OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 371 AMBISI BALAS DENDAM



Felix dan Lina tergesa memasuki rumah Haris yang terbuka lebar pintunya. Setelah menerima kabar buruk yang disampaikan Weini via telpon, pasangan suami istri yang juga sahabat Haris itu bergegas datang ke kediaman Haris di Grogol.


“Weini…” Pekik Lina begitu mendapati Weini duduk dengan tatapan sendu di hadapan tubuh Haris yang terbujur kaku di lantai.


Weini menoleh tanpa ekspresi menatap dua tamu itu, Lina yang memang sangat menyayangi Weini itu langsung menghambur memeluk Weini. Melihat jasad Haris yang terbaring itupun membuat pasangan suami istri itu menangis


histeris. Dalam pelukan Lina yang tengah menangis itu, Weini tetap bergeming. Ia tak lagi sanggup menitikkan air mata, kesedihan yang terlalu mendalam sehingga tak sanggup diekspresikan dengan tangisan lagi.


Felix memeluk jasad Haris, isak tangisnya pecah seraya terus berbicara di depan Haris. Berharap Haris mendengar apa yang ia sampaikan, berharap ini semua hanya mimpi. Kepergian Haris yang mendadak dan tak terduga itu sungguh mengguncang hati mereka yang ada dalam ruangan itu.


“Om, saya minta tolong gantikan baju ini pada ayah. Setelah ini, saya minta tolong urus pemakamannya. Saya… tidak sanggup melakukannya sendiri.” Lirih Weini seraya menyodorkan kantong plastik berisi jas kebesaran Haris yang ia pakai sewaktu membawanya kabur. Jas yang dulu pernah dipakaikan pada Weini sebagai penghangat, dan Weini tahu bahwa Haris sangat bangga memiliki jas itu. Haris bangga dengan identitasnya sebagai pengawal klan Li dan sejak ia tinggal di Jakarta, jas itu disimpannya dengan baik di dimensi gaib. Weini tahu betul apa yang disimpan Haris dan tahu cara membukanya, tak hanya itu yang diambil gadis itu. Bahkan surat wasiat Haris pun diambil serta dibacanya.


Haris sudah lama tahu tentang cara kematiannya, namun tak pernah ia ungkapkan pada Weini. Termasuk di tangan siapa dia meregang nyawa, sayangnya ramalan Haris pun kurang jelas. Yang dapat ditebak Weini, satu-satunya yang dicurigainya adalah orang suruhan ayah kandungnya. Tetapi siapa yang bisa mengungguli Haris secara sihir dan menyebabkan luka fatal pada organ dalamnya? Weini tak habis pikir dan pikirannya belum sanggup memecahkan teka teki ini.


“Apa harus secepatnya? Apa kita tidak memberi waktu beberapa hari untuk penghormatan terakhir?” Tanya Felix yang mulai bisa mengontrol perasaannya, ia menerima kantong dari Weini serta menyanggupi dengan anggukan.


Weini menggeleng lemah, “Ayah dan aku tidak punya banyak kenalan di sini. Cukup om sama tante saja yang sudah kami anggap keluarga yang mengurus pemakamannya. Lebih cepat lebih baik om.”


Weini menuruti kata hatinya, ia ingin menunggu lebih lama lagi untuk mengubur Haris. Setidaknya menunggu sampai Xiao Jun membaca pesannya dan menghubunginya, bagaimanapun juga Xiao Jun adalah putra kandung Haris dan lebih berhak mengurus serta memberikan penghormatan terakhir pada Haris. Tetapi perasaannya sangat mengganjal, apalagi sebelum Haris menghembuskan napas terakhir, dengan terbata-bata Haris menyuruhnya segera pergi. Amanah terakhir itu pasti ada maksudnya, pasti ada seseorang yang masih mengintainya. Bukan berarti Weini takut, kematian Haris yang tragis ini tidak bisa diterima olehnya. Dalam hati Weini yang terdalam, ia ingin menuntut balas atas kematian ayah angkatnya itu. Siapapun dia, sekalipun itu orang suruhan ayahnya. Weini


mempercepat pemakaman karena tidak mau suasana haru ini terkontaminasi perseteruan yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu.


Felix menyanggupi permintaan Weini tanpa banyak bertanya lagi. Ia meminta privasi untuk membersihkan tubuh Haris dan mengganti pakaiannya lalu memasukkannya dalam peti yang ia beli bersamaan ketika datang. Sementara


itu, Lina keluar membeli peralatan sembahyang dan keperluan untuk pemakaman. Weini sungguh enggan bergerak, ia duduk lemah memandangi ponselnya yang masih sepi. Tidak ada balasan dari Xiao Jun, sejak pagi WA kekasihnya tidak juga aktif.


Jun, aku tidak tahu bagaimana menyampaikan ini padamu. Maafkan aku… Maaf, akulah penyebab kamu kehilangan ayahmu. Lirih Weini, hatinya hancur berkeping-keping.


“Weini, om harus mencari tanah pemakaman yang cocok. Apa kamu tidak masalah ditinggal sendiri?” Tanya Felix yang tidak tega melihat Weini yang tampak shock.


Lina yang baru saja pulang dengan belanjaannya pun mendengar pertanyaan suaminya. “Biar aku yang temani saja, kamu nggak apa-apa kan pergi sendiri?”


“Tidak masalah, om dan tante pergilah. Saya akan melakukan penghormatan terakhir pada ayah, saya minta waktu sebentar untuk itu.” Jawab Weini lirih.


