OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 348 PERSELISIHAN HARIS DAN XIAO JUN



Lampu mobil Xiao Jun menyoroti pandangan Haris begitu tiba. Haris berdiri menunggunya sedari tadi, di salah satu tepian jalanan yang tentu saja sudah disterilkan dari jangkauan manusia olehnya. Xiao Jun keluar dari mobil dengan tergesa, dari raut wajahnya saja Haris bisa membaca bahwa putranya sudah tahu apa yang terjadi. Lebih menghemat waktu untuk menceritakan ulang, Haris melipat tangan dan menatap Xiao Jun dengan tatapan tenang.


“Ayah, kita harus bagaimana? Apa sebaiknya kita ke sana sekarang?” Ketika keluar dari mobil dan melihat ayahnya, Xiao Jun langsung menodong pertanyaan itu.


Haris manggut-manggut yang justru disalah artikan oleh Xiao Jun.


“Aku akan mengatur keberangkatan kita secepatnya.” Pikiran yang kacau itu membuat Xiao Jun melupakan satu hal, tangan kanannya tidak siaga bersamanya. Ia baru teringat Lau belum kembali dari Hongkong setelah melihat


kontak pengawalnya itu. Kepalanya menunduk seketika, frustasi terasa begitu mencengkram pikirannya.


“Jun, apa kamu masih percaya padaku?” Tanya Haris di luar topik pembahasan mereka.


Xiao Jun mengernyit dan menatap bingung pada Haris. “Percaya dalam hal apa lagi ayah? Rencanamu ternyata banyak yang meleset, sekarang kita justru menempatkan ibu dalam bahaya. Sekarang ibu sasarannya, nanti entah siapa lagi.” Sesal Xiao Jun, ia sampai mengacak-acak rambutnya saking pusing.


“Justru karena itu, ayah semakin takut melihat ke depan.” Gumam Haris sedih. Prediksi dan rencananya bukanlah meleset, namun kemampuan melihat masa depannya memang sampai pada bagian ini. Ia sudah berusaha menghindari namun tetap terjadi. Andai ini semua takdir sekalipun, Haris enggan menyerah begitu saja. Ia tetap akan berjuang mempertahankan keselamatan orang-orang yang ia cintai dan lindungi sampai titik darah


penghabisan.


Xiao Jun menyipitkan mata, “Maksud ayah?


“Turuti dulu keinginan mereka, sementara hanya itu jalan terbaiknya.” Dengan berat hati Haris memberikan keputusan menyakitkan itu. Sontak Xiao Jun tersentak mendengar perintah ayahnya yang bermaksud menyerah.


“Ayah menyuruhku menuruti mereka? Menikahi Grace tanpa dasar cinta demi menukar penawar? Orang selicik mereka apa bisa dipegang perkataannya? Apa ayah sepesimis itu untuk mengalahkan mereka?” Xiao Jun benar-benar tak dapat menerima dengan akal sehatnya. Ia sungguh menolak sependapat dengan ayahnya.


Haris diam, tak membenarkan pun tak mengelak.


“Maaf ayah, untuk kali ini aku terpaksa menentang keputusanmu. Aku tidak bisa!” Tegas Xiao Jun. Bukan maksud hati menjadi anak pembangkang, namun menikah bukan perkara mudah baginya. Jika tidak berlandaskan cinta dan


bukan pada orang yang ia cintai, Xiao Jun rela selamanya dalam kesendirian ketimbang terjebak dalam pernikahan yang salah.


“Aku juga tidak bisa menjenguk ibumu… Dengan sangat terpaksa. Ada nyawa seseorang yang juga harus kujaga. Maafkan ayah.” Sesal Haris. Ia sudah memutuskan untuk tetap berada di dekat Weini. Tanggung jawab menuntutnya untuk mengambil sikap demikian, persis ketika ia dititahkan membawa pergi Yue Hwa dari incaran ayahnya. Sejarah mungkin akan berulang jika tidak berhasil dihentikan sekarang.


Xiao Jun tersenyum nyengir, senyum yang kemudian berubah menjadi tawa kesal dan setengah menyindir. “Jadi nyawa Weini lebih penting lagi daripada ibu? Sama seperti waktu itu, ayah rela menukar nyawa kami yang memang tidak ada artinya bagi klan Li demi melindungi keturunan mereka? Ayah... Apa kamu masih ayahku atau ayah dia?”


Haris bergeming, tatapannya tetap teduh melihat putranya. Ia tak terkejut lagi dengan reaksi Xiao Jun, semuanya sudah pernah terlintas dalam mimpi buruknya. Dan ini hanya potongannya saja, layaknya puzzle yang masih menunggu potongan selanjutnya untuk dillengkapi.


