
“Hormat kepada langit dan bumi!” pekik tetua yang memimpin prosesi pernikahan tradisional. Kedua mempelai mengangkat dupa lalu melakukan penghormatan tiga kali.
“Hormat kepada leluhur!” Sama seperti penghormatan sebelumnya, Yue Yan dan suaminya mengangkat dupa di atas kepala dan membungkuk hormat kepada leluhur mereka sebagai simbol memohon restu untuk hidup baru.
Di tengah riuhnya tamu, keluarga besar hingga awak media yang meliput acara ini dari awal hingga saat ini, nyatanya tidak membawa kebahagiaan pada Xin Er. Ia berulang kali menyebar pandangan ke sekeliling, mencari sosok yang ia nantikan namun tak kunjung hadir. Acara sudah berlangsung separuh jadwal, Xin Er mulai resah, apa yang menghambat Xiao Jun hingga belum muncul hingga upacara penting itu dimulai.
Li San dan Liang Jia masih disibukkan dengan serangkaian prosesi adat. Xin Er bisa sedikit tenang, di saat begini pasti tuan besar tidak akan mempersoalkan keberadaan Xiao Jun. Kegelisahan Xin Er menyedot perhatian Chen Kho yang memang santai dan merasa jenuh harus menjadi saksi pernikahan yang kaku pada adat kuno. Ia mengamati terus Xin Er yang memasang wajah mencurigakan.
“Brother, kenapa kamu betah banget di sini? Apa ada yang menarik sehingga kamu lupa pulang?” celetuk Grace tiba-tiba mengejutkan Chen Kho. Adik manjanya itu sedang mencari perhatian setelah lama tidak berjumpa.
“Hmmm… anak kecil mau tahu saja urusan orang dewasa!” Goda Chen Kho sembari menyentil ujung hidung Grace.
Grace merasa risih mendapat perlakuan seperti anak kecil, ia menggosok hidungnya yang gatal karena sentuhan jari kakaknya. “Siapa yang anak kecil, umurku sudah hampir 18 tahun!”
“Hihihi… kalau gitu kamu udah siap nikah dong? Tuh Yue Yan baru bisa dibilang dewasa, kalau kamu masih bocah!” goda Chen Kho, meskipun sedang berhadapan dengan Grace tapi perhatiannya tidak teralihkan dari
Xin Er. Ia bisa menebak ada sesuatu yang menarik dan tak boleh terlewatkan dari wanita tua itu.
“Huh… menikah buru-buru apa bagusnya! Aku masih belum selesai keliling dunia, tidak mau jadi istri orang dulu!” seru Grace sombong.
“Haha… Itu karena kamu belum merasa jatuh cinta. Kita lihat saja, jika kamu menemukan seorang pria yang membuat jantungmu berdetak lebih kencang, apa kamu masih menolak menikah muda?” tantang Chen Kho
meski ia tidak bersungguh-sungguh.
Grace kelabakan, kakaknya terlalu antusias menggodanya padahal ia hanya berniat sedikit bermanja. Ia tidak akan membiarkan dirinya kehilangan muka, “Huh… kita taruhan saja, kalau tebakan kakak benar aku rela apartemenku di Paris jadi milikmu. Tapi kalau kakak kalah, harus bayar dua kali lipat dari itu!” ujar Grace serius dengan tantangannya.
Chen Kho tersenyum geli, “Kamu yang bilang loh, jangan nyesal ya!” Ia hanya mengikuti kemauan Grace agar segera membebaskannya dari kemanjaan.
Prosesi yang sacral dan ribet itu mendekati penghujung acara. Chen Kho kembali memantau gerak-gerik Xin Er, kegelisahan di raut wajah wanita yang memiliki beberapa kerutan itu mendadak rilex saat melihat arah luar. Chen Kho mengikuti arah pandangannya untuk mencari tahu apa ada yang menarik perhatian.