Felix dan Lina menyanggupi permintaan Weini. Mereka sangat mengerti keinginan Weini yang masih ingin melihat dan menghormati Haris untuk terakhir kalinya. Untuk mempersingkat waktu sebelum hari mulai senja, pasangan suami istri itu beranjak dari rumah Haris demi mengurus lokasi pemakaman.


“Ayah, ini bukan harapanku. Aku tidak mau kehilangan ayah seperti ini. Jangan paksa aku untuk ikhlas, aku hanya ingin ayah tahu… Siapapun yang membuatmu menderita, aku akan buat perhitungan padanya. Aku… Li Yue Hwa bersungguh-sungguh akan membalaskan dendammu!”


Hati Weini telah mantap, meskipun tangannya bergetar kala menancapkan hio namun tekadnya tetap bulat. Siapapun yang menyebabkan kematian Haris akan dihadapi Weini. Ia tahu sasaran utama yang dicari si pembunuh adalah dirinya, dan kematian Haris pasti karena mati-matian melindunginya.


Weini berdiri menatap Haris yang sudah dibaringkan dalam peti, menatap lekat wajah yang mulai memucat itu. Air muka Haris yang memperlihatkan ketenangan, sama seperti kebiasaannya semasa hidup. Dalam kondisi sesulit apapun, Haris sangat lihay menyembunyikan beban pikirannya. Tetapi itu hanyalah sebuah topeng kulit, Weini tak bisa melihat gurat asli di balik selapis kulit wajah Haris.


Pikiran Weini terbersit niat yang nekad, sama halnya dengan keinginannya yang begitu ingin lepas dari topeng ini, Weini yakin Haris pun demikian. Pria tua itu telah pergi, jasadnya tak akan merasakan kesakitan lagi. Satu-satunya resiko yang paling ditakutkan Haris dan Weini saat ingin memperjuangkan tekad mereka membuka topeng adalah resiko kematian. Mungkin inilah keinginan terakhir Haris yang belum terwujudkan. Weini melirik tajam pada jasad


ayahnya, terbersit ide gila yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


“Maafkan kelancanganku ayah, ijinkan aku mencoba mewujudkan keinginan terakhirmu.” Weini menangkupkan kedua tangannya di depan dada, menyatakan maaf sekaligus ijin mengakses tubuh dingin Haris.


Ia berlari menuju dapur dan bergegas kembali dengan sebuah pisau kecil yang tajam dalam genggamannya. Tidak ada yang perlu dipertimbangkan lagi, cara membuka topeng yang belum terpecahkan oleh Haris semasa hidup, kini akan diuji coba oleh Weini. Terdengar nekad, tapi tidak ada yang tahu hasilnya jika tidak mencoba.


Weini membuka perlahan jubah Haris hingga tubuh bagian atasnya terlihat. Dengan sedikit sentuhan sihir, ia pun membalikkan tubuh Haris hingga di posisi telungkup dalam peti. “Maaf ayah, maafkan kelancanganku… Tapi aku yakin ayah pasti menanamkan sesuatu di punggung, sama seperti yang ayah lakukan padaku.” Lirih Weini.


Sebelum Felix dan istrinya kembali, atau mungkin musuh yang siap kembali menyerang, Weini enggan buang waktu lagi. Ia mendeteksi tanda sihir di atas punggung Haris, mencari di mana titik benda sihir yang ditanam Haris. Hingga tangannya terhenti pada satu titik di dekat bahu kanan pria itu, Weini mantap mengarahkan ujung pisau pada posisi itu dan dengan hati yang mati rasa dia tusukkan benda tajam itu.


Suara petir menggelegar, seolah menandakan semesta pun merestui tindakan Weini. Benda sihir seperti chip itu berhasil dicongkel keluar oleh Weini dari punggung Haris. Saat itu pula Weini membereskan sisa pekerjaannya, merapikan pakaian Haris lalu membalikkan posisi tubuhnya terlentang lagi. Weini mengambil chip itu dengan hati-hati, sungguh sebuah benda berukuran kecil yang berdampak luar biasa.


Fokus Weini beralih menatap lekat pada Haris, mata Weini terbelalak menyaksikan perubahan fisik Haris. Wajah Haris mulai mengelupas dengan sinar keemasan yang lebur seperti uap, bahkan kulit tangan pria itupun ikut mengelupas sehingga tangan yang semula tak berkerut itu terlihat mengeriput. Weini terhuyung shock melihat tampilan Haris yang sekarang.


“Pengawal Wei… Ini benar-benar wajahmu, ayah!” Pekik Weini histeris, ia tak menyangka caranya yang ekstrim itu berhasil mengembalikan sosok Haris yang sesungguhnya. Wajah pengawal tua yang memang tampak mengeriput sesuai usianya, keriput yang sama sekali tak tampak ketika ia mengenakan topeng dengan wajah Haris.


“Akhirnya wajah aslimu kembali, ayah… Aku berhasil!” Gumam Weini, diraihnya tangan keriput Haris untuk digenggam. Betapa ia menyesali mengapa topeng itu terbuka justru di saat Haris telah tiada.


***


 Nah, pasti kalian penasaran lagi bagaimana cara Weini membuka topengnya sendiri? Bahayanya seperti apa jika ia lakukan dengan cara yang sama seperti yang dilakukan pada Haris? Lalu siapakan orang pertama yang melihat wajah asli Weini?


Ikuti terus kelanjutan cerita Open Your Mask, Princess! Bersiaplah tegang dan haru di episode selanjutnya.


***