
Dina menggedor pintu rumah Weini dengan keras setelah kesabarannya habis memencet bel tanpa digubris. Sudah dua kali ia kemari, sebelum Xiao Jun menugasinya mencari Weini pun ia sudah datang ke rumah ini tetapi ternyata selang beberapa jam ia kemari, kondisi rumah tetap sepi tanpa penghuni.
“Ini serius pada ke mana semua sih? Tumben banget lampu teras aja nggak dinyalain.” Gumam Dina yang heran saja mendapati rumah Weini kosong begitu lama. Yang paling membingungkan itu, baik Haris maupun Weini tidak dapat dihubungi sampai sekarang.
Setelah putus asa mengeluarkan tenaga dengan mubajir, Dina menghentikan gedoran di pintu. Lamat-lamat ia merasakan getaran ponsel serta bunyi ringtone khusus panggilan masuk. Penuh semangat Dina meraba ponsel dalam tasnya, berharap orang yang menghubunginya adalah Weini. Namun ternyata senyumnya memudar saat mendapati nama di layar ponselnya.
“Halo, pak sutradara….”
***
Bams menyudahi telpon dengan Dina, meskipun obrolan mereka telah terputus beberapa detik lalu tetapi Bams tetap bertahan di posisi ponsel menempel di telinga. Bams ikut pusing setelah melihat kedatangan Weini yang mendadak ke kantor managemen, padahal artis itu belum punya jadwal syuting hingga sekarang. Bukan hanya itu yang membuat Bams mengkhawatirkannya, Weini terlihat lesu seperti tak punya semangat hidup. Artis cantik itu bahkan tidak menyahut sapaan Bams padahal jelas-jelas Weini mendengarnya. Melihat tingkah aneh serta kedatangan Weini yang tampak terguncang berat itulah yang menjadi alasan Bams menghubungi manager artis itu.
Bams mengendap-endap mendekati ruangan Weini, ruangan yang khusus Xiao Jun berikan pada kekasihnya dan tidak diijinkan berbagi dengan artis manapun. Sayangnya Bams lupa bahwa niatnya sia-sia belaka, kendati ada kaca di pintu namun kaca buram itu tidak bisa menampakkan apapun di dalam ruang itu. Bams merasa lemah seketika, ingin rasanya ia masuk dan menanyakan keadaan Weini, bila perlu menghiburnya. Tetapi pesan Dina dalam
telpon yang lebih mirip ancaman itu terus terngiang, membuatnya mengurungkan tekadnya.
“Tahan dia di sana sampai aku datang, awas ya jangan ganggu dia! Jangan sampai dia kabur karena merasa terusik, kita nggak boleh kehilangan dia. Atau mampuslah kita kena marah tuan Xiao Jun.” Kecam Dina yang
langsung mematikan ponsel setelah menyuarakan ancaman.
Bams yakin Dina pasti sedang menuju ke kantor dengan kecepatan penuh. Kekhawatiran Dina yang bahkan melibatkan nama Xiao Jun, serta raut sedih Weini sekarang jelas bukan pertanda baik. Pasti ada hal besar yang
terjadi di antara mereka.
“Apa mereka lagi berantem? Hooooh… Atau putus cinta?” Bams terkejut sendiri karena tebakannya, ia melongo kaget membayangkan andai Weini dan Xiao Jun sungguh putus. Untung saja ia masih bisa mengontrol suaranya, dan begitu ia sadar kehadirannya bisa dicurigai Weini, barulah Bams bergegas kabur dari depan ruangan Weini.
Weini hanya menyeringai mendengar dugaan Bams, ia tak punya semangat untuk sekedar memberi keterangan tentang kondisi hatinya sekarang. Dari rumah ia memang terpikirkan untuk singgah dan menyendiri di ruang kantor ini. Lebih baik kesepian di tengah keramaian, ketimbang merasakan kesepian yang sesungguhnya karena merana di tempat sunyi. Kini gadis malang itu merebahkan tubuhnya dengan malas di sofa panjang. Kedua tangannya dilipat di depan dada dengan mata tertutup. Weini ingin sejenak menenangkan jiwa kacaunya, melepas lelah karena terlalu banyak menangis dan bersedih.
Dalam mata yang terpejam, terbayang lagi kejadian beberapa jam lalu di depan pusara Haris yang tanahnya masih basah. Weini sengaja menunggu Felix dan istrinya pergi agar leluasa mengobrol sejenak dengan makan ayahnya.
Flashback beberapa jam lalu….
Weini menuangkan secawan arak yang khusus dibawanya ke pemakaman, arak putih yang diminta Haris saat terakhir bertemu Weini. Dipandanginya cawan itu dengan perasaan hancur, kemudian Weini menuangkan di
tanah depan pusara. Simbolis bahwa ia sedang berkabung dan mengajak minum ayahnya di alam sana.
