OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 481 STEVAN DAN GRACE



Grace dan Fang Fang agak kewalahan menggandeng Kao Jing duduk di kursi roda. Bukan karena pria tua itu tidak bisa berjalan, tapi tubuhnya yang masih lemah tidak memungkinkan ia mengeluarkan tenaga lebih untuk menuju halaman parkir jet yang letaknya sangat jauh dari tempat yang mereka tempati sekarang.


Stevan baru saja sampai di muka pintu membawa koper kecilnya, bersamaan dengan suara dua gadis yang agak ribut namun tidak dimengerti bahasanya oleh Stevan. Barulah saat ia melihat langsung, Stevan tahu apa yang sedang terjadi di sana. Spontan ia mengabaikan barang bawaannya lalu berlari masuk dan sigap membantu dua gadis itu.


"Biar aku saja." Ujar Stevan yang langsung menyerobot dan memapah Kao Jing menduduki kursi roda.


Kao Jing terkesiap, sejak tadi dua gadis itu meyakinkan dia untuk duduk di sana, tapi ia bersikeras menolak karena gengsi yang sangat tinggi dan merasa dirinya kuat untuk menggunakan sepasang kakinya. Belum juga selesai perdebatan, tiba-tiba pria muda itu datang tanpa permisi menodongnya duduk di sana. Kao Jing yang masih dalam suasana terkejut itu mendadak jadi penurut, dan terbengong melihat semangat Stevan yang puas setelah berhasil menjinakkannya.


Grace dan Fang Fang saling pandang, terpukau pada semangat Stevan yang tampaknya salah paham. Kini Kao Jing melotot menatapnya dari belakang, hingga Stevan merasa hangat di bagian punggungnya dan agak merinding.


"Hmm... udah beres, kalian sudah siap kan?" Tanya Stevan perhatian, masih dengan senyum lebarnya.


.


Grace dan Fang Fang masih kompak diam sehingga Stevan menyadari ada yang belum beres di sini.


"Ehem... udah kok, kami udah siap." Jawab Grace mencoba mencairkan suasana. Ia agak gelagapan berjalan mendekati Kao Jing yang duduk diam di atas kursi roda.


Fang Fang diam saja, ia mulai sibuk membereskan barang bawaan nona dan tuan besarnya, walaupun tak ada lagi yang perlu ia bereskan lagi. Hanya sekedar basa basi saja untuk mengusir kecanggungan.


"Kalian kenapa sih? apa aku ada salah?" Tanya Stevan yang mulai peka merasa adanya ketidak beresan di sini.


Grace sudah menatap Kao Jing dan pria tua itu mulai tersenyum meresponnya, Grace lega setidaknya kecemasannya tidak terbukti. Ayahnya tidak marah dengan perlakuan Stevan yang mengejutkan itu.


"Temanmu baik." Ujar Kao Jing mengomentari Stevan secara singkat.


Grace tersipu mendengar itu, ia bersyukur lantaran Kao Jing punya penilaian yang baik kepada pria yang ia cintai. "Iya, ayah." Jawab Grace singkat dan kini berdiri di belakang kursi roda Kao Jing.


Stevan mengerutkan dahinya, ia sedang bertanya tapi malah ditinggal bicara dalam bahasa yang tak ia mengerti. Saat itu pula Stevan berikrar bahwa ia harus belajar bahasa Mandarin agar tidak jadi pendengar bisu yang tidak tahu apa-apa.


"Ayahku bilang kamu baik." Ujar Grace tepat di saat Stevan masih melamun. Mendengar pujian itu membuat Stevan tersenyum lebar lagi, ia menatap ke arah Kao Jing yang sedang melihatnya pula.


"Xie Xie...." Ucap Stevan lantang. Hasil pembelajaran otodidak yang ia dapatkan selama beberapa hari di sini, ia sering mendengar pelayan atau pengawal mengucapkan kata itu sambil tersenyum. Ketika ia mencari tahu artinya dari internet, Stevan yakin itu sebuah ungkapan terima kasih. Dan ia sedang berterima kasih atas pujian calon mertuanya.


Grace terkesima, begitu pun Kao Jing yang langsung menarik seulas senyum saat mendengar kata-kata Stevan yang kaku logatnya. Fang Fang bahkan mencuri senyum dengan menutup mulutnya dengan tangan.


