
Malam yang terlalu singkat bagi Dina dan Ming Ming pun telah berlalu. Singkat, karena hanya tersisa enam jam dari jadwal keberangkatan pria itu kembali ke Beijing. Setelah cukup lama di rumah sakit mengunjungi Stevan, Bams dan Fang Fang, pasangan kekasih yang baru jadian itu pulang ke rumah Dina untuk melewatkan malam yang
terlanjur larut. Jangan bayangkan ada adegan menggiurkan yang terjadi saat mereka satu kamar berduaan saja!
“Ng... udah pagi ya?” Tanya Dina yang masih sangat berat membuka mata, namun suara alarm dari ponsel yang sudah ia setel itu sangat mengganggu.
Ming Ming dengan sigap bangun, tak peduli sekantuk apapun dia. Ia bergegas merapikan pakaiannya yang sedikit kusut karena dibawa tidur. “Iya, aku harus siap-siap sekarang.” Jawab Ming Ming singkat.
Dina otomatis melek, ia belum terbiasa dengan kehadiran orang lain di kamarnya. Tadi ia hanya bicara pada dirinya dan ternyata ada yang menyahutnya. Saat membuka mata, Dina melihat pria tampan itu sedang mengenakan jas hitamnya. Dina pun memelototi pakaiannya dan bernapas lega, ia masih mengenakan pakaian kemarin dan tampak rapi. Tidak terjadi apapun tadi malam yang memang telalu dini bagi Dina.
“Huft....” Dina menghela napas kecewa, ia memanyunkan bibirnya dengan runcing.
Ming Ming melirik Dina lalu tersenyum, “Aku harus pergi sekarang, tapi aku janji saat libur aku pasti mengunjungimu.” Ujar Ming Ming menghibur hati gadisnya.
Dina melirik tak berselera pada prianya, walaupun memang benar Ming Ming menebak salah satu sebab yang meresahkan hatinya, tetapi bukan itu penyesalan terbesar Dina saat ini. “Iya sih, tapi... Aku kesal banget kenapa sih kita bisa ketiduran? Diniatin buat ngobrol sampai pagi, tapi kok tidur sih!” Dina menjerit, mengeluarkan semua kekesalannya.
Ming Ming menahan senyumnya, ia salah persepsi mengira Dina sedih karena harus melepaskannya pergi. Awalnya mereka berencana minum bersama sambil bertukar cerita hingga waktu keberangkatan ke bandara, nyatanya entah bagaimana ceritanya sampai mereka bisa ketiduran. Wine yang rencananya ingin diminum saat itu pun masih utuh segelnya, mereka belum sempat membukanya.
“Ya sudahlah, masih ada waktu lain. Tunggu aku datang lain kali, kita akan minum sampai pagi. Hmm?” Ming Ming mencondongkan kepalanya hingga wajah tampannya dekat dan nyaris terjamah Dina.
Kesempatan itu tidak dibiarkan Dina, ia memberikan serangan kilat berupa kecupan ringan. Kecupan di bibir yang sontak membuat mata Ming Ming membulat besar. Pria itu langsung menyelesaikan sisa godaan itu, diraihnya pundak Dina lalu memberi balasan yang jauh lebih panas untuk sesaat.
***
Grace sudah mengurus administrasi rumah sakit untuk kepulangan Fang Fang, untung saja luka yang dialami gadis pengawalnya tidak begitu parah sehingga hanya perlu pemulihan saja. Lau terlihat datang setelah Grace menyelesaikan semuanya, ia berhenti lalu menunggu Lau yang datang menghampirinya.
“Nona, apa sudah selesai semua? Masih ada yang perlu saya bantu? Maaf saya datang terlambat.” Ujar Lau seraya sedikit membungkuk.
Grace tersenyum lalu menggeleng, “Tenang aja, paman. Sudah kelar semua, tinggal jemput Fang Fang pulang.” Jawab Grace santai.
Lau mengangguk paham, “Syukurlah, jika perlu sesuatu... sekali lagi jangan segan hubungi saya, nona.” Lau menawarkan bantuan lagi pada Grace.
Belum sempat Grace menjawab, suara dering telpon Lau menjeda obrolan mereka. Lau meminta waktu sejenak dari Grace lalu meronggoh ponselnya. Dahinya mengkerut saat membaca nama dalam layar itu kemudian segera mengangkatnya.
“Ya, Dina?”
Nama Dina menarik perhatian Grace, ia melirik Lau seolah ingin menguping percakapan telpon mereka. Lau tampak membelakangi Grace dan beberapa kali mengangguk, sesaat kemudian ia kembali membalikkan badan hingga Grace yang belum siap itu terkesiap.
“Kok cepat, paman?” Tanya Grace heran karena rasanya belum satu menit Lau bicara di telpon.
“Ini dari Dina, dia bilang keadaan pers saat ini membuat berita nona Weini memanas lagi. Dia meminta ijin padaku untuk menggelar pers konference.” Ujar Lau dengan tenang.
“Paman mengijinkannya?” Tanya Grace tanpa basa basi.
Lau mengangguk, “Iya, nona. Dina managernya, dia lebih berhak bicara mewakili nona Weini. Tapi saya tetap akan mengirim kuasa hukum untuk mengawal jalannya prescon nanti.”
Grace menghela napas, resiko menjadi publik figur memang sangat membebani. “Apa aku perlu turun tangan?”
