
“Kita mau kemana?” Setelah hampir satu jam berkutat di jalan dalam diam, Weini akhirnya bertanya tentang rencana Xiao Jun. Pria itu membawanya berkeliling mengitari jalanan ibukota yang mulai padat oleh orang yang pulang kerja. Meskipun Xiao Jun berkata di hadapan Grace akan mengantarnya pulang, namun jalanan yang mereka telusuri justru kian menjauh dari kawasan barat kota.
“Jun?” Weini memanggil nama Xiao Jun lagi, nada suaranya lembut lantaran enggan membebani kekasihnya yang sedang banyak pikiran.
Xiao Jun terkesiap, ia ketahuan melamun di depan Weini. Pria itu menggeleng sesaat lalu tersenyum manis pada gadis di sampingnya. “Maaf, aku ….” Xiao Jun meraba dahinya dengan satu tangan, ia merasa sedikit bersalah karena tidak mendengar perkataan Weini barusan. Panggilan Weini barusan pun menyadarkannya bahwa mereka betah berdiam tanpa sepatah kata sejak perjalanan dimulai.
“It’s okay.” Jawab Weini singkat dan lirih.
“Kamu bilang apa tadi?” Tanya Xiao Jun dengan raut bersalah.
Weini menggeleng pelan, dari sorot mata teduhnya mencoba menenangkan Xiao Jun yang dari wajahnya saja tak bisa ditutupi bahwa ia sedang kebingungan. “Nggak apa-apa, nggak penting kok.”
Xiao Jun melepaskan satu tangannya dari setir demi meraih jemari Weini. Usaha mendapat feedback dari Weini yang mengeratkan genggamannya sebelum Xiao Jun melepaskan untuk fokus menyetir.
“Kita makan malam ya, aku ingin berdiam di tempat tenang sejenak.” Usul Xiao Jun, yang sangat dibutuhkan mereka sekarang memang lebih tepat memojok di tempat yang jauh dari masalah untuk sesaat.
Weini mengangguk setuju, ia pun bisa menebak arah ajakan Xiao Jun akan kemana. “Pasti makan malam di atas jet lagi.” Kelakar Weini sembari tertawa kecil.
“Kamu sampai hapal kebiasaanku, maaf … Aku memang tak berjiwa romantis.” Xiao Jun mengakui kelemahannya dengan malu-malu, harus diakui bahwa ia kalah jauh dengan Wen Ting dalam hal mengatur momen romantis.
***
Setelah konflik singkat antara Xiao Jun dan Grace belum menemukan titik temu, buntut dari permasalahan itu kini merambat pada pengawalnya, Fang Fang. Secara khusus ia dipanggil menghadap Lau tanpa setahu Grace. Sejak pulang, Grace mengurung diri di kamar dan tak peduli tentang apa yang dilakukan pelayannya. Kini Fang Fang menghadapi penghakiman dari Lau di apartemen Xiao Jun yang hanya selisih dua unit dari seberang.
“Apa pembenaranmu sekarang? Bagaimana nona Grace bisa kecolongan ikut casting dank au tidak melaporkan padaku? Belum sebulan kau jadi orangku, sekarang kesetianmu sudah membelot?” Hardik Lau, ia turut bertanggung jawab atas kelalaian orang pilihannya yang ternyata tak bisa diandalkan. Kecerobohan Fang Fang hanya mempersulit kondisi Xiao Jun yang belum stabil dengan masalah pribadinya.
Fang Fang langsung bersujud dengan kepala tertunduk, dua tangannya bergetar menggenggam lututnya. “Hamba mohon ampun tuan Lau, hamba sungguh tidak tahu bahwa nona Grace pergi audisi. Hamba memang ikut dengannya tapi dia bilang ada keperluan wawancara kerja, dia tidak cerita kalau itu pencarian bintang film. Ampuni nyawa saya, tuan.”
Lau melipat tangan, ia berdiri persis di hadapan Fang Fang yang masih berlutut. “Lalu kenapa kau menyerang Dina? Apa perlu kuingatkan ulang sumpah pengabdian kita beserta konsekuensinya?” Cecar Lau tegas, ia tak bermaksud menindas bawahannya namun sebelum Fang Fang semakin keterlaluan maka ketegasan perlu ditegakkan.
***
Di sisi lain, Dina yang sedang asyik massage untuk mengendorkan saraf lelahnya tiba-tiba bersin kencang. “Achoo ….”
Dina menggosok hidungnya, perasaan ia sehat-sehat saja namun mengapa bersin begitu heboh hingga tukang pijat yang sedang menservis kakinya berhenti sejenak. Apa ada yang ngomongin aku? Gumam Dina, sensinya tengah kumat namun hanya sesaat. Ia kembali masa bodo jika ada yang menggunjingkan dirinya yang sedang memanjakan diri.
Emangnya cuman artis doang yang boleh perawatan? Aku juga bisa banget! Biar cepat dapat gebetan, nggak seru cuman aku doang yang nggak punya calon pendamping. Dasar author kejam! Celetuk Dina. Kali ini gantian author yang bersin-bersin disentil oleh Dina.
