OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 223 KEEP MY PROMISE!



Ada banyak yang akan datang dan pergi dari hidupmu


Hanya akan ada satu yang tersisa, memang untukmu


Yang mengenalmu tanpa perlu kau perkenalkan siapa dirimu


Yang masih bersedia bertahan, walau tahu kau banyak kekurangan


Tapi dia yang seperti itu bukan datang karena cinta yang ingin memiliki


Namun cinta yang bersedia melindungi dan berkorban tanpa harus menjadikanmu kekasih


Cinta itu adalah sahabat


Quote of Weini aka Yue Hwa


***


Weini tertawa kecil, tudingan Stevan barusan ia anggap sekedar guyonan yang sukses membuatnya terbahak. “Jadi menurutmu, aku ini apa kak?” Weini malah bertanya balik sembari tertawa kecil.


Stevan nyengir, ia sudah sangat serius bicara tetapi hanya dianggap lelucon. “Apa selucu itu?” seru Stevan sewot.


“Ya … lagian makhluk apa yang bisa kayak manusia? Alien? Emang ada yang tahu dia seperti apa? Kak, mendingan kamu istirahat. Besok kita harus kerja loh, kasian kru dan kak Bams. Ini udah masa-masa terakhir kita di drama itu.” Weini berujar dengan santai namun menenangkan, ia sudah berhasil mengontrol diri agar tidak mudah panik dengan tudingan Stevan.


Stevan masih tidak terima dengan alibi Weini, ia bersikeras ingin tahu rahasia gadis itu. “Justru gue nanya, lu sebenarnya siapa? Gue tahu lu bukan gadis biasa, mana ada orang yang bisa sedot darah orang sampe gue anemia. Weini, gue cuman alasan aja tadi biar Dina gak curiga. Gue sangat menjaga kesehatan dan gak pernah begadang. So, darah gue bisa kemana tiba-tiba sampe gue lemes pingsan?”


Weini menghela napas, “Kak, pakai logikamu. Aku nggak perlu berdebat, berpikirlah apa saja tentangku asal kau senang.”


“Oya? Kalau gitu untuk buktikan lu emang gadis biasa, peluk gue sekali lagi!” pinta Stevan tegas.


Weini memincingkan mata pada pria itu, sifat menyebalkan Stevan kumat lagi. Ia masih tak bergeming, enggan merespon permintaan itu.


“Kenapa? Lu nggak berani? Atau pegang tangan gue, tadi lu sempet ngelakkan? Kalau memang nggak ada apa-apa, ngapain lu tolak?” Stevan lihai menyudutkan lawan, dari sorot matanya terkesan tiada ampun bagi Weini.


Dari belakang pintu, Dina yang menguping jelas pembicaraan mereka yang di dalam ikutan tegang. Sekarang ia mulai sependapat dengan Stevan bahwa ada yang aneh dengan Weini, ia juga merasakannya. Weini beberapa


kali menghindari kontak fisik dengannya hingga sempat membuat Dina salah paham. Di dalam begitu senyap, Dina nyaris mati penasaran menunggu lanjutan. Ia ingin tahu apa Weini berani menyentuh Stevan? Namun ketika ia hendak mengintip, niatnya langsung diurungkan daripada nanti ketahuan.


Stevan menjulurkan tangannya, menunggu tantangan diterima. Weini menyembunyikan kegelisahan dengan tampang yang dipaksa tenang. Ia tidak punya pilihan lain, terus mengelak hanya akan membuatnya terus dicurigai. Ia berjalan mendekati Stevan dengan pandangan tertuju pada tangan pria yang dihiasi selang infus.


Ayah, tolong … jangan terjadi lagi, tolong! Batin Weini berharap Haris membantunya dari manapun, ia sungguh terjebak dengan situasi yang tidak menguntungkan andai energi Stevan tersedot lagi. Meskipun batinnya meronta, Weini bersikeras beracting tenang dan pasang wajah tidak bersalah.


Tantangan diterima. Weini bersalaman dengan Stevan, kontak fisik sesuai harapan pria itu. Semula Stevan membalas senyuman Weini yang penuh percaya diri, gadis itu seakan tahu akan keluar sebagai pemenang, ia


tetap terlihat tenang bahkan membiarkan tangannya digenggam oleh Stevan. Sekarang giliran Stevan yang perlahan memudarkan senyum, ia mulai gusar ketika tidak merasakan apapun lagi dari genggaman Weini.


“Gimana kak?” Tanya Weini pura-pura antusias untuk tahu pendapat Stevan.


“Oh, tapi ini sudah lebih dari lima menit kak. Tanganku mulai pegal, pelukan kita saja nggak sampai lima menit.” Celetuk Weini, wajahnya menyorotkan kemenangan. Kekuatan aneh dan asing itu telah menghilang, ia tidak lagi perlu mengisolasi diri dari sentuhan fisik orang.


