
Li San duduk dengan penuh kharisma di atas singgasananya, menurut laporan yang ia terima Kao Jing dan Grace sudah mendarat dan sedang menuju ke istananya. Tuan besar itu penuh semangat, selain karena akan bertemu saudara kandung, ia bersemangat lantaran akan mempertemukan Xiao Jun dan Grace. Ia masih menyimpan
harapan yang tak kenal padam untuk menyatukan mereka berdua.
“Pengawal, utus tuan muda menemuiku sekarang!” seru Li San memerintahkan salah satu pengawalnya.
Penasehat He senganja diminta menemani moment penting yang akan terjadi sebentar lagi. Li San bahkan sudah mengutus pengawal untuk mengabari Liang Jia agar ikut dalam acara penyambutan tamu.
Penasehat He melihat kebahagiaan dari raut wajah Li San, suasana hati tuan besarnya dalam kondisi yang menguntungkan untuk berunding. Sebagai orang terdekat yang dipercaya memberikan saran, ia mengenal betul sifat tuannya.
“Tuan, segalanya lancar sesuai kehendak anda. Tinggal bagaimana tuan muda meresponnya.” Penasehat He memberikan pendapat tanpa diminta oleh Li San.
Li San yang dalam mood baik hanya mengangguk penuh senyum. Ulasan senyum di bibirnya tidak bertahan lama, ketika seorang pengawal yang ia utus kembali dengan tergesa-gesa.
“Lapor tuan, tuan muda Xiao Jun menolak untuk datang. Menurut kabar dari penjaganya, tuan muda sejak kemarin mogok makan sampai sekarang.” Pengawal itu berlutut menyampaikan berita yang kurang mengenakkan, ia belum berani berdiri sebelum diijinkan.
Li San mengernyitkan dahi, sikap macam apa yang ditunjukkan Xiao Jun. Inikah balasan atas kemurah-hatiannya memberi ijin bertemu dengan ibu dan pengawalnya kemarin? Atau anak muda itu masih menyimpan dendam atas tamparan yang ia berikan?
“Kau pergilah, semua keluar dari sini!” ujar Li San pada semua pengawal yang tinggal di aula. Ia perlu bicara empat mata dengan sang penasehat.
“Anak itu … apa sedang berencana konspirasi? Apa yang kau dengar dari pertemuan mereka?” semula Li San enggan mempertanyakan hasil pertemuan Xiao Jun dengan kedua orang terdekatnya, tapi mengetahui sikapnya yang membangkang lagi membuatnya kembali curiga.
Penasehat He sudah menyiapkan jawaban sebagai antisipasi pertanyaan seperti ini dari Li San. “Ampun tuan, sepanjang menjenguk ibu dan pengawalnya, tuan muda hanya diberi waktu masing-masing setengah jam. Dalam waktu sesingkat itu hanya mereka habiskan dengan menangis saling melepas rindu dan bertanya kabar. Tidak ada
pembicaraan yang menuju pemberontakan. Hamba bisa menjamin kebenarannya dengan nyawa hamba.” Pernyataan yang sungguh nekad, mengingat penasehat He jelas bersekongkol menyembunyikan kebenaran.
“Hmm … lalu sikap seperti apa ini? Apa mau anak muda itu, aku sungguh tidak mengerti.” Gumam Li San sembari mengusap dagu.
Penasehat He membungkuk hormat sebelum menyampaikan pendapat, “Tuan, maafkan kelancangan hamba menyampaikan pendapat pribadi. Menurut hamba, anak seusia tuan muda masih dalam kelabilan perasaan. Apalagi ia tumbuh dengan didikan dan aturan ketat, setidaknya berpengaruh pada kejiwaannya. Bukan maksud hamba meragukan kasih sayang anda, tetapi saran hamba semakin keras cara anda menghadapinya, semakin
menjauhkan anda dengan hatinya.”
Jika bukan karena ketenangan hati yang masih stabil, Li San mungkin sudah meradang. Kini ia masih dalam posisi yang baik untuk berunding. “Menurutmu, apa yang harus aku lakukan untuk menghadapinya?” akhirnya Li San merendahkan hati untuk mendengar solusi dari penasehat He.
