OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 300 DUNIA WANITA YANG MEMBINGUNGKAN PRIA



 “Yang benar saja, kakakmu ke Jakarta dan mau ketemu aku? Kamu nggak lagi prank aku kan?” Weini masih ragu dengan ajakan Xiao Jun, ia takut alasan itu hanya modus. Biasanya makan malam mereka hanya di tempat privat yang mengambang di udara, namun kali ini Xiao Jun mengaku sudah melobby rooftop sebuah restoran mahal di bilangan selatan ibukota. Suasana makan malam  mereka kali ini bernuansa beda dari sebelumnya, Weini tak sabar membuktikan kata-kata Xiao Jun.


Xiao Jun tersenyum dan menoleh sekilas pada Weini, ia menyentil ujung hidung bangir Weini dengan gemas. “Lihat saja nanti.” Ujar Xiao Jun dengan lembut.


Weini menyembunyikan senyum malunya dengan memalingkan wajah dan pura-pura sibuk memperhatikan ke arah jalan. Mereka menikmati suasana canggung dan diam itu hingga sampai ke tempat yang dijanjikan dengan Li An.


Di sana Li An sudah menunggu beberapa menit, Lau yang mengantarnya kemari lalu meninggalkan gadis itu menunggu sendiri. Bisa dikatakan bahwa ajakan makan malam ini adalah ide Li An, ia datang lebih awal untuk memastikan segalanya sesuai dengan harapan. Mulai dari menu makanan, dekorasi meja mereka dan di sekitarnya yang bertaburkan cahaya lilin. Segalanya disetting sedemikan rupa, dan hanya mereka bertiga yang bisa mengakses tempat ini sampai mereka meninggalkannya.


Weini berjalan bergandengan dengan Xiao Jun yang menggiringnya menuju lokasi Li An. Samar-samar Weini melihat sosok seorang wanita, meskipun hanya punggungnya serta rambut panjang hitam yang tergerai. Kehadiran


mereka disadari oleh wanita itu, dia berdiri lalu membalikkan badan menyambut Weini dengan senyuman manis. Weini terkesima, wanita yang diakui Xiao Jun sebagai kakak itu benar-benar memiliki kecantikan yang memukau. Wajahnya sangat kentara dengan pesona cantik wanita Asia, berkulit putih mulus nyaris tanpa setitik tahi lalatpun di wajahnya.


“Kalian sudah datang, ini pasti Weini ya?” Li An menatap Weini dengan biar bahagia. Setelah mendapati anggukan dari Weini, Li An langsung menarik tangan Weini hingga terpisah dari Xiao Jun. Weini digiring menuju kursi di sebelah kursi yang tadi diduduki Li An, dua gadis itu seolah ingin membentuk dunia mereka sendiri.


“Kamu ternyata lebih cantik dari yang diceritakan Jun.” Li An memuji dengan tulus, ia menatap lembut pada Weini kemudian beralih sejenak menatap Xiao Jun dengan lirikan cuek. Xiao Jun menunjukkan foto Weini yang didapat dari internet, waktu itu Li An memang memuji bahwa Weini memang cantik namun ternyata ketika bertemu langsung dengan orangnya, Weini bahkan lebih cantik daripada di foto.


“Terima kasih ….” Weini terdiam bingung, dahinya mengernyit kemudian menatap Xiao Jun.


“Bagaimana aku harus memanggilmu kak?” Weini lanjut bertanya, ia agak canggung karena kakak Xiao Jun lebih dulu mengakrabkan diri dengannya, sudah tahu namanya namun ia belum dibekali cerita tentang wanita itu dari Xiao Jun. Pria itu hanya bilang nanti langsung saja kenalan di lokasi. Dan inilah yang terjadi, Weini dikenali namun tak mengenali lawan bicaranya.


Li An tertawa kecil, ia baru sadar saking girangnya sampai lupa memperkenalkan diri. Pantas saja Weini sedikit canggung terhadapnya. “ Ah, ha ha ha … Maaf, aku terpesona sampai lupa kenalan. Panggil saja aku cece An, oke Cantik?”


Weini tersipu, ia begitu mudahnya mendapat panggilan akrab dari kakak Xiao Jun. Saudara Xiao Jun bisa menerimanya dengan baik, namun mengapa orangtua mereka belum mau membuka hati untuknya. Weini sangat


menyayangkan semua itu, andai ia diterima semudah ini oleh orangtua Xiao Jun, tentu saja tidak akan ada pihak ketiga yang terluka.


“Baik cece An, senang mengenalmu.” Weini mengangguk sopan.


Beberapa waitress menyunguhkan makan malam mereka dan membuat percakapan terjeda.


“Mari makan.” Xiao Jun membuka acara makan itu dengan segera, ia sudah merasa lapar sejak di perjalanan. Untung saja kakaknya bisa diajak kerjasama, mereka makan dengan tenang setidaknya hingga di pertengahan.


Li An terpaku menatap kalung yang dikenakan Weini, awalnya perhiasan itu tidak mencolok lantaran tertutup rambut. Ketika Weini mengikat rambut yang tergerai itu, kalung berlian itu mencuri perhatian Li An. “Eh, kalung itu beneran cocok denganmu. Pilihanku memang tepat, makasih ya kamu memakainya.” Ungkap Li An, senyumnya mengembang hingga menyipitkan matanya.