Stevan jadi serba salah, ia menatap Grace untuk mencari bantuan. "Apa aku salah ngomong? Bukan seperti itu kah caranya berterima kasih?" Tanya Stevan pada gadisnya.


"Dia membuat ayah teringat pada kakakmu. Dulu kakakmu sepolos ini...." Gumam Kao Jing sedih.


Grace langsung menenangkan ayahnya dengan memegang pelan pundak pria tua itu. Menyebut serta mengenang Chen Kho saat ini seperti membangkitkan luka lama mereka.


"Ayah, sudahlah... Kakak sudah tenang di sana. Kita harus hidup bahagia di sini supaya kakak juga ikut bahagia." Bujuk Grace, cara bicaranya yang pelan itu seperti memperlakukan ayahnya layaknya anak kecil.


Stevan ketakutan melihat raut wajah dua orang di hadapannya yang berubah sendu. Ia jadi salah paham dengan pikirannya, "Apa aku salah? Maaf... aku tidak akan ngomong sembarangan lagi." Ucap Stevan seraya menunduk penuh sesal.


Grace beralih menatap kekasihnya, baru ia rasakan tantangan komunikasi dua arah namun lain bahasa ini. Benar benar menguras tenaga, harus menjelaskan ke sana dan ke sini, belum lagi kalau salah satunya salah paham dan sensitif, Grace mulai mengeluh dalam hatinya.


"Bukan begitu, Stev. Tidak ada yang salah dengan kata-katamu. kamu mengucapkan dengan benar, ayah hanya merasa takjub karena kamu bisa mengucapkan itu padanya." Ungkap Grace menjelaskan dengan sedikit dibumbui untuk menutupi yang sebenarnya.


Stevan kembali bersemangat, ia berjalan pelan-pelan menghampiri Grace dan Kao Jing. Tak disangka setelah sampai di hadapannya, Stevan malah berlutut di depan Kao Jing yang sontak membuat Grace, Fang Fang dan Kao Jing terkejut.


"Stev, kamu mau ngapain?" Grace bergegas mendekati kekasihnya dan hendak membangunkan pria itu dari posisi yang berlebihan.


Stevan tidak mau beranjak, ia malah meraih tangan Grace dan menatapnya serius. Gadis itu tak bisa berbuat banyak, tatapan lekat kekasihnya sudah menghipnotisnya.


"Grace, tolong jadi penerjemahku ya. Sampaikan pada ayahmu apa yang aku ucapkan sekarang." Pinta Stevan sungguh sungguh sembari melepaskan cengkraman tangannya pada tangan Grace.


Grace mengangguk mantap, ia tidak akan menghalangi niat baik Stevan karena ia begitu menaruh harapan pada pria itu. Kao Jing hanya diam melihat dua anak muda yang sangat mencolok cintanya. Padahal belum ada pernyataan resmi dari Grace tentang hubungannya dengan pria itu, hanya status teman yang Grace akui di depan Kao Jing, tetapi firasat seorang ayah cukup tajam. Apabila sikap mereka berdua yang tidak akan bisa menutupi ada cinta yang terlibat di dalamnya.


Stevan menatap lembut nan tegas pada Kao Jing, kini ia akan buka suara sebagai pria dewasa dan kepada pria yang ia hormati.


"Paman... aku Stevan... mungkin paman baru mengenal aku beberapa hari ini. Tetapi aku sudah mengenal Grace semenjak ia datang ke Jakarta. Kami berteman pada awalnya...." Stevan menjeda perkataannya, memberi kesempatan pada Grace untuk menerjemahkan.


Kao Jing manggut-manggut, hanya itu saja responnya untuk saat ini.


"Di hadapan paman saat ini, aku ingin paman tahu bahwa aku tidak hanya menganggap Grace sebagai teman. Aku menganggap Grace lebih penting dari sekedar teman, aku mencintainya dan akan melindunginya...." Stevan terdiam dengan raut serius, sengaja memberi kesempatan Grace untuk menyampaikan lagi. Namun yang terjadi justru hening, hingga Stevan mengalihkan tatapannya pada Grace dan terkejut mendapati gadis itu terdiam menitikkan air mata.


