
Xiao Jun memeriksa beberapa laporan yang diserahkan Lau, sebelumnya di pagi buta mereka telah mengecek rekaman CCTV belakangan ini, termasuk di hari di mana Lau diboyong paksa oleh pengawal kiriman Li San. Xiao
Jun menyaksikan hamper semua staf kepercayaannya tergusur dan digantikan oleh orang-orang pilihan Chen Kho.
“Tuan, apa ada yang tidak beres dengan laporannya?” Tanya Lau.
Xiao Jun masih serius membaca laporan di tangannya dengan teliti, ia belum menggelontorkan jawaban. Sekilas dilihat memang tidak ada yang janggal dengan perkembangan perusahaan selama di tangan tim professional, tetapi ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dan sangat mengganggu perasaannya.
“Sementara ini masih termasuk lancar, tapi anehnya aku belum bisa tenang, paman.” Xiao Jun menggeletakkan tumpukan kertas itu di atas mejanya. Ia menengadah menatap langit-langit ruang kantor, mencoba menetralkan perasaan tanpa alasan yang terus mendesaknya berasumsi bahwa ada yang tidak beres dan perlu penanganannya.
Lau sedikit menunduk sembari melirik ke tuan muda itu, tampang Xiao Jun terus kusut semenjak kembali ke Jakarta. Lau bisa menebak pasti sesuatu yang tidak menyenangkan telah terjadi semalam, harusnya tuan muda itu bersama Weini ketika ia pergi dengan sumingrah namun pulang dengan wajah ditekuk.
“Saya buatkan minuman untuk anda.” Lau menunduk hormat, masih dengan tatapan yang sama. Kali ini perhatiannya tersita, bukan karena Xiao Jun yang bergeming tanpa menjawabnya, tetapi ada sesuatu yang
mencolok mata. Kotak perhiasan merah tergeletak di atas meja dan ditutupi dengan selembar kertas. Lau tersenyum getir, kotak itu seolah menjadi jawaban dari misteri yang telah terpecahkan bahwa Xiao Jun belum berhasil menemui
Weini. Kotak itu semestinya diberikan pada Weini sebagai hadiah, andai mereka benar bertemu tadi malam.
Xiao Jun ditinggalkan begitu saja, ia tahu Lau sudah berlalu. Ia biarkan pengawal sekaligus pelayannya itu menyuguhkan sesuatu yang sebenarnya belum ia perlukan. Suasana kantor yang mulai memecah keheningan
dengan hadirnya satu persatu stafnya. Indera pendengaran Xiao Jun yang tajam mampu menangkap suara mereka yang bicara satu sama lain.Sesekali ia tersenyum mendengar candaan karyawannya yang begitu konyol menurutnya.
***
Kamu tahu, hal apa yang paling menjengkelkan? Ketika kamu tidak bisa menemukan alasan mengapa kamu bersedih, atau marah padahal semua terlihat baik-baik saja. Itulah yang sedang aku rasakan!
_Quote of Xiao Jun_
***
Xiao Jun berdiri, menyibak tirai jendela kantor yang sejak tadi ia biarkan menutupinya dari dunia luar. Matahari sudah mulai meninggi, sudah semestinya ia menyibak tabir dan melihat keluar. Di sana pasti terpampang dengan jelas wajah gadis yang ia cintai, sebuah papan reklame yang sengaja ia pajangi iklan produknya dengan Weini sebagai brand ambassador. Wajah cantik dengan seulas senyuman penuh optimis yang menjadi penguat Xiao Jun kala penat bekerja.
“Eh?” Senyuman Xiao Jun menghilang sekejab, berganti raut penuh bingung dan kecewa begitu melihat papan reklame ukuran raksasa itu memajang foto artis lain. Bahkan si artis yang cantik itupun menggeser posisi Weini
sebagai bintang iklan produk unggulan perusahaan Xiao Jun. Tangannya meremas kencang hingga gemetar, Xiao Jun menggertakkan gigi.
“Keterlaluan! Siapa yang lancang mengganti tanpa seijinku!” Pekik Xiao Jun.
Seiring dengan suara penuh amarah yang kencang itu, Grace dan Fang Fang yang barusan masuk ke dalam ruangan itu tersentak kaget. Grace bergegas menyusul ke kantor dengan mengorbankan waktu sarapannya, meskipun Fang Fang sudah menyiapkan roti. Grace tetap tidak menggubris, baginya urusan perut tidak lebih penting ketimbang bertemu Xiao Jun secepatnya. Ia sanggup menahan lapar, asalkan tidak diminta menahan rindu lebih lama lagi.
raut serius saja, Grace sudah merasa horor, namun kali ini selain raut tidak bersahabat ditambah dengan amukan. Jelas sangat menakutkan bagi Grace.
