OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 208 YA, AKU BERSEDIA. ‘SHE SAID YES!’



Belum apa-apa Li An sudah menyatakan penolakan, meskipun bibirnya berucap tegas namun suara hatinya


berkata sebaliknya. Ia hanya ingin melihat sosok di balik topeng itu keluar dengan gentle dan menyatakan sekali lagi permintaan itu tanpa mengandalkan topeng. Agaknya harapan Li An terlalu berlebihan, pangeran abal-abal itu malah terdiam seperti kehabisan baterai. Andai Li An tahu, Wen Ting terdiam bukan karena ia sedih atau marah, namun ia sedang tertawa kecil saking gemesnya melihat sikap Li An.


“Dia sudah menolakmu, sudah hentikan saja! Kau buat aku kelihatan konyol, panas banget kostum ini.” Sosok Mickey yang mengapit Li An akhirnya membuka topengnya, wajahnya penuh keringat hingga rambutnya ikut basah seperti sehabis keramas. Walau begitu, pria itu justru telihat semakin tampan dan seksi. Sambil ngedumel, pria itu melemparkan topeng badut yang berat lalu mengibaskan wajah dengan tangannya, efek pengap dan kepanasan.


Li An terperanjat, antara harus berekspresi senang atau kesal karena ini sungguh di luar perkiraannya. “Jun! Kamu ... bukannya kamu ada masalah di kantor? Kenapa malah jadi tikus di sini?” Cecar Li An seraya menjitak lembut kepala adiknya, kebawelan khas kakak perempuan mencuat juga menanggalkan status di antara mereka. Di mata Li An, ketika berdua dengan Xiao Jun di luar lingkungan Li San, ia adalah saudara sekandung Xiao Jun dan tetap akan memperlakukannya akrab seperti masa kecil.


Xiao Jun mengusap kepala bekas jitakan Li An, bukan karena sakitnya yang hanya terasa seperti digigit semut tapi karena ide konyol itu bukan ia yang merancang. “Jangan salahkan aku kak, tuh sutradaranya!” tunjuk Xiao Jun pada si pangeran bertopeng.


Pelaku yang ditunjuk itu akhirnya membuka jati diri, dilepaskannya topeng yang pengap itu sembari tertawa kecil. Wen Ting merasa ini teramat manis dan lucu, walaupun rencananya melenceng dari skenario. “Ini belum selesai, kenapa kamu tidak tahan sebentar lagi, kau menggagalkan adegan romantisku.” Wen Ting melempar kesalahan


pada Xiao Jun, kedua pria itu saling bertatapan seperti ada magnet yang menyetrum.


“Kalian ngapain? Saling jatuh cinta?” ujar Li An memisahkan tatapan dua pria itu.


Wen Ting mengusap wajahnya lalu menarik napas panjang, menyudahi kekonyolan bersama calon adik


iparnya. Masih ada hal penting yang harus diutarakan dan kali ini ia serius. Wen Ting menarik tangan Li An, membawanya ke sudut lain yang lebih privat namun masih dalam lingkaran badut. Kedua tangan itu saling berpegangan erat, tatapan mereka begitu melekat ditambah senyuman penuh kebahagiaan yang jelas tergurat


dan tak bisa ditutupi. Siapa saja yang memandang mereka pasti sepakat bahwa mereka berdua tengah jatuh cinta.


“Wei Li An, aku Lo Wen Ting tanpa topeng, tanpa jadi badut ... dengan sungguh-sungguh memintamu


menjadi nyonya Lo. Bersediakah menjadi satu-satunya istriku?”


Wen Ting setengah berlutut pada Li An ketika menyatakan perasaannya, kali ini ia mempersembahkan sebuah cincin berlian dalam kotak merah yang sudah ia buka, menantikan jawaban dari gadis yang masih terperanjat kaget. Bagaimana tidak, cincin berlian itu masih sangat ia ingat, dua jam lalu ia memilihkan cincin itu untuk Xiao Jun dan


siapa sangka cincin yang sangat ia sukai itu sekarang diberikan Wen Ting untuk melamarnya.


Li An menutup mulut dengan kedua tangannya, matanya mulai berkaca-kaca. Wanita mana yang tidak tersentuh hatinya ketika mendapatkan lamaran semanis dan seniat ini? Wen Ting sukses besar memberikan kejutan, Li An sama sekali tidak bisa menebaknya termasuk bagaimana pria itu bisa meyakinkan Xiao Jun terlibat bersamanya. Adik laki-lakinya bahkan rela bertingkah konyol demi memberi dukungan.


“Say yes! Say Yes! Say yes!” para badut yang melingkari mereka ikut membuka topeng dan dengan kompak meneriakkan dukungan.