Lau menggeleng, “Tidak perlu nona, biarkan saja urusan ini diselesaikan orang orang yang memang mengerti kondisi di sini. Kita hanya pendatang, kita tidak bisa banyak ikut campur, nona.” Jelas Lau.
Grace tak bisa berbuat banyak lagi, tawawannya ditolak dengan alasan yang cukup masuk akal. “Ya sudahlah, paman pasti tahu yang terbaik. Oya, bagaimana dengan Weini dan yang lainnya? Apa sudah ada kabar baik dari sana?”
“Tuan besar sudah sadar, mereka sudah kembali ke rumah, nona.” Jawab Lau singkat.
Grace tersenyum lega, baru kali ini ia tersenyum tenang setelah masalah beruntun yang menimpanya. “Syukurlah,
***
Bams terlihat lebih segar setelah menjalani perawatan dan dinyatakan sembuh karena sentuhan keajaiban, harusnya ia dioperasi tetapi dokter akhirnya membatalkan tindakan itu setelah pemeriksaan ulang. Pemulihannya pun lebih cepat daripada seharusnya, kondisi yang sangat luar biasa bagi pasien dengan cidera parah.
“Halo, pak sutradara. Lu masih ingat gue kan?”
Bams menoleh pada suara centil dan bawel itu, ia tahu siapa yang datang tapi belum sempat menyebutkan namanya, si pemilik suara mulai koar-koar kebawelan.
“Ah... Syukurlah, lu tampak udah sehat. Jangan kelamaan di sini ya, masih banyak syuting yang tertunda nih harus kejar tayang perdana.” Bawel gadis itu.
Bams nyengir, ia pun membalas dengan sok sewot. “Oh, jadi lu ke sini buat nanya kondisi gue atau kondisi managemen?” ujar Bams pura-pura tegas, dua pasang mata itu beradu dalam diam, lalu menjerit bersamaan.
“Dinaaaa... ke mana aja lu? Gue kira lu kagak selamat di malam itu.” Pekik Bams heboh, yang seharusnya tanpa berteriak pun suara lantangnya sudah sangat jelas.
Dina menghambur memeluk pak sutradara itu, mereka tidak pernah semelow ini sebelumnya, namun pasca tertimpa masalah berat dan berhasil melaluinya, mereka jadi sadar arti pentingnya persahabatan mereka selama ini.
“Kak Bams, hik... maafin gue yang telat tahu kabar ini. Semalam gue datang jengukin tapi lu tidur, kata suster itu karena pengaruh obat yang bikin lu istirahat total. Ya udah gue nggak ganggu lagi. Tapi, lu udah baikan sekarang? Mana yang sakit?” Tanya Dina penuh selidik, dengan tampang konyol ia memeriksa tubuh Bams dengan tatapannya.
Bams risih dipelototi oleh wanita seperti itu, “Gue udah nggak apa-apa, bosan gue di sini. Bisa tolong uruskan gue keluar nggak? Secepatnya ya, gue rasa gue lebih cepat sembuh daripada di sini, suasananya nggak asik.”
Dina melotot tajam, “Nggak! Lu tetap di sini sampai sembuh. Nggak lu, nggak Stevan sama aja keras kepala
minta keluar melulu.”
Bams cengengesan saja, “Kacau balau sekarang, banyak yang harus dibereskan, kalau nggak reputasi Weini bisa hancur.”
Dina menatap Bams penuh selidik, “ Jangan-jangan lu nggak tahu ya? Gue rasa non Weini udah nggak pusingin karier keartisannya. Lu nggak tahu dia udah kembali dengan wajah yang seratus persen berubah?”
Bams ternganga, “Hah? Dia udah balik? Wajahnya kenapa? Tambah hancur?” Kaget Bams.
“Tambah cantik banget iya, gue rasa dia udah nggak peduli profesinya. Dia sekarang udah balik ke Hongkong, yang tersisa buat kita... ah, buat gue tepatnya, gimana caranya membungkam pers? Gue harus ngomong apa coba? Bilang kalau wajah artis gue berubah total sekarang? Bilang dia mundur dari dunia keartisan?” Keluh Dina, itulah sebabnya ia muncul saat ini.
Bams tampak serius berpikir, “Gue tahu sih latar belakang dia, udah sempat dibahas waktu itu. Tapi kalau soal dia kembali dengan wajah berbeda, gue juga nggak yakin harus gimana baiknya. Orangnya juga nggak ada di sini, kecuali Weini ikut menampilkan wajah barunya.” Ujar Bams ikut pusing.
“Non Weini lagi mentingin urusan keluarganya, nggak mungkin dia mau urus soal beginian. Tapi kita nggak bisa biarin media bikin gosip melebar ke mana-mana, gue nggak tahan lagi dengar berita tiap kali buka TV, non Weini mulu yang dibahas kayak nggak ada berita lain aja.” Kesal Dina.
Bams manggung-manggut setuju dengan pendapat Dina, “Lu udah coba tanya bos Xiao Jun?”
Dina menggeleng, “Belum, gue takut ganggu mereka. Tapi gue udah bilang ama paman Lau.”
“Ya sama saja sih, paman Lau pasti nyampein ke dia.” Jawab Bams mulai lega.
Dina melirik Bams penuh antusias, senyumnya pun ikut mengembang, tampaknya ia sudah mendapatkan ide brilian. “Kak Bams, sepertinya gue butuh bantuan lu. He he he....”
Senyum licik Dina itu membuat Bams takut, entah apa yang direncanakan Dina sekarang.
***
Bersambung besok
ya....