OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 470



Setelah perbincangan hangat bertiga, Haris dan Stevan melanjutkan obrolan mereka di luar. Dina lebih memilih kembali ke kamarnya, ada hal yang jauh lebih penting dan tidak bisa ditunda lagi. Sepanjang hari ia kesulitan berkomunikasi dengan Ming Ming, pesannya saja sangat lama baru mendapat balasan, dan setiap kali dering ponsel berbunyi, semangat Dina bertambah dua kali lipat. Namun saat melihat bukan dari Ming Ming yang menghubungi, semangat yang sudah membuncah itu pada seketika berganti kecewa.


“Huft... apa sesibuk itu jadi seorang pengawal? Sampai nggak bisa pegang hape?” Gerutu Dina beberapa kali meniup napasnya hingga rambutnya tertiup.


Beberapa hari terus bersama Ming Ming membuat Dina merasa ketagihan menghabiskan waktu bersama pria


itu. Rasanya ada yang kurang ketika dia jauh, apalagi pikiran Dina yang bawaannya curigaan melulu, semakin membuat Dina tersiksa padahal belum tentu juga apa yang ia pikirkan benar.


“Apa aku nyusul ke Beijing aja ya? Tapi... tabunganku ntar menipis dong, kecuali dapat endorse lagi dari bos Xiao Jun.” gumam Dina, otak perhitungan dan anti ruginya mulai difungsikan lagi.


“Tidak tidak... mana mungkin seorang Dina ngejar cowok? Kalau dia emang serius sama aku, ya biar dia aja yang berkorban banyak. Aku kan harus punya sikap, hmmm....” Sok jual mahalnya pun keluar, Dina baru tahu rasanya ketiban cinta itu komplit banget. Pantas saja terkadang Weini yang segitu kuatnya pun dibuat menangis oleh Xiao


Jun, semua itu karena saking cintanya. Semakin cinta, semakin besar pula rasa takut dan rasa sakitnya.


Acara bincang bincang sendiri itu terbuyarkan saat Dina mendengar bunyi pintu kamarya diketuk dari luar. Ia spontan menoleh ke sumber suara, penasaran siapa yang datang semalam ini. “Siapa ya?” Tanya Dina, sedetik kemudian dia menyadari kebodohannya. Berteriak dalam bahasa Indonesia di tempat ini, apa pelayan di sini mengerti?


***


“Kita pulang besok saja ya? Kamu belum periksa kandunganmu loh, aku ingin memastikan kesehatan kamu dan calon anak kita baik baik saja.” Wen Ting kembali membujuk Li An agar mereka pulang dulu ke rumahnya.


Li An tetap bersikukuh dengan pendapatnya, ia belum ikhlas meninggalkan keluarganya, apalagi Xin Er akan kembali menetap di sini bersama Haris. “Nanti dulu ya, aku masih pengen sama orang tuaku. Aku nggak apa apa kok, kamu lihat sendiri kan aku kuat. Aku nggak mual, nggak pusing, mungkin anak kita mengerti kalau kita lagi sibuk.” Ada saja alasan Li An untuk melunakkan hati suaminya.


Wen Ting geleng geleng kepala, antara tega dan tak tega memaksa istrinya. “Tapi kak Li Mei sudah mau pulang loh, dia sudah cukup lama pergi. Kasihan suaminya terlalu lama ditinggal.” Wen Ting mencari alibi lagi, tidak mau kalah namun perlu cara halus untuk meyakinkan Li An.


“Ya tingal kamu minta anak buahmu buat anterin pulang. Jetmu kan masih terparkir di sini.” Dan Li An dengan enteng mematahkan alibi Wen Ting. Pria itu sampai menghela napas lantaran mulai menyerah menghadapi keras kepalanya Li An.


“Ya sudahlah, begini saja... besok kita periksa di rumah sakit terbaik di sini. Aku ingin mengontrol kehamilanmu secepatnya, kalau benar semua aman aman saja, aku tidak akan melarang kamu tinggal di sini sampai pemakaman selesai.” Ujar Wen Ting mencoba negosiasi baru.


