OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 272 DI HADAPKAN DENGAN DUA HATI YANG DILEMA



Mobil Xiao Jun sudah merapat di parkiran sejak sepuluh menit lalu. Tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada Weini, ia langsung datang menjemput di kantor managemen artis tempat Weini berada sekarang. Tidak sulit untuk mengetahui lokasinya, meskipun Weini tidak memberitahu secara spesifik, namun apa yang tidak bisa diandalkan dengan GPS di kota besar ini? Sembari menunggu, Xiao Jun membuka ulang chat terakhir dengan kekasihnya yang


terlewatkan dua jam lalu. Belum ada balasan dari Weini, bahkan pesan tersebut belum terbaca.


Kedua lengan Xiao Jun terlipat di belakang jok setir, ia memanfaatkan kesempatan di tengah kesendirian untuk memejamkan mata. Merenung sejenak langkah tepat yang akan ia tempuh selanjutnya, bagaimana menghadapi Grace yang makin berulah? Konsekuensi terberat yang akan terjadi adalah kemurkaan Li San yang seperti lagu lama saja. Hanya marah dan bertindak seenaknya yang dilakukan penguasa tua itu setiap kali menghadapi kenyataan yang tak sesuai harapannya.


Ponsel Xiao Jun bergetar, ia hapal betul ritme getar itu menandakan notifikasi pesan masuk. Alis Xiao Jun terangkat satu kala mendapati siapa si pengirim pesan. Sejak datang lagi ke Jakarta, ia belum pernah berkomunikasi dengannya, dan kini kakak iparnya yang lebih dulu menanyakan kabarnya.


Isi chat dari Wen Ting yang tertera dari layar ponsel Xiao Jun : “Gimana kabar di sana? Sudah ada informasi tentang ayah mertua?”


***


Suara tepuk tangan yang dimulai dari pak sutradara, kemudian diikuti oleh seluruh orang dalam studio menjadi pertanda berakhirnya kerjaan hari ini dengan hasil yang memuaskan. Tahap pertama berjalan lancar dan sesuai ekspektasi, harapan selanjutnya adalah film dapat diproduksi dan selesai sesuai jadwal serta booming di pasaran. Para pemeran diberikan waktu satu minggu lagi untuk beristirahat dan merubah penampilan sesuai peran, termasuk


Weini yang dituntut untuk kembali berambut lurus hitam. Ia tak masalah dengan permintaan itu lantaran kontraknya dengan salah satu produk kecantikan yang mendapuknya sebagai brand ambassador pun sudah berakhir.


Stevan melirik jengkel pada Grace, sangat ia sayangkan wajah cantik nan lembut milik Grace ternyata tak sebanding dengan sikapnya yang arogan. Harus diakui Stevan bahwa Grace mempunyai kemampuan acting yang lumayan untuk porsi seorang newbie. Masih terbayang kesengitan yang terjadi di ruang istirahat, dan siapa sangka ketika berada dalam satu ruang bersama Weini dan dirinya, gadis itu bisa bersikap sangat manis, sok akrab seperti tidak pernah ada konflik yang terjadi sebelumnya. Di hadapan sutradara dan petinggi lainnya, Grace sangat pandai mencari kesempatan untuk mendapatkan pujian. Lain halnya dengan Weini yang tetap bersikap tenang dan elegan,


pembawaan diri yang memang ciri khasnya dan tidak dibuat-buat. Stevan cukup mumpuni mengenal Weini karena kebersamaan mereka yang intens, di luar tuntutan kerja, Weini tidak perlu topeng untuk bersikap seperti orang yang punya kepribadian ganda. Dan tanpa disadari Stevan, ia terus membandingkan dua gadis yang mencintai Xiao Jun.


Udah error nih otak! Gumam Stevan dalam hati sembari menepuk jidatnya. Ia perlu sesegera mungkin menepis semua hal tentang Grace, makin dipikirkan rasanya urat sarafnya makin tegang. Ia hanya orang luar yang tidak perlu terlibat banyak bahkan berkomentar tentang gadis arogan itu, tak semestinya juga menaruh kebencian padanya hanya karena ia adalah saingan Weini. Sayangnya, lebih mudah berteori sok bijaksana padahal Stevan belum tentu mampu mempraktekkannya.


“Lagi mikirin apa kak? Yuk, cabut!” Weini mendongak menatap Stevan yang jelas terlihat kebingungan.


Stevan buru-buru menggelengkan kepala, mematahkan opini sepihak Weini tentangnya. Ia mempersilahkan Weini berjalan duluan dengan lambaian tangan. Di luar studio sudah ada Dina yang berdiri menunggu mereka keluar, manager itu tidak sudi berada dalam satu ruangan dengan wanita yang sudah mencengkeram tangannya bahkan sampai meninggalkan jejak merah sampai sekarang. Dina melambaikan tangan yang memegang tas Weini, kegirangan menyambut dua sahabatnya.


