
Lisa menguap tak semangat ketika berada di ruang kerja Bams. Pendingin udara yang maksimal saja masih terasa gerah baginya. Ia semestinya sedang bersantai di apartemen mewahnya dan berkencan dengan sugar daddy. Realita yang terjadi malah ia dipaksa menghadap sutradara bawel untuk membahas hal yang memuakkan.
“To the poin aja, gue ngantuk!” Lisa menyentak Bams.
Bams ingin marah, kelakuan Lisa sangat menyebalkan dan selalu melukai perasaan lawan bicaranya. Ia harus meredam emosi demi kepentingan lain yang harus dipertanyakan pada artis angkuh itu.
“Asisten lu belum dihubungi keluarganya, dia bukan artis kami, so masalah ini lu yang urus.” Cecar Bams.
Lisa terbelalak, “Gue nggak tahu siapa keluarganya, lagian bukan gue yang nerima dia di PH. Dia sendiri yang ngajukan diri buat jadi asisten gue lalu managemen setuju aja. Tanya aja ke kantor, nggak usah libatin gue deh buat urusan anak baru.”
Bams mulai habis kesabaran, untung saja masih mampu mengontrol tangannya. Jika tidak, bisa dipastikan asbak kaca di hadapannya melayang ke Lisa.
“Lu kira kasus ini kecil? Cuman libatin orang dalam doang beres? Ini bisa diusut jadi kriminal kalo ada pihak yang nuntut. Lu biarin orang yang asal usulnya gak jelas buat jadi pengganti, trus cidera gitu nggak lu kabari keluarganya? Kalo sampe mati, lu juga bakal diseret kasusnya. Otak tuh buat mikiiiir, jangan jadiin pajangan doang!”
Digertak sekeras itu membuat Lisa terbungkam. Ada benarnya juga analisa Bams, banyak saksi yang melihat bahwa dialah yang menunjuk Metta menggantikannya. Setidaknya ia harus ikuti permainan jika tidak mau dicurigai
sebagai tersangka.
“Ok, gue bakal minta asisten gue cari infonya. Bukan karena gue takut ancaman lu, tapi gue bertanggung jawab pada orang gue.” Mempertahankan harga diri adalah harga mati bagi Lisa. Meskipun salah, ia tidak akan sudi
mengakui kekalahan dan kesalahan.
“Terserah apa kata lu. Yang jelas sekarang ikut gue jenguk mereka!” Bams membereskan perlengkapannya dan meraih kunci mobil.
“What! Nyari info aja udah sangat membantu, ngapain gue ikutan jenguk!”
Bams mendelik, ia enggan bersuara lagi. Cukup dengan tatapan mematikan sebagai spekulasi Lisa mampu digoyahkan.
“Yaudah, bentar doang gue ke sono!” Lisa berubah pikiran, ada baiknya ia setor muka ke hadapan Metta untuk menunjukkan itikad baik. Sebelum gadis itu menghadapi kehancuran di ujung mata, lebih baik sedikit prihatin kepadanya.
***
Metta memandang keluar jendela, merenungi kejadian yang menimpanya siang tadi terjadi seakan mimpi. Ia seorang diri tanpa ada yang menghiraukan, tanpa ponsel dan alat komunikasi di ruang perawatan ini. Jikapun ada,
ia ragu mengabari orang rumah. Dilihatnya kaki yang diperban layaknya mummi, terasa mati rasa separuh kaki kirinya.
“Ini semua gara-gara lu! Mampus sendiri aja nggak usah ajak-ajak!” geram Metta. Ia sepenuhnya menyalahkan Weini yang menularkan kesialan padanya.
Kemarahannya belum surut saat suara pintu terbuka membuyarkan amarahnya. Setelah terbaring berjam-jam, ada juga pembesuk yang datang. Metta memincingkan mata ketika dua pria datang mendekatinya. Ia hanya kenal aktor tampan yang terkenal itu, tapi pria paruh baya di sampingnya sangat asing.
“Bagaimana kondisimu?” Tanya Haris dengan nada cukup bersahabat.
Metta bungkam sejenak berpikir, perlukah dia menjawab pertanyaan orang tak dikenal lalu ia memilih diam membuang muka.
“Lu ditanya kondisinya gimana sekarang!” Ujar Stevan, melihat langsung seorang anak bau kencur berlaku tidak sopan pada orang tua jelas menyulut emosinya.
“Oh… masih punya tenaga untuk marah. Sepertinya tidak perlu dikhawatirkan.” Ujar Haris tetap berpembawaan tenang.