Li An terharu, ia tidak bisa menahan air matanya lagi. Dibiarkannya jatuh membasahi kedua pipinya, namun Wen Ting dengan lembut menghapusnya.


Ayah, aku tidak pernah bermimpi akan dilamar seperti ini. Impianku juga tidak muluk, hanya ingin pria yang tulus mencintaiku dan menjadikanku satu-satunya wanita dalam hidupnya. Ayah, aku sudah menemukan dia, hari ini aku akan mengambil keputusan besar, ku mohon darimana pun ayah berada restuilah kami.


Pesan untuk ayahnya lah yang membuat pertahanan air mata Li An jebol, ia sungguh terharu ... Wen Ting masih menanti jawabannya dengan senyuman yang tulus, masih bersabar membiarkan Li An menata hati dan pikiran untuk memberinya sebuah keputusan.


“Ya.” Ujar Li An mantap, dengan seulas senyum dan mata yang masih berurai tetasan bening.


“Terima kasih Li An, aku berjanji akan membahagiakanmu. Kamu tidak akan menyesal bersamaku.” Wen Ting memakaikan cincin berlian di jari manis Li An. Gadis itu tak kuasa lagi menjawab, ia terlalu bahagia sampai melupakan kata-kata walau sekedar ungkapan terima kasih pun luput dalam pikirannya.


Wen Ting mendehem, ia baru teringat sesuatu yang terabaikan. “Kita harus mengundang adikmu kemari, aku sampai lupa masih ada dia di belakang.”


Li An tertawa kecil, ia pun benar-benar melupakan Xiao Jun yang masih berdiri mematung dengan kostum ajaib itu. Cinta dan pengorbanannya mampu membuat bos muda seperti Xiao Jun dan Wen Ting menjadi orang yang buta cinta. Jika bukan karena cinta, mana mungkin mereka rela menanggalkan kharismanya sebagai seorang CEO dan berpakaian seperti badut.


“Adik ipar, kemarilah! Mulai hari ini kita sudah jadi keluarga, ayo kita rayakan!” seru Wen Ting yang tertawa kecil melihat ekspresi Xiao Jun.


Xiao Jun masih diam di tempat, tenggelam dalam pikirannya. Bukan hanya Li An yang bahagia telah menemukan pria terbaik sebagai pendamping hidup, Xiao Jun justru merasa dirinya lah yang paling bahagia melihat saudaranya mendapatkan kebahagiaan. Kini tinggal ibu dan ayahnya yang harus ia perjuangkan.


“Jun, apa yang kau pikirkan?” Li An mendekati Xiao Jun lantaran belum ada respon sejak tadi. Ia mendapati Xiao Jun tengah melamun dengan wajah yang tergurat beban.


“Kakak, selamat ya ... aku turut bahagia untukmu.” Xiao Jun meraih Li An dalam pelukannya.


Li An tersenyum, ia membalas pelukan itu dengan menepuk punggung Xiao Jun. “Thanks Li Jun, kamu


mengenalkanku pada pria yang tepat.” Bisik Li An.


“Xie Xie adik ipar, kau dengarkan kakakmu menerimaku. Xie xie bersedia ikut andil dalam misi lamaranku.” Wen Ting memotong adegan mengharukan kakak adik, dengan enteng ia menyalip dengan senyum lebar memamerkan sederet gigi putihnya.


Xiao Jun nyengir, walau senang tetapi ia masih mempertahankan gengsi. “Aku melakukannya demi kakakku.” Ujarnya sok dingin.


“Ha ha ha ... iya dan kamu rela ku culik buat dijadikan badut.”


Diingatkan soal itu langsung membuat Xiao Jun emosi, orang misterius yang menepuknya dengan tangan dingin itu adalah Wen Ting yang kemudian memohonnya memakai kostum Mickey demi menggandeng Li An padanya. Kalau bukan karena maksud simbol yang Wen Ting pertegas – serah terima tanggung jawab – Xiao Jun menggandeng Li An ke Wen Ting berarti merestui dan menyerahkan kakaknya pada pria itu, Xiao Jun tidak akan sudi.


“Aku tidak melihat paman Lau sejak tadi, aku mau pergi mencarinya.” Xiao Jun sengaja mengalihkan pembicaraan.


“Tidak perlu dicari, dia ada di pojok sana sejak tadi.” Wen Ting menunjuk Lau yang berdiri di ujung gerbang memainkan drone.


Lau melambai ke arah Xiao Jun sambil tersenyum, pengawal itu alih profesi menjadi kameramen rekrutan Wen Ting.


Xiao Jun menoleh ke Wen Ting dengan kesal, “Kenapa dia nggak sekalian disuruh jadi badut!? Lo Wen Ting ... kamu ngerjain aku!”


***


Apa ada pembaca yang senyam senyum membaca episode ini? ^^