OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 535 PULANG



Xiao Jun sungguh mengajak Weini kembali ke apartemennya. Memintanya untuk berdiam sejenak bersama, ada hal yang mengganjal di hati sejak kemarin dan belum sempat mereka bahas.


Lau yang tahu diri segera menyepi ke kamarnya, membiarkan malam ini tuannya yang berkuasa atas apartemen ini.


Xiao Jun menyuguhkan secangkir teh untuk Weini, dan mendapatkan senyuman sebagai balasan terima kasih. Pria muda itu duduk di sebelah Weini, tangannya merangkul pundak Weini dalam dekapannya. Weini mencondongkan kepalanya, bersandar di bahu kekar Xiao Jun.


"Jun, aku harus pulang besok. Sudah terlalu lama aku meninggalkan rumah, kasihan ibu yang mungkin mencemaskan." Ujar Weini lembut.


Xiao Jun mengangguk, "Ya, kegiatanmu di sini juga sudah selesai semua. Aku akan mengantarmu kembali."


"Kak Dina belum ku beritahu, ah bisakah kau memberitahu dia dan kekasihnya biar bisa siap-siap dulu?" Pinta Weini sambil mengangkat kepalanya, melihat Xiao Jun dari sudut depan.


Xiao Jun tersenyum saja, "Hmm... tidak perlu repot, Dina dan Ming Ming sejak tahu akan ikut kamu pulang, mereka sudah menyiapkan diri. Koper Ming Ming saja sudah tertata rapi, dan Dina... coba lihat di pojokan sana. Itu koper miliknya." Xiao Jun menunjukkan di dekat lemari hiasnya, ada sebuah koper besar yang luput dari perhatian Weini, dan ternyata itu milik Dina.


Weini kembali menatap dengan sorot datar pada kekasihnya. "Jadi hanya aku yang terakhir tahu?"


"Ha ha ha... tapi tidak masalah kan, Dina lebih rempong persiapannya ketimbang kamu. Biar dia berberes dari jauh hari, dan kamu tinggal mengemasi koper kecilmu saja." Gumam Xiao Jun berhenti tersenyum.


Weini mengangguk setuju, ia tahu betul sifat Dina. Masalah dianggap selesai, kini ia kembali mencondongkan kepalanya di bahu Xiao Jun.


"Jun, wanita yang ada dalam dimensi kegelapan itu terus mencari tuannya. Dia mengira aku merebut kekuatan tuannya. Aku yakin 'Dia' yang dimaksud adalah orang yang sama dengan yang dimaksud Chen Kho."


Xiao Jun terdiam dulu, ia pun belum banyak tahu tentang masalah baru yang dihadapi Weini. Kini lawan mereka bukanlah orang yang bisa dilihat dengan mata biasa. Dan ini jauh menakutkan ketimbang berseteru dengan manusia jahat.


"Hwa, aku juga belum mengerti tentang masalah ini. Saat kamu terjebak di sana, orang orang di sekitar kita ikut memantung. Waktu berhenti seketika, entah hanya di ruangan itu saja atau sampai ke luar. Aku tidak memeriksa sejauh itu karena mencemaskan mu."


"Mereka terkena dampaknya juga? Tapi kenapa hanya aku yang ada di sana? Aku terkurung dalam kegelapan tanpa batas, tidak ada seorangpun dan jika kamu tidak menolongku, aku mungkin sudah kalah total darinya." Ujar Weini nampak sedih menceritakan ulang kejadian itu.


"Entahlah Hwa, yang pasti mereka tidak sadar kalau jantung mereka berhenti berdetak selama beberapa menit. Kamu juga sama Hwa, aku sangat ketakutan, tubuhnya mulai dingin semakin lama." Kenang Xiao Jun sembari mempererat dekapannya pada gadis itu.


Weini tak menyangka dan jika Xiao Jun tidak menceritakan padanya, ia tidak akan tahu apa apa.


"Aku pikir dampaknya hanya terjadi padaku, tapi mereka yang di dekatku pun tak luput. Tapi kenapa kamu tidak, Jun? Kamu sadar apa yang terjadi dan bisa menolong ku?"


Sepasang kekasih itu saling berpandangan, mencari jawaban dari tatapan bening mata mereka. "Aku juga tidak mengerti Hwa, andai bisa pun aku ingin masuk ke dalam dimensi itu dan membantumu. Tapi hanya aku saja yang masih bergerak dan hidup di saat itu. Untung saja kemampuan sihirku masih mempan menembus dunia sana. Dan membawamu kembali ke sini."


Weini dan Xiao Jun terdiam sejenak, kegetiran mereka pun terasa kembali.


