
Dua bersaudara yang sedang patah hati, Li An iba dengan nasib yang sedang mempermainkan ia dan Xiao Jun. “Mengapa kita harus patah hati di saat bersamaan Jun? Apa kelak kita bisa bahagia bersamaan juga?”
Xiao Jun hanya diam, pertanyaan itu terlalu sulit dijawab. Ia sendiri tidak bisa meramalkan masa depannya.
“Segalanya masih bisa berubah Jun, tergantung gimana kamu mengambil tindakan sekarang. Jangan menyerah kalau kalian saling cinta, perjuangkan habis-habisan. Jangan seperti aku yang berjuang sendiri sampai lelah dan kalah.” Ujar Li An menyemangati adiknya.
“Kamu yang menang kak, kamu yang meninggalkan dia dengan mantap. Kelak jangan ada penyesalan dan tergugah lagi oleh rayuannya.” Xiao Jun mengingatkan Li An, segala rencananya akan sia-sia jika suatu hari Li An kembali terjerat sisa-sisa perasaannya.
Li An menggeleng dengan tegas, “Tidak akan terjadi. Jun, satu-satunya yang aku sesali hanya karena aku bikin malu keluarga. Kebodohanku itu … gimana aku pertanggung jawabkan ke orangtua kita?” Tangisan yang ditahan Li An nyatanya tak terbendung lagi. Tekanan batin terberatnya bukan sekedar karena sakit dikhianati, tapi karena ia teringat kedua orangtua dan didikan mereka yang mengajarkan ia menjaga kehormatan. Meskipun bukan terlahir dari keluarga terhormat, namun harga diri wanita tidak terletak dari seberapa tinggi status sosialnya melainkan dari caranya mengambil sikap. Sepanjang berpacaran dengan Chen Kho, ia memang tidak ternodai namun harga dirinya terkoyak karena buta cinta yang merubahnya dari gadis lembut dan pasif menjadi agresif mengejar pria.
“Aku yakin ayah dan ibu tidak marah, semua yang terjadi bisa dimaklumi. Kakak tetap gadis Wei yang dibanggakan. Mulai sekarang aku akan bertanggung jawab menjaga kakak, sampai ada pria yang tepat yang ambil alih tanggung jawabku.” Xiao Jun menyodorkan tissue pada Li An, air mata itu tak perlu menetes lagi. Hanya ada tawa dan suka untuk Li An mulai saat ini, itulah yang diam-diam dijanjikan Xiao Jun dalam hati.
“Kamu manis banget Jun, kalau aku bukan kakakmu mungkin sudah jatuh cinta ha ha ha …” kebaikan yang diberikan Xiao Jun membuat hati Li An tenang, setidaknya masih ada satu saudara yang peduli dan bisa diandalkan dalam dunia ini.
Pujian bertubi-tubi itu membuat telinga Xiao Jun memerah, hanya dari orang yang dirasa tulus lah Xiao Jun merasa terharu mendengar kata-kata manis itu. “Untuk sementara jangan pulang ke rumah, aku sudah menyiapkan tempat buatmu. Mulai malam ini kakak nginap di hotel ini dan jika perlu apapun beritahu paman Lau.”
Xiao Jun meronggoh saku jas dan mengeluarkan sebuah ponsel baru untuk Li An. Alat komunikasi pintar itu sudah berisi kartu dan siap pakai, hanya Xiao Jun dan Lau yang menjadi kontak pertemanan dalam ponsel itu.
Li An terkesiap, saking kaget dan senangnya hingga ia menutup mulut dengan dua tangan. Ia punya ponsel seperti yang orang lain, selama ini ia hanya memandang dan berdoa agar suatu saat uang tabungannya cukup hingga bisa membeli satu ponsel murah. Ia tak menyangka doa itu terkabul bahkan lebih dari harapannya, ponsel hadiah dari Xiao Jun terlihat mahal.
“Cinta itu tak terhalang jarak kak, hanya yang benar-benar mencintaimu yang tak akan rela kehilangan kabarmu. Hanya yang benar-benar peduli padamu yang bisa memberikan apapun agar tetap bersamamu. Kelak kakak pasti dapatkan pria yang menjadikanmu wanita paling bahagia dengan perhatian dan ketulusannya.” Xiao Jun sengaja menyinggung soal itu sebagai perbandingan, agar pikiran Li An makin terbuka lebar menilai yang tulus dan yang modus. Sesaat setelah ia memberikan nasehat bijak itu, Xiao Jun merasa tersindir kata-katanya. Ia mampu menasehati orang tapi tidak mampu melakukannya untuk kesulitannya sendiri. Masih ada hati Weini yang tersisihkan di sana.
“Jun, sungguh terima kasih kakak ucapkan. Semoga kamu juga bisa memenangkan cintamu ya. Oya, curang juga kamu tahu segala tentang aku tapi aku nggak tahu kisah cintamu. Kasih aku lihat seperti apa wanita beruntung itu.” Ledek Li An, ia mendesak Xiao Jun curhat. Setelah hatinya plong atas kebaikan Xiao Jun, kini gantian ia yang menjadi pendengar baik.
