OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 251 PESAN YANG MEMBUATMU KEMBALI TERSENYUM



Dina berdiri berkacak pinggang di depan TV LED yang sedang menayangkan berita infotainment hari ini. Ia tertawa paling kencang saat mendengar gosip paling panas hari ini yang orangnya sedang duduk menonton. “Ha ha ha … Kuping lu nggak panas, Stev? Kayaknya cuman lu deh aktor yang obral gosip dirinya ke wartawan.” Dina kembali terbahak, saking kencangnya sampai ia memejamkan mata dengan mulut ternganga lebar.


Stevan datang ke rumah Weini sekedar untuk mengisi waktu luang, daripada hanya berdiam sendiri di apartemen, ia memilih ke markas kumpulnya – rumah Weini, setelah janjian dengan Dina. Tak ia sangka, kedatangannya kemari hanya jadi bahan olokan Dina. Diraihnya remote TV dan dengan kesal disumpal ke mulut Dina. “Brisik lu.”


“Brengsek lu! Salah gue apa coba? Ketawa doang nggak bikin dosa kali.” Dina beranjak dari duduk sembari nyinyir pada Stevan. Ia hendak menuju kamar Weini untuk mengambil selembar tisu basah, membersihkan remote dari kontaminasi mulutnya.


Weini yang sedari tadi diam menyimak mereka dan tayangan TV pun mengulum senyuman. Ia sadar Stevan menyadarinya namun pria itu justru ikutan tersenyum, sangat kontras dengan apa yang ia lakukan pada Dina.


“Bisa bikin lu terhibur juga tuh berita sampah.” Ujar Stevan seraya ikut tertawa, andai Dina melihat itu dijamin ia ikutan geger dan semakin membully.


“Jangan ikutan ketawa, nanti dilihat Kak Dina.” Weini memberi isyarat agar Stevan segera berhenti tertawa.


Baru saja disinggung, manager itu datang lagi membawa remote yang sudah dibersihkan. Ia sewot menatap keakraban dua rekannya yang entah sedang menertawakan apa. “Lagi ketawain gue?” Tanya Dina tidak senang.


“Ge Er banget sih, lu nggak ada lucu-lucunya yang ada ngeselin.” Ujar Stevan asal bunyi.


Dina melotot pada Stevan sesaat, lalu nimbrung kembali di tengah sofa sebagai pemisah antara Stevan dan Weini. Meskipun Stevan sudah menyatakan telah menakhlukkan perasaannya ke Weini dan sekarang hanya


menyayanginya sebatas adik, tetapi Dina tidak bisa mempercayainya seratus persen. Segalanya tentang perasaan bisa saja berubah jika selalu dicekoki perhatian dan pertemuan intens. Apalagi di tengah hati yang terluka, Dina takut Weini goyah dan berpaling dari tuan muda kesayangan Dina.


“Ehem … Dari tadi kita nonton tapi beneran nggak ada yang nayangin berita tentang non Weini. Syukurlah, Xiao Jun ternyata masih bisa diandalkan.” Gumam Dina, tujuan mereka menonton berita memang untuk memastikan


apakah kehebohan kemarin akan jadi santapan publik hari ini. Benar saja, hingga tayangan infotainment ini berakhir pun tidak ada satupun berita tentang Weini. Mereka sudah menghabiskan waktu di depan TV selama hampir tiga jam untuk mengecek di beberapa saluran televisi yang menayangkan infotainment pada jam tersebut.


Weini tersenyum tipis, teringat lagi keberanian Xiao Jun yang tak diduga. Sembari memeluk Weini, pria itu dengan lantang mengancam para pers yang sibuk memotret mereka dari berbagai sisi.Gertakan Xiao Jun ternyata sangat mempan memperingatkan para pencari berita itu. Setelah dikenang kembali, momen kemarin berlalu terlalu cepat rasanya. Weini bahkan masih merasakan kehangatan pelukan itu sekarang.


“Tapi kenapa mereka nggak takut sama gertakan gue? Lah gue kan juga ngancam kalau mereka tayangin bakal gue tuntut.” Protes Stevan, ia masih kesal dengan berita yang menyudutkannya gara-gara omongan asal bunyinya itu.


Dina kembali tergoda untuk tertawa, “Emang lu ada bilang gitu? Perasaan lu langsung kabur ke dalam mobil. Lagian mana mungkin mereka gubris ancaman lu, sadar dong lu tuh siapa dan mereka siapa? Kerjaan lu memang


resikonya urusan ama media, jadi kalian berdua memang santapan lezat mereka. Beda ama Xiao Jun, dia punya kekuatan dan kuasa dan dia bukan dari kalangan selebriti. Jadi dia berhak untuk tidak diekspos, kalau ada yang nekad ya siap-siap aja kena tuntut. Coba kalau lu yang nuntut, paling lu dibilang cari sensasi.”


“Masuk akal.” Gumam Weini singkat, pandangannya masih lekat pada acara TV yang sekarang menayangkan FTV.


