OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 180 MEMENANGKAN HATI SANG PENGUASA



Li San belum memberi jawaban atas usulan Xiao Jun, mengijinkan putranya membawa saudari kandung ke luar negri yang minim pengawasannya, Li San khawatir mereka akan punya banyak kesempatan untuk konspirasi berbalik melawannya.


“Menjauhkan mereka dengan keterbatasan jarak dan komunikasi, dengan begitu secara perlahan akan melemahkan hubungan mereka secara alamiah. Ayah tidak akan disalahkan oleh paman Kao Jing, kesengajaan kita tidak terlihat terang-terangan. Bagaimana menurut ayah?” tanya Xiao Jun setelah membeberkan pendapatnya.


“Li An tidak punya keahlian, pendidikannya rendah, lalu apa yang bisa dia lakukan di sana? hanya sekedar menikmati hidup dari kekayaan kita? Kamu jangan lupastatusnya sebagai tahanan luarku.” Li San menegaskan perbedaan Xiao Jun dan Li An yang mungkin terlupakan oleh putranya.


Xiao Jun berpikir sejenak, ia menyadari bahwa Li An memang tidak memiliki bekal apapun untuk membantu urusan bisnis, hanya sekedar pekerjaan keras dan mengandalkan kekuatan fisiklah yang bisa ia kerjakan. “Ayah, dia bisa


diandalkan untuk menjaga Grace. Gadis itu tetap perlu seorang pengawal dan pelayan, lebih tepat membiarkan kak Li An yang merangkap dua kerjaan itu. Grace pasti lebih nyaman dikawal sesama wanita.”


Ide brilian itu tercuat begitu saja, sebagai keturunan Wei yang mewarisi dari leluhur yang turun temurun menjadi pengawal. Bukan hal sulit bagi Li An untuk menjadi pelindung Grace, selain itu Xiao Jun bisa mengatur sisanya. Ia pasti akan menyewa bodyguard rahasia untuk melindungi dua gadis itu tanpa sepengetahuan mereka.


Li San mangut-manggut, usul Xiao Jun cukup masuk akal. Bagaimanapun hubungan antara Li An dan Chen Kho harus segera dibereskan, Li San enggan mempunyai kerumitan silsilah ke depannya andai hubungan mereka berhasil. Tetapi ada sesuatu yang masih mengganjal hati Li San, “Kamu memanggil Grace dengan sebutan


apa? Terdengar kamu masih menciptakan jarak dengan dia.” Li San sangat jeli melihat reaksi Xiao Jun yang dengan terpaksa menyebut nama Grace, dan ketika menyebut kata pengganti barulah Xiao Jun terlihat lebih tenang.


Xiao Jun sedikit kaget saat tahu Li San cukup memerhatikannya. Ia memang berat menyebut nama Grace saking terpaksanya. “Maaf ayah, aku membuatmu tidak senang. Aku hanya belum terbiasa, lain kali tidak akan terjadi lagi.”


“Dia memang agak dibebaskan, didikannya beda denganmu. Aku dan ibumu sudah memberinya pendidikan karakter, beri dia waktu dan dukung dia berubah sikap lebih baik.” Seru Li San yang malah lupa dengan pembahasan sebelumnya yang belum ada keputusan.


Xiao Jun hanya mengangguk tanpa suara, ia sebenarnya tidak mengiyakan permintaan Li San hanya saja memberi respon seperti itu tidak akan memberatkannya. Ia tak perlu menyanggupi sesuatu yang berat dilakoni.


“Dan mengenai Li An, bawalah dia sesuai rencanamu!” akhirnya Li San mengeluarkan pernyatan yang dinantikan Xiao Jun.


Perkataan Li San seketika membumbungkan semangat Xiao Jun, senyumnya merekah lebar dan ia berdiri memberikan penghormatan tertinggi untuk ayahnya. “Terima kasih ayah!”


Li San mengulum senyum, penting baginya untuk tetap menjaga kharisma dengan tak mengobral senyum atau reaksi senang berlebihan. “Sebelum kalian berangkat ke Jakarta, masuklah ke kantor pusat sebentar. Periksa kinerja kerja mereka terutama Chen Kho, barangkali ada hal yang mencurigakan.” Li San ingin memastikan praduganya terhadap keponakannya. Kepulangan Xiao Jun sangat melegakannya, ia menyadari bahwa di antara saudara, keluarga yang kental darah dengannya tidak menjamin kepercayaan mutlak pada mereka. Justru pada Xiao Jun lah kepercayaan tanpa syarat itu dirasakan oleh Li San.


