OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 342 PERMAINAN YANG TERLANJUR MEMANAS



Lau kembali menginjakkan kaki di kediaman Li, tentu saja tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada sang tuan besar. Pengawal setia Xiao Jun itu tercengang begitu melihat dan merasakan suasana yang sangat aneh sejak


ia memasuki pelataran menuju aula utama. Terdapat banyak dekorasi bernuansa merah yang menghiasi sepanjang tempat yang dilalui Lau. Sepengalaman Lau sebagai pengawal senior di sini, dekorasi semacam itu hanya dibuat ketika salah satu penghuni rumah ini akan menggelar pernikahan. Tapi siapa yang akan menikah dalam waktu dekat tanpa setahu Xiao Jun? Tak biasanya tuan Li membiarkan Xiao Jun luput dari acara penting itu, meskipun belum tentu datang namun setidaknya pasti ada pemberitahuan kepadanya. Dan anehnya, tuan Li memang dicurigai


menghilang oleh Xiao Jun hingga mengutus Lau kemari menyelidiki, apa masuk akal jika ternyata tuan besar itu diam-diam merencanakan pernikahan.


“Hormat pada pengawal Lau, anda mendadak kembali?” Sapa seorang pelayan wanita paruh baya yang membawa sekeranjang gantungan untuk menghias ruangan. Ia membungkuk hormat pada Lau saat berpapasan.


Lau tersenyum senang, akhirnya bertemu seseorang untuk mencari tahu. “Adik, apa yang terjadi di sini? Mengapa sepi penjagaan dan siapa yang akan menikah?”


Pelayan wanita itu menunduk dalam, menyembunyikan raut tegangnya. “Saya tidak berani banyak bicara, kami semua berada dalam pengawasan. Maafkan aku pengawal Lau.” Pelayan itu ketakutan dan segera berjalan meninggalkan Lau yang berdiri semakin kebingungan.


“Pengawasan tuan Chen Kho kah maksudnya?” Lau mengernyit heran kemudian melanjutkan berjalan menuju aula utama. Cepat atau lambat ia akan menemukan jawabannya sendiri.


Betapa terkejutnya Lau saat masuk ke aula utama, tampak banyak pelayan yang sibuk mendekorasi serta menggantung simbol 囍Shuangxi yang menandakan akan digelar ritual pernikahan di sana. Lebih terkejut lagi ketika


mendapati yang duduk di singgasana yang biasanya Li San tempati, kini diambil alih oleh Chen Kho. Keponakan tuan besar Li itu menatap tajam kemudian tertawa keras sebagai sambutan kedatangan Lau.


“Ha ha ha … Kau datang di saat yang tepat. Di mana tuanmu? Bukankah kalian pulang untuk menghadiri pernikahan Yue Xin?” Sindir Chen Kho yang tahu rasa penasaran Lau dan langsung memberi penjelasan pada pria


kepercayaan Xiao Jun itu.


“Hormat pada tuan Chen Kho. Apa yang anda katakan barusan? Nona kedua akan menikah? Lalu kenapa anda lancang menduduki kursi tuan besar? Di mana tuan Li?” Tanya Lau dengan nada tegas.


Chen Kho kembali tertawa, “Ayolah pak tua, kau terlalu serius. Baru saja sampai lalu hendak adu urat denganku? Aku tahu, pasti tuanmu mengirimmu kemari untuk menyelidikiku. Ha ha ha … Aku bisa bersikap kooperatif, jadi santailah sedikit.” Ujar Chen Kho yang terkesan mengejek Lau. Dengan isyarat dua kali tepukan, Chen Kho menstrerilkan ruangan dari pelayannya. Tinggallah ia dan Lau yang saling beradu pandang sengit sesaat.


“Jika anda sudah tahu maksud kedatanganku, baiklah aku tidak akan basa basi. Sebagai keponakan tuan besar, anda tetap tidak punya hak duduk di atas sana. Tindakan anda ini akan dianggap pelanggaran dan tuan besar pasti akan menghukum berat anda, tak peduli status anda adalah keponakannya sekalipun.” Kecam Lau tegas.