Bagaimana aku bisa menyampaikannya, aku sedang terharu sekarang. Dia membuatku tak bisa menahan tangisan.


Gumam Grace yang berusaha keras menghentikan air matanya.


Stevan menatap Grace seraya mengangguk, memintanya menyampaikan itu pada Kao Jing.


Kao Jing tetap manggut-manggut tanpa komentar apapun, namun Fang Fang justru yang tidak bisa tinggal diam. Ia paham nonanya merasa malu menyampaikan itu tapi posisi Fang Fang berbeda, ia pantas menjadi penyambung lidah serta juru bicara nonanya.


"Maaf tuan besar, saya lancang menyela. Tuan muda ini sedang menyatakan perasaannya terhadap nona di hadapan anda. Ia ingin anda tahu bahwa dia sangat mencintai nona Grace dan bersedia melindunginya." Fang Fang menundukkan kepalanya sembari mengigit bibir bawahnya, menghindari tatapan Grace yang tengah protes padanya.


Kao Jing tersenyum, inilah yang sejak tadi ia tunggu-tunggu. Sebagai sesama pria, ia salut akan keberanian anak muda di hadapannya.


"Ayah, jangan dengarin Fang Fang, dia hanya mengada-ada." Grace mengoceh tidak jelas pada Fang Fang yang justru ditanggapi Fang Fang dengan senyum yang dikulum.


Grace hanya takut ayahnya belum menyetujui jika tahu ia berhubungan dengan pria yang bukan pilihan Kao Jing sendiri. Di saat Grace tengah meyakinkan Kao Jing untuk ikut tinggal di Jakarta, justru Stevan yang tidak sabaran ini berpotensi merusak rencananya. Jika Kao Jing marah dan menolak, maka Grace tak punya harapan untuk tinggal di Jakarta lagi.


"Kenapa? Kamu takut apa Grace? Ada pria yang suka padamu pun kamu takut, ayah jodohkan kamu waktu itu pun kamu sempat menolak dan bertaruh. Lalu kamu mau yang bagaimana lagi? Kamu tidak mau anak muda ini?" Tanya Kao Jing, raut wajahnya santai dan membuat Grace shock.


"Mau." Jawab Grace cepat tanpa pikir panjang lagi. Spontan Kao Jing tertawa melihat putrinya yang salah tingkah.


"Ha ha ha... Fang Fang, sampaikan pada anak muda ini. Aku menunggu kabar baiknya saja. Aku percayakan putriku padanya." Seru Kao Jing yang menunjuk Fang Fang sebagai perantara.


Mata Grace terbelalak nyaris tak percaya apa yang baru ia dengar, ayahnya menunggu kabar baik? Sudah pasti Kao Jing merestui hubungannya dengan Stevan.


"Baik tuan besar." Gumam Fang Fang patuh.


Stevan yang terdiam sejak tadi langsung ditatap oleh Fang Fang, ia reflek melihat pelayan itu seolah tahu ada yang ingin disampaikan padanya.


"Tuan besar bilang dia merestui kalian, jadi kapan lamarannya?" Tegas Fang Fang, kali ini ia lupa diri dan menyampaikan pendapat subjektifnya mengatas namakan Kao Jing. Ia tidak merasa bersalah, intinya memang seperti itu hanya saja ia blak blakan langsung pada intinya.


"Fang Fang... mana ada ayah bilang kayak gitu!?" Protes Grace dengan pekik melengking, Stevan mengerutkan dahi dibuatnya.


"Ayah bilang dia percaya padamu." Ujar Grace meralat ucapan Fang Fang. Wajahnya yang bersemu merah membuat Stevan tak yakin apa yang diucapkan gadis itu. Berbanding terbalik dengan Fang Fang yang lebih santai dan serius. Stevan bisa menilai, siapa yang ucapannya lebih bisa dipercaya.


"Baiklah, aku sudah paham. Terima kasih atas kepercayaannya." senyum Stevan, ia memilih menjaga perasaan Grace yang pasti malu jika ia harus mengungkapkan semuanya sekarang.


"Tolong sampaikan pada paman, aku akan merawatnya dengan baik, semoga ia betah tinggal di Jakarta bersama kita." Gumam Stevan dengan raut serius.