Xiao Jun mengangguk setuju, ia pun berencana kembali ke perusahaan utama demi membuka kedok Chen Kho. “Baik ayah! Hanya saja aku perlu tangan kanan yang handal dan terpercaya untuk membantuku. Mohon ayah mengembalikan posisi pengawal Lau sebagai orang kepercayaanku lagi. Hanya dia yang professional dan dapat dipercaya. Aku sangat bergantung padanya, ayah.”


Li San agak keberatan, mengembalikan Lau ke posisi semula sama saja bersiap mengulang sejarah lama. Terlebih mereka akan kembali ke Jakarta, di mana persekongkolan dan affair terjadi. “Lau? Dia sudah terlalu tua untuk posisi itu. Aku akan pilihkan pengawal sekaligus ahli bisnis untuk meringankan pekerjaanmu.” Tolak Li San dengan alasan yang dikarangnya.


“Apa yang kamu lakukan, cepat bangun!” perintah Li San yang tiba-tiba mendapat penghormatan tanpa maksud jelas.


“Li Xiao Jun memohon pada ayah agar mengembalikan posisi Lau sebagai pengawal pribadi hamba. Ke depannya segala kesalahan dan kelalaian yang dia lakukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab hamba, dan hamba bersiap menerima hukuman seberat-beratnya.” Xiao Jun mendadak memohon dengan formal, mengesampingkan posisinya sebagai putra mahkota yang tak perlu merendah seperti ini ketika memohon kepada ayahnya.


Kesungguhan hati Xiao Jun serta sikap patuhnya sanggup menggugah hati Li San, bagaimanapun putranya telah banyak menuruti kehendaknya dan hanya dia orang kepercayaan Li San. Ia tak sampai hati mengecewakannya, “Bangunlah. Kamu tak layak berlutut demi seorang pengawal rendahan. Kelak jika dia melanggar aturanku lagi, kamu dan dia akan berakhir di penjara bawah tanah.” Jawab Li San tegas.


Xiao Jun tersenyum girang, kebahagiaan yang sulit dijelaskan kala berhasil memenangkan hati sang penguasa. Bukannya bergegas bangun sesuai perintah, ia malah berlutut beberapa kali sebagai bentuk terima kasih yang paling dalam. Berhasil mendapatkan kembali satu persatu orang yang ia cintai di sisinya, tak ada lagi yang lebih membahagiakan selain itu.


***


Dari sudut sebuah ruangan sempit di markas para pengawal,  Lau duduk termenung menikmati segelas kopi


pahit. Kendati bebas menghirup udara segar selepas dari penjara, ia masih sering kedapatan melamun sendirian. Di saat semua penghuni markas yang didominasi pengawal trainee beranjak, tinggallah ia sendirian meratapi waktu


kosong yang panjang tanpa tujuan. Terasa bagaikan mati segan hidup pun tak mau.


Ia merindukan hari-hari di mana ia selalu bersemangat memulai hari baru, seberat apapun hari itu namun tetap dijalankannya dengan pikiran ringan serta penuh semangat melakukan tugas utamanya – melayani tuan muda Xiao Jun. Kini di masa seolah pensiun, tersisihkan, layaknya kayu lapuk yang dibuang, ia ogah-ogahan mengurus diri sendiri. Semangat hidupnya hilang seiring lenyapnya tuan muda dari sisinya. Jika bukan karena sumpahnya pada Xiao Jun untuk mencari momen membalas budi, mungkin Lau sudah tak lagi menyayangi nyawanya.


Suara langkah sepatu yang menggema di lorong terdengar mengusik kesunyian Lau, ia menajamkan telinga demi menangkap sumber bunyi itu. Pada jam yang tengah sibuk-sibuknya, nyaris tak pernah ada pengawal yang kembali. Suara langkah itu jelas sedang menuju ruangannya.


“Siapa?” tanya Lau lantang namun tetap bergeming dengan gelas berisi kopi setengah cangkir.


Si pemilik langkah masuk membawa kembali senyuman yang dirindukan Lau, tak luput juga tatapan penuh kehangatan yang terpancar dari kedua mata teduh itu. “Ini aku, tuanmu. Halo paman!” suara lembut itu mengejutkan Lau, saking shocknya hingga cangkir dalam pegangan terlepas dan pecah.


“Tuan muda … hormat kepada tuan Xiao Jun.” Lau dengan suara bergetar segera berlutut namun Xiao Jun lebih hapal kebiasaan Lau dan menahan tubuh pria itu membungkuk untuknya.


“Hormatmu sudah diterima. Apa yang paman lakukan, ini sudah waktunya kerja. Aku menunggumu tak kunjung muncul sampai harus dijemput.” Ujar Xiao Jun setengah bercanda, ia enggan menciptakan suasana haru yang dramatisir. Sayangnya Lau yang berperasaan halus tetap trenyuh dan berlutut, harapan yang terwujud, doa yang terkabul, dan ia patut bersyukur.


***