Li An tampak berpikir tak lama kemudian ia pun mengangguk setuju. “Baiklah, begitu lebih baik daripada menyuruhku pulang. He he... maaf ya, suamiku... entah kenapa aku merasa nyaman aja dekat dengan ayah dan ibuku, mungkin ini bawaan bayi kita.”


“Ya sudahlah, yang penting kamu senang dan calon anak kita sehat.” Ucap Wen Ting yang pasrah kalah telak, ia tak akan protes lagi jika semua yang diinginkan Li An menyangkut tentang calon buah hatinya.


“Makasih ya, suamiku. Kamu memang suami yang paling baik sedunia.” Li An girang lalu memeluk erat suaminya.


***


“Nona? Kok datang malam malam....” Dina tersentak kaget saat membukakan pintu, orang yang mengetuk pintunya yang ia kira pelayan ternyata adalah tuan rumah yang sesungguhnya dari tempat ini. Ia belum siap menyambut kedatangan Weini, walaupun senang karena bisa berduaan dengan nonanya.


Weini tersenyum manis, ia tak menyangka reaksi Dina saat melihatnya justru seperti orang yang ketakutan melihat penampakan. “Apa aku mengganggumu kak?” Tanya Weini sopan.


Dina buru buru menggelengkan kepalanya, “Nggak kok... nggak... mana mungkin aku merasa terganggu. Justru kehormatan banget nona nyariin aku sampai ke sini. Tapi... kamarku agak berantakan he he... sebentar ya nona, aku rapikan dulu.” Dina langsung berlari ke dalam dan memunguti tisu yang berserakan di lantai, korban kekesalannya yang ia tarik, remas remas lalu buang sembarangan.


Weini berjalan masuk tanpa sepengetahuan Dina yang terlalu fokus bersih bersih, ia pun menutup kembali pintu dan menguncinya dari dalam. Melihat tingkah Dina yang kocak itu membuat Weini terkenang masa masa di saat Dina sering menginap di rumah lamanya. Kesetiaan Dina memang sudah tidak diragukan, hanya dia satu satunya


yang bertahan menemani Weini berjuang dari nol. Manager sekaligus teman yang tidak pernah berpaling hati, seperti Sisi yang jadi teman palsu Weini. Memiliki satu sahabat seperti Dina saja sangat berharga bagi Weini, dan ia tak ingin melepaskan orang sebaik Dina di sisinya.


“Kak, sudahlah biarkan saja. Besok pelayan akan membersihkannya, kamu tidak usah repot seperti itu.” Seru Weini yang berusaha menghentikan aksi bersih bersih Dina, setelah memunguti tisu hasil keisengannya, Dina beralih merapikan selimut yang berantakan dan melipatnya.


“Loh, nona udah masuk aja? Aduh... aku nggak enak banget ketahuan joroknya, padahal biasnaya aku nggak kayak gitu non, sumpah dah.” Celetuk Dina.


Weini tertawa kecil, sikap blak blakan Dina memang lucu dan unik. “Iya kak, aku percaya kok. Sudahlah, duduk di sini yuk kita ngobrol.” Ajak Weini yang sudah mengambil posisi di kursi yang masih hangat bekas diduduki Dina tadi.


Dina menghentikan pekerjaan membabunya, ia tersenyum girang lalu berjalan menghampiri Weini. Saat duduk di dekat Weini, tatapan Dina lekat bahkan tidak berkedip menatapnya. Semakin dilihat, wajah Weini semakin bikin ketagihan saking cantiknya.


“Non, kalau lagi rame rame kayak tadi rasanya kayak nggak kenal kamu. Hmm... aku segan banget mau dekatin, tapi kalau udah dekat kayak gini, rasanya nggak bisa menahan diri. Maaf ya non kalau aku lancang, jangan dihukum mati ya.” Kilah Dina yang sadar diri kalau ia sedikit lancang cara bicaranya dengan Weini yang sekarang.