OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 218 CEMBURU YANG TAK LAGI BERARTI



Mengapa marah? Jika cinta saja kau tak punya


Mengapa cemburu? Kau yang buat cinta ini tak berharga


Setelah kepergianku, kutemukan cinta yang baru


Dan kau baru menyadari perasaanmu ….


Kau terlampau jauh tertinggal, terlambat menyadari cintamu


Hapus rasa itu! Hempaskan bersama dengan rasa cemburu yang tak lagi berarti …


_Quote of Li An_


***


Chen Kho uring-uringan di kamarnya yang beralih fungsi jadi penjara, amarahnya dilampiaskan pada benda apapun yang ia lihat. Kebiasaan buruk itu memang tak bisa ia tinggalkan, dengan emosi meletup seperti itu ia sanggup


membolak-balikkan isi kamar hanya dengan lirikan mata. Semenjak di kurung dalam kamar, ia memanfaatkan waktu luang untuk meningkatkan kemampuan sihirnya. Hanya saja, ia tak habis pikir mengapa ia begitu marah? Hanya karena mendengar omongan Grace yang mungkin hanya asal dilontarkan sebagai balasan karena


jengkel diprovokatori mengakhiri pertunangannya.


Flashback dua jam lalu di kamar Chen Kho ….


Grace menutup telinga, ia enggan mendengar sepatah katapun dari kakaknya lagi. Semua yang keluar dari mulut Chen Kho hanyalah hasutan agar ia kembali bersama ke Amerika.


“Tidaaaak! Stop, plis! Stop Bro! jangan jelekkan Xiao Jun lagi! Kau sendiri gimana? Apa kau ikhlas kakak Xiao Jun yang kau goda itu sebentar lagi akan menikah?” pekik Grace sembari tetap menutup kuping.


Pertanyaan terakhir Grace itu berhasil mengalihkan fokus Chen Kho, pria itu langsung terdiam, hatinya bergetar dan terasa ada yang menyakitkan di dalam sana. “Apa kau bilang?” Chen Kho mengguncang pundak Grace, ia mulai kalap hingga tak menyadari seberapa besar tenaga yang ia keluarkan dapat melukai adiknya.


Grace berontak, ia meronta hendak melepaskan diri dari cengkraman kuat Chen Kho. Wajah marah kakaknya mulai membuatnya takut, “Lepasin bro!” desis Grace.


“Maksud omonganmu apa? Siapa yang mau menikah?” desak Chen Kho. Ia jelas bisa menebak siapa gadis yang dimaksud Grace, hanya saja ia sedang berusaha membohongi diri sendiri. Sebelum Grace menyebutkan nama, Chen Kho tetap mangkir bahwa kakak Xiao Jun yang dimaksud adalah gadis yang dulu pernah ia bodohi.


“Li An ... Kak Li An ….” Grace sampai terbata-bata menjawabnya. Baru kali ini ia mengakui bahwa tabiat kakaknya ketika marah sangat menakutkan.


Chen Kho melepaskan cengkramannya, namun tetap saja Grace meringis kesakitan. Gadis itu malah mengintip pundaknya yang memerah akibat tangan si kakak. Ia tak berani berkata apapun lagi, selagi Chen Kho sedang membelakanginya, ia berniat pergi dari kamar itu.


“Nikah dengan siapa? Kapan?” suara Chen Kho tiba-tiba terdengar nyaring hingga Grace yang berjinjit pun terkesiap, ia berhenti melangkah dan terpaksa harus memberi jawaban.


“Sa … sama pengusaha itu, aku lupa namanya. Lo ….” Grace lupa apapun, padahal ia tahu nama calon suami Li An tetapi karena terlalu gugup, ingatannya seketika jadi payah.


“Lo Wen Ting!” sela Chen Kho. Kini tangannya mengepal keras hingga gemetar, hatinya terasa panas seakan tercabik-cabik.


“I … iyaa …” jawab Grace cepat, nadanya yang ketakutan sangat kentara terdengar dan Chen Kho tahu itu.


Chen Kho sengaja membiarkan Grace pergi, lebih cepat lebih bagus. Sebelum ia kesulitan mengontrol kemarahannya yang bisa saja ia lampiaskan pada Grace, sekalipun ia sangat menyayanginya bukan berarti ia tidak


berani melukainya.


Flashback selesai ….


Selepas kepergian Grace, pria itu masih belum sanggup mengontrol diri. Amukan serta sesekali erangan keras terdengar mengerikan. Ia layaknya singa yang kelaparan tanpa seekorpun mangsa untuk dilahap.


