
Haris terkejut saat membukakan pintu setelah mendengar gedoran kencang yang seperti mendesak untuk segera dibukakan. Xiao Jun membopong Weini yang sempoyongan, Haris bergegas meraih tubuh Weini yang dioper oleh kekasihnya. Gadis itu sepenuhnya hilang kesadaran karena pengaruh alkohol, sampai Xiao Jun tersenyum canggung ketika dipelototi Haris.
“Maaf paman, Weini makan malam denganku lalu ia yang ingin minum. Aku nggak berbuat apapun padanya.” Xiao Jun inisiatif mengaku dosa sebelum dicecar oleh ayah gadisnya. Sangat wajar bila seorang ayah menjadi murka ketika mendapati anak gadisnya pulang larut malam dalam keadaan mabuk dengan kekasihnya. Namun sungguh Xiao Jun tidak mengambil kesempatan untuk berbuat hal yang belum sepatutnya mereka lakukan.
Haris menyeringai, ia membopong tubuh Weini yang ringan baginya sembari menatap Xiao Jun. Bekas kotoran di lengan kemeja pria muda itu menarik perhatiannya, sepertinya Weini telah meninggalkan kenang-kenangan di sana. “Dia muntah?” Tanya Haris pelan.
Xiao Jun mengangguk, “Hanya sekali, setelah itu dia tidur. Aku bisa minta paman Lau buatkan bubur pereda mabuk dan mengantarnya kemari.” Kilah Xiao Jun, ia menutupi sebagian cerita sesungguhnya bahwa sikap Weini yang di luar kontrol bahkan tidak sekedar muntah.
Haris mengangkat satu alis kemudian tersenyum. Ia tertegun dengan inisiatif baik pria muda itu. “Tak perlu repot,
kalau itu aku juga bisa buatkan. Apa kau tak ikutan mabuk? Sepertinya tampangmu juga memprihatinkan.” Goda Haris, aslinya ia ingin mengusir Xiao Jun secara halus. Saat ini fokus Haris hanya untuk memulihkan kesadaran Weini tanpa diawasi putranya.
Xiao Jun tersenyum sembari sedikit menunduk, “Saya tidak apa-apa, selamat beristirahat ayah. Maaf merepotkanmu
mengurus Weini.” Xiao Jun membungkuk hormat dan pamit dari hadapan Haris. Meninggalkan rasa aneh dalam hati Haris, apanya yang merepotkan mengurus anak sendiri?
***
Lau mendengar suara pintu terbuka, nyaris setiap kali ia menunggu dengan setia di ruang tamu saat tuannya berada di luar. Ia berdiri menyambut Xiao Jun yang sudah kembali dan terkejut menatapnya.
“Paman belum tidur?” Tanya Xiao Jun, ia bergegas menuju kamarnya lantaran gerah mengenakan kemeja yang terlanjur kotor.
Lau memerhatikan gerak-gerik Xiao Jun yang agak aneh, “Ada yang perlu saya bantu sekarang, tuan?” Tanya Lau
perhatian.
“Tidak, aku hanya perlu mandi sekarang.” Jawab Xiao Jun yang langsung menghambur ke kamarnya.
Lau menyipitkan matanya, sesuatu baru saja terjadi pada Xiao Jun dan ini pasti tentang Weini karena mereka baru saja bersama.
Bunyi bel membuyarkan pikiran Lau, ia menoleh ke arah pintu dan terheran dengan tamu yang datang di tengah malam. Ia menyalakan kamera bel untuk mengintip siapa yang di luar sana. Bola mata Lau membesar penuh saat mendapati Grace yang berdiri menunggu dibukakan pintu. Semangat nona muda itu tidak kunjung surut meskipun cukup lama dibuat menunggu, ia tak gentar dan terus membunyikan bel.
Lau mengetuk pintu kamar Xiao Jun, meski ia tahu tuannya mungkin masih membersihkan diri tetapi ia tetap berdiri
menunggu responnya. Xiao Jun yang tengah mengeringkan rambutnya, muncul dari balik pintu. Ia keheranan menatap Lau, namun bunyi bel yang nyaring menjadi jawaban singkat tanpa pertanyaan yang terucap.
“Siapa di luar?” Tanya Xiao Jun, ia mengenakan kaos longgar berwarna putih polos dan celana pendek untuk bersiap tidur setelah rambutnya kering.
Lau menatap gelisah tuannya, “Itu nona Grace.” Jawab pengawal tua itu pelan.
“Selarut ini?” Xiao Jun mengernyitkan dahi, ia berhenti mengeringkan rambut dengan handuknya. Lau berdiri diam tanpa bisa menjawab apa-apa.
“Suruh dia masuk saja, nggak enak rebut di luar.” Perintah Xiao Jun, ia bersiap-siap menemui gadis yang jadi tamu
tengah malamnya.
