OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 76 DRAMA QUEEN



Ini seperti mimpi buruk, tidak kusangka perselisihan kami sebagai anak muda bisa mencelakakanku. Harus kuakui hubungan kami sangat buruk di sekolah, aku sering bertengkar dengannya tapi tidak pernah menyentuh fisik. Apa kalian tidak pernah cekcok dengan teman sekelas? Bukankah itu hal biasa? Siapa sangka juga kalau dia… (terisak tangis) dia menaruh dendam dan mendapatkan kesempatan membalasku. Dia bintangnya, dia berwajah malaikat dan aku tahu kalian pasti lebih membela dan percaya dia. Nasibku saja yang kurang beruntung harus menjadi peran pengganti dan menerima pelampiasan dendamnya. Kami hanya beracting, tapi dia malah sungguhan memukulku, menamparku! (menyeka air mata dibarengi isakan tangis). Aku mohon ampun, dia justru makin emosi menghajarku. Maaf jika pengakuan ini merusak reputasimu, tapi maukah kau bertanggung jawab atas


kehancuranku sekarang?


***


Video pengakuan Metta yang diposting ke akun sosial media langsung mendapat share puluhan ribu kali dalam beberapa jam sejak diunggah. Ia merekam sendiri dari ruang perawatannya di rumah sakit dengan menunjukkan


kaki yang terbalut gips. Beragam pro dan kontra langsung berseliweran di kolom komentar. Tak sedikit pula yang simpati padanya dan menghujat Weini habis-habisan.


Dina lah orang pertama yang paling shock melihat video tersebut. Diliriknya Weini yang tertidur pulas setelah melewati satu jam pemeriksaan dan dua jam lebih melayangkan protes pada Dina dan Haris yang tidak bersedia membeberkan apa yang sebenarnya terjadi. Weini cukup kooperatif memberikan keterangan versi dirinya, dan polisi tidak menyudutkannya meskipun statusnya tersangka.


Dina memberi bahasa isyarat pada Haris untuk berbicara di luar. Keduanya diam-diam menyelinap keluar meninggalkan Weini seorang diri. Dina menyodorkan ponselnya yang dilengkapi headset, Haris harus menyaksikan juga masalah baru yang diciptakan Metta.


“Apa-apaan ini!” Haris mulai terpancing, raut wajah serta tangisan penuh drama dari Metta sangat terlihat palsu. Tapi nyatanya banyak yang terkecoh actingnya dan membelanya.


“Paman, jauhkan handphone dan TV dari Weini. Jangan biarkan dia melihat ini dulu, aku akan lapor ke tuan Xiao Jun.” Dina secara tidak langsung memberi perintah pada Haris.


Mendengar nama Xiao Jun otomatis mengingatkan Haris pada janji anak muda itu padanya. “Sekarang aku mau lihat kesungguhan dia. Apa dia bisa buktikan ucapannya?”


Dina melotot kaget, baru pertama kali ia melihat Haris memasang mimik seserius itu. Haris terlihat menakutkan dengan aura kebapakannya.


“Menurutku omongannya bisa dipegang. Dia tipe orang yang bisa diandalkan dan royal.” Kata ‘royal’ itu terlalu semangat diteriakkan hingga mengundang curiga Haris.


“Seroyal apa? Kedengarannya kamu cukup kenal dia?” tanya Haris.


“Eh… belum lama sih, om. Pokoknya dia cowok yang bertanggung jawab. Om jangan kuatir, dia pasti bisa handel masalah ini.” Dina tak pandai menutupi rahasia, ia hampir saja membuka kedoknya di depan Haris.


“Itu… mereka datang.” Dina segera mengalihkan topik ketika  Xiao Jun dan Lau muncul menyelamatkannya dari sorot kecurigaan Haris.


Perhatian Haris tersita pada Lau, wajah yang tak asing dalam ingatan Haris meskipun entah siapa. Xiao Jun membungkuk hormat pada Haris, pembawaannya yang sopan meninggalkan kesan baik di mata Haris. Saat Lau


ikut membungkuk hormat, Haris membalasnya dengan anggukan kepala.


“Paman, kenalkan ini pamanku Lau. Aku tinggal dengannya selama di sini.” Ujar Xiao Jun sopan, ia masih terbawa tata krama di negaranya untuk memberi penghormatan pada orang yang ia segani.


Haris menunjukkan kearifan lokal dengan menjulurkan tangan sebagai bentuk perkenalan. Lau menyambut hangat tangan kokoh itu, tanpa tahu bahwa saat itulah Haris sedang membaca hatinya.