Kesempatan ini jelas sangat berarti bagi penasehat He, ia akan mencoba yang terbaik agar masalah keluarga ini mendapat jalan tengah. “Maaf tuan, menurut hamba keharmonisan keluarga harus dimulai dengan adanya keseimbangan peran, antara orangtua dan anak sama-sama punya hak dan kewajiban. Aturan yang kaku hanya
akan menciptakan jarak antara sesama, dan kadang sebagai orangtua perlu mengalah pada anak. Mereka punya perasaan dan pikiran, tidak selamanya bisa mengikuti kehendak orangtua.”
Penasehat He menggelengkan kepala, “Ampuni hamba, tuan. Bukan maksud hamba demikian, menurut hamba sebaiknya anda lah yang menghampirinya sekarang. Bicarakan secara baik untuk sebuah kesepakatan, buat dia nyaman dan menuruti anda dengan baik seperti yang selama ini ia lakukan. Sebelum kasus ini, tuan muda belum pernah mengecewakan anda. Berikan ia kesempatan mempercayai anda lagi dan menurut tanpa unsur paksaan.”
Saran yang cukup masuk akal, Li San juga harus berusaha memperbaiki citranya di mata Xiao Jun. Kata-kata Xiao Jun yang menyebut bahwa ia diperlakukan seperti robot masih terus mengusik, mungkin ada baiknya mengikuti saran penasehat andalannya.
“Baiklah, temani aku ke paviliun Xiao Jun sekarang!” seru Li San mantap.
***
Kebimbangan yang menyelimuti pikiran Xiao Jun membuatnya menjadi pria labil, ia sudah mengambil keputusan tapi sikapnya justru menunjukkan sebaliknya. Hati yang masih sangat berat untuk melangkah menemui seorang wanita yang tidak ingin ia kenal, apalagi sampai mempunyai ikatan pertunangan. Ketika panggilan dari Li San datang, ia menolak dengan bahasa tubuh. Dan di sinilah ia berakhir, duduk menghadap cermin sembari merefleksikan diri. Melihat bayangan diri yang terlihat kuat di luar namun rapuh di dalam. Membayangkan betapa beruntungnya menjadi orang biasa, menjadi seperti Weini yang memiliki ayah hebat dan bijaksana. Ayah yang tak mungkin memaksakan kehendak dan mencampuri perasaan pribadi untuk kepentingan diri sendiri.
“Tuan besar tiba!” teriakan pengawal dari luar membuyarkan pikiran Xiao Jun. Orang yang tidak ingin ia temui malah datang menghampiri.
Li San melangkah masuk didampingi penasehat He, sesaat Xiao Jun dan penasehat He saling melirik kemudian mereka mengambil sikap masing-masing.
“Hormat kepada ayah, panjang umur!” ucap Xiao Jun membungkuk hormat.
“Ah, santailah anakku.” Li San meraih pundak Xiao Jun lalu menegakkan posisi berdirinya. Ia memberikan senyum yang begitu ramah, lain dari biasanya.
Diperlakukan sebaik itu justru membingungkan Xiao Jun, apalagi maksud terselubung dari sikap manis itu? Xiao Jun memilih diam dan melihat tingkah apalagi yang dilakukan Li San.
“Kau belum makan? Apa masakannya tidak sesuai seleramu? Bagaimana kalau kita keluar makan bersama?” tanya Li San penuh perhatian.
Jika bukan karena sudah mengenal watak keras Li San, mungkin Xiao Jun sudah terperdaya mulut manisnya. Ia masih mencoba menjaga jarak, hingga kemudian penasehat He memberikan kedipan sekilas padanya.
“Terima kasih atas perhatian ayah, makanannya cukup enak. Aku hanya kurang napsu makan saja, ayah jangan kuatir.” Xiao Jun langsung bisa merespon Li San berkat kode penasehat He. Setidaknya penasehat itu masih orang yang bisa ia percayai.
Li San mulai cemas mendengar keadaan Xiao Jun, “Kalau begitu aku panggilkan dokter segera. Penasehat He tolong utus tim medis kemari!”
Xiao Jun menggeleng, “Tidak perlu repot ayah, aku baik-baik saja hanya kehilangan napsu makan. sebaiknya jangan repotkan dokter untuk memeriksaku, aku tidak suka menelan pil kimia.”
Sedapat mungkin Xiao Jun berusaha menolak kehendak Li San. Ia hanya perlu sebuah moment bersama pria yang merebutnya dari orangtua aslinya itu. Kesempatan untuk berunding sebagai sesama pria dewasa.
***