Seorang pria paruh baya berjalan masuk dengan tegak, pria yang belum dikenal Chen Kho namun tampaknya cukup berpengaruh. Ia langsung membaur dengan kerumunan tamu lainnya sebagai saksi hidup bersatunya dua
keluarga besar yang berpengaruh bagi kerajaan bisnis kedua pihak. Hingga akhirnya upacara pernikahan selesai, dan satu persatu tamu meninggalkan aula utama untuk menuju gedung resepsi. Pesta akan berlanjut dengan acara yang lebih santai dan menyenangkan.
“Kakak, ayo berangkat!” Grace kembali mengusik Chen Kho, ia tak segan menggandeng tangannya dan menggeretnya pergi.
Chen Kho menahan tarikan adiknya yang lemah, “Kamu berangkat dulu dengan ayah, ada yang mau aku kerjakan dulu.”
“Huh… baiklah.” Grace tak punya pilihan, suasana formal mengundang kantuk yang tak tertahankan. Lebih baik ia segera menuju gedung resepsi dan menikmati hidangan lezat.
Saat ruangan mulai tersisa keluarga inti Li San, kesempatan itu digunakan Xin Er untuk melirik ke pengawal Lau. Sayangnya tata krama yang ketat di kediaman ini menciptakan jarak di antara mereka. Lewat tatapan saja Lau bisa menebak keingintahuan ibu kandung tuannya itu. Lau mengambil inisiatif memberi penghormatan kepada Li San terlebih dulu sebelum keberadaannya disadari lalu dianggap tidak sopan.
“Hamba menghadap Tuan Besar. Selamat atas pernikahan nona pertama, semoga pernikahan mereka segera mendapatkan keturunan dan memberi kejayaan pada kedua keluarga.” Lau bertekuk lutut memberi penghormatan,
kepalanya tertunduk dengan tatapan datar mengarah ke kepalan tangan.
Li San yang gemar pujian langsung tertawa senang mendengar doa dari Lau. Meskipun diutus keluar negri, namun tata krama dan kepatuhan pengawal itu tidak luntur sedikitpun.
“Berdirilah! Ini hari bahagiaku, tidak perlu sungkan.” Perintah Li San. Sedetik kemudian ia sadar ada yang kurang dalam kehadiran Lau.
“Kenapa kau datang sendiri? Di mana Li Xiao Jun?” intonasi Li San meninggi saat menekankan nama putranya. Ia tak peduli mengagetkan orang di sekitar, yang diinginkannya hanya melihat putranya saat ini juga.
Xin Er seakan tak mampu bernapas, ia sangat ketakutan sekarang. Jika kali ini Xiao Jun membuat masalah, Li San mungkin akan memberikan konsekuensi fatal.
Lau yang sudah diijinkan berdiri kembali berlutut memohon pengampunan. “Ampun Tuan besar, dikarenakan berhalangan dengan urusan pekerjaan yang mendadak, tuan Xiao Jun tidak bisa langsung meninggalkan kantor.
Air muka Li San berubah, wajahnya memerah karena amarah. Ditendangnya sebuah kursi kayu yang semula digunakan untuk upacara penghormatan. Saking kuatnya tenaga kemarahan, kursi tak berdosa itu patah
berkeping-keping akibat pelampiasan.
“Tidak Becus! Satu bulan sebelumnya sudah diperingatkan untuk pulang, tapi tidak bisa mengatur waktu. Apa dia main-main di situ? Atau dia memang tidak berniat pulang? Sepertinya dia sudah lupa aturan keluarga!” seru Li San dengan suara lantang yang menggelegar.
Xin Er langsung berlari menghadap Li San dan bersujud. “Mohon kemurah hatian tuan besar. Tuan muda tidak mungkin sengaja melakukan ini. Hamba rela menukar nyawa untuk menebus kesalahannya.”
Lau terhentak, tidak pernah ia duga dampaknya akan seburuk itu. Li San mungkin saja menyetujui permintaan Xin Er jika kemarahannya tidak mereda. Bagaimana ia harus menjelaskan pada Xiao Jun nantinya? Xiao Jun pasti akan memberontak demi membalas dendam. Pikiran buruk terus terbersit dalam benak Lau.