Weini berhenti menyendokkan sup ketika mendengar komentar Li An yang menyoroti kalungnya. Ia baru teringat Xiao Jun mengatakan bahwa hadiah itu dari kakaknya, dan ternyata benar. “Makasih cece, selera kita mungkin sama, aku suka kalung ini.”


Dalam hati Li An terus mengagumi Weini, meskipun wajah aslinya tertutup topeng namun pancaran kecantikan dari dalam tidak tertutupi. Weini punya aura yang begitu bersinar, membuat siapa saja yang melihatnya merasakan kehangatan dan tak sanggup membencinya. Sangat disayangkan mengapa jutru ayah kandungnya yang tak bisa merasakan keistimewaan putrinya itu. Li An mengenal semua saudara Weini, ia bisa menilai sifat mereka dan membandingkannya dengan Weini. Putri bungsu klan Li itu lebih dewasa ketimbang ke-empat kakaknya. Weini punya sifat yang lembut sekaligus tegas, ia tidak mudah ditindas dan tidak akan menindas orang seperti yang dilakukan kakaknya.


“Weini, kenapa kamu bisa suka sama Jun?” Tanya Li An iseng.


Mendengar pertanyaan itu membuat Xiao Jun tersedak, pria itu terbatuk dan segera mengambil minumannya. Weini mengulum senyum melihat reaksi Xiao Jun yang begitu terkejut. Ia kemudian menatap Li An sembari mengutarakan jawaban.


“Dia menyebalkan, tapi aku tidak punya alasan mengapa menyukainya kak. Aku sungguh tidak tahu apa yang kusukai darinya.” Ujar Weini dengan santai, namun berhasil mendebarkan jantung Xiao Jun yang mendengar


langsung penilaian Weini tentang dirinya.


Li An tertawa seraya mengangguk, “Berarti kalian benar-benar cinta, nggak perlu banyak alasan untuk saling suka. Yang penting nyaman dan merasa saling tergantung saja, pasti awet.”


Weini tersenyum tipis, ia menoleh pada Xiao Jun yang terus menatapnya dengan lekat. Pria itu menyebutkan dua kata tanpa suara, Weini bisa membaca apa yang diucapkan Xiao Jun lewat lekuk bibirnya. Pria itu berkata


terima kasih padanya.


“Oya, bulan depan aku akan menggelar pesta pernikahan di Beijing. Datang ya bersama Jun, aku pasti senang banget melihat kamu di sana.” Pinta Li An, ia meraih jemari Weini saking memohonnya.


“Aku tidak janji kak, tapi kalau pas libur syuting pasti aku ke sana.” Ungkap Weini, ia merasa terharu diundang hadir dalam pesta itu. Bukankah di sana ia akan bertemu orangtua Xiao Jun? Weini mulai gusar, bukankah seharusnya Xiao Jun menggandeng Grace ke sana? Bagaimanapun gadis itu masih tunangan yang diakui keluarganya, sedangkan Weini hanyalah seorang penganggu. Menampakkan diri dalam acara yang begitu penting dan melibatkan keluarga Xiao Jun hanya akan menambah masalah. Ia tidak ingin menjadi orang yang tidak diharapkan, tak ingin berada dalam lingkungan yang tak menerimanya.


Li An manyun, “Oh, iya ya kamu kan artis pasti sibuk syuting. Hmm, semoga pas waktumu libur ya. Tapi kalau nggak bisa apa boleh buat, yang penting kalian baik-baik terus ya. Kalau Jun bikin kamu nangis, nyakitin kamu, telpon saja aku. Lihat saja pasti kujitak dia!”


Xiao Jun langsung menatap kakaknya dengan sewot, sudah sebesar ini namun Li An masih hobi menjitaknya. Kharisma Xiao Jun akan turun drastis jika dijitak di hadapan gadis kecintaannya. “Kakak … Bisakah kita makan dengan tenang?” Gerutu Xiao Jun, ia benar-benar memprihatikan lantaran tersisihkan ketika dua wanita sibuk dengan dunia mereka.


***


Ketika satu pihak merayakan kebahagiaan, adapula pihak yang merasa dikorbankan. Pihak yang meratapi kesedihan dan kesendirian yang entah sampai kapan. Grace berkali-kali menggusur tubuhnya di atas ranjang,


ia tak kunjung tertidur. Banyak pikiran yang berseliweran dalam benak, hari ini mungkin bisa disebut hari sial baginya. Sepanjang hari ia banyak menangis sampai sekarang, namun ketika pikirannya beralih pada Stevan, dalam sekejab keruwetan di otaknya seperti benang kusut yang bisa diluruskan.


Grace menatap langit-langit kamarnya, di sana wajah Stevan terbayangkan. Terngiang kembali kejadian barusan, saat ia tak sengaja mendaratkan wajah pada sebidang dada kokohnya. Terngiang suara Stevan yang masih menggema di telinganya, mengapa semua itu membuatnya sedikit nyaman? Di saat bersamaan, sebuah pesan masuk dari Stevan membuat senyum Grace makin lebar, walaupun hanya ucapan singkat yang ia dapatkan.


“Selamat malam.”