“Li An! Gadis ******! Ha ha ha ha …. Kau ****** juga! Kau bilang cinta padaku? Inikah cintamu? Ha ha ha ha ….” Chen Kho menggila, sesaat setelah mengeluarkan uneg-unegnya pada Li An, ia menjatuhkan diri di atas lantai kamar.


Hening sekejab, Chen Kho rebahan dengan kedua mata yang nyaris tak berkedip menatap ke depan. Menelusuri relung hatinya yang kesakitan, jelas-jelas ia hanya main-main dan tidak mencintai Li An, namun mengapa hatinya sakit ketika mendengar gadis itu akan menjadi milik orang lain? Segala kemesraan yang pernah ia lewati dengan Li An justru berseliweran dalam pikirannya, memercikkan bumbu kegalauan yang menyesakkan.


“Gadis Murahan! Kau baru putus denganku beberapa hari lalu bisa menikah dengan pria yang baru kau kenal? Ha ha ha ha ….”


“Bodoh, kenapa aku menangisinya? Dia tidak pantas untukku! Dia hanya bonekaku, ha ha ha ha kasian sekali pria yang menikahi bonekaku.”


Chen Kho terus mengumpat, tertawa lalu menangis, ia merasa dunianya hancur seketika. Keterpurukan yang ia rasakan bertubi tidak lebih menyakitkan daripada ini. Kalau tidak cinta, mengapa ia sesakit ini ketika tahu ditinggalkan?


***


Grace berlari kencang meninggalkan kediaman Chen Kho, bukan sekedar karena ia ingin segera kabur dari area kakaknya namun kedatangannya kemarin adalah tindakan illegal. Semestinya ia langsung berangkat ke vila untuk belajar seperti biasa, tetapi tidak ia sangka akan menghabiskan waktu lama bersama Chen Kho.


Weini? Nama itu terus terngiang hingga hapal di luar kepala Grace. Melafalkan nama itu semakin menyesakkan hati Grace, jika benar apa yang dikatakan oleh Chen Kho bahwa gadis bernama Weini itu yang dicintai oleh Xiao Jun, Grace tak tahu harus berbuat apa. Saking sedihnya ia memikirkan itu hingga tak disadari ia berlari sembari menangis. Berlari kencang dengan penglihatan buram tertutup air mata lalu jatuh tersungkur oleh heelsnya.


Isakan Grace akhirnya pecah, siku tangannya berdarah terkena kerikil tajam. Bukan sakit karena terjatuh itu yang membuatnya menangis sejadi-jadinya seperti orang kesakitan, tetapi ia sudah tak berdaya. Ada yang jauh lebih menyakitkan dibanding goresan lecet itu, di sini … di dalam hati. Ia duduk melingkarkan kedua tangannya di lutut, menenggelamkan wajah di celah tangan dan lututnya, berharap bisa menghilang sekejab dari semua kenyataan pahit.


“Nona? Astaga … tanganmu berdarah.”


Suara Xin Er terdengar asing bagi Grace, wanita tua yang kebetulan melintas lantaran hendak kembali ke paviliun Liang Jia lalu mendengar suara seorang gadis yang menangis dan mencari darimana datangnya suara. Tak disangka ia malah dipertemukan dengan tunangan putranya. Xin Er meraih tangan Grace yang lecet, meniupnya kemudian membersihkan pasir halus yang menempel di area terluka dan berdarah itu dengan sapu tangannya.


Grace mengangkat wajah hendak melihat siapa yang begitu lembut memperlakukannya. Begitu tahu bahwa Xin Er lah yang tengah membersihkan lukanya, sepasang mata indah Grace membesar, lidahnya kelu hingga ia lupa bagaimana berucap kata. Ia terus menatap Xin Er, sosok wanita dengan aura keibuan yang begitu mengagumkan. Rambut panjangnya yang disanggul cepol telah memutih keseluruhan, walau begitu ketika dilihat dari jarak dekat, wanita tua itu masih menyimpan kecantikan yang belum memudar oleh keriput. Grace takjub, ternyata masih ada malaikat yang dikirimkan untuknya.


“Sudah lumayan bersih, nona sebaiknya segera kembali ke rumah dan obati luka dengan alkohol dan obat merah.” Ujar Xin Er lembut, penuh perhatian. Ia menatap Grace dan tersenyum.


Sisa air mata masih menggantung di kedua mata Grace, gara-gara diperhatikan terus oleh Xin Er malahan membuat Grace menangis lagi. Ia sangat terharu dengan perhatian dan kelembutan Xin Er dan langsung memeluk


wanita tua itu.


“Ibu …” isak Grace menjadi-jadi, persis anak kecil yang mengadu sakit pada ibunya.


***


Ada yang ngiris bawang di sini?