***
“Nona, silahkan tehnya. Tuan Xiao Jun baru selesai mandi, harap tunggu sebentar.” Lau bersikap ramah, semua demi tuannya.
Grace tersenyum membalas keramahan Lau, ia tengah membayangkan Xiao Jun yang akan menemuinya dengan tampang segar. Ia sudah mengumpulkan seluruh keberanian untuk menginjakkan kaki kemari, menghampiri pria yang beberapa jam lalu menghempaskannya.
“Kau belum tidur selarut ini?”
Suara Xiao Jun membuat wajah Grace berpaling ke belakang, mencari si pemilik suara. Ia mendapati Xiao Jun sedang mengambil posisi duduk di sofa yang berhadapan dengannya. Ada sedikit rasa kecewa terselip dalam hati Grace, ia berharap lebih dari itu. Andai saja Xiao Jun duduk lebih dekat dengannya.
“Ng, aku tidak bisa tidur sebelum minta maaf padamu.” Ucap Grace lirih, rautnya menampakkan penyesalan yang
tulus.
“Oh ….” Sergah Xiao Jun agak dingin.
Grace ragu sejenak, tak lama berdiam ia pun kembali bersuara. Amat disayangkan jika kesempatan bagus ini dilewatkan tanpa berusaha lebih. “Itu … Soal itu, aku nggak jadi lapor ke paman.” Lirih Grace, tangannya meremas kulit sofa yang didudukinya saking gugup.
Xiao Jun mengernyit, perubahan sikap Grace lagi-lagi membuatnya bingung. Padahal ia sempat cemas jika Grace sudah mengadu pada Li San, ia pun sudah mulai memikirkan alasan untuk membela diri. Tak disangka, Grace justru membiarkan kesempatan bagusnya menyerang lepas begitu saja.
“Kenapa kau berubah pikiran? Bukankah itu sangat menguntungkan posisimu?” Xiao Jun malah blak-blakan bertanya, sikap dinginnya itu seolah menantang Grace bertindak seperti yang gadis itu harapkan.
Grace menggeleng lemah, “Karena aku ingin bersaing secara fair, tanpa ada paksaan dan mengandalkan kekuasaan keluargaku.” Grace terlalu berterus terang, menyatakan siap bersaing memperebutkan Xiao Jun dari Weini.
Xiao Jun tersenyum sinis, apa yang Grace sampaikan barusan terdengar konyol baginya. “Nona, sejak awal aku akui
ini salahku. Aku yang tidak tegas sampai membuatmu jadi korban. Tapi tolong, mengertilah … Jika aku menyukaimu, kau yang kukejar dan bukan sebaiknya.”
Grace tak mau kalah, ia menggelengkan kepalanya. “Tidak masalah siapa yang lebih dulu mengejar, tidak masalah aku lebih lambat hadir dalam hatimu, akhir kisah inipun tak ada yang bisa menebaknya. Segalanya bisa berubah, termasuk perasaan.”
Xiao Jun mulai malas meladeni sikap Grace yang terlalu percaya diri. “Dan kamu merasa tidak masalah mengusik
kehidupan Weini? Kau bersaing terang-terangan dengannya, bukan hanya karena aku tapi dalam kariernya. Apa itu maumu? Menekan orang yang tidak bersalah dan menyudutkannya?”
Grace memang kemari untuk minta maaf atas kejadian yang juga melibatkan Weini, namun saat mendengar nama gadis itu disebut oleh Xiao Jun justru membuat hatinya memanas. “Apa berlebihan kalau aku marah ketika melihat tunanganku bergandengan tangan dengan wanita lain dan pergi dari hadapanku? Semua wanita pasti akan bereaksi sama seperti itu, Jun!”
Xiao Jun menghela napas, Grace mulai melengkingkan nada bicaranya ketika emosi. Tetapi mereka harus meluruskan semua ini, setidaknya itu yang diharapkan Xiao Jun ketika ia mengijinkan Grace masuk ke apartemennya.
“Grace, aku tahu kau juga dipaksa dalam perjodohan ini. Hubungan begini tidak akan berakhir baik, aku minta maaf
tapi kamu harus tahu kebenarannya. Aku lebih dulu bertunangan dengan Weini, dan hanya dia yang resmi kuakui sebagai wanitaku.”
Air mata Grace luluh tanpa isakan, basah … Sebasah-basahnya di kedua pipi mulusnya. Ada sesak dan sakit yang tak sanggup ia ceritakan ketika mendengar langsung penolakan tegas dari Xiao Jun tentang status mereka. Cincin yang melingkari jarinya, pesta pertunangan sakral nan megah, semua hanyalah kepalsuan belaka.
***