***
Kepala Fang Fang semakin tertunduk, rambutnya yang tergerai hingga menutupi seluruh wajahnya. Ia pun sangat menyesali tindakannya yang berlebihan sampai menyakiti orang yang tidak bersalah. “Aku menyesal tuan, maafkan aku. Mohon beri aku kesempatan lagi, aku janji tidak akan terulang.”
“Bangunlah! Jangan sampai dia mencurigaimu, lekas kembali ke sana.” Perintah Lau yang sekaligus setuju memberi pengampunan dan kesempatan pada Fang Fang.
Gadis pengawal itu bersujud tiga kali sebelum bangun, memberikan penghormatan atas kewelas-asihan Lau yang mengampuninya. “Terima kasih tuan Lau, terima kasih tuan muda Xiao Jun wan sui wan sui (panjang umur).”
***
“Apa kau kuat minum? Aku tidak mungkin menggotongmu pulang dalam keadaan mabuk, ayah bisa menghajarku.” Xiao Jun cemas melihat Weini tanpa canggung meneguk gelas kedua winenya. Setahu pria itu, Weini belum
berpengalaman meneguk alkohol, bisa gawat jika ia membawa anak gadis orang pulang dengan kesadaran lemah akibat efek minuman beralkohol.
Weini tertawa kecil sembari menggeleng, ia lagi-lagi meneguk minuman itu dari gelas yang tak lepas dari tangannya. Makan malam mereka semula berjalan lancar, namun gadis itu tiba-tiba meminta kekasihnya menyiapkan Wine sebagai teman ngobrol. Xiao Jun tak kuasa menolak, ia pun merasa perlu asupan untuk melampiaskan sejenak kegerahannya dari masalah nyata.
“Ayah nggak pernah marah, sejak dulu dia tak pernah marah. Aku sudah dewasa, sudah saatnya mencoba hal baru, dia pasti ngerti kok.” Kilah Weini, tampaknya kesadarannya masih cukup oke meskipun wajahnya mulai memerah.
Xiao Jun tersenyum, reaksi Weini begitu imut di matanya. Ia mengangkat gelas untuk mengajak gadis itu bersulang. Weini merespon cepat dengan menempelkan gelasnya hingga menciptakan bunyi gelas saling berbenturan.
“Toas!” Ujar mereka kompak.
Setelah gelas ketiga berhasil diteguk ludes oleh Weini, ia berhenti menuangkan minuman ke dalam gelasnya. Bukan berarti ia sudah menyerah, namun ini saatnya memberi jeda atas kesenangan semu sesaat dan ia perlu bicara dari hati ke hati dengan Xiao Jun.
“Jun, apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Menghindar hanya seperti menunda bom waktu, cepat atau lambat pasti meledak.” Ujar Weini lirih, ia tak berkedip menatap mimik wajah Xiao Jun yang berubah drastis saat ia masalah ini.
Xiao Jun perlu meneguk segelas lagi demi memberi respon pada gadis yang sedang menunggu jawabnya. “Aku memintamu untuk percaya padaku, biar aku yang membereskannya tanpa melibatkanmu terlalu jauh.”
“Tapi ini tentang kita, ini masalah kita. Kita sudah sepakat untuk hadapi bersama, aku akan membantumu meyakinkan gadis itu agar berhenti menyakiti dirinya.” Weini sedikit membantah, ia paling tidak suka hanya diam membiarkan orang yang dicintainya menanggung beban sendiri, apalagi ini melibatkan Weini pula.
Xiao Jun menggeleng, “Jangan! Aku tidak bisa membiarkan kamu terlibat dengannya. Dia rumit, keluarganya rumit. Memastikan dia jauh dari kehidupanmu adalah tanggung jawabku, entah apa yang akan dia lakukan padamu jika kalian terus berdekatan.”
Wajah Weini mengkerut, ancaman Grace yang masih terngiang dalam benaknya serta jawaban Xiao Jun yang terdengar serius dan sangat mencemaskannya semakin meyakinkan Weini bahwa Xiao Jun dihadapkan dengan
pilihan berat.
“Jun, sebenarnya hal buruk apa yang akan terjadi jika dia melaporkan pada ayahmu? Aku mengerti yang dia bicarakan, dan tak henti memikirkan apa yang menimpamu lagi jika kita ketahuan masih berhubungan.” Weini
memohon sebuah kepercayaan dan keterbukaan dari Xiao Jun.
Pria itu masih bergeming, meragukan dirinya antara harus berterus terang, membuka kedok yang sesungguhnya bahwa ia takut dengan keselamatan ibunya yang dipertaruhkan. Apa ia bisa mempercayai Weini sepenuhnya? Membiarkan gadis itu tahu bahwa ia bukanlah pria sehebat yang dikiranya, bahwa dia tak lebih hanya anak pengganti dari putri yang dibuang.
***