Sebelum mereka bertiga beranjak lebih jauh, terdengar pekik tawa yang seru dan akrab dari dalam studio. Di sana masih ada Grace yang mengakrabkan diri dengan para petinggi, dan sepertinya usaha berhasil. Stevan merangkul Dina yang mematung kaget agar bergegas pergi, sementara Weini tanpa menoleh masih terus melangkah maju. Jaraknya selisih cukup jauh dari Stevan dan Dina yang tertinggal di belakang.


“Nggak usah kepo, biarin aja!” Ujar Stevan kepada Dina yang masih menoleh ke belakang saking penasaran tentang apa yang dibincangkan mereka di dalam hingga tertawa begitu kencang.


“Non gimana tadi di dalam? Dia nggak macam-macam kan?” Tanya Dina yang berbisik-bisik, takut kedengaran Weini.


Stevan menggeleng, “Wanita itu hebat banget bermuka dua, dia getol akrabkan diri ama Weini di depan yang lain. Untungnya Weini tetap stabil, nggak kebawa emosi pribadi.”


Dina menggertakkan gigi saking geram, “Gue nggak jadi iba sama dia, padahal cantik tapi kok bikin ilfeel.” Dina memang pro pada Weini namun sebagai sesama perempuan, ia juga menaruh prihatin pada Grace yang pasti


sangat terluka. Setelah bertemu langsung dengan wanita bernama Grace itu, Dina jadi hilang simpati lantaran Grace memasang tameng dan sulit rasanya menjadikannya teman.


***


menarik perhatiannya.


“Lu bawa aja mobil ini, gue ikut mobil Dina aja.” Perintah Stevan pada managernya dan tergesa-gesa keluar menghampiri mereka. Stevan khawatir akan terjadi konflik babak kedua jika Grace muncul dan melihat Xiao Jun.


Sepasang mata indah Weini berkedip, matahari masih cukup terik meskipun waktu sudah beranjak sore. Dan penglihatan Weini di silaukan sinar matahari yang persis di depan, menghadap arah Xiao Jun. “Jun, kamu nggak kerja jam segini, ngapain kemari?”


Xiao Jun meraih lengan Weini lalu dengan lembut merangkulnya, “Ikut mobilku saja ya, aku antar pulang.” Ujar bos tampan itu, ia tak peduli dengan reaksi terkejut Weini dan wajahnya yang terlihat setengah menolak ajakan itu.


Dina keluar dari mobil demi mendukung Xiao Jun, “Ikut aja non, jadi aku bisa mampir ke salon sebentar buat perawatan. Tuan Xiao Jun, titip non Weini ya he he ….” Dina gerak cepat mendorong pelan Weini hingga menubruk


dada Xiao Jun yang langsung disambut ke dalam pelukan pria itu.


“Ciyeee ….” Dina bersorak spontak saking terbawa perasaan melihat adegan romantis barusan.


Weini melepaskan diri dari pelukan itu dengan wajah tersipu, tidak etis mempertontonkan kemesaraan di muka publik. Stevan bergabung di sana, wajahnya agak memerah terkena sengatan matahari saking putih kulitnya.


“Buruan bawa masuk kalau mau bareng dia.” Stevan mengkode Xiao Jun, ia hanya berusaha agar kedatangan bos muda itu di sarang artis akan dimanfaatkan oleh oknum dalam kantor itu jika ketahuan. Tetapi kekhawatiran


utamanya adalah Grace melihat agedan barusan lalu membuat ulah.


Kekhawatiran Stevan bukan hanya isapan jempol, ia hanya datang sedikit terlambat. Ketika mereka berempat yang berdiri berdekatan itu menyadari sedang disorot tajam oleh sepasang mata milik Grace yang berdiri tak jauh dari sana, mobilnya ternyata terparkir persis di samping mobil Stevan. Ia belum sempat melangkah menuju mobil lantaran tersita oleh pemandangan mencolok mata di seberang.


“Telat.” Ujar Dina yang mulai cemas, ia menatap ke arah tiga rekannya secara bergantian.


Grace melangkah menghampiri mereka dengan tatapan nanar, kali ini ia tak akan berpura-pura berkelakuan lembut pada Weini.


Weini menatap serius pada Xiao Jun, “Jun, aku ikut Dina saja. Ini bukan waktu yang tepat berduaan.” Weini bukan takut kepergok Grace, ia hanya tak ingin mencolok di tempat umum gara-gara seorang pria yang tak berkepentingan berada di lingkungan ini.


Di luar dugaan, Xiao Jun malah mengabaikan pinta Weini. Ia justru bertindak seperti hendak menantang Grace. Tanpa gentar sedikitpun, ia meraih jemari Weini dan menggenggamnya erat. Mengacuhkan kesinisan Grace yang melihat kelakuannya dan berjalan mantap mendekat. Weini membiarkan Xiao Jun menggenggamnya, toh mereka sudah bertekad akan menghadapi bersama apa yang memang tak terhindarkan.


***