
Weini kembali rebahan malas di ranjang, tubuhnya masih perlu jatah istirahat yang lebih lama untuk pemulihan. Ia bisa saja menggunakan jalan pintas, andai ia tega mungkin ia sudah menyedot sedikit hawa Yang dari tubuh Dina agar lekas pulih. Namun itu terlalu kejam menurutnya, merugikan orang lain demi keuntungan pribadi.
“Non, nggak siap siap ke bandara? Kok malah balik tiduran?” Tanya Dina terheran, ia berdecak melihat Weini yang tidak biasanya.
Weini belum menggubrisnya, ia memejamkan mata dan meletakkan satu tangan di atas dahinya. Melihat itu, Dina langsung berubah pikiran dari menuduh Weini malas menjadi khawatir.
“Apa non masih sakit? Ayolah kita ke rumah sakit saja, sesekali menurutlah non.” Ujar Dina setengah memaksa.
Weini mengelak saat Dina hendak memegangnya, “Aku udah mendingan kak, sisa capeknya aja. Sebentar lagi ayah pulang, jadi aku nggak perlu nyusul ke sana.” Akhirnya Weini buka suara, tetapi ia paham sifat Dina yang tidak akan puas menggali informasi. Pasti ada pertanyaan susulan setelah ini.
“Hah? Om Haris pulang hari ini? Kok cepat?” Tanya Dina penasaran.
Belum terjawab oleh Weini, sosok yang tengah mereka bicarakan itu memasuki rumah dan berdiri di depan pintu kamar Weini. “Lagi membicarakanku ya?” Tanya Haris lalu tersenyum manis pada dua gadis di dalam.
“Panjang umurnya.” Gumam Dina begitu beradu pandang dengan Haris.
Weini segera bangun lalu menghampiri ayah, setelah ia meraih ponsel di atas meja yang digeletakkan begitu saja sejak telpon dengan Xiao Jun. “Ayah, akhirnya pulang.” Ujar Weini menyambut kedatangan orang yang sudah ia tunggu.
“Ng, om pulang buru-buru, berarti nggak ada oleh-oleh dong?” Dina sedikit kecewa, melihat tentengan Haris yang hanya satu koper kecil sudah dipastikan bahwa tidak ada bagian untuknya. Ia gagal mendapatkan kenang-kenangan dari luar negri.
Haris tertawa mendengar kekecewaan Dina, “Maaf Dina, lain kali kalau ada kesempatan pasti om belikan ya.” Tatapan Haris beralih ke Weini yang punya maksud lain padanya, terbaca jelas dari gurat wajah gadis itu. Dari luar memang tampak tenang, namun dalam hatinya penuh gejolak yang ingin dilampiaskan pada Haris.
“Ng, kak … Bolehkah mewakiliku menjenguk Grace di rumah sakit? Kondisiku belum memungkinkan untuk melihat orang sakit.” Weini menciptakan alasan demi menyingkirkan Dina secara tak langsung, setumpuk chat dari Stevan dijadikan alasan agar managernya tak bisa menolak permintaan penting itu.
Dina tersentak, “Hah? Si sombong itu sakit? Masuk rumah sakit? Kok bisa?” Tanya Dina tak percaya, ia pun bergegas meraih ponselnya dan mengetik pesan pada Stevan. Sejak kemarin pesannya kepada pria itu pun belum
mendapat balasan, padahal tak biasanya Stevan secuek itu.
“Iya, dia keracunan semalam. Tapi untunglah nyawanya selamat, kak Stevan pasti lelah menjaganya sepanjang malam. Jadi maukah kak Dina ke sana?” Weini menunjukkan bukti chat Stevan pada managernya, dan Dina hanya ternganga membaca pesan pesan itu.
Dina mengangguk menyetujuinya, “Oke non. Lebih baik aku yang ke sana daripada non, terlalu mencolok. Jangan sampai wartawan curiga, bisa hancur reputasi film non sebelum tayang kalau para pemainnya banyak kasus.”
Ungkap Dina, ia bergegas merapikan diri dan hendak pamit dari rumah Weini.
Weini tersenyum senang, misinya berhasil. Dina terlihat berpamitan pada Haris yang kini berada di dapur. Sebelum Dina sampai di pintu depan, Weini mencegatnya. “Satu lagi kak, tolong tahan emosimu. Grace lagi lemah, dia tidak butuh dinasehati atau dikomentari apapun. Kakak bisa kan kali ini saja, berempati sedikit sama dia. Plis….” Pinta Weini serius.
