.
Fang Fang dengan sigap mendatangi Grace, ia jarang melakukan pekerjaan sulit lantaran Grace hanya mengurung diri di kamar dan tidak ada hal istimewa yang perlu dilaporkan pada Lau. Pelayan itu membungkuk hormat begitu sampai di muka Grace.
“Carikan pakaian yang bagus, aku mau pergi keluar setelah mandi. Dan kau juga ikut, kalau kau merasa pakaianmu sudah pantas untuk keluar, ya sudah. Tapi kalau kau sadar itu tidak layak, segera ganti sebelum pergi.” Sindir Grace, ia merasa risih melihat setelan Fang Fang yang menurutnya ketinggalan jaman.
Fang fang terkejut hingga reflek menutup mulut dengan kedua tangannya. Matanya terbelalak menatap Grace penuh kekaguman, namun Grace malah bingung dengan sikap norak pelayannya. Sebelum ia bertanya, pelayannya lebih dulu bersuara.
“Nona, anda baru saja berbicara dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih. Ini luar biasa, anda mempelajarinya
hanya beberapa hari dan seluwes ini.” Seru Fang Fang takjub, ia perlu waktu satu bulan dan itu sudah dinilai berbakat oleh gurunya. Grace malah lebih jenius, ia belajar dengan modal internet dan bisa memarahinya dengan lancar.
Grace ikut tersadar, ia memang menyuruh Fang Fang untuk mendukungnya belajar dengan bicara bahasa lokal. Tak disangka juga pelayan ini akan memuji kehebatannya, berarti usaha kerasnya belakangan ini berbuah sangat cepat. Grace boleh berbangga hati, semakin cepat bisa semakin baik. “Buruan siapkan, aku nggak mau buang waktu lagi.”
“Baik nona.” Pelayan itu mengundurkan diri dengan senyum senang. Selama beberapa hari hidup dengan Grace, ia merasa mulai mengenal gadis itu. Grace menurut Fang Fang bukanlah gadis jahat, ia hanya manja dan berambisi besar.
Grace menyelesaikan mandi dengan cepat, ia melirik pakaian pilihan Fang Fang yang diletakkan di atas ranjang. “Ya sudahlah.” Grace kurang sreg, namun ia malas membuka lemari untuk menukar pakaian lain. Lagipula pakaian yang ia bawa kemari hanya beberapa setel, sisanya memang ia ingin membelinya hari ini.
“Saya sudah siap, nona.” Fang Fang masuk setelah berganti pakaian yang menurutnya bagus, namun Grace tetap
berdecak melihatnya. Selera pakaian gadis itu terlalu ketinggalan jaman, atau mungkin gadis itu masih kesulitan uang sehingga mengabaikan penampilannya.
Fang Fang dengan sigap mengeringkannya dengan hair dryer, rambut Grace yang disemir pirang itu sangat mengesankan baginya. “Tidak tahu, nona. Nanti saya tanyakan pada pengawal Lau.”
“Tidak usah. Jangan kasih tahu mereka kalau kita pergi, aku nggak suka dikontrol terus, hidupku bukan urusan
mereka. Nanti aku cari dari internet saja reverensi yang bagus di mana.” Grace buru-buru mencegah Fang Fang, ia bukan lagi Grace yang kemarin, ia tak perlu mengandalkan Xiao Jun untuk hidup di kota asing ini.
Fang Fang mengangguk patuh. “Baik nona.”
***
Dua jam kemudian, Grace dan pelayannya sibuk cuci mata di pusat perbelanjaan elit di kawasan Selatan Jakarta. Di tangan Fang Fang sudah ada beberapa kantong belanjaan yang ditenteng, mereka sudah mengelilingi beberapa toko demi berburu pakaian dan sepatu. Grace tampaknya belum puas memenuhi hasrat belanjanya, ia tetap
semangat mengincar berbagai produk di sana.
“Eh, tunggu. Sepertinya itu cocok buat kamu.” Gumam Grace, ia menghentikan langkah saat melihat model sebuah
dress yang dipakai manikin.
Fang Fang tak mendengar jelas perkataan Grace tetapi ia mengikuti langkah gadis itu yang sudah masuk ke dalam
toko. Nona muda itu bahkan sudah dilayani oleh karyawan toko, tak lama kemudian Grace menoleh dan melambaikan tangan padanya.
“Cobalah! Barangnya taruh aja di sana.” Grace menyodorkan dress yang diberikan pelayan toko, tidak hanya satu
namun ada enam model dress dan baju yang ia minta Fang Fang untuk coba.
Fang Fang menerimanya dengan ekspresi bingung, ia tetap menuruti kehendak Grace hingga sebuah perintah baru
ia dengar dari majikannya.
“Pakai saja dress ini, jangan pakai lagi baju kunomu. Aku ambil semua yang tadi kamu coba.” Gumam Grace santai, ia tak sadar ada sepasang mata yang berkaca-kaca akibat ucapannya.
Fang Fang tak menyangka mendapat perhatian dari Grace, ia belum pernah mendapatkan majikan seroyal ini. “Terima kasih banyak nona.” Fang Fang membungkuk hormat ala peraturan di kediaman Li sehingga mengundang perhatian tamu lainnya. Suaranya yang terdengar parau pun sangat mencolok sehingga Grace merasa risih dibuatnya.
“Berhenti bertingkah aneh, ayo pergi! Masih ada barang penting yang harus ku beli.” Grace canggung diperlakukan seperti itu, ia menarik paksa lengan pelayannya dan keluar dari toko itu.
“Beli apalagi nona?” Fang Fang mengambil kembali kantong belanja yang berada di tangan Grace, ia tak akan
membiarkan nona itu menjinjing barang berat itu.
Grace tersenyum lebar, dengan penuh semangat ia menjawab pertanyaan itu. “Mobil baru.”
***
Kamu lebih suka Grace yang baik atau yang jahat? ^^