Grace lega, setidaknya bukan masalah lamaran yang dibahas. Rasanya belum tepat waktu diungkapkan saat ini, di saat mereka sedang sibuk dan menunggu keberangkatan kembali ke Jakarta. Kali ini mungkin untuk seterusnya mereka akan berada di sana, entah masih punya kesempatan untuk kembali ke sini atau tidak, yang pasti Grace lega karena Kao Jing bersedia menerima keputusan dari Weini yang telah meringankan hukumannya.


Kao Jing mengangguk seraya tersenyum saat Grace menyampaikan maksud Stevan. Tidak ada salahnya membuka hati pada orang yang sungguh peduli padanya. Ia siap menapak di tempat baru yang mungkin akan jadi pengistirahatan terakhirnya di sana.


"Hei, ngomong ngomong aku dari tadi belum melihat Dina, saat aku keluar dari Vila juga dia sudah tak ada di kamarnya. Apa kalian melihatnya?" Stevan tiba tiba teringat sahabatnya setelah urusannya dengan Kao Jing selesai.


Fang Fang tersenyum, jelas ia tahu jawabannya.


"Oh, Dina... dia lagi sibuk pacaran deh, pacarnya baru datang tadi." Ujar Fang Fang.


"Serius? si cowok putih tampan itu datang? Pantesan tuh anak nggak kelihatan bayangannya. Eh, kita kan udah mau berangkat, belum pamitan pula sama Weini." Stevan memuluk ringan bibirnya saat sadar salah ucap.


"Nona maksudku. Lah Dina udah kemasin barangnya belum? Ampun deh tuh anak niat balik nggak sih?" Komen Stevan cemas, ia tahu Dina sedikit teledor dan tak enak saja jika sampai membuat Xiao Jun menunggu karena ketidak siapan Dina.


"Tenang saja, biar aku yang bereskan bagian dia. Jangan ganggu orang pacaran, kasihan." Jawab Fang Fang, ia berinisiatif mengemasi barang bawaan Dina.


"Gimana caranya kamu masuk ke kamarnya?" Tanya Stevan heran.


Fang Fang membungkuk pelan sebagai bentuk ijin pada nonanya. Grace hanya tersenyum dan mengangguk pelan.


"Pokoknya terima beres saja. Saya permisi dulu nona dan tuan besar." Ujar Fang Fang kemudian pergi meninggalkan Stevan yang masih bingung dengan keberanian Fang Fang.


Tinggallah Grace bertiga dengan dua pria, usai perbincangan serius itu rasanya ia masih kaku untuk bicara dengan Stevan. Hingga Kao Jing mengatakan sesuatu padanya, "Grace, di sisa hidup ayah yang tidak tahu tinggal berapa lama, ayah ingin melihat kamu hidup bahagia. Kini ayah lega, ada seseorang yang pasti bisa menjaga dan membahagiakan kamu. Setelah ayah tiada, kamu tidak akan sebatang kara, segeralah menikah, punya keluarga dan anak, ayah tidak bisa memberikan kebahagiaan apa apa padamu selain mendoakan kalian."


Ucapan Kao Jing yang begitu menyentuh hati Grace itu langsung menggerakkan hati gadis itu untuk menghambur ke pelukan pria tua itu.


"Ayah... jangan bicara yang aneh-aneh, ayah akan panjang umur, sehat dan melihat Grace bahagia secara langsung. Grace akan berbakti pada ayah, jadi ku mohon kita mulai hidup baru tanpa terbelit masa lalu lagi. Mulai hari ini kita hanya membicarakan masa sekarang dan masa depan, ayah bersedia kan?" Lirih Grace.


Stevan hanya diam menjadi saksi atas kejadian yang mengharukan itu. Meskipun ia tidak tahu artinya, yang pasti ia ikut merasakan kehangatan hubungan ayah dan anak itu.


Kao Jing mengelus rambut Grace dengan lembut, ia tak ingin membuat Grace lama menunggu hanya demi satu jawaban yang sudah mantap ia lontarkan.


"Ayah bersedia."


❤️❤️❤️


Siapa yang dulu ngeship Stevan sama Grace? Mohon doa restunya nih ❤️