Xiao Jun berpikir sejenak sebelum mengabulkan permintaan Li An. Ia bingung harus mulai bercerita dari mana, terlalu banyak kenangan manis, pahit dengan Weini yang memenuhi pikirannya. “Dia cantik, keras kepala, mandiri, pekerja keras, dia manja … kadang kekanakan dan konyol. Dia ….” Xiao Jun kehabisan kata-kata, ia terlalu kaku menceritakan tentang Weini dalam bentuk kata-kata.
“Yang jelas dia wanita!” timpal Li An tertawa. Sikap tegas dan mantap Xiao Jun rupanya masih ada sisi canggung ketika menyebutkan tentang wanita yang dicintai. Li An tahu betul bahwa adiknya sangat jatuh cinta.
“Jun, aku penasaran dengan dia. Boleh tahu namanya? Apa kau punya fotonya?” todong Li An.
Xiao Jun tersenyum memprihatinkan, ia boleh saja merasa memiliki Weini sepenuhnya sampai menyepelekan hal kecil seperti selfie. Setelah terpisah paksa, ia baru menyadari tidak memiliki satupun foto berdua. “Kami bukan tipe yang suka pamer kemesraan, dia seorang artis terkenal dan sangat menjaga privasi.” Seru Xiao Jun enggan kalah oleh kenyataan.
“Tapi nyonya besar punya fotonya dan membuat sapu tangan ini untukku.” Xiao Jun merongoh sapu tangan yang selalu menempel di tubuhnya kemanapun ia pergi. Sebuah kain kecil berukir wajah Weini diperlihatkan pada Li An. Meskipun hanya sulaman namun hasilnya terlihat begitu nyata. Li An berdecak kagum dengan karya tangan yang professional serta model yang sangat cantik itu.
“Pantas saja kau menggilainya. Dia cantik banget.” Puji Li An tulus. Ia masih memandangi sapu tangan itu dengan antusias.
“Hmm, lalu gimana dengan wanita yang dijodohkan denganmu? Apa sama sekali bukan kriteriamu? Maksudku … kau tidak memberinya harapan kan?”
Xiao Jun menggeleng pelan.
Li An menarik napas lalu menyeruput minumannya, “Jun, ku kasih tahu ya. Jangan sekali-kali bersikap seolah kasih harapan ke wanita yang nggak kamu harapkan. Jangan berpikir kasian lalu tak tegaan, sama saja kamu kasih angin segar. Kalau memang tidak suka, bersikaplah tidak suka. Hati wanita bukan untuk dikasihani tapi dicintai sepenuh hati.” Li An seolah menasehati diri sendiri, gara-gara diberi perhatian palsulah ia sampai jatuh cinta pada pria yang salah.
“Aku mengerti kak.” Jawab Xiao Jun singkat. Ia paham maksud Li An, hanya saja beberapa kali ia terlanjur bersikap membingungkan pada Grace hanya karena kasihan.
“Lalu kapan kau bawa dia kemari? Aku ingin kenalan langsung dengan dia. Eh, siapa namanya?” desak Li An penuh semangat, bisa berteman baik dengan gadis yang dicintai adiknya tentu sangat menggembirakan.
Xiao Jun melemparkan senyum datar, tak disangka ia tak perlu capek menggiring bola ke gawang. Justru bola itu sendiri yang berguling menuju gawang. “Kapanpun kakak mau, asal kau ikut aku ke Jakarta.”
“Ikut kamu … ke Jakarta?” tanya Li An terbata dan belum percaya dengan ajakan Xiao Jun.
Xiao Jun mengangguk mantap, cukup dengan isyarat untuk meyakinkan Li An.
“Apa tuan besar mengijinkan? Jun, kau jangan lupa status kita sebagai orang yang dihukum. Kau jangan cari masalah dengan tuan besar hanya karena aku.” ujar Li An cemas. terlalu banyak kebaikan dan kenyamanan yang ia dapatkan sekaligus dari Xiao Jun hari ini, dan semua itu pasti milik Li San.
“Aku tidak perlu menginap di hotel, jangan sampai tuan besar tahu kamu hamburkan uang banyak untukku. Aku takut ibu dan aku yang akan kena imbasnya.”
“Tenang kak, aku pakai uang pribadiku untukmu. Tidak ada urusan dengan tuan besar, aku punya uang hasil kerja kerasku. Kalau bukan buat kalian, semua yang kukumpulkan tak ada artinya.” Xiao Jun meyakinkan Li An, akan repot urusannya jika kakaknya segan dan menolak semua yang sudah ia siapkan.
“Dan tuan besar juga setuju kau kubawa ke Jakarta. Biarkan aku menolong kalian perlahan tapi pasti, kelak aku akan bawa ibu bersama kita.” Timpal Xiao Jun, nada bicaranya sangat serius.
Li An mengernyit tak percaya, seolah bukan Li San yang ia kenal sadis yang memberikan persetujuan. Mustahil Li San setuju bila tidak ada pertukaran yang menguntungkannya. “Kalau aku ikut, apa yang kulakukan di sana? Aku tidak bisa membantu kerjaanmu, Jun.”
“Kakak ikut aku dan jadi pengawal Grace di sana. Hanya itu alasan yang buat tuan besar setuju. Bagaimana kak?” tanya Xiao Jun, dari sorot matanya ia berharap Li An mengiyakan.
“Grace? Jadi pengawal adik si brengsek?” tanya Li An shock, menjadi orang yang pasang badan pada adik seorang pria yang barusan dilepehkannya? Apa dia sanggup?
***