
Sebuah video call membuat ponsel Liang Jia berdering di tengah malam. Selisih waktu antara Jakarta – Hongkong sekitar 1 jam lebih cepat di Hongkong, namun Xiao Jun yakin nyonya besar itu belum tertidur pada pukul 1 dini hari di sana. Benar dugaannya, Liang Jia menerima panggilannya dengan wajah yang masih segar dan cantik alami tanpa riasan berat.
“Ibu Liang Jia, maaf mengganggumu jam segini.” Sapa Xiao Jun seraya tersenyum.
Liang Jia tersenyum, sorot kamera mengambil latar di sofa dan nyonya itu mengenakan piyama tidur yang longgar. “Aku belum tidur, kamu hanya memotong waktu nontonku saja. Ada cerita apa, Jun? Tidak biasanya kamu telpon selarut ini kalau bukan kabar yang mendesak.”
Xiao Jun tertawa kecil, wanita tua itu memang selalu berpembawaan santai. “Ibu, kali ini aku membawa kabar baik. Ibu siap mendengarnya?”
Liang Jia membetulkan posisi duduknya yang semula bersila kini kedua kakinya diturunkan dari sofa. “Ceritalah, jangan bikin aku penasaran.” Ungkapnya.
“Bu, aku sudah tahu soal ayahku dan … Putrimu.” Lirih Xiao Jun.
Liang Jia mengatupkan bibir, matanya membesar serta mulai berkaca-kaca. “Jun, ini kabar yang terbaik yang pernah kudengar darimu. Syukurlah, aku tenang mendengarnya.”
Xiao Jun mengangguk, “Ibu, ijinkan aku mencintai putrimu. Aku akan menjaganya seumur hidupku.” Pinta Xiao Jun degan tulus, ketulusan yang menyentuh perasaan seorang ibu.
“Dia mencintaimu kan? Dia bahagia bersamamu?” Tanya Liang Jia dengan lembut.
Xiao Jun mengangguk mantap.
“Kalau begitu, aku merestui kalian. Bahagiakan dia, tolong jaga dia untukku juga Jun. Aku sangat tenang begitu tahu kamu lah pria yang dicintai putriku.” Kini Liang Jia menyeka air mata yang luruh di pipinya. Tidak berlebihan kan jika ia menangis karena terharu.
“Aku berjanji akan bahagiakan dia, ibu. Terima kasih atas restumu, semoga kelak tuan besar pun mengerti dan merestui kami.”
Liang Jia diam, kehabisan kata-kata secara otomatis jika sudah membahas soal Li San. Raut sedihnya tak luput dari pengamatan Xiao Jun, yang tak langsung juga mempengaruhi perasaannya.
“Ibu, aku berencana mengajak Grace kembali ke Hongkong setelah pernikahan kak Li An. Kami harus berunding lagi dengan tuan besar, pertunangan ini tidak bisa dilanjutkan. Bisakah ibu membantu untuk membujuk tuan besar agar sedikit melunak dan sadar kalau hubungan tanpa cinta ini tidak bisa dipaksakan?” Pinta Jun, inilah alasannya ia menghubungi ibu angkatnya sedarurat ini.
Liang Jia menunduk, sesekali terdengar ia menghela napas berat. Dari sikapnya saja Xiao Jun bisa menebak apa yang diresahkan wanita tua itu. Keduanya terdiam untuk sesaat, hingga Liang Jia mengangkat wajah dan menghadap kamera secara tersenyum getir. “Jun, untuk memenangkan hati Li San, sulitnya seperti berharap kucing tumbuh tanduk. Aku pernah membahas ini sebelumnya, tapi hatinya masih sedingin puluhan tahun lalu. Nyaris tidak ada tempat untuk Yue Hwa. Aku pesimis bisa membantumu Jun, tapi aku juga sejak awal tidak merestui pertunangan paksamu. Li San terlalu naif, mata hatinya sudah tertutup. Ia lebih mendengarkan saudaranya ketimbang aku yang sudah separuh usia hidup bersamanya.”
Xiao jun menarik napas, nyatanya memang tidak semudah itu. Liang Jia sejak dulu memang tidak berkutik meskipun ditindas oleh suaminya. Bukan karena ia tidak mau, tetapi masih ada empat orang anak yang harus ia lindungi agar tak bernasib seperti putri bungsunya.
“Baiklah, jagan terlalu dipikirkan ibu. Aku akan mencari cara lain untuk menghadapinya.” Xiao Jun menghibur Liang Jia, ia tak tega membebankan masalah pada wanita tua itu. Terlebih masalah ini memang harus mengandalkan kemampuannya sebagai seorang pria yang tegas memperjuangkan cintanya. Xiao Jun pun tidak mengerti apakah fakta status Weini adalah Yue Hwa akan mempermudah atau mempersulitnya mendapatkan restu Li San. Yang pasti ia tak habis pikir, mengapa ada ayah yang begitu tega ingin membunuh darah dagingnya. Setidak-becusnya sang anak, mereka punya jalan hidupnya, mengapa harus dihabiskan hanya karena tidak sesuai harapan orangtua?
Liang Jia mengangguk setuju, “Aku minta maaf Jun, aku juga tidak bisa banyak membantumu. Belakangan ini aku merasa sedang diawasi oleh Li San, sejak aku bertengkar dengannya soal Yue Hwa. Ia mungkin mulai mencurigaiku, dan kamu sebaiknya berhati-hati. Dia diam dan membebaskanmu di luar bukan berarti kamu luput dari pantauannya. Dia pria tua yang tidak terduga.”