“Ini arak yang ayah minta, kenapa harus berbohong? Arak ini masih lama kadaluwarsanya, ayah sengaja menyuruhku pergi saat itu kan? Kenapa? Kenapa tidak biarkan kita hadapi bersama?” Sesal Weini.
Flashback off…
Semakin diingat semakin menyakitkan, Weini mengepalkan kedua tangannya demi menahan rasa sakit karena kehilangan itu. Ia sengaja tak membawa ponsel atau apapun selain mobil dan chip sihirnya. Biarkan dia tenang sesaat di sini, kemudian ia berencana pergi ke tempat yang lebih aman tanpa dikenali siapapun. Dengan begitu, Weini yakin akan meminimalisir resiko orang terdekatnya terkena imbas, terutama Dina dan Stevan.
“Non dari mana seharian nggak bisa dihubungi?” Selidik Dina yang mengambil posisi berdiri tepat di samping Weini.
Weini diam, belum berminat menggubris pertanyaan managernya. Dina yang merasa diabaikan itu makin tak sabaran, ia berjongkok agar lebih dekat lagi menginterogasi Weini.
“Non, jawab! Aku seharian chat dan telpon tapi nggak disahut. Ke rumah non juga nggak ada orang, tumben juga om Haris nggak di rumah. Eh tahunya non malah nongkrong di sini padahal nggak ada jadwal syuting.” Dina mengguncang tangan Weini untuk menggugahnya bangun, ia enggan dicueki lagi.
Ekspektasi Dina meleset, ia kira Weini akan protes dengan tindakan yang setengah memaksa itu. Tetapi yang terjadi malah lebih menakutkan, Dina tersentak kaget melihat Weini merubah posisi tubuhnya dari tiduran menjadi duduk menyandar sofa. Sorot mata itu menampakkan kesedihan dan begitu jelas terpantul dari sepasang mata yang mulai berkaca-kaca.
Weini tak sanggup menahan lagi begitu mendengar nama Haris disebut, ketenangan yang susah payah ia paksakan itu buyar sekejab. Raut wajahnya teramat pilu, matanya pun terasa panas hingga bendungan air bening itu luruh, membuat Dina yang belum tahu apa-apa itu semakin cemas dan bingung. Weini menatap Dina tanpa kedipan, sekalipun air matanya sudah deras membasahi pipi.
“Non, kamu kenapa? Cerita padaku, non….” Pinta Dina yang terbawa suasana hingga ikut menangis tanpa tahu sebabnya. Ia berusaha memeluk Weini namun dengan lincah ditepis Weini. Akan lebih aman jika Weini menjaga jarak di saat kondisi hatinya sangat labil, ia tak mau menyedot energi siapapun karena energi yin dan yangnya sedang berseteru dalam tubuhnya.Weini sungguh sekacau itu sekarang.
Weini mulai terisak, Dina di hadapannya pun mulai buram terhalang air matanya. “Ayah Haris … Sudah meninggal.” Dan isakan itu benar-benar meledak, menyusul jerit histeris Dina yang tak kalah shock menerima kenyataan. Bagaikan mimpi, berharap ini hanya prank, pria baik itu benarkan sudah pergi selamanya?
“Tidaaak! Om Haris!” Pekik Dina yang kemudian lunglai terduduk di lantai.
***
Chen Kho baru selesai menikmati makan malamnya dalam kamar hotel, ketika itupula ia merasakan getaran yang ia nantikan terasa kuat. Senyum seringainya mengembang penuh sembari mengelap bibirnya, sungguh waktu yang
begitu sempurna untuk bertindak. Ketika ia sudah mengisi tenaga bahkan menyelesaikan makan malam, kini mangsanya pun bersiap untuk ditakhlukkan.
Ia melepehkan tisu kemudian berdiri dengan santai, “Mangsa sudah keluar dari persembunyian, waktunya menjemput kemenangan kita.” Ucap Chen Kho penuh tekad. Ia hanya perlu mengikuti sinyal sihir yang terpancar dari chip Haris. Layaknya GPS dalam kehidupan manusia biasa, sinyal itulah yang akan mengantarkannya ke tempat mangsa berada.
***
Yup, sampai di sini apakah kalian sudah bisa menebak kelanjutannya?
Akhirnya kita sudah memasuki detik-detik topeng Weini akan terkuak, pastikan kamu mengikuti ketegangan dan serunya ya. Mohon maaf bila alurnya tidak mudah ditebak, tetapi thor kasih kisi-kisi deh, kalian pasti sudah bisa menebak siapa orang pertama yang melihat wajah asli Weini? Hayo… Siapa? Dan bagaimana cara Weini membuka topengnya?
Yuk bantu ramaikan lapak author dengan komentar kalian. Oh iya, btw yang masih belum terima dengan kematian Haris (author juga sih), sabar-sabar ya ^^ bila perlu kita pasang hastag #BalikinHaris. Ha ha ha…. Peace^^
***