Stevan merenggangkan otot lalu menguap lebar, “Hidup nggak pernah sesantai ini. Anehnya lagi kenapa gue kejebak di sini ya? Kenapa nggak kepikir hang out kemana gitu, keluar negri sesekali. Eh, gimana kalau kita liburan keluar negri, terserah mau kemana mumpung lagi sepi job.” Stevan penuh antusias mencoba mengompori dua gadis itu.


Dina berjingkrak dari tempat duduknya, ia begitu mudah diimingi dan kini ikutan membujuk Weini. “Yuk, non sekalian ajak om Haris. Biar refreshing barengan gitu kan seru.”


Ucapan Dina itu justru menarik perhatian Weini, namun ia salah fokus pada panggilan Dina kepada Haris. “Lho? Kak Dina batal jadi anak angkat ayah Haris? Kok manggil om lagi?” Tanya Weini penasaran, pertanyaan yang sekaligus mewakilkan Stevan yang juga ingin tahu.


Pemikiran sempit Dina berujung pada jitakan di kepalanya, Stevan dengan tega kembali menyiksa manager itu di hadapan Weini. “Dasar perhitungan! Lu kira ayah Haris bakal minta setoran ama kita hanya karena dianggap anak? Weini aja gue rasa nggak pernah ditodong ama ayah.” Gerutu Stevan.


Dina memijat bekas jitakan yang sebenarnya tidak seberapa sakit itu, yang lebih sakit justru hatinya lantaran Stevan kerap mengusilinya. “Lu nggak bisa dengar candaan apa? Gue cuman nggak terbiasa manggil ayah, udah kebiasaan sekali ceplos langsung panggil om. Ya udah sih, toh om juga anggap kita anak-anaknya.”


Saat hendak menyahut Dina lagi, ponsel Stevan mengalihkan perhatian. Sebuah panggilan masuk dari managernya, Stevan menatap Weini sekilas kemudian menerima panggilan itu. Weini dengan sigap mengecilkan suara TV agar tidak mengganggu. Stevan tak banyak bicara, namun ketika bersuara justru sangat lantang dan mengejutkan pendengarnya.


“Ogah! Gue nggak sudi ngambil job gitu, paling cuman modus trus bakal mancing info dengan pertanyaan sampah. Tolak aja, ogah gue.” Stevan mendengus kesal.


Dina tersenyum, matanya mengerling ke arah Weini. Ia tahu job apa yang tengah ditolak Stevan. “Stev mau kok ke sana, terima aja Mas!” Pekik Dina menyabotase ponsel. Saat Stevan hendak merebut kembali, Dina lebih gesit menghindarinya.


“Oke, gue pastikan dia berangkat habis ini.” Timpal Dina dengan sangat meyakinkan, setelah itu ia menyudahi panggilan dan mengembalikan pada pemiliknya.


Stevan nanar menatap Dina, ia mengelap layar ponselnya yang berminyak karena menempeli wajah Dina. “Sok banget lu campurin urusan gue.”


“Ambil aja jobnya, cuman talk show biasa kok. Lu harusnya bersyukur gara-gara kekonyolan lu kemarin, sekarang lu bakal kebanjiran job.” Celetuk Dina tanpa merasa bersalah pada aktor itu.


“Gue nggak demen konten sampah.” Tolak Stevan tegas.


Weini ikut bersuara, sepertinya ia tahu bahwa job itu tidak seburuk bayangan Stevan. “Sampah nggaknya tergantung kita juga. Ingat aja prinsip media, mereka berhak bertanya dan kita berhak diam. Pergi ajak kak,


jangan nolak rejeki.”


Dan hanya Weini yang bisa meyakinkan Stevan untuk pergi. Selepas aktor itu berangkat menemui managernya, rumah Weini kembali sepi. Meskipun ada Dina, tetapi ia sudah ketiduran di sofa. Weini tak kuasa menggugahnya, ia


kembali ke kamar untuk mengecek sesuatu yang sejak pagi belum disentuhnya. Satu-satunya alat komunikasi itu memang sering diabaikan, terlepas dari ada dan tidaknya syuting, Weini tetap jarang memegang ponsel.


Weini mengernyit saat mendapati notifikasi pesan dari Xiao Jun yang tertumpuk hingga agak bawah. Sekilas dari luar pesan dari pria itu menggunakan bahasa Mandarin, Weini bukan tak mengerti namun bingung membaca sepenggal kata dari luar chat. Ia merasa berdebar hanya untuk mengeklik chat itu. Didekapnya ponsel itu sembari berpikir, apa ia siap membaca lanjutannya? Xiao Jun sepertinya tengah menyindirnya. Setelah bernegosiasi


sekian detik dengan hatinya, Weini tak berhenti berpikir dan memencet chat itu hingga terbuka. Matanya menyipit saat membaca namun sesaat kemudian terbitlah senyuman di wajahnya.


Sebuah pesan dari Xiao Jun yang Weini jelas ketahui dikutip dari kata bijak Tiongkok kuno.


Chi cu shi yin wei xi huan, sheng qi shi yin wei zai hu, fa dai shi yin wei xiang nian, shang xin shi yin wei bu xiang shi qu.


Cemburu karena suka, marah karena peduli, termenung karena rindu, sedih karena tidak ingin kehilangan.


***