Dina tak tega menolak permintaan Weini, ia memang kurang menyukai Grace tetapi kedua sahabatnya menyukai gadis itu. Bahkan Weini yang punya alasan kuat untuk membencinya pun bersikap sebaliknya, begitu memperhatikan Grace. Dina pun mengangguk, “Aku mengerti non. Istirahatlah, aku tidak akan mengganggumu.”
“Kamu masih belum pulih, dan aku tahu kalau kamu yang menyedot racun Grace.” Ungkap Haris tanpa basa basi.
Weini menunduk, “Maafkan aku, tidak mungkin juga aku tega membiarkan seseorang mati dihadapanku, ayah.”
Haris tersenyum, “Aku tidak menyalahkanmu, tapi resikonya terlalu besar. Ya sudahlah, tampaknya kamu pun telah mengatasinya. Setelah ini akan ku transferkan energi untuk mempercepat pemulihanmu.”
Weini diam saja, pikirannya tak berada di sana. “Ayah … Aku mau kembali ke Hongkong.” Lirih Weini yang seketika mengejutkan Haris.
“Kamu pasti kembali tapi bukan sekarang.” Jawab Haris dengan cepat.
Weini mendongak menatap serius pada Haris, “Aku mimpi ayahku … Sepertinya ada yang tak beres di sana. Mungkin saja keluargaku membutuhkan pertolongan, ayah.” Tegas Weini, ia harus berhasil meyakinkan Haris.
Haris menghela napas, ia tahu mimpi Weini bukan sekedar bunga tidur. Tetapi membiarkan gadis itu pulang dengan kondisi yang belum tertebak olehnya, sama saja merelakannya mengantar nyawa sia-sia. “Aku mengerti kecemasanmu, tetap saja terlalu beresiko. Di sana sarang mereka, kita tidak punya kekuatan apa apa. Tenang dululah, biarkan aku menyelidiki sebentar lagi.” Pinta Haris, kata katanya mulai melunak.
Weini tetap menggelengkan kepala, “Wajah kita sudah berubah, identitas kita pun berubah, tidak ada yang bisa mengenali kita di sana. Kita hanya perlu kembali secepatnya dan cari tahu langsung apa yang terjadi. Ayah … Aku sungguh memohon padamu.” Rengek Weini setengah terisak.
“Tidak! Aku tetap tidak mengijinkan, jangan gegabah hanya karena menuruti perasaan. Ini bukan main-main Weini, kamu tidak tahu musuh seperti apa yang kamu hadapi!” Tegas Haris, ia menatap tajam pada nonanya. Sesaat kemudian pikirannya mulai jernih, ia segara menunduk karena ketidak sopanan menatap nonanya seperti itu.
Weini tersentak mendengar nada keras dan tegas Haris, ia memincingkan mata menatapnya curiga. “Ayah bicara seperti itu, seakan tahu tentang sesuatu di sana. Apa benar ada yang ayah rahasiakan dariku?” Tanya Weini sembari menatap Haris tanpa berkedip.
Pria tua itu bergeming, tak sepatah katapun yang keluar darinya dan membuat Weini kecewa.
“Ayah, benarkah itu? Kau merahasiakan sesuatu dariku?” Tanya Weini mempertegas lagi.
“Nona, sekalipun kau bersikeras, aku tetap tidak mengijinkanmu bertindak sepihak. Jika nona terus memaksa, aku juga terpaksa harus menegaskan status kita. Meskipun nona menganggapku seorang ayah, aku tetap pengawal nona. Keselamatan nona adalah tanggung jawabku, dan harus aku pertanggung jawabkan pada nyonya.” Tegas Haris.
Weini menjatuhkan air matanya, perkataan Haris yang begitu formal barusan sangat melukai hatinya.
“Jadi aku mohon nona tenangkan diri dan bersabar sebentar lagi. Biarkan aku yang mencari jalan keluarnya. Keselamatan tuanku adalah kewajibanku sebagai pengawalmu.” Haris menunjukkan jati dirinya sebagai pengawal, ia berdiri lalu bersujud hormat pada Weini.
Seketika itu Weini berdiri, mencegah Haris bertindak sekaku itu. Ia tidak sanggup menerima penghormatan, sekalipun memang status mereka berbeda namun di mata Weini, pria itu adalah ayahnya. “Cukup ayah, cukup! Kumohon cukup.” Isak Weini yang bersimpuh memegangi Haris yang tak bisa digoyahkan. Pria itu masih berlutut dengan wajah menunduk. Tanpa Weini sadari, pria itu pun menitikkan air matanya.
***