“Tuan Xiao Jun, ada masalah baru lagi dari Metta. Tadi polisi datang menjadikan Weini sebagai tersangka, sekarang Metta mengunggah video pengakuan yang menjatuhkan Weini.” Dina memotong acara perkenalan yang


menurutnya tidak sepenting masalah Weini. Disodorkannya ponsel dan memutar video sensasional Metta.


Tanpa sepatah kata sebagai reaksinya, Xiao Jun malah melempar pandangan pada Lau. “Terima kasih infonya.” Xiao Jun mengembalikan ponsel Dina.


“Aku perlu bukti anak muda, bukan janji.” Ujar Haris tegas.


“Pegang kata-kataku, paman. Tidak kubiarkan siapapun mengganggu Weini, selama aku masih hidup.” Xiao jun mantap mengucapkan itu, hingga membuat Dina dan Lau yang berdiri mojok sebagai penonton terkesima.


“Oke, ku beri kesempatan membuktikan, jika tak becus maka aku ambil alih semuanya.” Haris berbaik hati memercayakan masalah ini pada Xiao Jun, ia ingin melihat apakah pria yang dipilih Weini itu adalah orang yang


tepat.


Ponsel Dina bergetar karena notifikasi portal berita langganannya mengunggah berita terbaru. Dibukanya segera untuk melihat perkembangan berita yang lagi marak membahas Weini. Dan ia nyaris pingsan saat membaca


judulnya saja. Belum reda video pengakuan Metta, kini ditambah lagi video bukti Weini yang melakukan penganiayaan terhadap Metta.


“Tuan, lihaaat! Ini… video ini…” Dina berlari ke Xiao Jun yang masih berurusan dengan Haris. Mereka langsung tersita oleh kepanikan Dina.


Dari sebuah akun tak dikenal mengunggah video saat Weini dan Metta beradegan, terlihat Weini menampar dan menjambak rambut Metta tanpa ampun lalu mendorongnya hingga menyenggol alat penerang yang berat dan


tinggi lalu keduanya tertimpa.


“Ngaco! Kejadiannya nggak kayak gitu, ini sudah diedit. Kami yang lihat langsung saat syuting juga tahu kok adegan ini tapi udah banyak yang dipotong. Ini bukan video fullnya!” Dina panas hati, fitnah yang ditudingkan pada Weini sangat serius. Jika tidak bisa membuktikan ketidakbersalahannya, Dina yakin akan sulit bagi Weini mempertahankan reputasi dan nama baiknya, kariernya bisa tamat saat itu juga.


Haris memandang Xiao Jun, dilihatnya kecemasan dan kemurkaan dalam tatapan pria muda itu. namun Haris memilih tidak berkomentar, ia masih menunggu sepak terjang Xiao Jun dalam mengatasi masalah.


“Siapa yang punya rekaman ini di lokasi syuting?” tanya Xiao Jun dengan nada yang menyeramkan saking menahan marah.


“Pak sutradara. Bams.” Jawab Dina singkat.


Xiao Jun tersenyum dingin, “Oke Dina, tolong jauhkan Weini dari ponsel.”


“Paman, aku pamit dulu. Akan kuatasi sekarang juga, aku tak akan mengecewakanmu.” Lanjut Xiao Jun pada Haris.


Ia berlalu bersama Lau tanpa sempat melihat keadaan Weini dulu. Melihat senyumnya lebih melegakan ketimbang harus melihat keterpurukannya bila rumor yang beredar dilihat Weini.


“Paman, rekrut tim IT yang professional dan rahasia untuk menghapus semua berita dan video itu. Gugat semua yang berani menyebar berita itu dan cari siapa pengunggah pertamanya. Aku akan ke tempat lain, ada yang perlu kuselesaikan.” Perintah Xiao Jun sembari melangkah cepat. Mereka tak mau membuang waktu lagi, sebelum segalanya kian memanas.


“Saya temani anda ke sana tuan.” Pinta Lau khawatir.


“Tidak perlu, tolong paman urus yang saya minta dan siapkan pesawat jet di atas loteng. Aku tunggu di sana sekarang.” Mereka berpencar, Xiao Jun memencet lift dan masuk lebih dulu.


“Baik tuan. Hati-hati!” ujar Lau sebelum pintu lift tertutup. Kedewasaan dan sikap berani Xiao Jun menggugah hati Lau. Anda semakin dewasa, tuan.


***