"Itulah sebabnya aku tidak tenang membiarkan kamu jauh dariku. Aku takut jika tiba-tiba kamu kembali ditarik ke dimensi itu lagi, dan luput dari pantauan ku. Aku... aku tidak mau terjadi sesuatu padamu Hwa." Lirih Xiao Jun mencurahkan isi hatinya, bukan bermaksud posesif dan tidak percaya pada Weini. Tapi Xiao Jun cemas tidak sigap membantu kekasihnya dan akan kehilangan Weini selamanya andai gadis itu terjebak sekian lama dalam dimensi gelap.


Weini menghambur memeluk Xiao Jun, kini ia paham maksud baik kekasihnya yang memang sangat menolong di saat yang tepat. Kecemasan Xiao Jun pun beralasan, karena wanita dalam kegelapan itu tidak bisa ditebak kapan akan muncul kembali. Padahal ancamannya terdengar serius bahwa ia tidak akan membiarkan Weini. Ia pasti akan datang membuat perhitungan pada Weini lagi.


"Satu satunya cara mungkin dengan bertanya pada ayah. Jika kamu di sana, aku lebih lega Hwa. Setidaknya ada ayah di sana. Kalau di sini, kamu sepenuhnya menjadi tanggung jawabku." Gumam Xiao Jun lembut dan penuh arti yang dipahami Weini.


"Jun, terima kasih. Makasih karena selalu ada untukku di saat sulit."


Malam itu terasa panjang dan hangat bagi sepasang insan yang saling mengerti arti penting mereka. Tidak ada satupun penghalang, mereka benar benar menikmati kualitas waktu selayaknya pasangan yang memadu kasih.


❤️❤️❤️


Grace, Stevan, Fang Fang, dan Su Rong ikut mengantar kepulangan Weini serta perpisahan sementara dengan beberapa sahabatnya. Bukan hanya kehilangan Weini saja, namun Dina yang ikut diboyong pun membuat Grace begitu merasa kehilangan.


"Aku merasa sangat kehilangan, apartemenku pasti jadi senyap karena nggak ada kamu, Din." Grace memeluk erat Dina. Berat melepaskan sahabat karibnya.


Dina membalas pelukan Grace tak kalah erat, "Kalau kau rindu padaku, jadikan saja Fang Fang seperti aku. Suruh dia bawel dan banyak bicara, aku jamin kamarmu tidak akan sepi."


Fang Fang yang sedang dibicarakan langsung mendelik ke arah Dina. Sontak Dina terkekeh karena Fang Fang memang gadis yang berperasaan halus - jika tidak mau disebut sensitif.


Pelukan erat itu akhirnya dilepaskan, Grace berganti arah kepada Weini. Menatap lembut sepupunya kemudian memeluk erat seraya menepuk ringan punggung gadis itu.


"Aku menunggumu datang lagi, Hwa. Kamu akan menjadi tamu kehormatanku nanti."


Weini mengangguk pelan, "Tenang saja Grace, jangan banyak pikiran ya. Fokus pada resepsi pernikahanmu. Aku akan membawa yang lainnya untuk hadir di acara besarmu. Ah, kamu pasti jadi pengantin yang cantik." Ujar Weini gemas.


"Aku pegang janjimu Hwa, kebahagiaanku akan lengkap bila kamu hadir. Salam buat semua yang ada di sana." Gumam Grace menyudahi dekapan eratnya.


"Salam buat ayah kita ya Hwa. Aku akan kirim undangan ke sana." Seru Stevan, tak afdol jika yang lainnya bisa memeluk Weini namun ia yang sudah diakui sebagai kakaknya tidak bisa.


Weini membiarkan Stevan memeluknya, pelukan hangat seorang kakak laki-laki yang belum ia miliki sebelumnya.


"Tak perlu sungkan dikirim, langsung kabari saja biar simpel kak."


Jet yang akan membawa mereka pulang pun sudah bersiap. Xiao Jun muncul dari pintu jet kemudian mengangguk pada Weini, pertanda sudah saatnya mereka berangkat.


Weini mengedarkan pandangannya pada beberapa orang yang berdiri mengantarnya. Grace dan Fang Fang melambaikan tangannya.


"Aku berangkat dulu, jaga diri kalian ya. Dan jangan lupa dipingit ya Grace." Ujar Weini, bersiap naik disusul Dina.


"Jangan ingatkan soal itu Hwa. Aku akan merindukanmu. Sampai jumpa lagi." Seru Grace.


❤️❤️❤️


Ada pertemuan yang mengharukan, pun ada perpisahan yang mengesankan. Cinta yang akan menghangatkan, sejauh apapun berpisah akan dikenang.