“Darah tetaplah darah, tidak bisa tergantikan air. Tak perlu pengakuan manusia, asalkan langit dan bumi tahu bahwa aku selalu berusaha melindungi orang-orang yang kucintai. Meskipun caranya terlanjur menyakitkan, kelak kau pasti mengerti mengapa ayah mengambil sikap seperti ini. Itulah kenapa aku bertanya sapa kamu masih percaya padaku?” Jawab Haris dengan sikap tenangnya, setenang air tanpa arus namun dapat menghanyutkan.


Haris tersenyum melihat keputusan anaknya, “Terima kasih, Jun. Aku tahu ini tidak mudah, hidup memang tidak selalu memberikan keindahan, kebahagiaan seperti yang kita inginkan. Namun bukankah seringkali akan muncul pelangi setelah hujan panas yang deras sekalipun? Kita masih boleh berharap, setelah kesusahan ini berlalu akan datang kebahagiaan yang lebih awet.” Gumam Haris yang terdengar menyejukkan hati putranya.


“Aku mengerti ayah.” Ujar Xiao Jun lirih.


Haris mengangguk, “Tunggu Lau kembali, kita putuskan lagi setelah mendengar informasinya. Soal ibumu, racun itu bersifat pelan, tidak seganas racun yang diminum Grace. Kita bisa sedikit lega dan tidak terpancing untuk bertindak tanpa rencana, musuh itu mengawasi kita dan akan tertawa lebar melihat kepanikan kita.”


“Jika tidak ada halangan, Lau akan kembali pukul delapan pagi nanti. Apa ayah bisa ikut ke kantorku? Kita temui Lau bersama dan  ambil sikap setelah itu.” Usul Xiao Jun.


Haris tak keberatan, ia pun mengangguk. “Jun, ayah serius dengan keputusan tadi. Kamu dan Grace kembalilah dan gelar pernikahan.”


“Ayah, bisakah diganti rencana itu? Ini terlalu gila, aku tidak bisa!” Tegas Xiao Jun. Air mukanya tampak tidak suka dengan perintah itu.


Haris menggeleng mantap, “Pulanglah dulu ke sana dengan Grace. Bukan hanya kamu yang tidak ingin menikah, Grace pun tak mau menikah denganmu. Di sini bukan hanya kamu yang berkorban, gadis itu juga tidak kalah korban perasaan.”


Xiao Jun tak sanggup lagi meneruskan debat dengan ayahnya, percuma saja. Ia tak akan menyetujuinya dan mengulur waktu untuk berunding ulang setelah Lau pulang, sesuai yang dikatakan Haris.


***


Lau tak henti melamuni kemelut panjang dalam klan Li, ia telah bersumpah setia dan rela mengorbankan nyawa demi pengabdian pada klan itu. Walau tedengar seperti paksaan, namun segalanya berubah menjadi keikhlasan ketika ia berjodoh sebagai pengawal Xiao Jun. Sebuah keputusan besar telah ia putuskan, dalam perjalanan kembali ke Jakarta dan dalam kesendirian di pesawat pribadi milik tuannya itu.


Beberapa jam yang lalu sebelum diijinkan pergi dari cengkraman Chen Kho, ia telah diberikan ancaman serta rencana licik untuk menguntungkan posisi Chen Kho.


“Sampaikan pada Xiao Jun, tanggal pernikahannya sudah ditetapkan. Jika dia menghargaimu, dia pasti tak membiarkanmu mati keracunan. Kau akan lihat seberapa berartinya dirimu yang sudah renta itu baginya. Penawar racun itu hanya satu-satunya di dunia, dan akulah pemilik tunggalnya. Nyawamu ada pada keputusan tuanmu, tergantung ia tega atau tidak membiarkanmu mati mengenaskan.”


Seringai dan tawa menjengkelkan khas Chen Kho terus merecoki pikirannya. Lau sudah membulatkan tekad akan keputusannya, dan tak akan menyisakan penyesalan.


Tuan, mungkin ini adalah akhir pengabdianku. Aku bangga bisa berkorban untukmu, aku tak akan menjadi beban untukmu. Nyawaku tidak ada artinya jika ditukar dengan kebahagiaanmu. Aku tidak akan menyampaikan pesan


itu padamu, aku siap mati demi melihatmu bahagia.


***


Siapa yang nggak setuju Lau harus mati? Author yang paling pertama angkat tangan, hihihi ….