“Nggak ada yang nemenin lu? Keluarga lu mana? Nggak dikasih tahu?” Stevan memborong sejumlah pertanyaan titipan dari Dina lewat chat WA.
Tidak ada jawaban, Metta tak berniat memberi keterangan. Ia menatap keluar jendela dengan perasaan kacau. Haris membaca semua pikirannya, termasuk kebencian yang mendalam pada Weini.
“Lu yakin nggak mau hubungi bokap ato nyokap lu? Gue pinjemin hp kalau mau.” Stevan menawarkan bantuan. Ia sudah menyodorkan ponsel pada Metta yang hanya dibalas dengan tatapan dingin. Stevan mengeleng kepala,
ia sudah berniat menyimpan kembali ponsel ke saku kemejanya namun sesaat kemudian Metta berubah pikiran dan merebut ponsel itu tanpa sepatah kata.
Ia hapal nomor ponsel ayahnya dan tanpa ragu memencet angka-angka di tombol touch screen ponsel Stevan. Pembicaraan mereka tersambung dengan cepat, sepertinya keluarga Metta mulai kelabakan karena ia belum pulang semalam ini tanpa kabar.
“Papi, tolong dengarkan aku. Jangan marah dulu! Aku sekarang di rumah sakit X. Kakiku cidera…” ujar Metta dalam percakapan yang terdengar alot.
Panggilan itu berakhir dalam satu menit saja. Metta menyodorkan kembali ponsel itu tanpa sepatah kata terima kasih. Sikap yang jauh dari sopan santun itu semakin membuat Haris mudah menebak karakter gadis itu.
“Makasih.” Sindir Stevan saat ponsel itu kembali ke tangannya.
“Asal lu tahu ya, ini papa Weini. Lu udah bikin Weini cidera tapi papanya masih punya hati khawatirin lu. Harusnya lu tahu diri dikit.” Cecar Stevan geram mengapa ada gadis yang kelakuannya minus begitu.
Mendengar nama Weini seakan mengobarkan api kebencian semakin besar. Jangankan ayahnya, bahkan rumput yang tumbuh di halamannya pun ikut dibenci.
“Dia jatuh sendiri, jangan salahin gue! Gue juga korban, liat tuh kaki gue!” pekik Metta tak terima disalahkan.
Haris menghela napas, anak tidak baik harus diberi sentilan ringan. “Kenapa kamu sangat yakin dia jatuh sendiri? Apa bisa kamu buktikan puluhan pasang mata di TKP salah melihat apa yang kamu lakukan?”
“Haha… jadi bapak lagi ngancam gue? Wow… gede juga nyali lu! Terusin aja asumsi lu, so Weini bakal berurusan dengan pengacara gue! Dia yang dorong gue, dia yang bikin gue cidera!” Metta memutar balik fakta dengan percaya diri. Ia yakin dengan kuasa ayahnya, meskipun ia salah namun kasus sepele ini dengan mudah dimenangkannya. Weini bukan siapa-siapa dan tidak punya orang kuat di belakang. Mustahil ia bisa mendapatkan keadilan meskipun memang ia tak bersalah.
Haris membaca seluruh pikiran licik Metta. Tujuannya menemui gadis itu memang untuk mengetahui kebenaran. Kini ia tahu dengan siapa ia berhadapan, hanya saja belum ada bukti kuat untuk memasukkan gugatan.
“Cih… lagaknya kayak putri penguasa. Emang lu siapa bisa nutup kebenaran?” Stevan memandang remeh Metta. Dianggapnya gadis itu hanya menggertak tanpa bercermin siapa dirinya. Andai ia orang kaya, untuk apa ia merendahkan harga diri demi menjadi asisten Lisa. Terlebih ketika cidera, tidak ada yang datang memerdulikannya sampai harus memakai ponsel orang lain untuk mengabari keluarga.
Metta nyengir, demi membalas dendam ia rela menyamar sebagai asisten. Sekarang ia tidak perlu menutupi identitasnya lagi. Lihat aja lu masih berani ngeremehin gue nggak habis ini!
“Dengerin yang bener ya! Gue cuman ngomong sekali. Gue putri tunggal bapak Anwar Gumilang. Lu pasti sering denger kan nama itu!” nyengir Metta, kemenangan di pihaknya sekarang.
Stevan tertegun mendengar nama itu. Pengusaha sukses yang bergerak di berbagai bidang dan memiliki banyak saham di industri hiburan. Belum reda keterkejutannya, muncul lagi sebuah kejutan besar. Si pemilik nama
yang barusan disebut itu muncul di hadapan mereka sekarang.
“Papiiiii…”
***