Stevan masih ngotot, ia tidak bersedia berkomentar namun terus menggenggam tangan Weini. Hingga keberuntungan berpihak pada Stevan, ketika ia merasakan lagi setruman ringan dan rasa hangat yang menjalar dari


tangan Weini. Gadis itu menyadari munculnya kekuatan aneh itu, ia tersentak kemudian menarik tangannya dari Stevan. Raut tenang yang semula ia pertahankan berganti ekspresi bingung, Weini memegang tangannya, ia kehabisan kata menjelaskan kondisi yang ia saja belum tahu.


Stevan tersenyum lirih, rasa tertekan yang begitu jelas di raut wajah Weini membuatnya tidak tega melanjutkan penyelidikannya. “Btw, si Dina lama banget, cuman beli makan di bawah aja udah kayak pergi shoping di mal.” Ujar Stevan dengan suara lantang, tidak perlu sekencang itu saja Weini bisa mendengar jelas. Gadis itu heran dibuatnya, dikiranya Stevan akan tertawa puas karena berhasil membuktikan tuduhannya. Di luar perkiraan, ia malah ganti topik seolah tidak terjadi apa-apa barusan.


Weini tidak tahu bahwa ada yang kebakaran jenggot setelah mendengar sindiran Stevan, di luar


Dina langsung pasang kuda-kuda dan lari ngibrit. Bagaikan membaca novel yang alurnya suka dibuat tanggung sama author *hehe*\, Dina dengan sangat terpaksa harus menyudahi pengintaiannya. Ada rasa nyesek yang tidak bisa didefinisikan\, ia tidak tahu kelanjutan mereka seperti apa setelah Stevan menggenggam tangan Weini.


Dina : Hiks, Thor ntar kasih tahu ya mereka ngomong apa setelah aku pergi. (Ngelap ingus pake tisu)


Author : Cari tahu sendiri ^^ hehe (keluar dari alur cerita, kembali ngetik).


***


Stevan tahu Dina ada di belakang pintu, kalau bukan karena status mereka sebagai sahabat, ia tak akan memberi ampun pada pengintai. Semua dilakukan semata karena menyayangi Weini, sama halnya dengan Stevan yang


punya cara tersendiri. Ia bisa leluasa fokus pada gadis yang berprilaku seperti penjahat yang kepergok bersalah.


“Weini, kemarilah, plis!” pinta Stevan dengan lembut, berbeda dengan sebelumnya yang terkesan maksa. Ia mencoba meyakinkan Weini agar mendekat, mereka perlu berbicara dengan bisikan.


Weini memenuhi permintaan Stevan, ia merapat di samping bangsal dan berjarak lumayan dekat dengan pria itu. “Aku ….”


Stevan menyanggah penuturan Weini, ia tidak mau dengar alasan lagi. Kali ini, ia ingin Weini yang menjadi pendengar. “Ssstttt!” Stevan menempelkan telunjuk di bibirnya, mengkode Weini agar diam.


“Gue nggak perlu penjelasan, sepenasaran apapun gue gak butuh penjelasan. Sorry udah bikin lu nggak nyaman tadi, gue kasih tahu ya … siapapun lu, nggak penting buat gue. Lu tetap sahabat gue, jangankan energi, nyawa aja gue siap kasih buat lu. Asal lu bahagia ya.” Stevan tersenyum tulus, kali ini ia sungguh serius mengutarakan maksudnya.


Weini tersenyum tipis, pengorbanan Stevan terlalu besar untuk takaran sahabat. “Kau terlalu banyak membantuku, aku tidak pernah melakukan apapun untukmu.”


Stevan tertawa kecil, “Justru bagus. Lebih baik diam, daripada melakukan sesuatu yang malah menyakitkan. Peace, Weini jangan dianggap serius.”


Weini nyengir, syukurlah Stevan tidak melanjutkan keponya. Anggap saja masalah ini tutup buku, kelak ia harus lebih berhati-hati jangan sampai lebih banyak lagi yang curiga dengan kekuatannya.


“Btw, lu bisa pegang janji gue. Fakta yang terjadi barusan, cukup kita berdua yang tahu. Gue tetap welcome kalo lu butuh tenaga lagi, ha ha ha …” ungkap Stevan yang tak ketinggalan menyelipkan candaan.


Weini nyengir namun hanya sesaat, ia ikut tertawa kecil menanggapi guyonan Stevan. “Nggak akan terjadi lagi, kak.”


***


Hi, reader ^^ mau baca updatenya lagi hari ini atau besok? Coret di komentar ya ^^