“Suamiku, keributan apa yang terjadi di sini?” Liang Jia segera kembali ke aula saat mendapat laporan dari pengawalnya tentang keributan yang terjadi. Ia baru saja mengantarkan Yue Yan kembali ke kamar pengantin untuk retouch make up.
Seisi ruangan senyap sejenak saat Liang Jia tiba, Li San bahkan tidak berniat menjelaskan apapun. Liang Jia memandang Xin Er yang berlutut dengan kaki yang gemetaran karena terlalu lama dalam posisi tertekuk.
Sementara Lau masih tampak tenang meski tengah menghadapi masalah fatal.
“Oh, pengawal Lau sudah pulang. Di mana Xiao Jun?” Liang Jia pura-pura tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya.
“Hormat untuk nyonya besar. Mohon ampun untuk tuan muda karena tidak bisa hadir dalam acara pernikahan nona pertama. Tuan muda ada urusan kerjaan yang sangat mendadak, kami sudah naik ke pesawat namun tuan
mendapat panggilan darurat sehingga terpaksa membatalkan perjalanan ini dan meminta hamba tetap kembali.” Lau membuat pengakuan yang sebenarnya.
“Kau dengar! Anak itu mulai lancang, kondisi darurat apa sampai dia berani mengabaikan perintahku!” Amukan Li San kembali meledak.
Liang Jia terdiam sejenak, ia butuh pikiran jernih untuk mengeluarkan kata-kata. Salah sepatah kata bisa mengakibatkan nyawa seseorang melayang. “Lau sudah puluhan tahun menjadi pengawal, ayah dan kakeknya juga mengabdi pada keluarga kita. Kecil kemungkinan ia berani berbohong. Xiao Jun juga anak yang patuh, ia menyanggupi perintahmu untuk pulang. Aku memastikannya sendiri, dan kita tahu dia anak yang selalu menepati
ucapannya. Mungkin ini memang pilihan terbaik untuk kelangsungan bisnismu di sana. Sudahlah, biarkan saja untuk kali ini.”
Li San menatap serius pada Liang Jia, mencoba mencari kesungguhan dari saran yang dilontarkannya. Pria tua yang emosional itu tampak merenung, perlukan ia meloloskan kesalahan putranya kali ini?
“Aku akan ampuni nyawa kalian asal kau bisa buktikan pengakuanmu benar. Telpon Xiao Jun sekarang!” pekik Li San tegas.
Lau memucat seketika, Li San memegang kuasa penuh atas segala perintah. Ia tidak bisa mangkir dari mandatnya, namun jika ia menghubungi Xiao Jun sekarang mungkin tuannya sedang bersama Weini. Tamatlah riwayat Xin Er dan Lau andai itu terjadi.
“TELPON!!!” Li San menghardik dengan amukan yang membuat bulu kuduk berdiri.
Lau tak punya pilihan lain, dironggohnya ponsel dan menghubungi Xiao Jun via video call. Beberapa kali panggilan tak terjawab dari seberang, Lau mulai tak bisa menutupi kegugupannya.
“TELPON SAMPAI IA ANGKAT, ATAU KUPENGGAL KEPALA KALIAN BERDUA!”
Suasana hening menggemakan teriakan Li San. Tidak seorangpun berani berkutik di saat sang penguasa naik pitam. Lau terus mengulang panggilan, Tuan kumohon… aku tidak takut mati untukmu tapi jangan sampai ibumu
ikut terseret jadi korban. Ku mohon angkatlah…
“Halo, paman. Kau sudah bertemu ibuku?”
Suara Xiao Jun nyaring terdengar lewat panggilan yang diloud speaker. Xin Er dan Liang Jia nyaris rebah saat mendengar kata-kata pertama yang Xiao Jun ucapkan justru tentang ibunya.
Li San mengatur napasnya yang mulai tersengal-sengal, “KURANG AJAR!!!”
***