Chen Kho merasa ancaman Lau hanya lelucon belaka, ia tertawa sejenak sebelum mengeluarkan senjatanya. “Luar biasa, kualitas seorang pengawal senior memang tidak diragukan. Artinya kau juga pasti tahu apa artinya jika aku memiliki benda ini.” Chen Kho menunjukkan lencana milik Li San yang langsung membuat Lau gentar hingga tak sadar mundur satu langkah. Benda itu tak seharusnya ada di tangan Chen Kho, benda yang menjadi simbol pemegang kekuasaan tertinggi di klan Li ketika seseorang memilikinya.


“Kau! Beraninya kau merebut milik tuan besar! Apa yang kau lakukan padanya?” Ujar Lau dengan lantang.


Giliran Lau yang tertawa mendengar kekonyolan itu, untuk manusia tidak tahu malu seperti hen Kho rasanya tidak ada perkataan yang bisa dipercaya darinya. “Jangan bermimpi tuan! Pewaris klan Li sejak dulu sudah ditentukan diserahkan pada tuan Li Xiao Jun. Seluruh negri tahu itu. Anda dan siapapun tidak berhak memiliki lencana itu.” Pekik Lau lantang. Ia tak peduli jika terpaksa melanggar perintah Xiao Jun untuk tidak mencari masalah, nyatanya


masalah sudah di depan mata mencarinya.


"Sudah cukup bicaramu, budak!” Ujar Kao Jing lantang.


Lau yang tak awas diri pun lalai hingga tersungkur lantaran menerima serangan dari belakang. Pengawal andalan Kao Jing yang dengan keji melumpuhkan Lau, hingga sebuah benda tajam nyaris menghunus dada Lau yang


belum mengendalikan kekuatan untuk melawan. Sebuah teriakan dari Chen Kho menghentikan tindak pembunuhan yang hampir saja menodai ruangan yang akan digunakan untuk ritual sakral pernikahan.


Kao Jing menatap heran pada putranya, “Kenapa kau membelanya? Untuk apa membiarkan seorang pengacau kecil terus hidup.” Kesal kao Jing yang masih tak mengerti jalan pikiran Chen Kho. Ia menatap putranya turun


dari singgasana dengan seringai yang menakutkan, dan terkadang Kao Jing pun merasa gentar melihat raut wajah lain anaknya itu.


“Mati itu terlalu mulia untuk sampah seperti dia. Orang sekelas dia hanya pantas merasakan mati segan hiduppun tak sanggup.” Chen Kho menunduk demi mendekati Lau yang telah dibekukan oleh pengawal Kao Jing. Kedua tangan Lau diborgol dari belakang dan dipaksa berlutut di hadapan Chen Kho.


Tuan Xiao Jun, maafkan aku tidak berhasil menjalankan perintahmu. Batin Lau sedih, ia sudah sering lolos dari kematian namun kali ini ia tak menjamin keberuntungan akan menghampirinya. “Bunuh saja aku, aku tak sudi hidup dalam kendalimu.” Teriak Lau.


Lagi-lagi Chen Kho hanya tertawa, lalu dengan ujung pisau ia mengangkat dagu Lau. “Bagaimana aku bisa membunuhmu setelah kau mulai berguna untukku. Kau baru saja mengingatkan hal penting yang tak kupikirkan. Benar juga, seluruh negri ini akan mengamuk jika tahu aku yang menjadi penguasa baru.Tapi jika tuanmu … Ah, anak pungut itu yang menyatakan mundur dari ahli waris, tentu tidak akan menuai kecaman publik. Kau tua Bangka yang pintar juga, pantas saja jadi kesayangan tuanmu.”


Kao Jing manggut-manggut mendengar alasan Chen Kho yang masuk akal itu. Sekarang ia sepaham dengan Chen Kho. “Lalu mau kau apakan dia?”


Chen Kho tersenyum culas sekarang, ia meronggoh sesuatu dari balik saku bajunya. “Dia adalah umpan yang berharga, ayah. Dan kau bisa lihat seberapa sayang tuanmu pada nyawamu. Apa dia bersedia menolongmu


jika sudah begini?” Kecam Chen Kho yang kemudian dengan sadis menusukkan jarum akupuntur yang ujungnya telah dilumuri racun ke leher Lau.


Seketika itu Lau menggeram kesakitan, teriakannya memekakkan setiap pasang telinga yang ada dalam ruangan itu. Chen Kho menatapnya dengan ekspresi datar, permainan sudah terlanjur dimulai dan telah memanas. Hanya ada dua kemungkinan sebagai hasil akhir, keluar sebagai pemenang atau keluar sebagai pecundang.


***