
Li San duduk menunggu seseorang yang diundangnya datang. Pertemuan dengan Chen Kho yang barusan lewat masih menyisakan tanda tanya besar, ada ketidak puasan yang sulit dijelaskan. Ia seperti melewatkan sesuatu yang penting untuk disampaikan. Tapi keputusan mencopot jabatan Chen Kho juga dirasa tepat, ia tidak bisa seenaknya memanfaatkan kedudukan tinggi demi hal pribadi.
“Selamat siang ayah, Xiao Jun memberi hormat.” Xiao Jun masuk ke aula memenuhi panggilan Li San.
Seulas senyum lebar disunggingkan Li San, betapa teduh tatapannya pada putra kebanggaannya itu. “Duduklah,
aku sudah menyiapkan cemilan kesukaanmu.” Li San menunjuk meja di sampingnya yang di atasnya sudah terhidang aneka kue kering dan teh hangat. Xiao Jun mengangguk kemudian menempati tempat yang telah disediakan.
“Aku sudah mendengar kejadian kemarin, terima kasih sudah bertindak tepat. Sayangnya harga saham kita merosot pagi ini, terkait masalah kemarin.” Ujar Li San dengan nada bersahabat, ia bisa melunak dan mengeras tergantung situasi.
“Ayah jangan kuatir, aku sudah menyiapkan gebrakan untuk menstabilkannya. Sebentar lagi calon investor besar kita dari Beijing akan segera sampai. Akan kuperkenalkan pada ayah setelah kami bertemu.” Xiao Jun dengan percaya diri meyakinkan Li San. Ia lah penyebab harga saham sengaja diturunkan dan tentu ia punya solusi
untuk mendapatkan kepercayaan Li San. Jika tidak ada sebab besar yang ditimbulkan akibat Chen Kho, ia yakin sang penguasa itu akan bersikap toleransi dan menganggap itu hanya masalah kecil.
Li San sumingrah, ide brilian Xiao Jun memang patut dia andalkan. “Ayah bangga padamu, kemampuan bisnismu makin banyak peningkatan.”
Xiao Jun menyungkemkan tangan sebagai bentuk terima kasih atas pujian itu. “Semua berkat didikan ayah. Oya, kak Li An sudah sampai di sini. Aku memintanya menunggu sebentar untuk menemui ayah. Setelah ini akan kuperkenalkan dia dengan Grace.” Xiao Jun menyampaikan keberadaan kakaknya sebelum Li San mengetahuinya dari orang lain.
Li San terdiam sesaat, ada rasa tidak senang mendengar nama itu tetapi ia harus memenuhi kesepakatan yang sudah ia setujui. Xiao Jun bersikap kooperatif dan ia tak punya alasan untuk menolak kemauannya selagi masih tidak melampaui batas.
“Baiklah. Lakukan sesuai rencanamu. Begitu calon investor kita datang, ajak dia temui aku. Sementara itu saja, kau selesaikan urusanmu dulu.” Li San mengakhiri pertemuan mereka pada sesi ini. Tidak baik membiarkan orang luar menunggu, Li San tidak mau mendengar ada kejadian tidak menyenangkan lagi terjadi di kediamannya gara-gara gadis Wei itu.
Xiao Jun pamit dan segera berlalu, hatinya plong melihat pengertian Li San yang di luar dugaan. Masih ada sedikit waktu untuk kembali bertemu Xin Er bersama Li An, demi memanfaatkan waktu Xiao Jun berlari kecil keluar dari area Li San. Hingga ia didatangi oleh pengawal pribadinya dan menyampaikan bahwa bos muda dari Beijing yang ia tunggu sudah berada di luar gerbang.
“Kok pas sekali waktunya...” gumam Xiao Jun agak kecewa, terpaksa ia merubah rute demi menyambut kedatangan tamu undangannya. Keinginan untuk reuni lebih lama bersama saudari dan ibunya terpaksa ditepiskan, ada hal yang lebih penting yang harus ia selesaikan.
Pengusaha muda itu datang sendiri khusus memenuhi undangan Xiao Jun, semula Xiao Jun menawarkan diri untuk menjemputnya di bandara dan membawanya melihat perusahaan. Tetapi ia malah menolak dengan alasan enggan merepotkan, ia ingin bertamu pribadi dan mengenal Li San terlebih dulu sebelum membicarakan bisnis di kantor. Dan di sinilah pria itu berada kini, berdiri di pos penjaga menunggu si empu rumah muncul.
Xiao Jun menangkap sosok pria itu dari kejauhan, gerbang sengaja dibiarkan terbuka karena para penjaga itu tahu sebentar lagi tuan muda akan menghampiri tamunya. Xiao Jun mempercepat langkah dan menyunggingkan senyum meskipun jarak mereka masih terpisah beberapa meter.
“Selamat datang tuan Lo Wen Ting. Maaf membuatmu menunggu lama.” Xiao Jun berjabat tangan hangat dengan pria muda tampan yang kurang lebih sepantaran usia dengan kakaknya.
“Siang tuan Li Xiao Jun, ah tak masalah aku hanya menunggu 3 menit 20 detik.” Jawab Wen Ting tertawa kecil karena candaannya.