Xiao Jun lebih terkejut lagi mendengar pernyataan Liang Jia, jika istrinya saja mulai diawasi maka tidak menutup kemungkinan Xin Er pun masuk dalam pengawasan Li San. “Ibu, bolehkah aku bertanya sesuatu? Tapi maaf jika pertanyaan ini mengungkit lukamu.”
“Kenapa tuan besar ingin membunuh Yue Hwa? Selain faktor bahwa dia bukan anak laki-laki seperti yang diharapkan tuan besar?” Xiao Jun bertanya penuh hati-hati, ini pertanyaan yang sangat berbahaya namun ia harus
tahu alasannya untuk mempermudah ia memikirkan cara menghadapi Li San.
Helaan napas berat terdengar lagi, Liang Jia agak berat harus menceritakan. Bukan karena itu terlalu menyakitkan namun ini asumsi pribadinya yang selama ini ia pendam sendiri. “Semua ini salahku, aku yang tidak becus jadi seorang ibu. Ketika suamiku yang seharusnya menjadi tempat berlindung paling aman, justru berubah setelah terhasut oleh saudaranya. Aku tetap tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan Yue Hwa. Kalau tanpa bantuan dan kesetiaan ayahmu, entah apa jadinya saat itu. Jun, semua ini berawal dari tahta, kekuasaan yang membuat orang jadi gila.”
“Maksud ibu?” Xiao Jun memincingkan mata, ia tak mengerti arah pembicaraan Liang Jia.
“Li San terlalu bodoh dan lebih mendengarkan saudaranya. Sebenarnya tanpa memiliki anak laki-laki sebagai penerus pun, tahta klan Li akan tetap di tangan garis keturunan langsung Li San. Yue Hwa masih jadi penerus asalkan ia dijodohkan dengan pria yang sedarah dengan leluhurnya. Dan yang paling ideal dijodohkan dengannya adalah putra sulung Kao Jing, Li Chen Kho. Tapi kepicikan Kao Jing … Dia tentu tidak ingin putranya melakukan
pernikahan sedarah. Mereka orang yang sudah berbaur dengan kehidupan modern di Negara luar, mereka tidak akan percaya adat apalagi mematuhinya.” Liang Jia berhenti bercerita, emosinya turut membuncah dan ia perlu sedikit waktu untuk menenangkannya.
“Tolong dilanjutkan, ibu.” Xiao Jun mengepalkan tangannya, bisa dibayangkan betapa geramnya ia lagi-lagi mendengar nama pria memuakkan itu disebut. Parahnya, nama itu ada sangkut pautnya dalam kasus rencana
pembunuhan Weini di masa lalu.
Liang Jia menatap Xiao Jun lekat, hingga ia merasa sedikit lebih tenang dan kembali menyampaikan apa yang sudah ia pendam selama puluhan tahun. Sampah batin yang akhirnya menemukan tempat pembuangan yang tepat. “Ketika Li San menyampaikan maksudnya mengenai perjodohan itu, Kao Jing tidak frontal menunjukkan ketidak-setujuannya. Ia malah mengarang cerita yang bodohnya dipercaya Li San tanpa curiga, ia membawa seorang peramal terkemuka untuk menerawang masa depan. Peramal itu berkata bahwa Yue Hwa adalah kesialan besar yang harus disingkirkan, jika ia berumur lebih dari 6 tahun maka kejayaan klan Li yang sudah turun temurun akan hancur dan Li San akan sangat disalahkan andai itu terjadi. Tapi hati kecilku selalu berfirasat bahwa ramalan itu hanya tipu muslihat Kao Jing, ia bisa melakukan apapun untuk melindungi anaknya dari pernikahan paksa itu. Yue Hwaku yang malang, kenapa harus anakku yang bernasib senaas itu?” Kini Liang Jia tak bisa menahan isak tangisnya.
Xiao Jun merasa tubuhnya lemas, sungguh skenario keji yang pernah ia dengar. Ikatan saudara tak lagi dipandang jika sudah dibutakan oleh ambisi dan haus kekuasaan, pun tak peduli harus menumbangkan korban tak bersalah. Chen Kho dan ayahnya memang bukan butiran debu yang mudah dilenyapkan, ia harus menaruh waspada pada mereka apalagi kini ia berurusan dengan anaknya.
“Tapi kenapa dia malah menjodohkanku dengan putri saudaranya? Bukankah sama saja jika aku dianggap sebagai putra tuan besar?” Tanya Xiao Jun yang masih penasaran.
Liang Jia menggeleng lemah, “Kamu berbeda, statusmu hanya status saja tidak ada ikatan darah. Perasaanku selalu buruk mengatakan bahwa kamu hanya jadi bonekanya jika kelak menikahi Grace. Mereka akan mudah
merebut kekuasaan begitu kamu menikahi Grace. Itulah sebabnya aku menentang perjodohan kalian, tapi apa dayaku? Li San terlalu angkuh untuk mendengar pendapatku.”
Xiao Jun mengangguk paham, “Baiklah ibu, aku sudah mengerti. Jangan dibahas lagi, kelak akan kupikirkan sendiri caranya. Jaga diri ibu baik-baik, dan aku titip ibuku juga.”
Liang Jia pun mengangguk. “Besok ulang tahun Yue Hwa, maukah kamu melakukan sesuatu untukku?”
Xiao Jun mengernyitkan dahi, “Apa itu, ibu?”
Di saat bersamaan dalam sudut lain, ada sepasang telinga yang panas mendengar perbincangan serius Xiao Jun dan Liang Jia hingga telpon itu diakhiri.
***