Xiao Jun membalikkan badan, ia tahu tamu tak diundang itu sudah datang. Matanya memincing menatap Grace yang berpakaian rapi versi gadis itu. Ia memakai long dress hitam model tank top kemudian dipadankan dengan blazer lengan tanggung.
“Kamu!” Jawab Xiao Jun seenaknya. Sebenarnya jawaban itu lebih tepat mewakili ketidak-senangan Xiao Jun melihat kehadiran Grace.
Grace menunduk sedih, belum apa-apa sudah membuat pria itu marah. “Sorry, aku tadi nggak ketuk pintu. Lain kali aku pasti ketuk dulu baru masuk.” Grace menyesali sesuatu yang keliru, bukan alasan itu yang membuat Xiao Jun kesal. Namun memang Grace terlalu percaya diri dengan masuk tanpa mendengarkan sekretaris Xiao Jun yang sempat mencegatnya. Grace malah dengan bangga memperkenalkan diri bahwa ia adalah tunangan Xiao Jun, dan segala yang berurusan dengan Xiao Jun bisa langsung ia lakukan tanpa perlu laporan dari pihak lain.
Xiao Jun enggan meladeni pengakuan dosa Grace lagi, ia kembali membalikkan badan, menatap hamparan pemandangan kota metropolitan yang dipadati bangunan pencakar langit. Ketidak-beresan yang mengganjal hatinya terjawab sudah, rupanya ada yang berani mengusik Weini ketika ia tidak memegang kekuasaan. Xiao Jun kini was-was, ia bisa menebak bahwa Chen Kho adalah dalang di balik penggantian Weini. Dan gadis itu mungkin mengira ini semua atas kehendaknya, dan ingin menghempaskan Weini dari hidupnya.
Lau masuk membawa secangkir coklat panas di dalam nampan, tatapannya beradu dengan Fang Fang kala ia membuka pintu. Suasana di dalam terasa tidak menyenangkan, terlebih Xiao Jun masih berdiri membelakangi kedua
gadis itu.
“Tuan, silahkan diminum coklatnya mumpung masih hangat.” Lau meletakkan cangkir itu di meja Xiao Jun. sekilas tatapan Lau tertuju pada kotak merah yang mencolok lantaran ditutupi namun lebih terkesan seperti dipayungi oleh kertas.
“Selamat pagi nona Grace, maaf saya tidak tahu kedatangan anda. Saya hanya membuat seporsi minuman untuk tuan.” Lau menyatakan penyesalannya yang jelas hanya sekedar basa-basi.
Grace tersenyum kaku, “Tidak masalah.” Jawabnya singkat.
Xiao Jun masih membelakangi mereka, “Paman Lau akan enjelaskan posisimu di perusahaan ini. Kalau ada perlu, kamu bisa sampaikan padanya.” Ujar Xiao Jun, yang pastinya ditujukan pada Grace.
“Ng … Jun, apa kau sudah sarapan? Kudengar kau datang sangat awal, kita sarapan bareng yuk.” Grace mengalihkan topik, ia justru mengajukan pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.
Xiao Jun tidak menggubrisnya, hingga sekretarisnya masuk mengingatkan bahwa meeting pagi akan segera dimulai dan ia diminta untuk hadir di ruang rapat sekarang. Bos muda itu baru membalikkan badan, kemudian melangkah mengikuti instruksi sekretarisnya.
Debaran jantung Grace memacu kencang saat Xiao Jun berjalan melewatinya, meskipun tanpa sepatah kata, tanpa senyuman manis atau sikap bersahabat lainnya, Grace sudah sangat senang. Lau dan Fang Fang hanya jadi saksi bisu kedua majikannya.
“Nona, selamat datang di perusahaan ini. Mulai hari ini, anda menjadi asisten sekretaris tuan Xiao Jun. selanjutnya anda dapat belajar dengan sekretaris utama. Saya sudah memberitahunya agar membantu anda menyesuaikan diri dengan pekerjaan ini.” Lau menyampaikan hal yang dimaksud tuannya.
Grace tampak tidak puas, “Hanya jadi asisten? Apa aku kurang cerdas untuk jadi posisi sekretaris?” Ujarnya protes.
Lau hanya menunduk hormat, ia tidak berkompeten memberikan jawaban pada Grace. “Maaf nona, itu keputusan tuan muda. Rapat akan segera dimulai, anda juga harus bergabung. Silahkan.”
Grace tak lantas pergi, ia malah terpaku menatap meja kerja Xiao Jun. Selagi pemiliknya tidak berada di tempat, Grace ingin sedikit mengulik ruangan ini. Ia berjalan mendekati meja, kemudian dengan berani duduk di kursi direktur. Lau kecolongan, ia mengira Grace akan berjalan mengikutinya namun setelah ia menoleh, gadis itu sudah duduk di kursi Xiao Jun dan tangannya bergerak hendak meraih kotak merah.
***