Xiao Jun ikut tertawa, ia baru tahu bos muda itu punya sisi humoris dan tampak cukup baik. Firasat Xiao Jun mengatakan bahwa ia akan mempunyai hubungan bisnis jangka panjang dengan pria itu. “Tuan, mari kita masuk. Kebetulan sudah jam makan siang, mari ke kediamanku kita isi tenaga dulu.” Ajak Xiao Jun ramah dan menyesuaikan sisi humoris tamunya.
“Wah, sebuah keberuntungan besar aku datang di saat yang tepat. Tuan tahu saja kalau perutku dalam kondisi siap isi ulang.” Canda Wen Ting yang kemudian disusul tawa bersama.
Keberadaan bangunan kuno yang dipugar dengan sempurna itu bukan isapan jempol belaka.
“Anda punya selera yang bagus, tapi tak sedikit juga yang menilai bangunan ini terlalu kuno. Seperti mencerminkan orang yang tinggal di dalamnya masih berpegang pada prinsip kolot.” Seru Xiao Jun, sebenarnya ia tengah menyampaikan pandangan subjektifnya terhadap Li San. Pria tua itu terlampau menjunjung tinggi adat kuno yang tak lagi sesuai dengan jaman modern, berada dalam lingkungan keluarga ini membuat Xiao Jun merasa seperti pangeran di era dinasti, yang penuh aturan ketat dan masih mengkotakkan strata sosial.
Wen Ting tertawa kecil, pendapat Xiao Jun terdengar masuk akal. “Ya, tergantung selera masing-masing, aku lebih tertarik dengan sesuatu yang lebih terikat aturan. Kalau bukan kita yang lestarikan, masa mau dibiarkan punah?”
Xiao Jun tersenyum kecil, tak disangka topik perbincangan pertama pada sesi perkenalan ternyata malah membahas soal selera kuno dan modern. Langkah mereka memasuki area kekuasaan Liang Jia, dalam perjalanan itu secara tidak langsung mengenalkan Wen Ting pada separuh istana Li San.
“Tolooooooong!” samar-samar suara yang menyerukan pertolongan terdengar Xiao Jun. Saking terkejut dan
hendak memastikan, ia mendadak berhenti melangkah. Wen Ting belum menyadari keanehan Xiao Jun, ia terus melangkah dan mengira masih sejajar dengan tuan rumah.
Xiao Jun mempertajam pendengarannya, suara itu mirip suara Li An. Ia celingukan memandangi sekitar, darimana sumber suara itu berasal.
Wen Ting berbicara sendiri lantaran Xiao Jun tidak menggubrisnya, hingga ia sadar tuan rumah itu masih tertahan di belakangnya. “Ada apa tuan Xiao Jun?” tanya Wen Ting menghampiri Xiao Jun yang terlihat tegang.
Xiao Jun sudah memastikan darimana asal teriakan itu, “Tuan, maaf bolehkah anda menunggu di sini sebentar. Ada sesuatu yang darurat dan harus aku pastikan.” Tanpa menunggu respon balasan, Xiao Jun berlari menuju lokasi Li An.
“Hei, tuan ... apa yang terjadi? Tunggu!” Wen Ting kebingungan, ditinggalkan begitu saja di tempat asing yang hanya ada pepohonan dan taman. Yang lebih ia penasarankan, apa yang terjadi sehingga reaksi tuan rumah terlihat menakutkan.
Xiao Jun berlari kencang, ia bahkan mengeluarkan jurus meringankan badan dan terbang lantaran kondisi yang memungkinkan. Tidak akan ada yang melihatnya mempunyai kemampuan bela diri pada level ini. “Kakak, apa yang terjadi?” gumam Xiao Jun cemas.
Sampai akhirnya ia menemukan Li An dengan kondisi tengah diganggu pria hidung belang, seketika itu pula matanya terbelalak, emosinya membuncah hingga ia kehilangan akal sehat. Chen Kho mendapat serangan dari belakang, persis mengenai kepalanya. Xiao Jun menggeret pria itu dan melemparnya hingga menubruk pohon. Ketidak siapan Chen Kho membuatnya tidak awas dan jatuh tanpa perlawanan.
Kondisi Li An dari luar masih terlihat baik, beruntung Xiao Jun datang tepat waktu sebelum pria jahat itu makin menggila. Gadis itu berurai air mata, ia berteriak memanggil adiknya ketika melihat kehadirannya.
“Kakak nggak apa-apa?” tanya Xiao Jun cemas, ia terus melihat fisik Li An, takut ada hal yang kelewat batas yang terlanjur terjadi.”
Li An menggeleng, “Aku nggak apa-apa. Makasih Jun.” Isak Li An pecah lagi, kali ini karena bersyukur ia lolos dari cengkraman penjahat kelamin. Dari belakang, Li An melihat Chen Kho yang sudah berdiri tertatih memandang tajam ke arah Xiao Jun dan bersiap melakukan pembalasan.
“Awaaaas!” Pekik Li An saat tahu Chen Kho menggencarkan tendangan ke Xiao Jun.
***